Minggu, 13 Desember 2009

Di Copenhagen, semoga Cinta antara Bumi dan Manusia Bersua

Posted by MOVAZ On 21:11 4 comments



“mata akan kembali pada bintang, daging pada akar, tulang pada batang dan darah pada air bunga mawar  ” (Balian Maribut (Alm), Dayak. Meratus)

Malam minggu adalah malam paling ramai di jalanan, tidak hanya di kota, motor dan mobil antri memenuhi ruas jalan, entah untuk sekedar jalan-jalan, bergabung dengan keramaian, memenuhi undangan pesta-pesta, atau berbelanja mingguan habis-habisan. Hasrat untuk menjadi manusia ‘sempurna’ dibentuk oleh periode radikal beberapa abad ini, melalui kejutan ‘pencerahan’ yang telah merekonstruksi fitrah dengan ‘anatomi’ baru yang menghendaki  pembaharuan yang sangat cepat,  suatu periode akan semakin cepat menjadi ‘usang’, dan diganti periode baru yang secara cepat akan pula melapuk, ‘anatomi’ itu dijejalkan habis-habisan menjadi bagian dari ‘insan kamil’, “tengoklah sayang, kita harus membelinya, kita harus mengenakannya, dan kita harus membuangnya sebentar kemudian”.


‘Anatomi asing’ itu benar-benar tak bisa lagi ditinggalkan, terutama di kalangan perkotaan yang sayangnya telah memegang peran penting dalam penguasaan atas aset sumber daya alam bumi, kita tak jenak lagi rasanya berjalan-jalan tanpa Hand phone yang ‘harus’ bisa untuk BBan, e-mail dan facebooknya, tak lengkap keluar tanpa mobil atau motor, tak puas kalau tidak membeli ini-itu sesuai gembar-gembor televisi, fashion up-to-date yang harus dikenakan dan dipoleskan, tampak udik bila tidak mengikuti pola fakir ‘modern’, gaya hidup ‘modern’, nilai-nilai ‘modern’, pendidikan ‘berkelas’. Jadi ‘miskin’ kiranya bila  tidak mengikuti gaya pembangunan negara ‘maju’, tidak berjuang menjadi kelas ‘kaya’. ‘Kesederhanaan’ sering dipersalahkan sebagai ungkapan keprihatinan atas kegagalan berkompetisi mengikuti ‘system’ yang ‘rasional’, ‘empiris’ serta ‘ilmiah’, menjadi sesuatu yang mahal di zaman sekarang.

Memang diakui secara nyata, modernisme dan segala pisau tajam analisisnya memang telah membuat segalanya begitu ringan, cara hidup kita semakin ‘mudah’, komunikasi dan kehidupan sehari-hari kita semakin ‘nyaman’ dengan tekhnologi yang semakin canggih, politik kita semakin ‘egaliter’, mengedepankan kebebasan, persamaan dan kemerdekaan, ekonomi kapitalis menjadi rangkaian kerja yang mau tak mau mengambil peran teramat besar terhadap sebagian besar umat manusia, di mana kompetisi yang bebas, efisiensi kwalitas dan harga, marketing yang ramah serta merata, akan menentukan layak dan tidaknya suatu usaha ekonomi mampu berjalan langgeng di muka bumi, nilai-nilai ilmiah kita menjadi sangat ‘otentik’, terstruktur rapi, sistematis dan memiliki tolak ukur, seni, hukum dan keagamaan kita semakin praktis, missal, logis, dan mudah diakses serta sangat terbuka.

Sayangnya modernisme tidak mengambil kesimpulan yang berimbang, bahwa dengan mendaya gunakan sumberdaya alam bumi sebebas dan semaksimal mungkin demi eksistensi peradaban manusia, akan berefek domino sangat luas pada ‘anatomi’ bumi secara berlahan namun pasti, hendaknya modernisme mempertimbangkan pola fakir dan tindakannya dengan daya dukung alam bumi yang pada kenyataannya ada batasnya, modernisme sangat mengerti hal itu, tapi sedikit membahasnya dan merealisasikannya melalui tindakan nyata, ‘anatomi’ akal dan fisik manusia modern pada kasus ini menjadi berjalan timpang, dan akan terus timpang berkenaan dengan ‘sesuatu asing’ yang memang telah mendarah daging, hingga di dasar-dasar logika, di kedalaman iman, dan di kehidupan sehari-hari.

