Sabtu, 28 Januari 2012

Ayah, Anak, Suami Mandul dan Kekasihnya

Posted by MOVAZ On 00:36

Langit tersontak panas, awan hanyalah gegumpal yang memendar tak beraturan, berarak acak. Hari ini aku menunggu mu lama, stasiun merderek seperti kipas angin tua, ada orang tertidur nyenyak di ujung stasiun, jauh di seberang sana, seperti bandeng presto dengan buntelan baju koyak, mungkin orang gila atau gembel yang lelah.


Sebenarnya aku tak mau menunggu mu, kamu sudah gede, dan kamu tahu aku sudah terlalu tua untuk masuk dalam kerumunan orang-orang asing, tapi engkau adalah satu-satunya yang ku punya, walau aku sadar, bagi ku itu tak ada gunanya, memiliki atau tidak memiliki mu, kau sudah ada yang punya, dan aku ini siapa? sendirian di kota asing ini.



Ibumu lah yang meminta ku memilih tempat ini, dulu ketika pohon-pohon flamboyan masih rindang dengan rimbunan bunga merahnya di dekat taman kota, kita bisa jalan pagi bersama sambil mencoba mencicipi sarapan pagi pinggiran jalan, atau berpapasan dengan orang-orang, menanyakan kabar mereka, tentang kehidupan biasa. Dulu ketika kita masih bisa putar-putar kota dengan sepeda tua, menghitung burung-burung di atas beringin alun-alun tengah kota, atau duduk henyak pada setiap sore kala menunggu menara masjid agung memanggil adzan sementara ribuan burung menari-nari di atasnya, dan sinar mentari menyibakkan pendar senja sehingga semua bangunan di kota ini mengkilat menjadi emas.


Ibumu ternyata salah, kota ini telah runtuh beberapa puluh tahun lalu, jauh lebih baik bagi orang tua berdiam seharian di rumah. Tak ada tempat bagi orang-orang seumuranku, taman kota telah menjadi monumen setengah jadi, pohon-pohon flamboyan kami telah ditebang, burung-burung telah pergi. Yang melintas di  jalanan semakin merasa rendah saja, dan mereka yang ada di gedung bertingkat saja yang berhak menikmati kota ini seperti petugas menara pengawas. Jalan sudah penuh sesak, seperti tersedak makanan, masuk tak sanggup keluarpun enggan. Aku mulai benci kota ini, kalau bukan karena rumah ibumu itu, aku pasti telah pergi membeli rumah yang lebih pinggiran, dan kau membuatku menunggu lama di sini, di stasiun kota yang telah melepuh seperti remah gerbong kereta ekonomi, berbau anyir dan bacin.


Kereta benar-benar telat lama, dan aku tahu akan seperti ini. Di sampingku pasangan muda-mudi juga menunggu kedatangan kereta, peluk memeluk seperti dunia milik berdua. Kelak mereka akan tahu bahwa cium dan peluk pada saatnya akan berakhir hambar, ranjang akan menjadi lapuk dan reot, seseorang yang merasa ’muda’ akan terjebak dalam tubuh yang rentah, sementara disampingnya, orang yang dulu dicintai, menjadi bak pelepah pisang dengan dengkur babi yang menggelegar. Muda-mudi itu juga kelak akan merasakan bagaimana seorang anak yang sangat disayangi, yang dibesarkan dengan jerih payah tenaga dan fikiran siang malam selama berpuluh tahun akan seenaknya diambil orang asing yang hanya bertemu untuk satu atau lima tahun. Seperti menabung di bank, lalu tiba-tiba saat kita mengambilnya, di tengah perjalanan pulang, orang-orang bertopeng seenaknya menodongkan pistol dan mengambil semuanya. Kalau uang bisa dihitung, maka cinta orang tua pada anak seperti cinta pada dirinya dan Tuhannya. Ketika seseorang mengambilnya, seluruh jiwa seperti di tarik kencan dari ubun-ubun. Aku hanya punya satu anak, untunglah  tidak merasakan sakit berkali-kali dan aku kini menunggu mu. Masih lama juga.
*
Kereta ini berjalan pelan, tapi hanya inilah yang bisa mengantarkanku ke kampung halaman, kota kecilku. Untuk kesekian kalinya aku berfikir sepertinya aku harus membawa ayah ke rumahku, tapi keras kepalanya seperti batu gunung yang hanya roboh bila ada gempa besar. Dan ini untuk kesekian kalinya aku akhirnya bisa pulang ke kampung, mau di rumah atau di kampung, dua laki-laki dalam hidupku sama saja, kekasihku persis seperti ayahku, tidak mau ditundukkan, aku seperti lepas dari macan lalu bertemu singa,

”ayahku pasti rindu, dia semakin tua”
”kita akan ke kampung bersama”
”tapi urusanmu juga masih banyak, lalu kapan”
”tunggu saja”


Demikian aku menunggu sebulan lalu berbulan-bulan, dan akhirnya sehari yang lalu ia bilang,


”sayangku, tampaknya urusanku semakin banyak, kamu ke sana sendiri saja ya”


Beberapa jam yang lalu ia melepaskanku di ruang tunggu pemberangkatan, aku baru sadar bahwa ia memelukku sambil tertawa dan juga menangis, laki-laki kadang tidak bisa dimengerti, mengapa harus malu untuk menangis, untuk mengatakan bahwa ia sangat sedih bila kekasihnya pergi, yang membuat ia harus merasa terima saja untuk sendirian di telan bumi. Kesunyian itu, ah terkadang aku yang seharusnya merasa bersalah, bertahun-tahun sudah pernikahan kami, tapi apa yang kami inginkan belum juga tercapai, anak.
*
Ketika istriku jauh seperti malam ini, membawaku melompat ke awal kejadian, aku berharap pernikahanku akan lancar-lancar saja, tapi kini ada masalah besar atau malah bukan masalah, kami belum juga punya momongan, bulan depan adalah pernikahan yang ke 10, dan seperti kata dokter, aku butuh banyak istirahat. Ironisnya akulah yang ada kemungkinan salah pada situasi ini, pada kesehatan produktifitas alat vitalku, aku tidak meminta tapi itu terjadi, dari dua ratus juta sperma setiap kali orgasme, tak ada satupun yang sehat, dokter bilang bahwa itu bisa disehatkan dengan gaya hidup teratur, tapi tetap saja hasilnya sia-sia. Andai satu anak masih bersamaku setelah satunya di bawa ibunya ke kampung seperti sekarang, pasti aku masih bisa belajar bersama anakku malam ini, menghafal jumlah propinsi di Indonesia, menghafal ibu kota Trinidat-Tobaco, atau pada saatnya berdebat masalah kalkulus, atau merasakan ia tumbuh menjadi besar dan mendengarkan ia bercerita tentang jatuh cinta pada seseorang untuk kali pertama.


Setelah sepuluh tahun berlalu, bermacam jatuh bangun, ketegangan dan kelapangan, kepedihan dan ketenangan, kemiskinan dan keberuntungan, akhirnya kami harus membiarkan harapan itu berjalan apa adanya, Tuhan tentu lebih mengerti apa yang akan Ia pilihkan untuk kami, toh dunia sudah dipenuhi orang-orang susah. Istriku mendirikan TK mungil di halaman depan dengan teman-temannya untuk anak-anak keluarga kurang mampu, setidaknya aku bisa melihat di kala senggang, anak-anak bermain di depan halaman, anak-anak menangis, anak-anak tertawa. Istriku adalah wanita tangguh yang pada akhirnya harus menyerah dan membiasaan diri: bahwa keluarga tidak selalu harus: ayah, ibu dan anak. Dan aku kini berfikir laki-laki tidak menikahi wanitanya karena ranjang dan masakannya, kecerdasannya, statusnya atau keturunannya, tapi karena wanita yang ia nikahi mampu membawa diri sebagai wanita, yang mendampingi laki-laki. Tidak ada keluarga yang menginginkan ada dua ’laki-laki’ atau dua ’wanita’ dalam rumahnya, tentu yang keras akan bersanding dengan yang lembut, kencang akan bersanding dengan pelan, tegas akan bersanding dengan lunak, ini seperti menemukan gaya permainan, dan walaupun tanpa anak.
*


Sepanjang perjalanan, anak-anak di kursi depan ku terus bermain-main, aku ikut menyimak permainan mereka, satu ingin jadi polisi, satu mau saja jadi penjahat, mereka berlarian di sekitar koridor gerbong kereta, penjahat dikalahkan oleh polisi dengan pistolnya ”doroorr !”, lalu peran di tukar, yang polisi menjadi monster dan penjahat menjadi kesatria bertopeng, permainan dimulai, seharusnya moster selalu kalah dengan kesatria bertopeng seperti dalam film-film, tapi karena yang jadi monster adalah kakak, maka kakak ingin menang terus, kesatrianya kalah, lalu kesatria menangis, ”hiiiikzzz”. Dari anak-anaklah aku paham, bahwa cerita yang baik itu tidak seperti yang selalu seperti ’biasanya’. Aku belikan mereka mainan di pemberhentian sementara, balon warna-warni, pistol mainan untuk kakak laki-laki dan boneka imut untuk adik perempuan. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih, dan permainan baru meraka ciptakan, dokter-dokteran, cerita selanjutnya tentu tahu sendiri..


