Langit tersontak panas, awan hanyalah gegumpal yang memendar tak beraturan, berarak acak. Hari ini aku menunggu mu lama, stasiun merderek seperti kipas angin tua, ada orang tertidur nyenyak di ujung stasiun, jauh di seberang sana, seperti bandeng presto dengan buntelan baju koyak, mungkin orang gila atau gembel yang lelah.
Sebenarnya aku tak mau menunggu mu, kamu sudah gede, dan kamu tahu aku sudah terlalu tua untuk masuk dalam kerumunan orang-orang asing, tapi engkau adalah satu-satunya yang ku punya, walau aku sadar, bagi ku itu tak ada gunanya, memiliki atau tidak memiliki mu, kau sudah ada yang punya, dan aku ini siapa? sendirian di kota asing ini.
Ibumu lah yang meminta ku memilih tempat ini, dulu ketika pohon-pohon flamboyan masih rindang dengan rimbunan bunga merahnya di dekat taman kota, kita bisa jalan pagi bersama sambil mencoba mencicipi sarapan pagi pinggiran jalan, atau berpapasan dengan orang-orang, menanyakan kabar mereka, tentang kehidupan biasa. Dulu ketika kita masih bisa putar-putar kota dengan sepeda tua, menghitung burung-burung di atas beringin alun-alun tengah kota, atau duduk henyak pada setiap sore kala menunggu menara masjid agung memanggil adzan sementara ribuan burung menari-nari di atasnya, dan sinar mentari menyibakkan pendar senja sehingga semua bangunan di kota ini mengkilat menjadi emas.
Ibumu ternyata salah, kota ini telah runtuh beberapa puluh tahun lalu, jauh lebih baik bagi orang tua berdiam seharian di rumah. Tak ada tempat bagi orang-orang seumuranku, taman kota telah menjadi monumen setengah jadi, pohon-pohon flamboyan kami telah ditebang, burung-burung telah pergi. Yang melintas di jalanan semakin merasa rendah saja, dan mereka yang ada di gedung bertingkat saja yang berhak menikmati kota ini seperti petugas menara pengawas. Jalan sudah penuh sesak, seperti tersedak makanan, masuk tak sanggup keluarpun enggan. Aku mulai benci kota ini, kalau bukan karena rumah ibumu itu, aku pasti telah pergi membeli rumah yang lebih pinggiran, dan kau membuatku menunggu lama di sini, di stasiun kota yang telah melepuh seperti remah gerbong kereta ekonomi, berbau anyir dan bacin.
Kereta benar-benar telat lama, dan aku tahu akan seperti ini. Di sampingku pasangan muda-mudi juga menunggu kedatangan kereta, peluk memeluk seperti dunia milik berdua. Kelak mereka akan tahu bahwa cium dan peluk pada saatnya akan berakhir hambar, ranjang akan menjadi lapuk dan reot, seseorang yang merasa ’muda’ akan terjebak dalam tubuh yang rentah, sementara disampingnya, orang yang dulu dicintai, menjadi bak pelepah pisang dengan dengkur babi yang menggelegar. Muda-mudi itu juga kelak akan merasakan bagaimana seorang anak yang sangat disayangi, yang dibesarkan dengan jerih payah tenaga dan fikiran siang malam selama berpuluh tahun akan seenaknya diambil orang asing yang hanya bertemu untuk satu atau lima tahun. Seperti menabung di bank, lalu tiba-tiba saat kita mengambilnya, di tengah perjalanan pulang, orang-orang bertopeng seenaknya menodongkan pistol dan mengambil semuanya. Kalau uang bisa dihitung, maka cinta orang tua pada anak seperti cinta pada dirinya dan Tuhannya. Ketika seseorang mengambilnya, seluruh jiwa seperti di tarik kencan dari ubun-ubun. Aku hanya punya satu anak, untunglah tidak merasakan sakit berkali-kali dan aku kini menunggu mu. Masih lama juga.
