Sabtu, 31 Oktober 2009

SENTIMENTIL (ra nangiss kebangetennnnn!!!)

Posted by MOVAZ On 13:11




Such a lonely day
And it's mine
The most loneliest day in my life

Such a lonely day
Should be banned
It's a day that I can't stand

The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life

Such a lonely day
Shouldn't exist
It's a day that I'll never miss

Such a lonely day
And it's mine
The most loneliest day of my life

And if you go,
I wanna go with you
And if you die,
I wanna die with you
Take your hand and walk away

The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life


Such a lonely day
And it's mine
It's a day that I am glad I survived.





Kamis, 29 Oktober 2009

IADONNOW (1# season)

Posted by MOVAZ On 04:45



tubuhku remuk kepayahan
kamu yang bikin hatiku meregang lelah

dulu kamu buat aku berbunga riuh
seperti pasar yang ramai pengunjung
kamu menawar ku murah
aku pun melepas saat kau bilang tapi tak murahan
sepertinya sudah lewat musim bermesra
dan kau ingin aku jadi penjaga saja

"aku butuh teman" katamu pelan
aku tersentuh seperti apel ketusuk jarum
"ya sudahlah ku temani"

sepertinya semua kelopak bunga telah luruh
tapi pot masih utuh, didalamnya cuma ada air membusuk
bagitulah hari-hari dengan mu
"kamu masih cinta?"
"masih lah"
"tapi mengapa?.. ach tai ach.. ya sudah.."

aku bak tanah liat basah seperti asal adam
kau buat aku macam apa ku turutilah
kau bilang cuma teman, aku tak nangis
dulu kau minta kawin, aku tak bangga
bukankah dunia ini lain dengan yang kita miliki?

sebenarnya kamu sering membuatku tersipu
malu karena kamu mau menawarku dulu
aku masih tertawan dalam ulu mu
ah kamu, kamu memang beda dengan ku
jadi mengapa aku paksa kamu mengerti aku
sesekali kau minta aku berubah

"jadi yang baik lah, sembuh lah.."
"iya iya.."

tapi tak semudah itu too aku berubah
kamu mudah karena kamu beda
aku ini tanah liat dari endapan kolam busuk
sementara kamu kaca beling yang menusuk
jadi mengapa kamu tak juga paham
kadang pingin kamu paham
mungkin kamu paham tapi tak mau bilang

sudah ku bilang kamu sayang cuma semusim
sayang itu terbang lagi seperti burung migrasi
kamu hinggap kemana-mana aku tak tahu
bersyukurlah karena aku tak mau tahu
bukankah dunia ini lain dengan yang kita miliki?

tapi begitulah kalau lama tak sua
kamu kabari aku, kalau kau kangen
ah, inilah aku, apel yang ketusuk jarum
lalu aku tergepoh-gepoh menjumpaimu
senyum mu bulat macam sebutir anggur merah
matamu kecil bak mata bonekah
tapi kamu tajam, beling menyilau mataku




begitulah kita berlari-lari di taman asmara
kau bergulung-gulng seperti soe hok gie di mandalawangi
"kejarlah aku kau ku tangkap" katamu
lalu aku mengejarmu, kita berdegap degup
aku tau pasti jantung mu juga berdegup kencang
tapi ketika ku tanya kamu bilang "memang begitulah"

lalu kita menghabiskan malam bak di atas awan
aku membantu mu mengeja bintang jatuh
kita saling menatap dan kau bilang "i love u.."
taik kucing, mana aku mempan...
tapi sekali lagi aku bak apel ketusuk jarum
sial..sial..sial...

melam itu ibuku seperti mendongeng
ada pangeran yang menerkam harimau
harimau terengah kesakitan
lalu rebah tak berdaya
"mau kah kamu membawa ku ke istana pangeran ku"
"di istana tak ada tempat untuk harimau"
"sudilah kamu menengukku di hutan barang akhir pekan"
"pengeran mu ini seorang pemburu, kamu tahu kan?"
lalu aku tertidur, tepar karena kelelahan
 



 
kemarin pagi hati ku mekar lagi,
tapi kamu bilang, "mengncup saja lah, jangan berharap"
lalu menguncuplah kembali
kemarin siang hatiku mekar lagi,
tapi kamu bilang "ah, kurang kerjaan, ingat dunks.."
lalu menguncuplah kembali
kemarin sore hatiku mekar lagi,
tapi kamu bilang "udah ach... jangan meracau.."
kemarin malam hatiku mekar lagi,
tapi kamu bilang "woiii stress kau lebay!"
tadi pagi hati ku mekar lagi,
tapi aku cuma diam saja, kamu apa lagi...
"huh"


 

ingin seperti perkutut yang mencintai seekor saja sepanjang hayat
tapi takdirku ternyata bak merak yang menjulurkan ekor merekah
salah siapa mereka masuk dalam jebakan
karena begitulah keindahan diciptakan seharusnya
sedari lahir aku berjiwa welas asih
sanggup mencintai apapun dan siapapun
aku belajar dari cara mu mengeja cinta
dan aku kini begitu mahir memainkan dawainya

saat kamu memulai perang dulu
kamu katakan "itu cuma sandiwara panggung.."
saat aku memulai perang kemarin lusa lalu
kamu katakan "kamu sudah cukup tak berbakti!"
begitulah kamu selalu menyalahkan ku
aku memang salah, salah seperti kamu
lalu terompet dan gong perang berbunyi sorak
dunia cinta bak pertunjukan malam
aku berjoget dan kamu berjoget
tapi mungkin kita memang bukan ahli joget
aku lelah dan kamu lelah

aku tergelepar tak berdaya, lelah menjamah-jamah
kau tergelepar di pundakku tertidur pulas
serasa terbang diatas langit ke tujuh aku selalu merindu
seperti apel ketusuk jarum
jantung mu berdekap seperti jantung ku berdegap
"aku ingin mati bersama mu" kamu mericau
aku terdiam, aku tahu kamu sedang tak waras
aku cuma membayangkan andai dunia di luar sana bisa bercanda demikianlah aku tertidur pulas lelah dibuatnya
dan aku peluk kamu erat-erat.