Dulu ketika aku melihat bayi lucu, aku selalu menangis, bahwa aku tak bisa menjadi wanita yang ’sebenarnya’. Aku ingin sekali payudaraku bersusu, bagaimana rasanya? Tapi seiring berjalannya waktu, seorang suami diciptakan bukan untuk memberikan ku bayi lucu, atau senggama yang panasnya sepanas sahara, pada akhirnya segala hal tidak seperti kelihatannya, kesedihan, kesepian, kekecewaan, gundah, luka, perih, semua itu lambat laun melepuh seperti es krim, waktu dan masa yang akan depan adalah obat segala luka, dan ketika aku bangun setiap pagi, aku hanya berdoa agar kami berdua mampu bersyukur atas segala hal yang memang telah Ia berikan sampai saat ini, kesehatan, kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik.


Walau kadang kala aku tiba-tiba menangis sesunggukan sendiri, andai aku punya kekuatan untuk memilih,  aku akan pergi darinya, memintanya menceraikanku, mencari laki-laki baruku, dan menjadi ibu yang anggun dengan anak-anak yang tampan dan pintar. Tapi cinta bagi ku seringkali bukanlah kekuatan untuk membuat dunia menjadi apa yang kita harapkan: bermain piano, sambil memandang hamparan sawah menghijau di balik jendela dan anak-anak bermain-main di teras rumah dengan pistol atau boneka, lalu suami datang dengan sekotak coklat dan rangkaian bunga. Cinta menyeret ku ke dunia nyata: tidak punya anak tapi memiliki banyak anak-anak di depan halaman rumah, suami tidak romantis tapi jauh lebih filosofis, rumah sederhana di kerumunan pemukiman padat tapi cukup tenang untuk lelap di malam hari, secangkir teh di teras pagi hari, tuan rumah kegiatan ibu-ibu PKK dan pengajian, sepetak kecil buat bercocok tanan, sebidang bangunan untuk TK, dan menatap bintang serta langit di loteng atas.  Hidup bukan Romeo dan Juliet yang berkorban untuk cinta, tapi hidup yang tidak selalu seperti yang kita harapkan adalah cinta itu sendiri.
*
Kereta akhirnya datang, hampir telat satu jam, putriku mulai nampak berjalan pelan mendekat pada ku, aku merengkuhnya seperti merengku almarhumah istriku, dan bayi kecilku satu-satunya, seperti merangkuh seluruh dunia.


”Putriku, oh putriku..”
”Ayah..”


Andai ia tahu yang sedang aku rasakan tentu dia mempertimbangkan sekali lagi untuk kembali ke ’perampok tabungan’-ku. Tapi untungnya cintaku berada antara yang disembunyikan dan yang terang benderang. Aku seperti mencium kening bayiku, mencium kening istriku.

”Ayah sehat”
”Jauh lebih sehat ketika kamu di sini saat ini”


Kami pulang ke rumah, rumah istriku, yang luas, besar, dengan sembilan kucing, dua burung jalak,  ikan koi di taman halaman belakang, dan kebun cukup luas.

”Jadi ayah sudah tidak mengeluh lagi di bagian dada dan leher”
”Ayah mu olah raga setiap pagi”
”Obat-obat masih di minum”
”Tidak lagi untuk dua bulan ini”
”Sungguh? Tidak apa-apa?”
”Ayahmu sehat, sesehat kuda pacuan.. hehe”


Sepotong kue dan dua cangkir teh untuk kami berdua, dengan kucing di bawah meja teras yang hilir mudik.


”Bagaimana suamimu”
”Oh ya, titip salam sungkem buat ayah, minta maaf tidak bisa datang, masih sibuk yah”
”Semua baik-baik saja..”
”Alhamdulillah, sangat baik, semua seperti yang kita harapkan”


Aku diam sejenak, berfikir tentang bagaimana perkembangan usaha untuk memiliki momongan, tapi aku mengindahkan. Aku kasihan dengan putriku, setiap dia ke sini selalu itu yang paling awal aku tanyakan, kali ini tidak lagi, kita hanya mampu berdoa serta  usaha dan takdir yang akan menentukan.


”Ayah, apa kegiatan ayah saat ini”
”Menjaga rumah.. hehe”
”Ayah butuh pembantu...?  rumah ayah terlalu luas....”
”Oh tidak nak, sekalian olah raga”
”Atau... nanti ayah sering-sering kunjungi kami, atau ayah berminat tinggal bersama kami?”
”Oh terimakasih, nanti merepotkan, ayah tenang di sini, melihat kebun ibumu, menunggu-nunggu setiap musim buah, kemarin musim rambutan, sebelumnya mangga, sekarang duku di depan mejamu, dan besok mungkin durian... rumah dan kebun ibumu ini surga bagi ayah”
”Yummi.... Manis dukunya yah”
”Tak semanis kamu duhai putri kesayanganku...”
”Ayah pandai merayu, dan andai ibu ada di samping kita, pastilah dia akan bilang waooww, okkkey, seperti biasanya”
”Ibumu wanita yang cantik, secantik kamu”
”mulai lagi.....2 : 0, tapi ayah laki-laki yang memang tercipta untuk wanita tercantik seperti ibu, pantaslah...”
”ya.. ya.. ya.... 2 : 1”
”hahahhahahhaha”


Kami tertawa, di teras yang dikelilingi taman dengan aneka adenium, kamboja, bogenvil dan anggrek, berpuluh kaktus dan ikan koi, kali ini surga dunia milik kami berdua.
*

Akhirnya, malam ini aku terkapar sendiri di kamar tidur, seperti pelepah pisang di atas timbunan pasir, jendela masih terbuka dan angin malam dari tepian sungai tempat kami tinggal menelusup menghelai kelambu, aku menarik selimut berharap agar malam-malam seperti ini cepat berlalu, tapi aku tidak bisa tertidur. Aku berjalan ke ruang makan sempitku tempat segala perabotan dapur dan meja makan, mencoba menyantap yang bisa disantap, menggoreng telur, melahap bersama sambal bawang merah mentah yang biasanya dibuatkan istriku, aku kepedasan, kenyang sekali, tapi belum bisa tidur. Ku coba nyalakan tv, ku coba online, ku coba hubungi hp istriku, atau telepon rumah ayah mertua, tapi tidak diangkat, sedih rasanya. Aku coba memberi makan ikan-ikan dalam aquarium, menyalakan radio, tapi semua membuatku tetap gelisah, aku tahu tapi mencoba menyangkal kalau ini karena aku rindu atau mungkin karena anak. Pada akhirnya aku membuka buku dan setumpuk cetakan  jurnal-jurnal sekedar untuk menambahku pusing, lalu aku seperti lepas dari tubuhku dan mengembara mencari diriku, mencari istriku, mencari anak-anakku, di negeri tanpa tepi, gegap gempita dipenuhi pelangi. Aku telah tertidur.
*
Cinta seperti monster yang tidak mau kalah
pada skenario cerita yang seharusnya ia kalah.
*
Cinta adalah ’laki-laki’ dengan ’perempuan’,
yang kasar dengan yang lembut
*
Cinta adalah apa yang ada
pada kenyataan hidup yang kita jalani.
*
Cinta adalah mengikhlaskan
’tabungan bank’ untuk dirapok bandit!
*
**

Minggu, 22 Januari 2012

JAKARTA PAGI INI di AWAL 2012

Posted by MOVAZ On 12:06

{ini hanya catatan pribadi tentang saya}
{maaf bila terlalu sentimentil dan sangat subjektif}

Akhirnya saya sempat posting lagi setelah sekian lama saya melupakan KUIL KATA ini. Singkat kata (singkat cerita), saya akan menulis beberapa hal yang menurut saya pantas untuk dicatat di tahun 2012 yang baru ini (selamat tahun baru):


  • 1). Adik saya menikah di usia 26 tahun ( sementara umur saya baru saja masuk ke angka 28 tahun: SELAMAT (untuk adik saya dan saya juga)!).
  • 2). Kuliah, tugas akhir saya yang belum berakhir (masih revisi dan revisi, antri buat kompre).
  • 3). Pekerja, "habis lulus mau KERJA apa?" jawab: "saya belum tahu".
  • 4). Kebahagiaan (Baru tahu bahwa indeks internasional kebahagiaan dunia, indonesia nomer 16! apakah saya termasuk rata-rata orang Indonesia)
  • 5). 2012 (so WHAT).

1. Ok, kali ini saya posting blog dari Jakarta lagi, Ibu kota Indonesia, salah satu dari semakin bertambahnya kota terpadat di dunia. Setahun yang lalu, tepatnya saya terakhir ke Jakarta, waktu itu ada satu mall baru di sekitar Bintaro (tempat saya numpang saat ini), malam ini saya menghitung ada 4 mall baru, dan mall-mall itu lebih besar dan lebih modern dari yang sebelumya.

Kali ini saya ke Jakarta karena adik saya menikah, saya senang karena ia bahagia dengan loncatan ke depannya MENIKAH, mendapatkan apa yang benar-benar ia cintai, dan bersama seseorang yang ia cintai hidup (insyallah) hingga sepanjang hayat. Saya "dilangkahi", karena adik saya nikah duluan, itu bukan masalah bagi saya, sungguh hal yang sangat wajar di zaman modern: bahwa pernikahan adalah hal yang tidak perlu dipaksakan waktunya, maksudnya: yang tua tidak harus yang duluan.

Pernikahan yang luar biasa, luar biasa karena yang menikah adalah adik kandung saya satu-satunya di dunia, saya menangis ketika akad nikah diucapkan, pasti ia begitu bahagia, "selamat melanjutkan hidup yang lebih segar Bapak Adam".

