Minggu, 20 Desember 2009

catatan Film #2 (the Bubble)

Posted by MOVAZ On 23:33 5 comments

kata kunci : israel, film, cinta, liyan, dendam.

The Bubble, film tahun 2005 ini baru saja saya lihat, sangat telat memang,  entah mengapa karena tanpa alasan, saya beberapa bulan ini sangat terinspirasi dengan kelihaian Israel memerankan lakonnya di panggung sejarah peradaban. Israel yang tanahnya penuh sengketa itu sengaja seperti dipoleskan Tuhan diatas lukisan yang sudah jadi, agak sulit memahami sejarah Israel, *walau sangat lebih sulit memahami sejarah bangsa saya sendiri tentunya*.



Ingat Israel, ingat saudara saya yang benci luar biasa dengan Israel, pemikirannya sangat *konservatif ultra*, apa-apa kalau sudah berbau Yahudi, murkanya bukan main, ini bagai kisah antara air dan minyak, wekkk, anaknya yang masih kecil sudah diajarkan Jihat dengan lagu2 heroik, saya kadang kurang nyaman dengan salah satu kakak saya ini, tapi jujur pula saya akui, kakak saya ini kalau sama semuanya asal selain bau israel berubah begitu humanis, sangat 'humanbeing', walau begitu, ironis memang, kakak saya itu  ternyata namanya berasal dari kata Ibrani, bahkan sangat Ibrani.

Di Jakarta, di leptop adik saya, saya sempat menyimpan download, lagu kebangsaan Israel, serta beberapa lagu pop dari Israel, semula adik saya bilang, ini lagu bagus banget, "dari mana mas?" "Israel" jawab saya, adik saya yang cool itu langsung bilang "Uhh... bagus yaaa.... pantesan....", saya lalu berfikir 'maksudnya', "Israel itu walau pakai baju apapun tetap saja Israel, bangsa yang menjajah bangsa lain", katanya, "heh".

Biarlah orang berkata apa, saya suka Israel, dalam batas-batas tertentu yang ingin saya buat sendiri, bukankah Israel juga diciptakan dari, oleh dan untuk Tuhan, mengapa kita mengejek makhluk Tuhan yang satu ini.

Saya pikir karena Israel unik jadi ada banyak sekali yang ganjal dari pola sejarahnya. Ini tidak berarti bangsa lain tidak unik, tepatnya istimewa, tapi secara umum,  tentang Israel di Indonesia, sering digambarkan melalui media sebagai salah satu kelompok yang patut dipersalahkan dalam banyak catatan sejarah Timur Tengah. Ah sudahlah, saya untuk saat ini belum bisa berharap adanya banyak perubahan, bagaimanapun Israel adalah satu dari sedikit landscape benturan peradaban yang masih sering dipersoalkan.

Kali ini saya bicara tentang film yang karenanya masih berhubungan erat dengan isu israel the Bubble:



si A, si B, si C adalah teman lama, dari bangsa yang sama, lalu si A cinta dengan si D dari bangsa yang bermusuhan dengan bangsa si A, walau negara si A dan si D saling membunuh, tapi A&D love each other 4ever, sampailah saat si D kehilangan satu anggota keluarganya karena serangan bangsa si A, lalu dia ingin membalas bangsanya si A (kerena tekanan historis yang komplek dalam keluarganya), 'ndilalah kersane alah' (ketepaan), di jalan, si D karena rindu sangat dengan si A yang beberapa saat berpisah karena masalah kewarganegaraan, sesaat sebelum mati sebagai bom hidup, menengok si A yang sedang bekerja dari balik jendela, si A sadar, lalu menemui si D, dan bom pun meledak, keduanya mati, mati hanya di antara mereka berdua.

Ceritanya memang sangat sederhana, tapi di tangan sang sutradara cerita ini menjadi aset luar biasa. Tentang cinta yang konsepnya selalu dipertanyakan oleh rezim mayoritas, tentang dua bangsa yang masing-masing membutuhkan identitas, tentang generasi lama dan baru yang hanya memiliki sedikit ruang dialog, tentang agama dalam bingkai lama, serta tafsiran baru  yang lepas kendali macam roket perang, tentang negara yang seolah memasukkan semua kehidupan yang umum hingga yang sangat pribadi dalam satu kotak pandora, dan tentang kematian romantis, atas nama negara, -sedikit- agama dan terutama cinta.