(*)

ketika pagi telah datang, kau terengah engah
kau bilang "hari kan menjadi panjang tanpa kamu"
kamu memang ahli bermantra, akupun klenger kau buatnya
"tapi hari ini akan sesingkat biasanya" kataku
"maksud loe"
setiap hari adalah hari yang singkat tanpa mu pikirku
tapi ku bilang" karena sekarang hari jum'at"
kamu mikir sebentar lalu bilang "och iya.."
dan di jendela ku lihat anak-anak SD memakai baju batik dan pramuka

kau lalu pergi bekerja, aku pun juga
boz marah marah padaku karena aku bodoh katanya
aku membanting tubuhku keras di kursi
kehidupan menyana seperti dupa sesembahan
aku sembahkan sesuatu untuk berhala yang ku puja
kemenyan cuma bisa membakar dirinya
dan berhala tak juga memakan apel dan pir kita

Tapi Tuhan justru tertawa diatas langit ke tujuh
kadang menjelma menjadi anak-anak kecil bermain dadu
kadang menjelma menjadi kakek sepuh di penghujung senja
kadang menjelma menjadi wanita pesolek dengan mata liar
kadang menjelma menjadi pejantan tangguh yang mengalah
kadang menjelma dalam keheningan yang kita derita
pada kesunyian malam yang mencengkram hati

 

(*)

Suatu hari, Tuhan menurunkan sesosok makhluk.
ada wanita yang mendaras kitab suci selepas magrib di balik jendela
karena kitab suciku berdebu dan berbau anyir
maka perdengarkan untukku wahai wanita,
tentang lelaki yang merindukan surga
tentang lelaki yang membungkus bengisnya untuk bidadarinya
tentang lelaki yang kelelahan setelah habis bekerja
tentang anak kecil yang memanggilnya "papa.."
tentang wanita cantik yang tersenyum manis, kala menerima amplop bulanan
tentang malaikat yang beterbangan diatas atap rumah nya
lalu menjelma menjadi tinta dan buku
menjelma menjadi layar monitor dan i.c.
menjelma menjadi bermilyar jendela
menjelma pula menjadi iblis
menjelma menjadi kebimbangan
menjelma menjadi keraguan iman
menjelma menjadi pejuang perdamaian
menjelma menjadi permainan liar di ranjang


kamu membacakan cukup untuk ku satu pesan
lebih kurang 14 abad yang lalu diturunkan,

"Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang"
"Segala pemujaan untuk Mu Pangeranku, Pengeran seluruh alam"
"Penguasa kelak hari berbalas kasih"
"hanya Engkaulah yang layak ku puja dan tempat ku memohon pertolongan"
"tunjukkan pada ku jalan yang terbaik"
"seperti jalan mereka yang Engkau kasihi, dan bukan yang melupakan kasih Mu"
"dan yang sewenang-wenang terhadap diri mereka sendiri"

dan kamu membuat ku ingin menangis seperti picisan
aku tidak ingin melawan kata-kata mu wahai wanita
karena itulah lelaki diciptakan untuk melindungi kelembutanya
lalu aku tergagap kebingungan
terhirup aroma pasar filsafat, para tokoh pencari kebenaran dari segala penjuru
akal seperti api, ingin menjangkau ke mana-mana
hati seperti air, ingin mengalir ke tempat yang lebih rendah
tubuh seperti pohon, tumbuh tinggi rindang pula tumbuh mengakar bumi

Tuhan menjelma dalam keraguan
pemuja mu ini memang hanya pantas memberi makan para berhala
lalu berhala tak pernah jua berkenan memakannya
sedih rasa nya siang-malam membanting tulang
memuja keindahan beling yang tajam atau seonggok batu yang terukir indah
aku ingin menyanyi memuja mu, seperti wanita tadi wahai berhala ku
tapi telingamu barangkali memang telah tuli
aku ingin berjoget memuja mu wahai berhala
tapi matamu barang kali memang telah picek
tapi aku ingin terus memuja sebongkah cadas kuat yang terukir indah
aku menunggunya berharap dia datang sendiri pada ku dan memelukku
tapi tak jua dia mendekapku.

ketidak sempurnaan adalah sifat segala dunia
berkomat-kamit menanyakan ketidak sempurnaan,
tak akan pernah membuat ku sempurna
begitulah cerita adam turun ke dunia
dunialah tempat suka duka menyatu, surga dan neraka menemukan satu muara
itu mengapa cinta yang ku puja dan kau puja pula sekalipun tidak pernah sempurna

kala ku tergelepar menumpuk semua tanya,
mengingat teman yang bersenda,
"dah lah bree damai lah ma diri sendiri"
"kalo gw berdamai apa gw bakal kagak tanya..?"
selama di dunia ketidak sempurnaan adalah kawan manusia
ketidak damaian adalah salah satu ciri-ciri manusia
mereka yang terus bertanya tidaklah benar dan tidak pula salah
ini dunia dan setiap manusia bisa berbuat apa saja dan bertanya apa saja.

dan ketika kau datang lagi, lalu bilang, "aku kangen ma kamu..."
seperti itulah kamu membawaku terbang ke langit-langit rumah ku
kau menyatakan kerinduan dan aku tertidur didekat mu
dan aku tak perlu lagi bertanya
mengapa aku selalu saja ingin mencintai mu?

semoga berhala dan pemujanya menjumpai Tuhannya.

Rabu, 28 Oktober 2009

Bertengkar Hebat dengan 'cinta'...sial, Kappret !! (conflict and peace)

Posted by MOVAZ On 06:12


I. Preferance

Setelah bertengkar hebat ma R.L.V, yang bikin saya bosan menikmati hidup, bukannya pergi nyari pelarian hiburan,  entah mengapa untuk kesempatan yang teramat langka, sore ini saya mencoba menengok berita tv, dalam hitungan sebulan atau dua tiga bulan, baru hari ini saya mencoba menyimak berita, -biasanya saya asyik masyuk dengan tontonan macam movie tv, mtv, national geographic, atau nicolodian, plus satu chennel favorit dari negeri perancis dan kanada, emm emm (+ mind plz),  tapi kali ini channel yang saya pilih Al Jazeera, CNN dan Metrotv, berturut-turut, ada dua berita yang sama, badai yang telah akan mengguncang Taiwan, dan pendudukan Israel di Masjid al Aqsa, berita beruntun yang buruk yang sangat tidak saya sukai,

  • Badai adalah salah satu bencana alam yang dengan tekhnologi masa kini, melalui satelit PJJ, bisa dibaca seberapa kekuatannya, kapan akan datang dan kapan akan pergi, sering kita bisa kita hindari melalui persiapan dini.
  • Konflik dan perang adalah salah satu bencana kemanusiaan yang dengan tekhnologi masa kini dan mungkin hingga masa datang,  tidak bisa dibaca seberapa kekuatannya serta kapan akan datang dan kapan akan pergi .


Dan kali ini perkenankan saya, seorang yang bodoh ini untuk sedikit berbicara tentang  berita tadi, ingin sekali saya ngobrolin masalah perang, konflik dan penderitaan manusia, pembahasan yang sungguh, dulu-dulu yang tak lampau amat, saya masih berfikir "maless kaleee ngebahas"  hal macam ini, karena saya nyadar, ini bukan kapasitas saya sebagai kuli angkut untuk memikirkannya, dan situasi itu tak ada yang bakal berubah bila saya memikirkan atau membicarakknya , "cume nghabisin waktu aje bree", harusnya serahkan saja sama yang berwenanang sama yang lebih tahu, kita mah wong cilik "ngikut aje..".