Pernikahan: Upacara dan Pesta itu cuma sehari dan diharapkan hanya berlangsung sekali seumur hidup bagi sepasang mempelai.  Persiapannya bisa berbulan-bulan, sebuah pesta harus sesempurna mungkin dijalankan. Kostum, Waktu, Tempat, Makanan, Dekorasi, Musik, segala tentang akad nikah, serta segala yang lainnya: ijab qobul, mahar, penghulu. Terlihat begitu besar dan kompleks, namun sebenarnya pesta dan upacar pernikahan adalah "SEBUAH UPACARA DAN PESTA YANG KESUKSESANNYA TIDAK HARUS MEMUSINGKAN MASALAH BIAYA, NAMUN BAGAIMANA SEMUA PESERTA PESTA BISA MENCAPAI KETEDUHAN DAN KEPUASAN DALAM IKUT TERLIBAT SERTA MERAYAKANNYA". Bagi saya pesta yang baik adalah: MAKANAN ENAK (+ MENGENYANGKAN), MUSIKNYA atau HIBURANNYA MAMPU MENGAJAK HADIRIN MENARI, MENYANYI dan ENAK DIDENGAR, BISA MENJALIN SILARURAHMI lebih erat dan cair, antar keluarga besar dan sahabat, tidak lupa mengundang yatim-piyatu dan yang tak berpunya (10 % minimal), Dekorasi yang atraktif dan tidak harus mahal, Busana pesta tidak harus wah atau megah namun pas dan elegan, serta terakhir DOANYA YANG MUSTAJAB (dikabulkan) terutama untuk mencapai cinta, ketenangan, dan kasih sayang kedua mempelai.

Demikian suatu alasan mengapa saya ke Jakarta, tak ada alasan lainnya. SELAMAT MENJADI BAPAK DAN KEPALA KELUARGA DEK.

2.Kuliah, Alhamdulillah, doa saya selalu dikabulkan Allah SWT, kesehatan, sahabat-sahabat yang baik, dan juga rasa sayang. Kuliah saya sudah mencapai tahap akhir, tesis tinggal dijalani: "Kajian Adat Balian terhadap Keberlanjutan Ladang Berpindah". Ini tentang bagaimana tradisi yang berlangsung lama sebagai pola adaptasi lingkungan bisa mengelola keberlanjutan usaha masyarakat peladang berpindah. Kata kuncinya (vareabel) adalah : 

  • a.Siklus atau rotasi(sebenarnya pengertian ladang berpindah tidak berarti dibuka lalu ditinggal, tapi sehabis satu ladang selesai dipanen, masyarakat membuka ladang baru, namun suatu saat akan kembali lagi ke tempat ladang awal melalui sistim rotasi, satu rotasi atau siklus bisa menggunakan secara bergilir 9 ladang dalam waktu 9 tahun). 

  • b. Laju pembukaan hutan primer (atau hutan alami untuk ladang berpindah ) oleh masyarakat peladang berpindah. 

  • c. Tingkat berkurangnya unsur kesuburan, terutama : persentasi P (Fosfor: adalah unsur penting kesuburan yang berupa batuan, sehingga jumlahnya relatif konstan, dan apabila terjadi panen terus menerus tanpa input (pupuk fosfor) dari luar maka unsur P akan berkurang lambat laun)  dan jumlah C (Karbon: unsur kesuburan lain yang bisa di dapat dari tumbuhan atau sisa pembuangan fases, tumbuhan menagkap karbon dari udara yang tersimpan dalam +- 40 %  dari berat massanya  hasil fotosintesis yang menyerap CO2 ) dalam ladang sesuai umur dan kelas suksesi yang sedang berlangsung. 

  • d. Dinamika kebutuhan uang tunai penduduk setempat sebagai pertimbangan untuk kecukupan ladang dalam memenuhi kebutuhan.

  • e. Dinamika Demografi untuk menganalisa faktor perubahan jumlah ladang.

  • f. Analisa kepadatan spesies degan metode kuadran untuk menganalisa efektifitas Bera dalam menjaga keragaman spesies (satu hal yang tidak dimiliki oleh pertanian model monolkultural seperti sawah pada umumnya dan kelapa sawit). 

  • g. Menganalisa secara integral vareabel tersebut sebelumnya dengan adat Bahuma (adat berladang masyarakat Dayak Meratus). 

Karena kajian saya lebih pada Human ecology dimana unsur A,B,C (abiotik, biotik, cultural) menjadi alat wajib pendekatan. Maka saya harus mengusahakan analisa sebab akibat dari semua pilihan vareabel yang saya lakukan. The Last News: penelitian masih berhenti di bab metodelogi, masih bernafas panjang, menunggu revisi dan revisi. Namun saya sungguh bersyukur, Profesor saya teramat sabar. 

3. Saya beberapa kali di tanya: "sehabis kuliah mau kerja apa? mau ke mana? bagaimana persiapannya?", saya jawab dengan senyum nungging, ini artinya : "saya sendiri tak tahu". Kuliah s1, saya mengambil hukum, konsentrasi perbandingan mazhab islam dan hukum, sementara s2 saya tentang ilmu lingkungan, konsentrasi cultural : human ecology. Jadi secara umum saya bingung mau ke mana setelah saya lulus. sederhananya saja: S1 saya pilih karena kajian islam kontemporer sangat menarik bagi saya ketika saya masih muda dulu, S2 saya pilih karena S1 saya MAPALA, dan saya voluteer LSM lingkungan, serta sedikit banyak saya menilai lingkungan hidup di sekitar saya sedang  mengalami kerusakan. Saya tidak punya alasan lain seperti: menjadi PENELITI, DOSEN, JURNALIS LINGKUNGAN atau AHLI ISLAM, KYAI, KONSULTAN AMDAL dan LINGKUNGAN, Aktivis NGO LINGKUNGAN ATAU AGAMA di tingkat LOKAL dan atau NGO INTERNASIONAL, Konsultan Hukum Islam, PENGACARA, anggota MUI, HAKIM AGAMA, jadi PEGAWAI DEPAG ataukah PENULIS BEBAS. Yang jelas, saya benar-benar masih belum tahu bagaimana mengembalikan bantuan keuangan dari kakak dan Orang Tua serta NGO tempat saya belajar hidup. Jadi saya cuma bilang bismillahirrahmanirrahim, semoga saja ilmu saya kelak bermanfaat bagi semua yang memang membutuhkan (BERMANFAAT TANPA PERLU MENGGADAI NEGERI INI ATAU PENDERITAAN RAKYAT, Atau DENGAN MENJUAL MURAH HARGA DIRI). amean.

Jadi intinya: SELESAIKAN KULIAH SECEPATNYA, lalu SEGERA CARI KERJA! titik (tanpa koma).

4. Kebahagiaan, "apakah saya sudah cukup merasa bahagia?" apakah anda pernah bertanya pada diri anda tentang hal ini?, pertama tentang hutang: hutang finansial saya pada keluarga dan sahabat sungguh seabrek (tapi tidak sampai membuat saya sulit tidur, karena untuk ukuran orang seumuran saya, masih dalam batas 'wajar'), terlebih hutang jasa dari keluarga dan sahabat (yang ini terlampau besar lagi). Yang harus saya sikapi adalah cara membayarnya, tentu saja SAYA HARUS BAYAR SENDIRI DAN ARTINYA SAYA HARUS BEKERJA. Dulu saya bisa dikatakan tidak berhutang, dan saya bekerja, dan sekarang saya sekolah dan saya berhutang. Hutang bisa jadi sesuatu yang harus dihadapi, semua negara maju punya hutang, namun MASALAH UTAMA HUTANG BUKANLAH BAGAIMANA MELUNASINYA, TAPI BAGAIMANA MENGATUR KESEIMBANGAN NERACANYA, saya perlu belajar dari kegagalan YUNANI dan Zona Eropa secara umum. Selanjutnya tentang kesehatan: masalah , kesehatan fisik yang utama adalah ..mm.. tak ada masalah yang berarti, minus mata saya sedikit bertambah, umur membuat tubuh saya cepat sekali lelah, berat badan saya bertambah 5 kg sejak 2 bulan yang lalu, organ dalam tubuh saya aman walau bronkitis asma saya kadang sedikit kambuh, masalah sedikit gatal di tenggorokan sejak sepuluh tahun yang lalu mungkin sedikit sekali berdampak, ada pergeseran tulang yang sedikit kurang sempurna di rahang bawah saya. Mungkin gaya hidup yang kurang sehat justru menjadi penyebab sakit: kurang tidur, berfikir 'aneh-aneh' yang tidak perlu, kurang olah raga, makan apa saja dan kebanyakan. Kesehatan spiritual saya menjadi parameter ke-3 kebahagiaan: ini tentang CINTA, KESABARAN, KEIKHLASAN UNTUK TULUS DAN BERBAGI, KESADARAN, ETOS KERJA, DISIPLIN dan IMAN. Cinta saya begitulah adanya, kesabaran saya: mungkin bisa dikatakan kehilangan semangat untuk ber-emosi, tapi tidak berarti sabar, Keikhalasan saya: naik dan turun, tergantung kepentingan, teman saya kemarin sempat menghitung sholat isya' saya hanya dilangsungkan dalam 49 detik (ikhlasnya masih jauh katanya), Kesadaran saya: masih merasa berumur antara 22-23 tahun, masih suka bermain, kurang serius, dan seenak jidat, Etos kerja saya masih moody, kadang kenceng kadang terlalu kendor, Disiplin saya; sholat (tepat waktu) dan jam belajar saya masih sangat rapuh, sering ditunda-tunda (alamat tidak mungkin kaya). Dan mungkin tentang iman: saat ini kalau bisa digambarkan, saya tidak setabah seperti tebing karang, saya semacam air gemericik di sungai yang ingin menjumpai samudra, tapi sungainya belok kanan kiri. Walaupun demikian, kebahagiaan tidak selalu dipandang dalam ukuran-ukuran sesederhana di atas, bagi saya KEBAHAGIAAN LEBIH PADA BAGAIMANA MENIKMATI DAN BERBAGI DALAM HIDUP DI DUNIA YANG SINGKAT INI, DAN SEPANJANG KITA MASIH TERUS (BERLATIH) BERSYUKUR ATAS APA YANG ADA DAN DIPILIHKAN OLEH-NYA UNTUK KITA DI DUNIA SEBAGAI AMANAH. Kesehatan adalah amanah sangat berharga, waktu adalah amanah luar biasa, dan kepercayaan keluarga-sahabat-rekan kerja adalah amanah yang luar biasa, iman juga amanah agung yang menjaga kita dari kehampaan.