*
Kereta ini berjalan pelan, tapi hanya inilah yang bisa mengantarkanku ke kampung halaman, kota kecilku. Untuk kesekian kalinya aku berfikir sepertinya aku harus membawa ayah ke rumahku, tapi keras kepalanya seperti batu gunung yang hanya roboh bila ada gempa besar. Dan ini untuk kesekian kalinya aku akhirnya bisa pulang ke kampung, mau di rumah atau di kampung, dua laki-laki dalam hidupku sama saja, kekasihku persis seperti ayahku, tidak mau ditundukkan, aku seperti lepas dari macan lalu bertemu singa,
”ayahku pasti rindu, dia semakin tua”
”kita akan ke kampung bersama”
”tapi urusanmu juga masih banyak, lalu kapan”
”tunggu saja”
Demikian aku menunggu sebulan lalu berbulan-bulan, dan akhirnya sehari yang lalu ia bilang,
”sayangku, tampaknya urusanku semakin banyak, kamu ke sana sendiri saja ya”
Beberapa jam yang lalu ia melepaskanku di ruang tunggu pemberangkatan, aku baru sadar bahwa ia memelukku sambil tertawa dan juga menangis, laki-laki kadang tidak bisa dimengerti, mengapa harus malu untuk menangis, untuk mengatakan bahwa ia sangat sedih bila kekasihnya pergi, yang membuat ia harus merasa terima saja untuk sendirian di telan bumi. Kesunyian itu, ah terkadang aku yang seharusnya merasa bersalah, bertahun-tahun sudah pernikahan kami, tapi apa yang kami inginkan belum juga tercapai, anak.
*
Ketika istriku jauh seperti malam ini, membawaku melompat ke awal kejadian, aku berharap pernikahanku akan lancar-lancar saja, tapi kini ada masalah besar atau malah bukan masalah, kami belum juga punya momongan, bulan depan adalah pernikahan yang ke 10, dan seperti kata dokter, aku butuh banyak istirahat. Ironisnya akulah yang ada kemungkinan salah pada situasi ini, pada kesehatan produktifitas alat vitalku, aku tidak meminta tapi itu terjadi, dari dua ratus juta sperma setiap kali orgasme, tak ada satupun yang sehat, dokter bilang bahwa itu bisa disehatkan dengan gaya hidup teratur, tapi tetap saja hasilnya sia-sia. Andai satu anak masih bersamaku setelah satunya di bawa ibunya ke kampung seperti sekarang, pasti aku masih bisa belajar bersama anakku malam ini, menghafal jumlah propinsi di Indonesia, menghafal ibu kota Trinidat-Tobaco, atau pada saatnya berdebat masalah kalkulus, atau merasakan ia tumbuh menjadi besar dan mendengarkan ia bercerita tentang jatuh cinta pada seseorang untuk kali pertama.
Setelah sepuluh tahun berlalu, bermacam jatuh bangun, ketegangan dan kelapangan, kepedihan dan ketenangan, kemiskinan dan keberuntungan, akhirnya kami harus membiarkan harapan itu berjalan apa adanya, Tuhan tentu lebih mengerti apa yang akan Ia pilihkan untuk kami, toh dunia sudah dipenuhi orang-orang susah. Istriku mendirikan TK mungil di halaman depan dengan teman-temannya untuk anak-anak keluarga kurang mampu, setidaknya aku bisa melihat di kala senggang, anak-anak bermain di depan halaman, anak-anak menangis, anak-anak tertawa. Istriku adalah wanita tangguh yang pada akhirnya harus menyerah dan membiasaan diri: bahwa keluarga tidak selalu harus: ayah, ibu dan anak. Dan aku kini berfikir laki-laki tidak menikahi wanitanya karena ranjang dan masakannya, kecerdasannya, statusnya atau keturunannya, tapi karena wanita yang ia nikahi mampu membawa diri sebagai wanita, yang mendampingi laki-laki. Tidak ada keluarga yang menginginkan ada dua ’laki-laki’ atau dua ’wanita’ dalam rumahnya, tentu yang keras akan bersanding dengan yang lembut, kencang akan bersanding dengan pelan, tegas akan bersanding dengan lunak, ini seperti menemukan gaya permainan, dan walaupun tanpa anak.
Setelah sepuluh tahun berlalu, bermacam jatuh bangun, ketegangan dan kelapangan, kepedihan dan ketenangan, kemiskinan dan keberuntungan, akhirnya kami harus membiarkan harapan itu berjalan apa adanya, Tuhan tentu lebih mengerti apa yang akan Ia pilihkan untuk kami, toh dunia sudah dipenuhi orang-orang susah. Istriku mendirikan TK mungil di halaman depan dengan teman-temannya untuk anak-anak keluarga kurang mampu, setidaknya aku bisa melihat di kala senggang, anak-anak bermain di depan halaman, anak-anak menangis, anak-anak tertawa. Istriku adalah wanita tangguh yang pada akhirnya harus menyerah dan membiasaan diri: bahwa keluarga tidak selalu harus: ayah, ibu dan anak. Dan aku kini berfikir laki-laki tidak menikahi wanitanya karena ranjang dan masakannya, kecerdasannya, statusnya atau keturunannya, tapi karena wanita yang ia nikahi mampu membawa diri sebagai wanita, yang mendampingi laki-laki. Tidak ada keluarga yang menginginkan ada dua ’laki-laki’ atau dua ’wanita’ dalam rumahnya, tentu yang keras akan bersanding dengan yang lembut, kencang akan bersanding dengan pelan, tegas akan bersanding dengan lunak, ini seperti menemukan gaya permainan, dan walaupun tanpa anak.