Saya pikir waktu itu... benar juga kata temen-temen hangout saya dulu-dulu, harusnya saya cuek saja bila ada perang dan kelaparan di sono dan di sana, toh sudah ada UN, sama cueknya bila tetangga saya hari ini belum makan, atau anak-anak muda yang putus sekolah karena tak ada biaya, bukankah setiap lima tahun kita pemilu, memilih orang-orang yang lebih kompeten untuk mengurus semua masalah ini, hidup kita sudah cukup susah untuk mikirin diri sendiri, habislah sisa waktu sehabis kerja yang sangat berharga itu hanya untuk mikirin dunia yang memang sudah tidak akan sempurna sejak Adam diturunkan di dunia, apa kite2 dah siap nampangin muka glowmy dan kusut waktu ngeceng di mall, cafee atau dugem gara-gara ngerasain tetangga kita yang kesulitan nyambung hidup sekedar ala kadarnya, atau diam tak berkutik waktu arisan n party karena fikiran kita kesabet ma penderitaan orang-orang yang baru kehilangan keluarganya karena gempa di mana-mana, banjir atau kemalingan..

"sumpeh bree... mikirin yang itu??? ih... neee... rugi banget dongs gw nyaloooon, nge-gym n nyepa.... dah ah, buang jauh-jauh dech... udah ade yang ngurusin too..., kita ikut doain je, simpati je, kali kali setahun sekali kita donasi dikit-dikit, ikut-ikutan acara arisan kite ke panti asuhan atau nanem pohon buat penghijauan, lagian kita kan udah bayar pajak too...plz dech.."



Dulu, kalo teman saya ngingetin demikian,  terkadang (sangat terkadang karena waktu itu saya memang sangat-sangat jarang mikirin yang sedih-sedih, nambah posing bre....) saya cuma diam saja ah, "ikutan aje lah, yuukkk boooo" sambil nyeruput mocacino, ngehirup rokok, dan ngemil kentang goreng, setelah itu ya lets flow macam biasa, ngegosipin artis, film-film yang sedang diputer, model parfum, baju, sepatu yang lagi nge-in, ketawa-ketiwi dan bla-bla bla (emm emm yang disebutin akhir-akhir, biasanya saya cuma nelan lidah, dan ikut bilang ya tidak ya tidak, karena memang saya tak paham, kecuali gosip artis, saya lebih lihai, saya pasti bakal berani mewakili indonesia  kalo mau diadakan klompencapir internasional tentang gosip artis, mau hollywood, bollywood, hongkong, atau lokal...  yuukk, lagian nonton tipi kan gratis.. emm)

Tapi, waktu itu saya memang kurang awas, dan akhir-akhir ini muncul kesadaran (barang kali ini pengaruh hormon umur ditambah mendapatkan masalah dan musibah beruntun kemarin-kemarin), saya belajar menjadi diri saya yang sesungguhnya dengan mengetahui posisi keberuntungan saya, membantu memahami diri saya agar jauh lebih banyak bersyukur dengan menengok sudut pandang yang lain, bila hal-hal yang 'ngebosanin' buat dibahas tadi akan sangat ngebantu s membuat saya memiliki kekuatan untuk bertahan jauh lebih baik dari teman-teman saya tadi -saya telah buktikan itu-, teman saya bahkan pernah bilang, saya cukup sabar untuk menerima kenyataan hidup yang memang pada dasarnya macam yin-yang, sakh-dukh, dingin-panas, syukurlah, saya kini memiliki keyakinan, bila hidup itu pada kenyataannya bisa berlanjut serta lestari bukan karena dominasi suatu persaingan menang-kalah, hidup-mati, namun karena kita membuka hati dan diri kita untuk saling bahu membahu, tolong menolong dan menjadi warga masyarakat yang menghargai ketertiban sosial (teori Darwin tentang kompetisi memang sudah cukup lama dipertanyakan justru oleh neo darwinisme sendiri).

Jadi.. 

*segera ambil tisu basah di meja rias anda, kali ini saya akan bercerita tentang yang hidup dan lalu mati, yang datang dan lalu pergi, yang pergi dan lalu kembali tanpa kabar lebih dahulu, tentang kebodohan manusia dan kejamnya hidup, saya tidak akan berbicara tentang yang lucu dan ringan dalam kesempatan kali ini....eng ing eng... penonton yang terhormat, pinto stodio 1 telah dibuka....."

"seriuzz loe......????"
"Yups... dua riuzzz..."
"...ah tampang loe mah tampang badut, mane bise seriuzz..."
"woii, gini yee, kakek buyut gw pahlawan hebat bre.., belande aje takut ampe buyut gw dibuang2 ke luar pulau... jadi setidaknye setelah dipotong ini itu, gw sabagai cucunya masih adalah darah garangnya dikit-dikit.."
"garang....?? garang ikan asin....??.. hehe.. yayayay.. silahkan cerita, gw ambil selimut dl yeee... :P"
"heh... mang gw mo ngedongeng sebelum tidur... kampret loe...!!!"
diam bentar trus eh.. langsung ngedengkur... asssyuu.......!!



II. Main

a. Bencana
2004, atau tepannya 5 tahun dari sekarang, suatu gempa yang besar meluluhkan Acheh, sekitar 200.000 orang tewas dalam musibah itu, di hari-hari awal tv menayangkan beritanya tak henti-henti, karena saya adalalh lelaki yang sangan perasa -sebenarnya-, setiap berita Acheh diputar, dengan pembuka dan soundtrack yang menyedihkan saya selalu menangis -saya jarang sekali menangis, tapi untuk kali ini saya ingin menangis sekencangnya di kamar saya-, saya tutup pintu dan jendela rapat-rapat, tak ada yang boleh tahu kalo saya 'lemah', dalam tangisan itulah saya sungguh-sungguh berdo'a untuk bisa berangkat ke sana, setidaknya tenaga saya masih berlebih untuk mereka, lalu... Tuhan pun mengabulkan!!