5. 2012, 28 tahun dan baru menginjak awal 29 tahun, status awal saya di facebook tahun 2012 "lulus, kerja dan menikah di tahun ini, sungguh tahun yang berat", dari luar, nada yang muncul adalah pesimistik, mungkin lulus bisa 99 %, kerja bisa 75 %, dan menikah 50 %. Teman dekat saya bilang, semua tergantung di saya, karena keputusan murni dari saya, sementara saya terbiasa bilang semua tergantung kesempatan yang datang ke saya, karena keputusan tidak selalu tergantung pada saya. Ini menyimpulkan, secara sadar atau tidak sadar: SAYA MASIH TERLALU KECIL UNTUK BISA DIKATAKAN BEBAS TERBANG LEPAS KE ANGKASA! DAN TENTU SAJA UNTUK KEBEBASAN BERTANGGUNG JAWAB, saya masih TAKUT, dan RAGU. Saya masih CURIGA, saya HIPOKRIT. 2012 bisa jadi kiamat bagi saya bila saya masih merasa bersikap 22 tahun, dalam hal ini adik saya berada beberapa (banyak) langkah di depan saya, dan karenanya saya sangat menaruh hormat padanya.

Selamat Tahun 2012 untuk semuanya.












Senin, 28 November 2011

SEBUAH SURAU DI UJUNG BUKIT YANG SUNYI

Posted by MOVAZ On 06:43

Bau tanah tercium sehabis turun hujan, ada laron yang terbang berputar (sekali untuk mati) di dimar redup dengan nyala pendar yang tergelantung di rangka tiang. Suatu yang 'kosong', tidak ada apa-apa kecuali kesunyian ini, sesuatu yang datang dan membisik berlahan: ALAM. Pada hembusan angin yang menyeka pelan pipi ku, pada gemericik sungai kecil yang merintih di balik semak-semak, gemerincit bambu yang saling bergesek, pada daun-daun yang bergerinyit. Jangkerik telah mengerik sedari sore, burung hantu mengalunkan elegi, awan semacam hasil kuasan serampangan yang lalu memudar, hingga berlahan bulan sabit nampak dengan tajam dan menyakitkan.

Pikiran ku terbawa oleh sesuatu yang berat: sehingga seolah langit runtuh, dan tanah bergetar, alam melumatku mentah-mentah: dunia lenyap, waktu telah berselingkuh dengan ruang, sehingga robohlah sejarah, musnah segenap yang bertempat, aku hanya seberkas nyawa yang melayang-layang tak tahu rimba dan tak tahu mau ke mana, tidak ada lagi kesedihan, kebahagiaan, kepuasan, kekecewaan, luka, dan penyembuhan, seperti air yang terbuang di gorong-gorong dan tak akan tahu di manakah masa depan. Tidak ada canda di sini, melukai atau dilukai, yang datang atau yang pergi, yang terjerembab atau yang ditarik ke atas, yang di dalam gua, atau yang menghampiri seluruh dunia, yang haus-lapar, atau yang sibuk berdiet dan spa, yang akan mati, atau bayi yang susah payang keluar ke dunia dengan memecah ketuban ibunya, yang menangis atau yang tertawa, tapi tidak ada canda di sini.

Lalu Tuhan tiba-tiba berbahasa Arab, kemudian Ia membisu, dan selebihnya menjadi bahasa-bahasa asing yang tidak aku juga pahami. Ketidak mengertian adalah seperti luka menyayat yang menusuk seluruh badan sampai remuk dan menarik ruh untuk keluar dari tubuhnya yang menjebaknya: selaksa burung-burung yang terjebak dalam kurungan emas, ikan yang masuk dalam aquarium mewah, kucing atau anjing yang dikekang lehernya. Seperti buruh-buruh yang lembur siang malam dengan gaji murah, anak-anak yang ditakdirkan terjebak di jalanan, perempuan yang berhikmat pada keluarga tanpa pernah berani mengajukan pertanyaan, tentang agama yang terjatuh dalam pembenaran, dalam sebuah 'jalan sempit' untuk menuju Tuhan. Tuhan? dimanakah Engkau kala "binatang dan tumbuhan" ini telah dikurung dan didesak: Tuhan menjelma menjadi gedung-gedung megah, pada imajinasi kecantikan dan ketampanan, pada emas, berlian, pada boks anggun yang bernama mobil, yang lalu diteriaki "kemewahan!!!", pada pendidikan yang setinggi semercusuar dan menara gading: untuk kerja untuk karir untuk status!!, ataukah Ia adalah  anak yang tertidur di emperan toko dalam dingin malam ini sehabis hujan, dimanakah Engkau Tuhan?

Kunjungilah gereja, kunjungilah pura, masuklah ke masjid, di sanakah Tuhan? ataukah kebahagiaan ini hanya mampu ku buat dengan menyusun serentetan pertanyaan: ada? atau tidak ada? Pada Veda, Taurat, Injil, al Quran? di situkah Engkau hanya bicara (mengabaikan aqliahun nash)? , ataukah ketika orang-orang sudah tak sanggup lagi menjadi manusia yang pantas, mereka yang tidak sewajarnya lagi untuk menemukan kekasih seperti dalam mimpinya: pelacur, gembel dan gigolo yang kehilangan tempat di sisih-Mu (?), para pecandu minuman, atau pemuda-pemuda yang begadang semalaman dengan ganja dan putau, orang-orang yang berdiri melompong di balai rehabilitasi, orang gila yang telanjang bulat tanpa semalu diriku. Mari dengarkan kidung gerejawi, atau pembacaan syahdu Sloka, atau Qiro' di sudut mihrab, mungkin Tuhan mengeluh karena Ia 'kesepian', tidak ada artinya lagi, dan para pembacanya itu, apakah hanya hidup dalam dunia angan-angannya sendiri??

Di sana: tempat yang jauh itu: para broker mengendalikan 'dunia', berabad-abad diulang-ulang, dari buyut, kakek, bapak, anak, cucu, canggah: memelihara mimpi bahwa dunia ini jauh lebih mulia dari segala yang kita sebut dogma: surga-neraka, BERHENTILAH BERFIKIR SETELAH MATI. Agama hanya untuk orang orang yang 'takut', orang yang 'miskin' dan tidak berbudaya 'maju', demikianlah mitos diciptakan hanya untuk segala hal yang tidak berani untuk ditanyakan: tapi orang-orang itulah pula, yang melempar mimpi-mimpinya yang tak jauh berbeda dengan yang (sebelumnya) mereka benci ke pasar global, ke jiwa-jiwa yang miskin atau yang bodoh, atau di suatu sistem yang sengaja dibiarkan korup, agar dagangan mereka bisa laku,  mimpi mimpi liar itu: komoditas 'mimpi' surgawi, atau ilmu pengetahuan 'surgawi', kebudayaan 'surgawi', tentang kebebasan, tentang "hak asasi manusia", tentang mimpi-mimpi individu, "pulanglah ke rumah karena masjid tidak menciptakan apartemen, mobil, kulkas, ac, bb, tablet, i phone, virtual seks". Kebahagiaan hanya ada kala engkau dipuaskan akan mimpi-mimpi surgawi mu yang berubah menjadi KENYATAAN!!!, bukan di tempat yang jauh disana yang dengan bodoh akan ada setelah kematian!!!". Dan hak asasi manusia adalah (merek dagang) mimpi tentang surga yang mencengkram segala hal dari peradaban sebelumnya (kuno-?-), peradaban yang dirangkai secara bersama generasi ke generasi, sehingga 'yang layak dan manusiawi hanyalah' kala wanita bebas ke mana-mana, laki-laki bebas ke mana mana pula, undanglah pelacur di rumah selama istrimu pergi 'asal tidak ketahuan', mabuklah dan berteriaklah kencang asal tidak mengganggu tetangga, bling!! bling!!, mobil untuk sendiri, apartemen untuk sendiri, teman-teman  yang dibatasi hanya yang karena 'nyambung' saja,  dan semua asal: tidak 'resekin orang lain' dan tidak mengganggu tanggujawab (kerja) kita. Tapi akuilah kawan, bahwa individualisme itu mahal: seperti itulah "Mimpi Amerika (?)", menghabiskan uangnya 40 x lipat dari rata-rata manusia lain di dunia, dan itu didapat dengan segala yang di sebut pasar dunia, (merek) mimpi mimpi dari Taurat dan Injil, dari al Quran dan Veda, dari pemikiran atheis atau humanis yang diciptakan menjadi Nyata (?), seperti agama lama yang berselingkung dengan nafsu lalu seolah segala kebahagiaan (hanya) bisa didapat dari tujuan sejati untuk "bebas terbang tanpa beban".