*
Sepanjang perjalanan, anak-anak di kursi depan ku terus bermain-main, aku ikut menyimak permainan mereka, satu ingin jadi polisi, satu mau saja jadi penjahat, mereka berlarian di sekitar koridor gerbong kereta, penjahat dikalahkan oleh polisi dengan pistolnya ”doroorr !”, lalu peran di tukar, yang polisi menjadi monster dan penjahat menjadi kesatria bertopeng, permainan dimulai, seharusnya moster selalu kalah dengan kesatria bertopeng seperti dalam film-film, tapi karena yang jadi monster adalah kakak, maka kakak ingin menang terus, kesatrianya kalah, lalu kesatria menangis, ”hiiiikzzz”. Dari anak-anaklah aku paham, bahwa cerita yang baik itu tidak seperti yang selalu seperti ’biasanya’. Aku belikan mereka mainan di pemberhentian sementara, balon warna-warni, pistol mainan untuk kakak laki-laki dan boneka imut untuk adik perempuan. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih, dan permainan baru meraka ciptakan, dokter-dokteran, cerita selanjutnya tentu tahu sendiri..
Dulu ketika aku melihat bayi lucu, aku selalu menangis, bahwa aku tak bisa menjadi wanita yang ’sebenarnya’. Aku ingin sekali payudaraku bersusu, bagaimana rasanya? Tapi seiring berjalannya waktu, seorang suami diciptakan bukan untuk memberikan ku bayi lucu, atau senggama yang panasnya sepanas sahara, pada akhirnya segala hal tidak seperti kelihatannya, kesedihan, kesepian, kekecewaan, gundah, luka, perih, semua itu lambat laun melepuh seperti es krim, waktu dan masa yang akan depan adalah obat segala luka, dan ketika aku bangun setiap pagi, aku hanya berdoa agar kami berdua mampu bersyukur atas segala hal yang memang telah Ia berikan sampai saat ini, kesehatan, kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Walau kadang kala aku tiba-tiba menangis sesunggukan sendiri, andai aku punya kekuatan untuk memilih, aku akan pergi darinya, memintanya menceraikanku, mencari laki-laki baruku, dan menjadi ibu yang anggun dengan anak-anak yang tampan dan pintar. Tapi cinta bagi ku seringkali bukanlah kekuatan untuk membuat dunia menjadi apa yang kita harapkan: bermain piano, sambil memandang hamparan sawah menghijau di balik jendela dan anak-anak bermain-main di teras rumah dengan pistol atau boneka, lalu suami datang dengan sekotak coklat dan rangkaian bunga. Cinta menyeret ku ke dunia nyata: tidak punya anak tapi memiliki banyak anak-anak di depan halaman rumah, suami tidak romantis tapi jauh lebih filosofis, rumah sederhana di kerumunan pemukiman padat tapi cukup tenang untuk lelap di malam hari, secangkir teh di teras pagi hari, tuan rumah kegiatan ibu-ibu PKK dan pengajian, sepetak kecil buat bercocok tanan, sebidang bangunan untuk TK, dan menatap bintang serta langit di loteng atas. Hidup bukan Romeo dan Juliet yang berkorban untuk cinta, tapi hidup yang tidak selalu seperti yang kita harapkan adalah cinta itu sendiri.
*
Kereta akhirnya datang, hampir telat satu jam, putriku mulai nampak berjalan pelan mendekat pada ku, aku merengkuhnya seperti merengku almarhumah istriku, dan bayi kecilku satu-satunya, seperti merangkuh seluruh dunia.
”Putriku, oh putriku..”
”Ayah..”
Andai ia tahu yang sedang aku rasakan tentu dia mempertimbangkan sekali lagi untuk kembali ke ’perampok tabungan’-ku. Tapi untungnya cintaku berada antara yang disembunyikan dan yang terang benderang. Aku seperti mencium kening bayiku, mencium kening istriku.
”Ayah sehat”
”Jauh lebih sehat ketika kamu di sini saat ini”
Kami pulang ke rumah, rumah istriku, yang luas, besar, dengan sembilan kucing, dua burung jalak, ikan koi di taman halaman belakang, dan kebun cukup luas.