Tepatnya minggu ke-3 saya baru bisa berangkat, waktu itu karena pesawat public ke Acheh selalu penuh, kelompok kami (mapala kampus saya) memutuskan untuk take-off dengan bantuan Hercules Australia, (untungnya temen-temen saya cakap bahasa inggris, dan cakap-cakap juga tentara australia.. wow), setelah saya sampai, untuk sementara saya 'ngecamp' di LSM Koalisi NGO Acheh jl Ketapang, kami langsung  mendapatkan pekerjaan pagi harinya berikutnya, "memburu mayat" -hehhhhh whats!!!-, dan saya paham posisi sebagai relawan, volunteer, bukan siapa-siapa, saya harus menyukai tugas saya secara suka rela-, jadi pagi-pagi setelah upacara pemberangkatan -karena kamu nebeng truck militer, jadi kami kali ini harus ngikut upacara dulu-.  Mulai menelusuri kota Acheh, melihat begitu banyak daging yang membusuk, asin, agak kebakar karena air garam dan terik matahari, saya hampir mual, saya berusaha tabah, dan akhirnya saya menemukan mayat pertama saya, terjepit di bawah beton bertingkat sebuah ruko, saya trenyuh, saya ingin menangis, tapi untuk apa?, namun saya tetap saya menangis, biarlah saya dikata bukan laki-laki, tapi saya tetap manusia, saya tarik mayat itu -seorang wanita, seorang ibu, beretnis china-, terik kencang-kencang, "tarikkkkk....." tak juga berhasil, saya minta bantuan orang-orang yang sudah terlebih dulu terlatih, "tarik bersama-sama, tarikkkk...!!", mayat yang tidak beruntung, kamu membiarkannya, -barang kali perlu berminggu agar mayat tadi lebih rapuh, sehingga tubuhnya bisa ditekuk, dan kalau terpaksa 'dipotong', menunggu buldoser adalah hal yang mustahil, ada 200.000 an mayat di Acheh, dan jutaan bangunan yang hancur.




Kelompok kami beranggotakan 20 orang, terdiri dari tiga atau empat regu, setiap hari kami rata-rata mendapatkan 300 mayat, setelah itu mayat akan dikuburkan di pekuburan massal, tak jauh dari kota, bila ada satu kepala terpotong dari badannya, dan kamu tak tahu sambungan masing-masing, kami akan menghitungnya mayat itu 2 orang, demikianlah saya jadi terlatih mencari mayat melalui bau dan insting saya, mengangkat mayat secara nekat, dan membungkusnya ke kantung mayat secekatnya, mengoper mayat ke 'truck', me 'lempar' mayat ke pekuburan. Pekerjaan yang akhirnya menjadi kebiasaan sehari-hari, sampai satu kelompok khusus harus dikirim ke suatu daerah, Desa (kampoeng) Bangmae, kecamatan Lhoong, Kabupaten Acheh Besar, dan saya ikut dalam kelompok itu, laporan terakhir mengatakan hanya ada 200-300 orang yang selamat diantara1000-2000 orang penduduk kampung itu, hari pertama kami mendirikan tenda di desa Lhoong, ibu kota kecamatan, 3 km dari Blangmae, segera dihari ke dua kamu menyusuri Blangmae, semua telah rata dengan tanah, menjadi blang (lapangan), kecuali masjid, dan satu pohon besar di samping masjid, tempat  yang justru relativ dekat dengan bibir pantai, namun terselamatkan. Awalnya, di hari-hari pertama kami dapati rata-rata 30 mayat, tapi di hari-hari berikutnya, mayat yang kami temukan sangat sedikit, 10 -15 mayat, dengan sembilan orang yang anggota, kami benar-benar kesulitan mengangkat mayat yang tertindih bermacam bangunan, pohon dan tiang listrik. Rata-rata mayat tersapu hingga sekilo dari bibir pantai, tersumbat oleh bukit terdekat, menumpuk bersama runtuhan bangunan yang juga ikut tersapu, garis  pantai juga bertambah masuk ke darat, 30-50 meter dari posisi semula, lebih kurang sepuluh hari saya memburu mayat, dan beberapa hari saya 'dipinjam' untuk berburu mayat di kampung sekitarnya, Crueng Kala, Cot Joempa, dan selebihnya kami mulai menangani pengungsi, terutama anak-anak, bermain, bernyanyi, belajar membaca, kami ajak mereka ngaji pula dan belajar berdoa, saya berharap mereka berbahagia, walau sebenarnya mungkin mereka hanya melakonkan sandiwara kepada orang-orang asing seperti kami. Kami belajar peka terhadap rasa duka mereka, sudah sebulan lebih mereka tindur di tenda, tenda yang sempit dan panas bantuan dari pemerintah dan beberapa negara asing, sebulan lebih mereka tidak bekerja, betapa monotonnya, sebulan lebih mereka mengandalkan bantuan untuk makan, bantuan dari seantero negeri dan berbagai negara di dunia, betapa ada perasaan harga diri yang tercabik yang harus mereka rasakan, dan terutama sudah beberapa bulan, orang-orang yang mereka cintai pergi dan menghilang, atau mungkin mati.  Kami memberi mereka bantuan, dan mereka mengolah sebagian untuk kami makan bersama mereka, kami benar-benar malu merepotkan mereka, -sayuran mereka memang uueeenakkk sekali, gulai pelepah batang muda pisang,  nyam.. nyam-, tak lama kami harus pulang, anak-anak dan ibu-ibu ingin menangisi kami, tak usahlah, kami tak tega menambah sedih mereka.

Kembali ke Banda Acheh, kembali memburu mayat, terbiasa dengan kesedihan membuat kami kebal terhadap kerasnya hidup ini, kebal terhadap segala kegusaran yang keras, kami terbiasa untuk terlebih dulu bertindak, dan jangan cuma bicara, sampai sekarang saya merindukan Blang Mae, kampung yang mungkin sebelum gempa sangat kosmopolitan, dengan kedai kopi Acheh berjejer di pinggir pantai, pantai yang putih dan langit yang biru, pada sungai Lhoong yang bening, gemerciknya yang tenang, dimana berhari-hari kami mendirikan camp di sana, pada orang-orang yang telah kami akrapi, yang menyembunyikan kesedihannya dalam-dalam, bersandiwara dengan lakon 'im fine' di hadapan kami, pada perempuan-perempuan yang mendaraskan kitab suci sore hari dibekas reruntuhan rumahnya, mendoakan orang-orang yang mereka cintai, pada anak-anak yang berusaha menutup kesedihan di dalam hatinya, .entah kapan lagi saya bisa berkunjung di sana.




Sebenarnya penanganan bencana bisa lebik efektif bila kita sadar akan bencana, sejak awal Indonesia memang negeri rawan bencana, jadi mengapa tidak sejak dahulu kala kita membangun rumah, pemukiman dan segala hal dengan sadar bencana, bagaimana pula kita bisa memperkecil korban bila kita tidak dididik untuk merespon bencana secara cepat dan benar, sekali lagi bencana bisa diminimalisar kalo kita sadar, siap, dan waspada.

b. Konflik
Bencana di Acheh juga memberi kesempatan saya untuk memahami situasi konflik di sana (hal yang sudah berlalu, saya tidak bermaksud membuka luka lama, saya cuma ingin menggambarkan contoh suatu konflik yang telah berakhir dengan perdamaian yang manis), Tentang Acheh, tentang kerajaan Acheh yang mandiri nan besar yang memiliki sejarah besar pula, sebuah negeri yang menyumbangkan pesawat untuk kali pertama bagi kemerdekaan Indonesia, tentang orang-orang yang kehilangan otorotas nya sebagai pemimpin dan penjaga tradisi di negerinya sendiri, tentang ketidak adilan penguasa pusat atas sebagian besar wilayah negeri ini (80%harta negeri ini ada di Jakarta, dan selebihnya direbutkan oleh daerah), tentang mimpi kemerdekaan untuk membebaskan ketidak adilan itu, tentang daerah operasi militer (DOM), tentang usaha manusia mempertahankan keutuhan dan persatuan bangsanya, tentang fihak asing yang datang pergi membantu atau juga yang memperkeruh suasana, semua ini tentang penderitaan sebagian rakyat Acheh, suatu tidur panjang yang tidak pernah tenang, suatu konflik dan dendam yang diujarkan terus-menerus menjadi dongeng sebelum tidur semenjak perang sabil yang haru biru.




