Selasa, 15 Desember 2009

Membereskan Urusan Jogja #4

Posted by MOVAZ On 14:39 1 comment



Ketika pagi seperti tergegap datang.
Genggaman itu telah terlepas dari eratan.
Cukup kau sumpali mulutku dengan omelan.
Seperti itulah engkau bagai anak kecil keranjingan mainan.
Makanya aku pergi menjauhi kebosanan


Kemarin lalu ku datang terburu-buru.
Ku pikir engkau marah serapah sumpah.
"Mengapa kau malah tersenyum?"
Lalu ku bopong seadanya bekal.
Karena aku marah maka aku pergi dengan sedikit basa-basi.

Bisanya kau bilang aku 'anjing' liar!!.
Lalu sejak kapan manusia ditiduri anjing?
Apa kau ini siluman?
Yang terkadang jahat walau lebih banyak mengesankan bagi ku.
Aku tahu kamu ini rapuh, dan aku berharap bisa mengerti.
"Kemarahan adalah bentuk kelemahan, lawanlah dengan diam".
Begitulah pepatah bijak menguntit dalam pikirku.

Kemudian aku pamit pergi, berharap engkau pernah merasakan kehadiranku.
Aku juga tahu kamu orangnya 'moodly'.
Jadi biarkanlah engkau puas keranjingan marah.
Toh akan ada musim gugur setelah musim semi.
Ada hujan setelah kemarau panjang.
Tuhan itu ada karena keadilan-kejahatan datang teratur silih berganti.

Toh...
Kau membuatkan ku semangkok mie.
Kau meminjamkan ku sesuatu.
Kau memperhatikan ku kala ku lelah.
Kau juga menyapa ku kala ku hampa
Cukuplah itu mengatakan kamu mencintai ku.
Walau kau tidak pernah lagi ngomong begitu.

Begitulah asal mula aku ingin menggelandang.
Di rumah terlalu berjejal laku berulang.
Petualangan jadi menarik bagi mereka yang tergagap memburui hidup.
Mungkin Tuhan ingin aku memeluk penderitaan.
Lalu ia menertawakan cerita kita yang eksentrik.

Lalu setiap cerita memiliki jeda kemudian juga memiliki titik.
Entah itu jeda ataupun titik.
Aku ingin engkau tertidur pulas, kala dongeng ini telah usai ditutur.
Demikianlah aku mencintai mu sebatang kara.

1 komentar:

saat marah menepilah
bukan untuk pergi tak kembali
hanya mengingat lagi
cinta yang indah