”Jadi ayah sudah tidak mengeluh lagi di bagian dada dan leher”
”Ayah mu olah raga setiap pagi”
”Obat-obat masih di minum”
”Tidak lagi untuk dua bulan ini”
”Sungguh? Tidak apa-apa?”
”Ayahmu sehat, sesehat kuda pacuan.. hehe”
Sepotong kue dan dua cangkir teh untuk kami berdua, dengan kucing di bawah meja teras yang hilir mudik.
”Bagaimana suamimu”
”Oh ya, titip salam sungkem buat ayah, minta maaf tidak bisa datang, masih sibuk yah”
”Semua baik-baik saja..”
”Alhamdulillah, sangat baik, semua seperti yang kita harapkan”
Aku diam sejenak, berfikir tentang bagaimana perkembangan usaha untuk memiliki momongan, tapi aku mengindahkan. Aku kasihan dengan putriku, setiap dia ke sini selalu itu yang paling awal aku tanyakan, kali ini tidak lagi, kita hanya mampu berdoa serta usaha dan takdir yang akan menentukan.
”Ayah, apa kegiatan ayah saat ini”
”Menjaga rumah.. hehe”
”Ayah butuh pembantu...? rumah ayah terlalu luas....”
”Oh tidak nak, sekalian olah raga”
”Atau... nanti ayah sering-sering kunjungi kami, atau ayah berminat tinggal bersama kami?”
”Oh terimakasih, nanti merepotkan, ayah tenang di sini, melihat kebun ibumu, menunggu-nunggu setiap musim buah, kemarin musim rambutan, sebelumnya mangga, sekarang duku di depan mejamu, dan besok mungkin durian... rumah dan kebun ibumu ini surga bagi ayah”
”Yummi.... Manis dukunya yah”
”Tak semanis kamu duhai putri kesayanganku...”
”Ayah pandai merayu, dan andai ibu ada di samping kita, pastilah dia akan bilang waooww, okkkey, seperti biasanya”
”Ibumu wanita yang cantik, secantik kamu”
”mulai lagi.....2 : 0, tapi ayah laki-laki yang memang tercipta untuk wanita tercantik seperti ibu, pantaslah...”
”ya.. ya.. ya.... 2 : 1”
”hahahhahahhaha”
Kami tertawa, di teras yang dikelilingi taman dengan aneka adenium, kamboja, bogenvil dan anggrek, berpuluh kaktus dan ikan koi, kali ini surga dunia milik kami berdua.
*
Akhirnya, malam ini aku terkapar sendiri di kamar tidur, seperti pelepah pisang di atas timbunan pasir, jendela masih terbuka dan angin malam dari tepian sungai tempat kami tinggal menelusup menghelai kelambu, aku menarik selimut berharap agar malam-malam seperti ini cepat berlalu, tapi aku tidak bisa tertidur. Aku berjalan ke ruang makan sempitku tempat segala perabotan dapur dan meja makan, mencoba menyantap yang bisa disantap, menggoreng telur, melahap bersama sambal bawang merah mentah yang biasanya dibuatkan istriku, aku kepedasan, kenyang sekali, tapi belum bisa tidur. Ku coba nyalakan tv, ku coba online, ku coba hubungi hp istriku, atau telepon rumah ayah mertua, tapi tidak diangkat, sedih rasanya. Aku coba memberi makan ikan-ikan dalam aquarium, menyalakan radio, tapi semua membuatku tetap gelisah, aku tahu tapi mencoba menyangkal kalau ini karena aku rindu atau mungkin karena anak. Pada akhirnya aku membuka buku dan setumpuk cetakan jurnal-jurnal sekedar untuk menambahku pusing, lalu aku seperti lepas dari tubuhku dan mengembara mencari diriku, mencari istriku, mencari anak-anakku, di negeri tanpa tepi, gegap gempita dipenuhi pelangi. Aku telah tertidur.
*
Cinta seperti monster yang tidak mau kalah
pada skenario cerita yang seharusnya ia kalah.
*
Cinta adalah ’laki-laki’ dengan ’perempuan’,
yang kasar dengan yang lembut
*
Cinta adalah apa yang ada
pada kenyataan hidup yang kita jalani.
*
Cinta adalah mengikhlaskan
’tabungan bank’ untuk dirapok bandit!
*
**
pada skenario cerita yang seharusnya ia kalah.
*
Cinta adalah ’laki-laki’ dengan ’perempuan’,
yang kasar dengan yang lembut
*
Cinta adalah apa yang ada
pada kenyataan hidup yang kita jalani.
*
Cinta adalah mengikhlaskan
’tabungan bank’ untuk dirapok bandit!
*
**



