Karena itulah, beberapa pembawaan orang Acheh asli sejauh yang saya tahu agak kaku, terkadang saat saya di sana, kecurigaan di awal perjumpaan adalah hal biasa, kami berusaha tidak menaruh curiga, kami ingin menolong kesulitan mereka karena suatu musibah, bukan untuk membahas merdeka atau tidak merdeka, dan tak lama mereka memahami maksud kamu, bahkan sangat ramah, pernah seorang komandan tentara sampai heran,

"kok kalian sembrono tanpa pengawalan",
teman saya asal celoteh "wong kami niatnya cuma bantu, cuma nolong, jadi yang lindungi kami Tuhan",
tentara iti diam, mungkin pikirnya
"ya udahlah, terserah kamu...",

tapi justru ketika kami membawa pengawalan tentara, akan sulit menemukan suasana cair, sebagian orang Acheh mungkin beranggapan bila tentara adalah salah satu sumber masalah waktu itu, jadi kami jalan begitu saja tanpa tentara. Dan orang Acheh juga tahu, kami juga manusia selayak mereka, kami belajar memahami, dalam situasi bencana alam yang genting, manusia akan tersadar antara seseorang sebagai MANUSIA yang merupakan pemberiah Tuhan paling murni dan mendasar, dan seseorang sebagai suatu identitas dan entitas tertentu (agama, suku, ras, ideologi, kelas, kepentingan, jenis kelamin, dll) yang justru sering kali membatasi ke-MANUSIAAN-nya karena beberapa kesalahan dalam menyikapi perbedaan yang sejatinya merupakan sumber kekayaan kehidupan di muka bumi.

Konflik di Acheh sungguh menyita banyak perhatian di negeri Indonesia, demikian pula Papua dan Maluku, pada masa krisis dulu 1998, kita telah melepaskan negeri cantik Timor Leste untuk menentukan nasibnya sendiri, saya jadi teringat pada tetangga saya yang wafat sebagai pahlawan seroja, tapi, ya sudahlah, referendum Timor adalah kekalahan diplomasi seorang pemimpin yang manusiawi di tengah tuntutan dari berbagai penjuru paska reformasi politik 98', dan belum tentu ada negara yang sanggup bertahan hingga saat inidengan komdisi 'serumit' (lebih tepatnya sekaya)  Indonesia, ada seribu lebih bahasa, ribuan suku bangsa, enam agama besar dan ribuan kepercayaan, sepuluh ribu  lebih pulau yang dihubungkan oleh lautan yang biru, yang panjangnya bisa disamakan antara Tehran Iran hingga ke London Inggris, penduduknya nomer empat terbesar di dunia, dan sejak 1998, Tuhan dan rakyat menghadiahkan demokrasi untuk melanjutakan sejarah negeri ini di masa-masa mendatang, God Blass our Indonesia!!!!



Saya tidak ingin membayangkan nasib Timor Leste seperti Bosnia di Yugoslovakia, Mindanao, Pattani, Tamilelan, Punjab, Kurdi, Palestina, Darfur, Aigur, Pejuang Indian latin, Checnya, Nagaron-Karabach, Irlandia Utara masa lalu, Armenia-Turki, saya membenci sesuatu yang memang selayaknya masih bisa menemukan jalan yang damai, dan faktor separatisme sesungguhnya berawal dari ketidak adilan memperlakukan segolongan manusia, para separatis bukanlah penyembah tanah wilayahnya, kemerdekaan yang mereka yakini lebih merupakan suatu ungkapan kemerdekaan sebagai manusia dengan segala sejarahnya, terlepas sedikit banyak didukung permainan simbol dan makna di dalamnya, namun keadilan untuk dihormati kehidupannya jiwa-raga, keyakinannya, fikirannya, privasinya, dan hartanya (dalam agama saya mengajarkan lima hak mendasar manusia khoms hafidz yang harus dijunjung tinggi) adalah akar masalah utama mengapa sekelompok manusia berjuang mengorbankan habis-habisan  jiwa-raga, harta benda serta keluarga, masa depannya, serta berlangsung bahkan hingga berabat-abad lamanya.



Konflik hanya akan membuat peradaban mundur jauh ke belakang, mungkin nenek moyang kita akan jauh lebih baik jika kerajaan-kerajaan masa lalu kita tidak terlalu mudah konflik, entah itu intern suksesi atau perang antar kerajaan,  tapi kita tidake memiliki satu kerajaanpun yang mendominasi di negeri ini, Majapahit hanya kerajaan yang mengakspansi perdagangan tapi sama sekali tidak memiliki fungsi yang kuat untuk mengontrol kerajaan-kerajaan pesisir yang tersebar diseluruh nusantara, dilain pihak konflik intern, telah menghancurkan Majapahit sehingga peradabannya jauh mundur ke belakang, sementara Demak dan Mataram baru adalah kerajaan yang sangat lokalis, dan perjalanan sejarahnya yang teramat singkat tidak sampai mencapai sekosmopolitan Majapahit, konflikpun dan perpecahan sering terjadi walau nyatanya sudah menganut agama baru, jadi wajar, penjajah mudah datang, mereka datang bukan karena mereka lebih kuat, tapi karena kita sungguh dalam kondisi belum siap bersaing, kita dilemahkan oleh sejarah konflik kita yang terlewat dalam dan parah hingga dari satu trah ke trah yang lain, agama manapun tidak mengajarkannya, dan bagi saya dendam turunan tidaklah pernah ada, setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya sendiri.