Di dunia ini hanya ada dua jenis tindakan, jahat dan baik, tapi relativisme telah menggantikannya dengan bermacam pertanyaan "sampah (?)" yang tidak memiliki jawaban kecuali NIHILSME. Aku dan kita, tidak lagi kagum dengan pemimpin agama yang berusaha menahan diri dari dunia ini, adalah para pendeta-pendeta industri film yang akan menggusur lalu membawa kita pada: "kemajuan, pada apa yang disebut pencerahan, auflarung". Dan kenyataannya, dunia tetaplah segala hal yang berhenti pada jalan yang sepi dan kemudian buntu, "kita hanya debu remah yang melayang-layang di alam semesta yang maha luas". Selamat datang di Hollywood, mobil akan segera menjemput, pesta hingga larut pagi, putarlah techno dan trance, gemerincing cheeeeers!!, kampaiii!!, kita telah bekerja seharian dan saatnya memanjakan diri, kita orang modern yang diciptakan untuk menghargai kebebasan dan waktu rehat, pada ranjang-ranjang bacin yang menjadi saksi rayuan-rayuan monyet semalaman, dan kala pagi datang, kita telah melupakan segalanya, hati telah menjadi bebal, kita tidak mudah lagi belajar untuk mencintai dengan 'hidup', atau terhanyut di dalamnya: laki-laki itu buaya dan wanita adalah ular berbisa.

Aku telah membaca al Qur'an lembar demi lembar, pada hatiku yang membatu, karena ada seonggok pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh Tuhan, mungkin sebagian orang juga tidak menemukan jawabannya dalam Injil, Taurat atau Veda dan sejenisnya. Statistik dan survey telah menggangguku, apakah agama diperlukan sementara yang katanya beragama jatuh dalam peradaban yang korup, sementara bangsa atheis jauh tidak korup, Oh Tuhan ampunilah kami yang tidak tahu bagaimana cara menghargai firman mu, tidak berarti umat beragama patas di salahkan: pada mereka yang tulus untuk mencintai-Mu dalam Suka dan Duka (sakh dan dugh), untuk menolah segala kezaliman yang mengatasnamakan agama-agama untuk menindas yang lemah, juga dengan mengatasnamakan sistem duniawi yang telah diselingkuhi. Mereka yang menistakan manusia hingga terluka tapi manusia tersebut tetap tabah, aku mendoakan dan memberi hormat yang agung pada mu, orang-orang 'itu' yang jauh masih lebih banyak dari sekedar es kotor yang nampak di permukaan. Mereka yang dengan tulus menepi dari pergumalan yang tidak selesai-selesai: berdebat tentang etika, tawar-menawar dagang, perdebatan kepentingan mengatasnamakan hak-hak manusia, pada hati yang panas, dendam atau yang curiga, dari kalangan yang 'beragama', 'humanis' dan yang tidak tahu agama. Terpujilah Bagi Mereka Yang Mencari Tuhan Tanpa Harus Memberi Syarat Untuk "Mencari Bahagia (*)" (*= dalam 3 definisi yang sederhana: dengan angka - kata - indrawi ). Pada kidung yang dinyayikan wanita rapuh di gereja-gerja tua yang ditinggal pemeluknya, pada ratapan rabi-rabi Yahudi yang mendokaan untuk kedamaian semua umat manusia, pada petapa Shadu yang tenggelam selamanya dalam misteri sungai gangga, pada Syaih yang menepi tanpa perlu takut kehilangan pengikutnya, pada orang-orang lapar yang sabar bekerja di pabrik walau mendapatkan gaji yang tak pernah cukup untuk keluarganya, pada petani yang tetap tersenyum dan terus bertani walau gagal panen dan paceklik, pada penjaga mall yang tidak perlu menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu, memberikan sepenuhnya pada orang tuanya, pada sopir bis-truk yang lama meninggalkan keluarganya lalu menahan diri untuk 'jajan', pada intelektual yang masih memiliki idealisme walau semakin disingkirkan oleh kekuasaan yang tamak dan rakus: YANG BELAJAR UNTUK KEMUDIAN KEMBALI KE MASYARAKAT, para pelacur yang sabar walau tak tahu harus kemana lagi? para waria yang tabah walau tak tahu untuk apa diciptakan esok hari? para gigolo yang jatuh bangun untuk mencegah kecanduan: seksnya, rayuan materi dan rasa kesepian, orang orang yang tulus memberi sedekah pada fakir miskin dengan hasil jerih payang yang halal dan tayib (jalan yang baik), ibu-ibu (dan Ayah) yang menunggu dengan kasih sayang disamping anak-anaknya yang sedang belajar dimalam hari walau telah dilelahkan sepanjang hari dengan tugas keluarga dan kerja, guru-guru yang sabar mengajari muridnya walau bagaimanapun juga dari latar belakang yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Jatuhkan Diri Kita Pada Cinta Yang Tulus, Karena Cinta (yang sakit atau yang berbunga-bunga) Akan Mengantarkan Kita Pada Tuhan Yang Maha Pengasih. TERLALU BANYAK CONTOH (SIKAP) ORANG BAIK DI DUNIA INI, DI SEKITAR KITA (Walau tentunya tidak ada yang sempurna) YANG MUNGKIN TERLEWATKAN OLEH TELEVISI, FB, TWEET KITA YANG LEBIH PERSONAL DAN INDIVIDUALIS (?) (Kecuali TVRI).

Bagai sebagian umat, Seolah Tuhan hanya bercerita pada beberapa orang penting saja di dunia ini, Tapi Tentu Tidak, semua doa manusia Ia kabulkan dengan segala bentuk hikmah-Nya, Tuhan selalu mengingatkan bahwa "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", sekali lagi aku mengulangi: "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", kita telah mengenal dua cabang filsafat dominan: Materialis dan Idealis: Materi, dan Idea: Practicing dan Conception, tapi harta, gairah fisik, kekuasaan, kemenangan duniawi, bukanlah Tujuan dari Pribadi Sejati, hanyalah dengan: kasih sayang, jiwa yang haus akan hikmah serta pendirian yang mampu terbuka terhadap kenyataan Illahiyah: yang jauh dari gambaran Materialisme Dialektika Historis ataukah Manifestasi Liberalis Eksistesialisme Relativ Skeptis-Empiris, yang akan 'lebih cepat' (?) 'mencapai' lautan luas kasih sayang-Nya,

Sampai kapanpun manusia akan selalu didorong untuk mencari diri sejatinya (pelan tapi pasti), dan yang sejati hanyalah TUHAN (dalam pengertian yang paling sederhana atau yang kompleks) dan bukan materi ini, (1) aku yang sejati adalah RUH dan bukan jasad yang 'menghewan' ini, (2) Kebenaran yang sejati bukan dari indrawi-akal yang terus curiga ini tapi dari HATI, dan (3) tujuan sesungguhnya manusia adalah SETELAH KEHIDUPAN INI dan bukan dunia fana ini. Biarlah dunia (fana) ini menjulukiku konservativ, tapi seorang muslim (atau orang-orang damai), melalui pesan segala nabi dan utusan-Nya selalu yakin bahwa MATERI TIDAK PERNAH MEMBUAT MANUSIA BAHAGIA, hanya SAYANG dan CINTA (Rakhman-Rakhim) yang mengantarkan kita pada KENYATAAN AKAN KEBAHAGIAAN YANG TERSINGKAP, lepas dari segala pandangan subjektif kita melalui keterbatasan Indrawi. ALLOHUL AHAD!!!, TUHAN MAHA "SATU" !!



Senin, 07 November 2011

KESADARAN DIAM DAN CEREWET

Posted by MOVAZ On 03:05

Galileo mati karena 'kesadaran', demikian Foucault mati karena 'kesadaran': kasus pertama  memahami bahwa bumi ini berputar mengelilingi matahari, lalu Paus (?) memancungnya (hal yang mungkin sama akan dilakukan oleh ulama atau biksu bila kesadaran waktu itu muncul di timur: ini bukan masalah agama, hanya semacam hukum alam: apabila hierarki yang kokoh ditentang, diciptakanlah isu penistaan, para pembangkang adalah syetan yang harus dibakar!), kasus ke-2, Foucault mati karena AIDS, dia menentang stigma: mempertanyakan kembali arti sehat dan gila, arti normal dan tidak normal: pada suatu zaman dimana  yang normal mungkin bisa dianggap gila, dan pada suatu waktu dimana yang gila bisa dibilang normal, demikian pada tempat yang berbeda. Inti dari pencerahan: Humanisme ini (sejauh yang saya pahami): Individu adalah Tuhan bagi semua manusia yang katanya: TERCERAHKAN. Ayolah, buka tutup sampanye nya, putarkan trance keras-keras, dan pakailah celana dalam sexy mu! Tuhan telah mati! Tuhan telah mati demikian epos Zaratustra dibacakan di mimbar-mimbar kudus!

