Rabu, 16 Desember 2009

aidonnow #99

Posted by MOVAZ On 14:36 1 comment



Di lembah yang senyap aku menghardik mu.
Kamu nala yang mengusik kesenanganku pesta pora.
Tiba-tiba membopongku menuju senyap.
Lintang telah mendaraskan takdir.
Dan kesedihan melukai tawa kita yang sorak.

Menuturkan tentang lapar membuat kita gelisah.
Menuturkan penindasan membuat kita murka.
Menuturkan kebiadaban membuat kita resah.
Dunia ini tempat jelaga menghiasi ruang kaca.
Yang sebelumnya bening jadi muram.
Apakah kita alpa bila tak menyepuhnya.

Begitulah kita bak jiwa membuta.
Yang heran dengan lakon dunia.
Tak ada lagi permainan kanak-kanak.
Di mana yang kalah-menang silih berganti  hanya sebuah permainan
Apakah bila kita kalah akan menangis dan merengek?
Permainan bukanlah sungguh-sungguh.

Barangkali yang sungguh siapa tahu cuma permainan.
Makanya aku cuma tertawa menengok televisi.
Kita cuma tertawa cekikik kala lakon utama telah membetot singgasana.
Lupakanlah semua itu sayang.
Permainan ini belum berakhir, kamu dan aku tahu persis itu.

Mereka yang angkara murka pasti menerima balasnya.
Debu bagaimanapun menjelma akan tetap menjadi debu.
Dan dunia ini cuma suatu jalan kecil bagi canda-tawa kita bersama.

1 komentar:

uhmmm... bahasanya tingkat lanjut...