III. Conclution
Untungnya, orang Acheh memiliki kecakapan dan ketabahan luar biasa, musibah dan bencana adalah ujian yang harus dilewati dengan tabah dan hikmat, karena hidup siapapun bagaimanapun harus tetap berlanjut. Perang hanya akan membuatkan kita jalan ke belakang, keadilan dan kemerdekaan adalah nilai tertinggi yang memang telah dianugrahkan Tuhan secara gratis kepada setiap jiwa-raga manusia, tatkala seseorang atau golongan mencari jalan damai entah itu untuk dirinya sendiri atau antar dirinya dengan orang-golongan-kelompok-negara- atau sesuatu yang lain, maka Tuhan telah menambahkan pahala dan kemudahan di dunia akhirat padanya, dan barang siapa menabur dendam, konflik dan intrik, untuk dirinya sendiri atau antar dirinya dengan orang-golongan-kelompok-negara- atau sesuatu yang lain, maka Tuhan telah mendekatkannya ke pintu kesulitan di dunia dan neraka, demikian pesan para nabi dan orang suci.


Hormatilah keyakinan-kepercayaan orang lain(hifz dien), jiwa-kehidupan-kelestarian orang lain (hifz nafz), personal-individual-privasi-cinta orang lain (hifz usl), harta-pekerjaan orang lain (hifz aml), akal-ilmu-rasionalitas orang lain (hifz aql), itu semua berlaku pula antara diri dan pribadinya sendiri, begitulah sekali lagi pesan para nabi dan orang suci.




*tuh kan gw bisa seriuz... jadi apa gw harus minta maap ma si r.l.v ?*

Senin, 26 Oktober 2009

CELANA DALAM, MASTURBASI DAN MIMPI BASAH KU [dream, mind, practice in conected]

Posted by MOVAZ On 13:05

Pagi ini ketika saya terbangun, sesuatu terjadi pada celana dalam (CD) seksi bermerk HxxGO yang paling saya sukai, yang berwarna pink -eh salah hitam maksud saya-, kejadian buruk, padahal baru tadi malam jam 11 lebih sepuluh menit saya pakai -rencananya sih saya pakai barang 2-3 hari...,




"ih jorok loe, pantesan langganan genero, kagak ganti-ganti underwear sih..."
"woii, genero tuh sebab  utamanya bukan celana dalam, tapi kawin tanpa kondom"
"wowow jadi selama ini loe kowan-kawin tanpa kondom, heh loe.."
"husss.. silent plz.. bukan berarti...... emm .."
"berarti apanye.."
"bukan berarti kalo.. kalo..  contoh, ibu guru kita tahu genero dan hal ikhwalnya, apa berarti dia kalo kawin kagak pernah pake kondom"
"mmmmm (????) .. dodol loe... kagak nyambung!, gw tanya tentang loe, ngapa kok sering gene..."
"tau ah.... loe cari aja sendiri.."


Kabar buruknya, HxxGO saya basah kuyup oleh MIMPI BASAH, "siiiaaall !!", padahal baunya masih wangi habis loundry, ya udahlah, terpaksa saya harus buang ke bak sampah 'eh salah' ke bak cuci, ucapan salah yang mengingatkan saya untuk tidak akan pernah berfikir membeli CD -atau barang apapun di dunia ini selagi bisa- dengan katagori SEKALI PAKAI,
  • Karena CD itu sebenarnya bagian dari cinta (WHAT??) -lebih tepatnya gairah (dasar loe kelainannya banyak banget....), jadi sayangilah
  • Sesuatu yang digunakan sekali pakai itu -kecuali beberapa seperti hal ikhwal tentang kondom, pembalut dll-, tidak ramah terhadap lingkungan hidup, mengapa??
  • Sesuatu yang telah kita buang, terutama barang-barang kimia, akan sulit terurai kembali menjadi elemen dasar (ingat teori fisis termodinamika), bila pun bisa terurai butuh ribuan tahun, ini artinya sangat tidak ramah terhadap bumi kita..


Kembali ke CD tadi, sebelum saya taruh ke bak cucian, saya mencoba menghayati kejadian langka ini, karena secara pribadi, mimpi basah merupakan kejadian yang nyaris bak event tahunan bagi saya, setahun mungkin sekali dua kali lah, mentok tiga atau empat kali, itupun waktu sma, penyebabnya complicated lah, tau sendirilah anak muda gt loch booo....... kok jadi...

"heh young?? ngaca dunks sayanx... plz, lawong umur udah satu per-empat abad mintanya mau di muda-mudain"
"ech loe yeee bawel banget dari tadi, mo gw sumpelin xxxx (+ mind plz), cassing boleh nambah kalee, tapi semangat n gairah tetepp lahh.."
"tetep lemah syahwat....hehe"
"et et et et ..... ah loe kayak kagak pernah 'ngerasain gw ajhe' -maksudnya memahami gitu lah- kemarin loe malah minta nambah!!"
so after then -diem dia tak berkutik, rasain!! umpat gw dalam hati.




Menghayati celana dalam yang basah oleh spxxxm, dengan cara mengingat kembali mimpi apa yang saya alami tadi malam ("kurang kerjaan banget!",  et coz ini event tahunan bree... beda ma eloe..), saya cuma ingat yang terakhir tadi saya bermimpi tentang wabah penyakit yang diakibatkan dari gigitan macam vampir dari manusia ke manusia, hingga nyaris seisi dunia nerubah jadi vampir, tinggal saya dan sahabat cowok saya yang berjuang untuk mempertahankan ras murni manusia di muka bumi, setidaknya ras murni manusia masih bisa bertahan barang empat sampai lima dekade dengan dipenuhi cinta dan kasih sayang "hehhh???", -two man two hero, kalo saya boleh ngasih judul-. Tapi saya masih ingat, saya bermimpi dua kali setidaknya sepanjang malam tadi, ini pasti bukan mimpi basah karena dua lelaki hidup bersama tiga-empat dekade (macak cihhh.. muna ach..), tapi.... ya ya ya ya saya ingat, mmm saya mimpi yang aneh, ah malu ach... saya bermimpi 'self service', huh padahal kan udah mimpi, mengapa kagak sekalian mimpi yang HOT sih..?? (main liar habis-habisan di pepohonan hutan, di rimbun rumput sabana, atau ach...), ehh malah "self servis" dalam mimpi..  pufff RUGI BANGET, SIAL!!!