Suatu hari saya datang pada seorang SHADU (pe-ritus petapa tertua di sungai Gangga): apakah penderitaan itu? SHADU hanya terdiam, (ayoolah shadu bicaralah!!!), SHADU hanya diam, mungkin itulah arti penderitaan (barangkali): DIAM. Ayah saya  ketika ia merasa anaknya rubuh (tidak sesuai harapan), mengantarkan saya di malam yang sunyi ke penasehat spiritual keluarga: saya menunggu lama, lama sekali, dan seperti usaha-usaha sebelumnya, saya tidak ditemui, 'antarkan amplop ini pada beliau', demikian setiap kali saya 'sowan', saya merasa dijawab dengan 'pintu yang tertutup' kecuali uang yang terselip dalam amplop, 'kamu kurang sabar' begitu kata ibu. Yups bisa jadi, karena sabar bagi ibu adalah menunggu di depan teras rumah sang guru sufi berhari-hari, dan saya tidak sampai berhari-hari. Begitulah saya menyimpulkan bahwa diam adalah penderitaan.

HIDUP MULIA ATAU MATI TERHORMAT, Muhammad Saw berkata, balaslah tangan dengan tangan, mata dengan mata (membayangkan bahwa nabi dengan jambang terburai, mata melotot dan memancungkan pedang ke muka ku -ngeriiii-),  demikian Galileo, Al Hallaj dipenggal karena dianggap CREWER, pula dengan nasib reformis Martin Luther atau Jenar, yang pengikutnya dibakar di tiang-tiang gantung, sama seperti Jesus yang dalam mazhab Nasara: Mati Tersiksa Di Tiang Salib (Sebagai Penebus Dosa), pembangkangan sipil yang CREWET semacam ini, seperti pula cerita babat Jawa hingga suku Samin adalah cerita perlawanan yang kadang berhasil dan kadang berakhir dengan tragis. Toh dengan Colombus menentang penutupan Mediterania oleh kekhalifahan Arab, lalu nasib menakdirkan ia menjumpai dunia baru, pengikut Martin Luther atau Santo Petrus membangun 'sekoci kecil'nya menjadi kapal  induk bahkan menjadi raja diraja di generasi selanjutnya.

KEWAJIBANMU HANYA MENGINGATKAN, DAN APABILA TIDAK DIDENGARKAN, MAKA DIAMLAH, demikian ucapan TUHAN yang diulang-ulang dalam kisah-kisah Taurat, Talmut, Injil dan Qur'an, seperti kalimat tambahan dari kitab Hamurabi yang disatir Muhammad Saw dialenia sebelumnya: bahwa MEMAAFKAN ITU LEBIH MULIA (terbayang sesosok yang lembut dan santun dari Muhammad Saw), tugas ke rashulan adalah 'saling mengingatkan', atau diam saja alih-alih konfrontasi, toh kebenaran hanyalah masalah waktu, tidak ada yang bisa membendung kebenaran, dimanapun orang atau kelompok terkuat sekalipun menutupinya dengan pintu gerbang yang rapat erat. The Name Of  The Rose, atau Ihyaul 'Ulumuddin: keduanya mengisahkan pada zaman gelap yang dialami oleh dua peradaban Islam dan Kristen, ataukah Kota Terlarang yang akhirnya roboh oleh Mao, sekuat apapun seorang kaisar/Raja/Sultan/Adidaya, toh pada suatu zaman akan menjadi usang (seperti penanda runtuhnya Amerika, atau talangan Eropa atas Yunani). Para rahib yang mengacung-acungkan darah inquisitas akan digantikan oleh dokter dan intelektual, Ulama akan digantikan oleh institusi negara: lalu cerita akan berubah yang kultural melawan struktural, agama melembaga, dan agama yang membudaya, pendidikan yang melembaga (yang mahal dan wahh!!) dengan pendidikan di munasah-munasah, madrasah-madrasah, padepokan-padepokan, pesantren-pesantren, seminari-seminari yang relatif masih terjangkau. Hingga tangan besar mendobrak keras, mengguncang meja judi, kartu-kartu terlempar 'amburadul' dan permainanpun  bubar! (toh pastilah permainan bakal dilanjutkan di belakang rumah masing-masing : itulah analogi tentang perlawanan diam-kultural).

Manusia tidak membutuhkan perdamaian (secara mutlak), kemanusiaan dan peradaban hanya membutuhkan DINAMIKA, tidaklah seasyik yang dikira apabila kita tinggal di Buthan dimana tukar menukar dengan mata uang baru populer di akhir dekade 90-an, tidak pula tenang hidup dengan negara sebagai penjamin dari kehidupan: tidak perlu ke gereja toh sampai tua kita ditalangi negara (lih. Skandinavia). Orang bijak membutuhkan dinamika: KETIDAK PASTIAN, asuransi adalah bisnis terkemuka dalam menjual ketidak pastian, demikian juga menyusul pengacara, tentara, politikus, dokter, pedagang dan mungkin semua pekerjaan, semua ada karena kita masih memelihara ketidak pastian akan hari esok. Apa yang dikatakan Ibrahim benar: Tuhan ditemukan dalam ketidak pastian setelah mengejar bintang, bulan dan matahari, demikian semangat Muhammad saat Hijrah ke Madinah, penuh ketidak pastian (tanpa perbekalan apapun), Tentu pula Tuhan menciptakan manusia karena Ia tidak menyukai kepastian pada diri-Nya, demikian Tritura: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), Siwa (penghancur) menjadi dogma bagi agama zaman awal manusia. Pantaslah Foucault menanyakan kegilaan dengan ketidak pastian: dimana pada zaman dulu perbudakan dan penjajahan dianggap wajar, dan dimasa kini dianggap kekejaman dan kebodohan moral, dan Derrida mendekonstruksi makna: pastikan artinya sesuai pengalaman indra masing-masing (phenomenology), Camus menciptakan kosakata 'pemberontak', Gramsci memunculkan Intelektual Organik yang melawan kaum hegemonik, semua dibayangi oleh individu dan egonya masing-masing, dan itu tidak selalu salah, untuk melawan dengan DIAM atau CEREWET pada hegemoni, lembaga, atau tuan-tuan yang lapar akan dominasi kebenaran. Maka Sah Bila Tuhan Hadir dalam Kemiskinan, orang-orang yang hanya mendapatkan remah-remah dari PERTIKAIAN BESAR'.





Selasa, 01 November 2011

CINTA

Posted by MOVAZ On 05:01


Sore ini saya mencoba berbicara tentang cinta, yang ada di otak saya, yang mengendap, yang tak terungkap, yang terkunci, yang terbungkam!

Pada suatu saat ketika hati saya pengap, dibekap kerinduan yang membabi buta, menikam hingga ke ulu, meremukkan jiwa, yang memotong segenap nadi arteri, saya benar-benar tak berdaya: seperti dimamah mentah-mentah oleh kesunyian yang pekak.

Di suatu waktu yang lain, saya merasa beringas, mengendap-endap selaksa kucing garong menerkam ikan asin, mencengkram erat, menggigit kencang, merengkuh sampai segala hal rubuh, saya adalah Samson, merasa bahwa dunia ini begitu kecil, hanya ada saya, dan Dalelah, pada suatu waktu.

Di suatu waktu pula: datang untuk pergi, datang untuk pergi, menghantarkan tajen ke sesembah, menumpah serapah ke bumi, lalu meresap, kemudian hanya berbau amis dari sisa pesta, ya pesta yang riuh lalu sesaat layar pertunjukan di gulung, semua kembali menjadi  saya, saya dan saya, dunia mengunyah, menyingkirkan saya di ketepian menjadi lelaki yang kesepian, yang terluka, dan (tentu saja) menikmati luka.

Di suatu waktu di sebuah kejadian lain, saya menangis, hampa dan kosong, tertipu daya dan mengeram seperti singa yang dipanah asmara, terluka dan serasa tak akan bisa bangkit, semua darah menderes keluar, seperti darah muncrat pada kambing kurban, saya menuju kematian, tertipu dan ditipu, oleh sesuatu yang (harusnya) tidak pantas menipu, begitu sakit rasanya, semacam tercekik di dasaran lautan.

Cinta ku pada-Mu seperti air yang meredam api neraka, yang membakar kastil-kastil dan taman-taman surgawi
Rabiah mengajari saya tentang cinta platonis (yang entah berantah), cinta yang membakar saya dan mengikis saya hingga lebur dalam persekutuan illahiyah, cinta yang meremukkan segala sejarah, segala inovasi keduniawian, segala romantisme perhelatan pesta tubuh, cinta yang diperas dengan kencang, untuk mengeluarkan madu yang paling murni, Rabiah membiarkan dirinya terbakar asmara, orang-orang menangis untuknya dan ia tersenyum untuk  segala pengorbanannya

Api asmara semacam cahaya dalam cahaya dalam cahaya dalam cahaya, dan ketika engkau membuka mata tak kan kau temukan lagi dimana timur dimana barat dimana orang-orang baik dimana orang-orang jahat, tidak ada kafir, tidak ada salih, tidak ada cakep tidak ada buruk.

Rumilah yang membiarkan saya terbuai asmara, lekukan-lekukan tubuh, dan senggama senggama liar adalah  engahan Tuhan yang menggelantung dalam atap-atap Arsy yang agung, lenguhan-lenguhan yang mendobrak-dobrak tembok ratapan semacam keabadian yang diciptakan untuk menarik lamunan dalam mabuknya kenyataan, dunia fana adalah wujud Nur Illahiyah yang memantul diantara penderitaan dan suka cita kita, maqom-maqom keharibaan adalah jalan untuk salik yang menjumpai kemurnian: para salik yang nakal di klab malam, di ranjang-ranjang bacin pelacuran, di pinggir rel kereta tengah malam, kaum hiper seks di tayangan film biru, orang-orang gila yang selalu menangis dan tertawa dalam waktu yang sama, pada dimensi dan frekuensi yang tidak bisa direguk oleh keindrawian yang dangkal atau realitas yang hanya paham sebab-akibat. Rumi mendeklarasikan: Tuhan ada tidak hanya dibalik kata-kata kalamul majmu', jauh dari segala hal yang kita tumpahkan, Ia hadir seperti samudra tak bertepi.