Berkurangnya daya dukung alam ini bahkan diabaikan oleh suatu konsepsi ultra modern tentang pembangunan, suatu bangunan makro secara ekonomi serta politik yang ingin meyakinkan umat manusia bahwa “perubahan lingkungan ini ‘tidak terlalu mengkawatirkan’ dan mari kita terus melanjutkan ‘proses pembangunan’ yang tidak akan pernah usai”, dengan demikian diperkenankan secara ‘hukum’ bagi yang ‘berkepentingan’ untuk membabat hutan dunia hingga berkurang lebih dari 70 persen sejak awal abad sembilan belas, menaikkan iklim regional-global hampir mendekati derajat lima, mengeruk perut bumi habis-habisan lalu meninggalkannya bak pelacur murahan, -manusia harus menyadari semisal untuk menciptakan keindahan satu gram emas harus mengorbankan dan mencampakkan hampir sepuluh ton tanah subur, suatu dosa yang kemudian dimaklumi, karena kegilaan manusia -, membiasakan segala umat manusia yang ‘dicerahkan’ dan ‘dimodern’kan oleh ‘ilmu’ yang ‘logis’ dan ‘agama’ yang ‘diimani’ –yang tercemar- untuk terus menerus dijejali dengan setumpuk kecanggihan yang tidak lebih dari beberapa tahun akan menjadi ‘sampah’, dibandingkan dengan manusia yang telah berumur ratusan ribu tahun, manusia modern yang umurnya tidak lebih dari 2 abad adalah manusia paling rakus yang sempat diciptakan oleh sejarah manusia yang ber’ketuhanan’.

KTT Iklim di Copenhagen, Denmark, yang diupayakan menjadi koreksi Protokol Kyoto, serta pertemuan lanjutan sebelumnya termasuk di Bali, merupakan suatu harapan bertindak secepatnya demi masa depan Bumi-Manusia, dengan dipayungi kebijakan global secara menyeluruh dan berkesinambungan, berupa aturan untuk mengurangi konsumsi emisi karbon dengan memperjuangkan pengurangan hingga 40 persen bagi negara maju dan sepuluh hingga dua puluh persen bagi negara berkembang, serta konsesi global –berupa bantuan keuangan dan tekhnologi- terhadap pemeliharaan karbon di negara-negara kaya hutan, seperti Brazil dan Indonesia. Nilai tawar akan terus berfluktuasi, mengingat setiap negara memiliki kepentingan jangka panjang yang sangat bisa dipengaruhi oleh hasil Copenhagen, negara maju yang menyumbang emisi karbon terbesar, lebih dari enam puluh persen –belum terhitung MNC yang bermain di Negara berkembang-, akan sangat merasakan dampak systemic bagi  masa depan ekonomi dan terutama gaya hidup konsumerismenya –bisa digambarkan bahwa rata-rata satu orang Amerika mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari yang nilainya sama dengan rata-rata konsumsi 60 orang Afrika-, belum lagi kepentingan negara-negara berkembang yang mengharapkan perluasan ekonominya mampu melampaui  atau setidaknya mendekati negara maju, seperti perkembangan China, India, Brazil, Russia, Indonesia serta negara-negara teluk dekade terakhir ini, lepas dari kenyataan bahwa program pembangunan yang mencita-citakan kemajuan seperti negara maju dalam makna ‘kasat mata’ (konsumsi dan gaya hidup) akan memperparah lingkungan, karena pada dasarnya akan membutuhkan tiga atau empat bumi untuk mewujudkan tujuan konsumsi dan gaya hidup negara maju.

Namun pertimbangan utamanya, tetaplah kembali ke niatan awal, karena alam memang benar-benar memiliki batasan, maka umat manusia yang diwakili oleh negara masing-masing, harus segera membatasi laju eksploitasi terhadap alam, masalah sebenarnya bukan hanya ketakutan pemanasan global karena pelepasan emisi karbon –penggunaan minyak bumi dan segala pembakaran karbon- yang telah di ambang batas,  hingga meningkatkan suhu bumi –nyaris 2 derajat di akhir abad 20-, hingga mengurangi luas es serta ekosistem kutub utara-selatan, membahayakan kota-kota pantai, telah merusak iklim dan musim sehingga rawan penyakit, banjir-kemarau, berdampak kegagalan panen besar-besaran di bumi, lalu dikawatirkan rawan peperangan, namun tujuan yang tak kalah penting adalah semua negara dan masyarakatnya harus diajarkan untuk menghemat, dalam aspek produksi-konsumsi real, logika fakir, penerapan tekhnologi serta nilai-nilai filosofis dan iman.

Sungguh merupakan berkah sejarah yang menakjubkan apabila hasil Copenhagen setidaknya mendekati  ‘harapan tingkat tinggi’ hubungan bumi-manusia, mengingat pada kenyataannya mengurangi produksi-konsumsi umat manusia yang telah dirumitkan oleh mendarah dagingnya ‘anatomi asing’nya adalah tidak mudah, seperti tidak mudahnya manusia berpindah dari agama yang meyakini manusia sebagai makhluk yang memiliki dunia bagai budaknya menuju agama yang meyakini manusia hanya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan bumi, di mana persahabatan dan cinta atas alam-manusia menjadi nilai iman yang sangat dihormati dan disucikan. (Movaz)

(*)

4 komentar:

Sementara mereka menggodok kesepakatan untuk perbaikan lingkungan, yuk....mari di sini kita berbuat sesuatu. Hemat memanfaatkan sumberdaya alam, baik yang renewable maupun yang unrenewable.

@L : reuse, recicle, refill,

Arema: carut marut macam benang.