Ya, memang yang namanya mimpi itu sulit ngaturnya (bagi saya khususnya), kalau lagi kerja trus rapat di luar ruang, bawaannya pasti tidur, dan pasti sempat mimpi, dalam mimpi itu saya juga jadi peserta rapat juga (sial juga...!), tapi bedanya di dalam mimpi saya seperti bozz  nan gagah  yang merepresentasikan rencana bisnis besar saya dengan smart tanpa cela, ech... begitu dikejutin ma temen saya, tergagap-gagap, ternyata saya masih 'kuli angkut', "sial hehe..".  Saya jadi terbayang bagaimana orang yang hidup tanpa mimpi, bagaimana bila ada rapat kerja yang sangat membosankan -lawong rapat-rapat DPR saja ngebosanin, sampe tertidur-tidur, kehadirankan yang penting nampang di muka rakyat, "Im present here my people.. hhahaha"  intinya kan.... $$-,  terutama rapat kerja di bagian yang jauh dari gaya anak-anak motivator (biasanya orang-orang motivator sering kali membuat 'bond'  terkekeh-kekeh yang bikin saya pingin kxxxcing berdiri), pasti seperti tahanan Guantanamo, apalagi kalau lagi ada masalah pada bagian kerjanya, dah si bozz seriuzz plus ditambah marah-marah, pada saat macam itu saya berharap bisa tidur tanpa ketahuan, bisa mimpi berjemur di pulau terpencil, memadu asmara dengan terkasih tercinta, di antara hamparan pantai pasir putih dan nyiur melambai, deburan ombak dan langit biru yang tenang... nyam nyam nyam... ("mimpi loe...!", tapi boleh kann :P). Jadi biasanya di rapat yang bozznya bukan penentu kebijakan, saya akan memilih kursi belakang, dan memposisikan duduk di kursi secara santai, itung-itung istirahat gratis, dan lain lagi kalau si bozz yang profit bagi posisi saya kelak, saya akan jual tampang seriuz, kompeten, dan agresif, berharap next time saya bisa naik jenjang dari kuli angkut karung beras, menjadi kuli dorong troli belanjaan.



Mimpi itu kata freudian, adalah alam bawah sadar kita yang bermain-main mengitari otak kita yang sedang capek, orang-orang suci mengatakan, mimpi itu adalah suatu ungkapan kejujuran yang terpendam yang muncul di alam bawah sadar, menjelma menjadi simbol-simbol yang menyibak misteri perjalanan hidup seseorang, di masa lalu, kini, dan yang akan datang (njlimet kan..? saya juga perlu dua tiga kali untuk menyalin kata-kata tersebut secara benar), itu mengapa banyak orang percaya adanya ramalan mimpi, bahkan agama saya juga memberi kesempatan untuk bermimpi, setelah 'sembahyang memohon pertolongan', lalu tertidurlah, hikmah Tuhan datang melalui petunjuk mimpi, mimpi juga mengingatkan saya pada kegagalan pertunangan saya dengan seseorang yang katanya tidak boleh diteruskan melalui petunjuk seorang suci yang disegani keluarga mempelai calon (tak jadi) tunangan saya (sungguh cerita yang mengenaskan... kacian dech loe..., malah syukur kaleee... :P), saya juga ingat waktu saya sempat meneliti (emm emm darmawisata kalee boo'...) ke salah satu pemukiman suku terasing Dayak Meratus di Kalimantan Selatan, di mana sang Tetuha Balian (pemimpin adat) membutuhkan petunjuk Tuhan dari mimpi yang suci, untuk membuka atau menutup ladang di hutan adat. Kemajuan technologi, design  visual, arsitek, tekhnik, tidak akan pernah berkembang tanpa mimpi. Apakah tanpa mimpi, peradaban kita mampu menciptakan pesawat terbang, internet, astronot yang berjalan di bulan, mendapatkan perawatan kesehatan yang jauh lebih baik, makanan yang instan dan terkemas baik? siapapun pasti akan bilang mimpi kita adalah bagian tak terpisahkan dari cita-cita dan harapan kita. Dalam konteks sosial, apakah demokrasi, hak asasi manusia, nilai-nilai moral baru, pembaharuan keagamaan serta spiritual, sistem ekonomi baru,  yang bagaimanapun terbaharui terus menerus  tidak di dahului oleh suatu cita-cita dan harapan yang lebih baik, yang sebagian dari semua itu karena kita merefleksikan mimpi kita (entah itu mimpi baik atau mimpi yang buruk)??



Jawabannya, mimpi itu penting dan perlu, dalam filsafat yang saya pahami, hanya ada dua plus satu garis besar pemikiran di dunia ini, yang pertama idealisme yang bersumber dari alam idea (alam pikir (bersifat teoritis)), materialisme yang bersumber dari alam materi, pragmatis, empiris (alam indrawi (bersifat  praktek)), sebagai catatan pemikir timur (muslim) menambahkan kajian irfani, berasal dari pengalaman esetoris (alam hakikat (bersifat sophie-mistik)), dua plus satu ini akan terus berkecamuk dalam nilai-nilai pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan dunia kita, Filosof besar Plato dilahirkan ketika negara Yunani mengalami bencana intelektual di mana ke tiga golongan (idealis-praktis-mistis) berdiri sendiri-sendiri sebagai pribadi yang berlainan, menjadi akar runtuhnya peradaban Yunani yang agung waktu itu dalam catatan eksplisit Plato. Ketika mimpi-mimpi tidak menemukan jalan untuk mengitari akal kita yang sedang istirahat, maka yang terjadi seperti apa yang pernah saya alami, (dalam sebuah mimpi) ketakutan untuk bermimpi secara merdeka, hingga hanya berani melakukan, 'self service', impian yang tidak memiliki jalan kebebasannya bahkan di dunia mimpi sekalipun!! (sial!!!).


Pemikiran Plato mengartikan, mimpi kita, alam fikir kita, dan ruang publik kita, sebenarnya merupakan artifisial yang saling berhubungan (dan kalau saya boleh menyamakan mimpi hikmah sebagai pengalaman rukhani yang masuk dalam alam irfani manusia), misal:  orang bermimpi kelak semua manusia sama di hadapan negara, lalu difikirkanlah konsep demokrasi, prakteknya ada pada partai-partai berdasarkan ideologi tertentu, pemilu, kampanye, dewan perwakilan, dan oposisi.  Maka sungguh hal yang kurang bijaksana bila sesuatu sistem, kelompok atau negara berusaha memisahkan ilham, teori dan praktik -saya tidak sedang menyinggung sekulerisme, namun yang saya maksud di sini adalah istana intelektual di negeri ini-,  melalui kebijakan kaum pebisnis di negeri ini, politisi dan penguasa di negeri ini, kelompok terasingkan di negeri ini, agamawan dan orang berpendidik di negeri ini, yang sedikit banyak telah mengelak mimpi-mimpi kita, logika serta fakta, sebagi suatu hubungan yang sangat intim.



Negara, pebisnis, intelektual, media, lembaga agama, serikat pembebasan (LSM) membuat kebenaran ini semakin terkotak-kotak, karena kita hanya memiliki SEDIKIT TEMPAT bagi setiap kebenaran yang kita dapat untuk setidaknya saling berdialog dan mengenalkan, terlebih masih jauh bagi kita menghubungkannya dengan  berdasar saling menghormati dan menghargai.     Parahnya lagi, semua mengoarkan sendiri-sendiri kebenaran intelektual, stabilitas dan profit bisnis, penguasaan makna, keadilan penguasa, kesucian agama, kemerdekaan kemanusiaan. Sementara di lain pihak, seperti saya dan anda, dia dan mereka, sekali lagi, impian kita terlahir untuk  tidak memiliki jalan pembebasannya bahkan di dunia mimpi sekalipun!! akhirnya 'self service' lagi yuuukkkk boookkkk (sial!!!).