Saya Hamba dan bukan Pangeran, saya Pangeran dan bukan Hamba.

Siti Jenar, menganggap dirinya 'Tuhan' atau karena bagi awam: 'Tuhan' adalah esensi yang terhijab dalam diri-Nya, Tuhan bukanlah kata atau sifat, atau apakah Ia, Cinta yang ia bakar dalam firman tidak cukup mengiringi kita dalam laku untuk pelepasan dari Fana menuju Baqa', Siti Jenar menentang segala diraja dan sultan serta wali, Ia ada dalam Syakul Kalam wa Qulb, ia hadir bersemayam dan bersembunyi dalam bayang-banyang Illahiah. Tidak bisa dimengerti dalam cinta FISIK manusia pada TUHAN, yang REMEH, REMAH dan DANGKAL, penuh simbol dan definisi filosofis yang memusingkan: AHAD, HAQ, BAQA, ADL. Siti Jenar telah membangun jembatan bagi orang Jawa untuk menghubungkan apa yang dimimpikan Muhammad dalam perjalanan Ruhul-jism ke Sidra El Muntaha, dengan mistisme-arkeisme-artifisial Jawa, laku suluk Jawa yang memenuhi kebathinanya dengan dialog tentang penemuan laku diri. Cinta yang Jenar hadirkan adalah cinta yang melepaskan martabat kemanusiaan kita, untuk MENYIBAK SEMUA PAKAIAN : LALU BUGIL TELANJANG SEBAGAI HAMBA, pada dasarnya segala jiwa ini adalah KARMA (li ma katsabat wa'alaiha maqtasbt).

Siapa yang membunuh satu jiwa yang tak berdosa seperti membunuh semua jiwa.

Pikiran Muhammad SAW mungkin tak asing, membunuh satu jiwa, seperti membunuh semua jiwa, menganiaya suatu golongan tertentu seperti menganiaya semua peradaban yang kita ciptakan bersama, cinta yang menganiaya pasangannya semacam menganiaya seluruh umat manusia. Apakah laku cinta yang tidak diakui akan berarti teraniaya selamanya? cinta yang mengendap seperti tabir, akan selalu menyala dan membakar, walau bukanlah sinar mentari dipagi hari, toh segala cinta yang 'sah' bukanlah apa-apa dibanding cinta illahiyah yang mencakup segala ufuk. Sungguh tidak terpikirkanlah oleh para klerik, ulama 'benalu' untuk menyingkirkan prasangka yang membuat mereka sakit jiwa bahwa segala hal ini bermula dari kesempitan manusia akan suatu pemahaman yang selalu cuma percaya bahwa cinta adalah teks dan bukan konteks.

MENCINTAI TIDAK SEKEDAR HARUS MEMBERI TAPI APA YANG KITA BERI DAN UNTUK APA?

Senin, 24 Oktober 2011

LOVE IS FREEDOM

Posted by MOVAZ On 12:35


Orang bilang mencintai itu indah.....mm........ YA! tapi hanya pada suatu sisi: ketika sepi ada yang menemani, ketika lapar ada yang membuatkan atau setidaknya menemani makan, ketika sedih ada yang mau menjadi 'tembok ratapan', ada yang bersedia menjadi 'tempat sampah': huh hah huh hah. Di sisi yang lain, sebagai laki-laki, aku harus menemani nya ketika ia sendiri, bersedih, atau sekedar teman makan, "lakukan pada pasangan mu seperti yang kamu inginkan dari pasangan mu", apa bila tidak: "kamu egois! dan kamu jahat!"

Beberapa tahun yang lalu, seseorang jauh-jauh datang tengah malam padaku hanya untuk mengatakan "kamu jahat!!", "ya, aku memang jahat, salahnya kamu mencintaiku!". Jawaban itu jelas salah, semua orang dengan mudah pasti mengatakan aku memang jahat, dan ketika aku bilang "terserah aku, apa urusan mu", pasti banyak orang bilang "kamu egois!". Sebenarnya seseorang   meminta orang lain sempurna, "lakukan seperti yang dilakukan orang lain pada mu", lalu masalahnya saat orang lain terlalu baik, apakah aku harus berlaku "terlalu", dalam arti kata, apakah aku harus menjadi "terlalu", itu semacam menjadi orang lain pula.


Kenyataan bahwa aku tidak menuntut orang yang aku cintai datang menemaniku ketika aku bersedih, atau menemani aku makan, atau  menyediakan diri untuk menjadi "tembok ratapan", karena nyatanya kalau ia tidak mau, ya sudah masak dipaksa, toh cinta tidak identik harus seiya sekata (lalu apakah dengan itu seseorang boleh aku paksa untuk harus berlaku sama seperti caraku?) . Aku memang terbiasa untuk mengakhiri segala masalah dengan mengendapkan dulu agak lama, atau tepatnya menumpukkannya, mengomplekkannya, lalu menantikan suatu momen agar timbul reaksi tiba-tiba, menunggu tekanan menunggu genting, begitulah cara ku bekerja (dengan tidak membagi masalah atau menceritakannya), bukan dengan menyelesaikan 'segera', karena bagi ku 'segera' tidak bakal membuatku mengeluarkan 'segala kemampuanku'. Demikian bagi orang lain mungkin aku dianggap menyulitkan diri, tapi 27 tahun aku mengulang-ulang hal serupa, aku tidak bisa menyicil sedikit demi sedikit. Kebiasaan ini (aku pikir) bisa diurutkan: karena keluarga ku yang 'agak' keras bagiku, membuatku sering bungkam, lalu menunggu pada saatnya ketika aku akan keluar dengan kemarahanku, demikian aku menunggu bahwa pada waktunya semua yang menumpuk akan aku buang, dan Tuhan memberikan kecepatan pada ku untuk bergerak dalam kerja keras yang singkat 'borongan harian'.

Dosen ku bilang, "kamu tidak punya manajemen waktu yang baik dengan cara itu", dia bilang "orang-orang maju terbiasa berfikir kerja untuk hari ini, tidak mengandalkan esok, dan bagaimana kalau esok ternyata tak ada lagi bagi mu". Aku dengan enteng bilang bahwa aku bukan orang maju, dan aku mengakui itu, tapi aku bukan orang mundur, karena aku tidak melupakan semua beban yang menumpuk, ini karena kebiasaan, bahwa aku akan bekerja ketika benar-benar sudak krisis, dan kalau aku dibilang itu bukan hal baik "ya aku memang tidak baik". Orang bilang aku tidak tegas, "kurangi cengengesan" demikian kata kakak ku. Bagaimana cara mengurangi cengengesanku, dunia ini terlalu 'pahit' bagi ku, sehingga aku menyukai musik-musik kesedihan (sambil telanjang bulat dikamar dan mematikan lampu), lalu bagaimana aku harus serius, kesedihan di hatiku sudah terlalu dalam sehingga aku membutuhkan pelarian pada 'lapis bawang terluar', aku tertawa untuk meredam luka. Mudah bagiku melupakan persahabatan sekali lagi mudah melupakan persahabatan, tapi tidaklah mudah mengabaikan yang lapar, yang tinggal di gubuk reot, yang kesepian, yang diabaikan, karena aku bisa merasakannya, atau bahkan sering kali merasakannya, itu mengapa aku tak bisa serius, aku butuh tertawa. Sehingga aku dianggap tidak tegas, orang lalu bilang aku mengabaikan orang lain, kekasih, ketika seharusnya membutuhkan seseorang yang mampu mengurangi luka, karena masih juga aku tak mengerti bahwa kesedihan akan berkurang kala teman datang, karena teman pasti tidak akan memahami 'kesedihan yang kumaksud' PASTI!


Apakah orang lain akan membuatku lebih ringan, dan beban akan hilang, orang lain bagiku seperti lapen, ketika aku tenggak, akan ringan sesaat, namun ketika bangun pagi, semua beban itu mengetuk pintuku pagi pagi, dan pada saat itu aku perlu lapen lagi, oh tidak! aku tidak ingin menjadi pecandu persahabatan, aku menyukai hubungan dengan kekasih atau sahabat, tapi pasti pada waktunya segala hal yang mungkin kita percayai atau kita kasihi akan membuat jarak disaat segalanya tidak lagi yang diharapkan, itu semacam hukum alam 'buatlah orang lain sulit memahamimu ketika kamu sulit memahami orang lain'. Demikianlah maka persahabatan bagiku hanya momen dimana pasti akan berakhir, demikian juga cinta -selama tidak ada ikatan pernikahan-, ini hanya kebutuhan ketika kita haus, aku tidak berani mengatakan bahwa mencintai dan persahabtan seseorang tidak penting, tapi toh kesepian tidaklah sikap yang tidak sempurna, dan kerinduan untuk selamanya 'bagi ku pribadi' masihlah pengertian yang sulit aku mengerti.

Setiap jiwa adalah unik, kita tidak bisa menuntut bahwa sesuatu harus hidup dengan cara UMUM DAN WAJAR, kalau sedih itu berarti harus memanggil kekasih, kalau kesepian harus memanggil kekasih, kalau makan harus ditemani kekasih, kemarin-kemarin saya sudah berusaha menjadi yang umum, tapi yang umum tidak mau menjadi saya, asal orang lain tidak memberatkan saya, tentu saya tidak boleh memberatkan orang lain. Bukankah ni juga hukum alam?