Kita semua, manusia, begitu lahir -ceprottt-, telah dibingkai oleh masa lalu yang membuat kita ada dalam identitas dan entitasnya masing-masing, semisal saya, lahir sebagai laki-laki, bangsa jawa -yang ndeso-, rakyat Indonesia, beragama Islam, setidaknya hal itu umum dicap  tergantung dari keluarganya. Dari sinilah, masa lalu menelusup dan membangun identitas kita, terkadang masa depan yang telah kita jalani akan menguatkan identitas itu, dan tidak jarang juga, masa depan melemahkan apa yang kita bawa dari masa lalu -tradisi keluarga-, sebagian atau nyaris seluruhnya, berubah. Dan sering kali perubahan itu berawal dari pertanyaan sepele dan menggelikan, siapa aku? dari mana aku? dan mau ke mana? dan semakin banyak kita -saya- menggali jawabannya, semakin kita -saya- terhanyut pada perang makna serta logika. Sudahlah, kali ini kita selesaikan pembicaraan tentang filosofi, toh filsafat tidak selalu membuat orang senang -terutama yang dihadirkan sebagai pelaku sejarah yang kalah, minor dan diasingkan-.

The Bubble, ingin menegaskan sesuatu, ada makna yang setiap saat -seperti sebagian film 'berkarakter' yang sempat saya lihat- ingin dicoba untuk digeser dari susunan rangkaian yang rumit dan terkadang berat. Tentang suatu tanya yang mencoba terus ditanam, walau belum tentu akan terjawab oleh  usaha akal kita. Ini seperti sekoci kecil yang lepas dari kapal induknya, dan mencoba mencari 'sesuatu' yang barangkali masih dalam tanda tanya besar, ada atau tak adakah bunga harapan dan kebahagiaan itu di sana?.

Lalu, sebagian besar dari pertanyaan itu luluh, hancur, remuk karena realitas yang tidak sejalan, terbakar berlahan, dan... "mulalilah berhenti bertanya!!!", karena satu alasan, barang kali "perut kita lapar", "pikirkan tentang kekuasaan", "tentang masa depan", ah 'preketeklah'! saya adalah apa yang telah saya lakukan -materialisme-, atau saya juga adalah apa yang saya pikirkan -idealisme-, saya ada karena saya berusaha mengada, dan karenanya saya berusaha untuk tetap mempertanyakan setiap yang telah ada. Walau mungkin saya sebentar lagi mati, terusir dari kampung halaman, dipenjara oleh sejarah yang memuakkan, atau terbunuh sebagai 'jalang'.

The Bubble bercerita tentang satu cinta dua anak manusia -jangan pernah bertanya tentang manusia, karena manusia tetaplah manusia-, karena cinta -jangan bertanya tentang cinta, karena cinta apapun tetaplah cinta-, mereka rela mati hanya untuk menjadi manusia yang memiliki cinta.

and

5 komentar:

complicated jadinya jika cinta tidak hanya dipandang dari dua individu, tapi juga identitas yang menyertai pelakunya.

Sekedar menambahkan detail. Si A & D keduanya adalah pria. Itu juga yg membuat cerita film tsb sederhana namun kompleks.

hmmm komen tentang Isreal ya?

semua penemu-penemu penting dalam sejarah dunia adalah berdarah Yahudi...

perusahaan2 besar di dunia dimiliki oleh orang Yahudi....

Israel sebagai negara jauh lebih makmur dan maju dalam iptek dari negara-negara tetangganya...

Kenapa?

Menurut saya, kunci sukses tu bukan dengan menipu, mencuri, berbohong, bermalas-malasan...

Tidak ada orang atau negara yg sukses dengan menempuh jalan demikian.

Kunci sukses adalah kerja keras, jujur, ulet, tekun, pantang menyerah....

Orang atau negara yg sukses harus memiliki nilai-nilai itu. Tak terkecuali orang dan negara Yahudi...

Itu adalah nilai-nilai yang berlaku universal.

israel baru maju 2 abad ke belekang, penemu2 utama dunia adalah orang china, kaukasus dan sedikit arab, perusahan besar kebanyakan adalah orang2 kaukasus, jepang dan china,,,, ah Arena terlalu berlebihan ngbahas israel...