Sabtu, 12 Desember 2009

Tengkurap

Posted by MOVAZ On 20:18 3 comments


Memoles bibirmu yang merah, bak pita yang mengikat kado.
Kamu lembayung yang menguncup di kala ufuk.
Membisikkan di telingamu tentang mantra rayuan.
Aku ingin engkau menjamak mimpi yang makin memudar.

Ku bawakan kamu sepotong rindu.
Tak ku sangka kau tanam dalam pot ruang tamu.
Lalu tumbuhlah jewawut berbunga bakung.
Cinta kampungan mendendang melankolis.
Dan jikala sudah dipelaminan maka hanyutlah romansa.


Aku kamu cuma bermain di bukit dusun tua.
Dimana yang mati lebih banyak dari yang hidup.
Tapi untungnya kita cuek dengan cerita orang.
Kamu memungut bunga-bunga di pekuburan
Lalu satu ranjang kita bawa pulang.
Karena kita cuma percaya Hantu dan Setan cuma bualan.

Begitulah kita sama-sama meleleh.
Orang-orang dewasa seolah malu bermain macam anak-anak.
Tapi kita sadar, ini permainan yang menyenangkan.
Berguling-guling diatas pasir dan pulang telanjang
Lalu ibu cuma bilang.. hmmm.
Aku menikmati bulan madu kita yang semirip lampu di gapura.
Redup tapi mendamaikan.

Jadilah kita sepasang kekasih.
Berselimut kain tebal bekas perampokan.
Kita minum tuak bersama.
Untuk mengenang masa di mana kesakitan dan kesenangan nyaris serupa
Kamu dan aku membanjiri ledokan persetubuhan
Dan malam ini aku yang kalah kala saling menjamah.

Persetan cerita-cerita kuno!



3 komentar:

saling menjamah, persetuuhan... aw aw aw 17++ nihhhhh *nutup mata pake kaca*

Movaz kalo bikin puisi nyerempet-nyerempet mlulu nih... tp gw salut sama lo... ternyata masih ada anak muda yang gandrung terhadap puisi :)

mr A, nyrempet benjut
mr O, anak muda??????? dah tua bozzzz