Malam ini aku mencintai mu, dan menjadi pencinta, tapi seperti kisah-kisah sebelumnya, adalah cara mencintai yang masuk dalam "KETIDAK UMUMAN" bisa dimasukkan sebagai "KRIMINAL", 'kamu jahat!!!', semua yang mengatakan bahwa 'egois' adalah tidak umum maka akan menyalahkanku dalam hal ini. Dan seperti biasa aku akan bilang "terserah aku", lalu mereka tidak cukup bilang JAHAT tapi juga KEJAM pada ku.

Ketahuilah bahwa cinta tidak sekedar perbuatan, tapi cinta adalah ruang yang diciptakan agar engkau dan aku bebas bergerak, dan seperti burung terbang ke mana-mana, ia pasti akan kembali pada saatnya, di saat senja, pada sarang, pada rumahnya, pada anak-anak kita, kamu dan aku. LOVE IS FREEDOM


Rabu, 05 Oktober 2011

I M NOT FORGET

Posted by MOVAZ On 00:58


Kita Pernah Alpa, demikian dunia dan zaman ini kita lupakan atau kita melupakannya, ucapan yang bahkan kita ulang-ulang seperti tertelan kubangan kolam besar (lihatlah berita-berita populis televisi 'sampah' kita yang cuma angin lalu -hangat hangat tahi ayam-), dan kita tak berdaya untuk mempertahankan ingatan kita. Karena lupa bukanlah kesalahan, bukanlah dosa, tak kan pernah bisa di hukum, demikian para koruptor, pemimpin arogan, akan memanfaatkan kelupaan untuk membebaskan dirinya dari dosa.

Mereka yang memilih lupa adalah mereka yang takut atau mengabaikan segala ingatan masa lalu, tentang ucapan, tentang janji, tentang tindakan yang ceroboh, perjalanan hidup yang pongah, atau kah sepenggal kisah yang bodoh. Beberapa orang melupakan keteledorannya, dan mengabaikan masalah itu dikemudian hari yang mungkin muncul kembali dan menghantui, lainnya melupakan 'rayuan-rayuan' gombal yang diucapkan pada kekasihnya, lalu semua ucapan berlalu ketika ada yang baru, yang lebih muda, yang leboh bahenol, bodi singset atau yang six pack, demikian ketika keluarga buruh menjadi majikan, orang ditindas diangkat untuk menang lalu -sama saja pada akhirnya- menjadi penindas, mereka yang dibantu lalu melupakan jasa orang-orang yang telah membuatnya menjadi sukses. Kehidupan telah melupakan kematian, dan manusia melupakan Tuhan, manusia melupakan Ibu Pertiwi, seperti ketika kita lupa dari mana kita berasal dan ke mana kita bakal disemayamkan. Dari mana kita makan: petani yang sempoyongan mencangkul sawah, tertipu oleh janji: penjual bibit unggul, penjual pupuk, penjual obat hama, lalu terbelit utang ke 'bang titil'. Anak-anak yang lupa bahwa bapak ibu nya adalah petani jelata, lalu menjauhi lumpur-lumpur sawah yang kotor, bekerja di kota, atau ke luar negeri, pulang dengan setumpuk gaya baru, lalu hamparan padi dijual lagi untuk pergi lagi ke luar negeri, asal tidak menjadi buruh, asal tidak kotor oleh lumpur, asal tidak terbelit utang tengkulak, karena: menjadi petani itu kuno, terbelakang dan kelas rendahan.

Orang kaya (manusia ras) baru, ada banyak orang kaya baru, yang dulunya adalah orang kampung nan udik, semua orang Jakarta adalah orang kampung dan kampungan, kecuali orang-orang Betawi, Presiden Soekarno dari kampung Blitar, Presiden Soeharto dari kampung Sleman, Presiden Habibi dari kampung Pare Pare, Presiden Gus Dur dari kampung Jombang, Presiden Megawati dari Jakarta, leluhurnya dari kampung Blitar dan Tampaksiring, Presiden SBY dari Pacitan, semua orang kampung berbondong-bondong mengerubungi Jakarta, mereka ingin menjadi 'artis' Ibu Kota, Gue Loe Ennn! Desa hanya di sisakan ruang: bagi orang tua kita yang sudah mulai sepuh, mereka pantas mendapatkan ketenangan di sana (sebuah dunia fantasi), pohon-pohon hijau, gunung-gunung tinggi, kicauan burung, hamparan padi kemuning menjelang panen di sawah, adalah secuil surga yang diciptakan untuk leluhur kita, hanya untuk para pensiunan : yang tidak kuat lagi naik tangga gedung tinggi, minum wine atau cheese, joget-joget rave-trance,begadang hangout hingga pagi. Dan orang-orang kota yang telah merasa mampu berdiri sendiri di atas kaki sendiri, membiarkan petani menjual tanahnya dan menendang mereka menjadi buruh penggarap. Kotalah yang telah menaikkan harga dasar: pupuk, pembasmi hama, bibit 'unggul', lalu membiarkan harga panenan padi tetap murah, agar negara aman -tidak terjadi huru hara-, agar sang presiden dari kampung tetap melenggang. Semua hati nurani kita diperas, agar kita tetap nyaman di kota, taman-taman dan gedung-gedung yang kita ciptakan dengan 'kecanggihan'. Tetap nyaman dengan segudang mimpi kita, tetap nyaman dengan 'melupakan' kepedihan.

Mengapa banyak orang ingin tinggal di kota: dekade ke dua abad 21, separuh lebih orang Indonesia akan tiggal di kota. Ini semacam mitos tentang sebuah hierarki: hunting-foraging-gathering membaik menjadi cultivation-agriculture lalu membaik menjadi industri, kemudian post industri (informasi) dan seterusnya post informasi. Sama seperti sebuah evolusionis: dari makhluk ber sel satu hingga makhluk komplek, dari kera menjadi manusia. Sama saja: dari animis-diamis, politeis, monoteis, humanis, neo humanis (alias agnostik-atheis). Dari: suku ke kerajaan, ke bangsa oligarki, ke bangsa aristokrasi, ke bangsa demokrasi. Manusia selalu menciptakan Ordinat dan Subordinat, Mainstream arus utama dan 'liyan': buruh tani-petani kecil, buruh pabrik, dan usaha-usaha mikro, pengemis, gelandangan, tuna wisma, kelompok berkebutuhan khusus, banci, pengemis, waria, homo-lesbi-biseks, wanita, anak-anak, orang gila, negara miskin-berkembang, semua yang 'tidak penting', adalah peran pendukung saja, dan sejarah seolah ditentukan oleh mereka yang 'besar', 'agung', 'suci', 'berkuasa', 'terhormat', 'bermoral' dan yang 'paling-paling' lainnya. Dan mereka yang ada di periferal hanya akan berebut remah-remah sisa pertarungan raksasa raksasa. Darimanakah Presiden kita memakan nasinya? bagaimana cara Ibrahim yang resah menemukan Tuhan? siapa yang menjaga logika berfikir Francis Bacon kecil? siapa yang telah membiarkan para pemberontak merobohkan penjara Bastille? 

Untungnya Tuhan selalu memelihara hati orang-oranng yang menderita lalu memohonkan perlindungan.

Kita banyak sekali melupakan, cerita-cerita televisi dan XXI/21 dianggap kenyataan, seolah-olah 'seandainya' bisa terjadi. Padahal ada banyak sekali kenyataan yang tidak sekedar pahit tapi menyedihkan yang sengaja kita hindari, sengaja tidak kita tengok -hallooww bukan hiburan boo'-: 'oh hidup saya sudah begitu sulitnya, begitu menyedihkannya'. Kita diam, karena 'merasa' tidak mampu mengubah apapun, 'lebih baik tidak berbuat dari pada ikut campur,nanti malah berabe lagi booo, ambil aman ach!' atau kita memang sesungguhnya terlibat dalam konspirasi besar, untuk tetap mengekang tali erat di leher mereka yang 'sudah sepantasnya bernasib sial'. Tuhan ada di mana-mana, pada jiwa manusia yang memiliki hati, mereka yang menyediakan telinga, mata, ucapan, tulisan, perbuatan untuk menyuarakan kenyataan yang pedih: Keluarga Muhammad (atau para nabi, para Santo, orang suci atau Awetara, para pembaharu) adalah mereka yang fakir dan miskin, 'keluarga Muhammad' adalah mereka yang disingkirkan dari kampung-kampungnya hanya karena memperjuangkan penghidupan yang layak atau kebenaran yang ia temukan, keluarga Muhammad adalah para budak budak zaman yang nyaris tidak memiliki pilihan untuk memilih yang benar-benar mereka inginkan.

Kenyataan tentang banyaknya penderitaan  tidak bisa begitu saja ditutupi, dan penderitaan juga bukan untuk dijual, bukan untuk menjadi dasar bagi seseorang atau suatu kelompok untuk mengemis dan memelas, atau orang-orang yang kaya merasa 'berbaik hati' mau membantu dengan pongah (disuarakan dan digembor-gemborkan), bukan pula untuk mengajukan proposal dana entah atas dasar pengentaskan kemiskinan atau penelitian, penderitaan adalah pemacu manusia untuk berjuang meraih kedaulatan,  memacu mereka yang lebih beruntung untuk mengulurkan 'tenggang rasa' dengan berlatih untuk tulus dan ikhlas melepas sebagian hartanya yang memang hak milik yang fakir dan miskin. TIDAK UNTUK DILUPAKAN atau MELUPAKAN.