Minggu, 25 Oktober 2009

Mencoba MENGENAL Mu (oh cayank ku,,)

Posted by MOVAZ On 06:09



Pagi dini hari saya mengajak kemenakan-kemenakan yang datang dari jauh jalan-jalan pagi di sekitar rumah, hari ini saudara-saudara saya datang mengunjungi ibu saya, sepertinya hal ini dilakukan sebulan sekali, lain dengan saya ketika kuliyah dulu, biasanya, hanya setahun sekali saya pulang ke rumah, saya betah dan cinta dengan kota tempat saya belajar dulu, tenang dan memiliki telorensi tinggi terhadap bermacam perbedaan prinsip serta pemikiran (terutama kalo kepingin tidur sampe siang hehe) , persis seperti nilai-nilai yang tertanam lama yang dibiasakan dalam keluarga besar kami -dengan catatan beberapa hal sangat mendasar dari nilai-nlai agama yang sangat tidak boleh kami tinggalkan-. Perjalanan dengan kemenakan serasa bagai ayah yang menemani anaknya bermain (allow dedy... serasa.. eh eh), rasanya saya ingin cepat-cepat menjadi ayah, tapi saya masih begitu takut untuk membuka lembaran itu, teman-teman saya bilang, saya laki-laki pengecut, ah taek ah, jawab saya, mereka yang sudah kawin tentu memiliki pertimbangan sendiri dengan keputusannya, teman saya yang fotografer bilang "nikah itu karena kita ingin memiliki teman hidup, masalah rizki itu Tuhan yang atur dech..", teman saya yang wartawan bilang "nikah lah kau.. kalau kau memang merasa memiliki cinta yang bertanggungjawab sana kekasih kau lah -logat batax-", tapi salah satu saudara saya ada yang bilang, "jangan nikah kalau kerjamu tidak mapan", saudara yang lain bilang "orang yang paling rugi, adalah orang yang setiap bangun pagi tidak pernah melihat pasangannya tidur pulas sambil tersenyum", (macak ciihh lebay ach.. paling juga bau air liur), ah entahlah, saya belum ada persiapan material dan spiritual, seperti pagi ini juga, saya masih asik dengan Doraemon, Spongebob, walau saya juga sangat mencintai film-film indie yang banyak tumbuh di Indonesia.

Jujur saya seperti terjebak dalam putaran waktu yang jarum jamnya bergerak sangat pelan, teman saya sudah berlari terlalu jauh rasanya, satu teman mulai tahun ini sudah bekerja jadi pegawai negeri di salah satu departemen pusat, satu teman lagi menjadi kontraktor, yang lain menjadi dosen, dan lainnya meneruskan jenjang S3 nya, saya melihat diri saya tertinggal jauh-jauh sekali, padahal waktu SMA nilai akademisnya hampir mirip dengan saya, yang saya kejar sekarang justru mendapatkan kerjaan yang lebih mapan, saya memilih jurusan yang menurut saya salah, setiap kali teman saya datang dengan kesuksesan dia malah balik bertanya, "la dulu sapa yang milih bree..", "aku lah..", "lah kok bilang salah..., itu salah dari kamu kali bree, kalo liat dari situ mah, banyak orang lulusan SMA sampe SD yang lebih sukses dari yang kuliyah, boz gw dulu lulusan SD juga bre..", ok, saya terkadang paham, kerjaan yang bagus itu ada sedikit banyak faktor keberuntungan, saya juga menerima kerjaan saya sekarang, tapi kerjaan saya mampet tanpa jenjang, saya rindu kompetisi, apa mungkin saya tidak juga bersyukur -dengan melihat orang-orang yang jauh di bawah saya-, tapi saya memang tertinggal jauh, "kalau ingin kerja di dunia, bekerjalah seolah kita hidup selamanya", itu adalah pesan nabi yang aromanya sangat kapitalistik, orang muda seperti saya harusnya sangat suka itu, dan orang tua biasanya menyukain pesan nabi yang lain, "kalau kau beribadah, maka rasakan seolah-olah esok pagi engkau mati", tentang kesukaan yang muda dan yang tua jangan pernah terbalik, tapi lebih sempurna bila kedua pesan itu layak diamalkan berbarengan, dan sangat rugi bila kedua pesan ini tidak diindahkan.



Rasa tertinggal bisa menciptakan kecendrungan positiv dan negativ, satu sisi orang ingin segera bangkit (wake up n aware) untuk maju dengan lebih semangat, di lain pihak orang-orang bodoh cenderung menerima, capek, lelah dan pasrah, tepatnya rasa takut untuk melakukan persaingan, akhirnya menerima keadaan, banyak orang yang ayem tanpa persaingan, tapi selagi masih muda, yang bijak adalah yang mengerahkan daya sekuat-kuatnya untuk meraih kesuksesan duniawi. Bergabunglah dengan komunitas yang mendukung langkah-langkah menuju masa kejayaan hari tua, jangan pernah mencoba senang dengan kebodohan menjalani nasib sebagai orang yang nriman, salah bila orang jawa mengajarkan itu semua, suku jawa mau tidak mau tetaplah suku yang paling ekspansiv di Indonesia, atau mungkin urutan sepuluh besar di dunia, raja-raja kita adalah raja-raja yang paling bersemangat, bahkan kelewat semangat hingga dari zaman-zaman mataram lama kudeta sangat sering terjadi, di jawa memang banyak kelas, tapi kelas menengah atas dari awalnya dulu adalah kelas paling bergairah, dalam ekonomi serta politik, dalam satu pulau yang kecil saja (jawa) dahulu sempat ada lebih dari sepuluh kerajaan yang merdeka, walau kelas rakyat kebanyakan adalah pekerja yang baik tapi tidak bisa diartikan mereka pasrah, prinsipnya adalah pengabdian, titah raja titah Tuhan, dan hingga sekarangpun siapa yang jadi presiden berarti ada suatu persepsi untuk diagungkan seolah sedikit tanpa atau nyaris tanpa cela, politik mataram sama saja dengan politik saat ini, persetan dengan vector fungsi dan kerja, orang kebanyakan masih memandang image, karisma dan kewibawaan adalah nomer satu, itulah sebagian besar orang Indonesia yang hanya 5 % nya kuliyah, selebihnya hanya tamatan sekolah menengah dan dasar.



Ketidak senangan terhadap kesekarangan (lebih tepatnya tidak menerima kemapanan yang 'sekarang' dan ingin 'teterbaruan' adalah ciri-ciri anak muda), itu mengapa nyaris semua pemimpin kita yang dijatuhkan adalah karena pemuda tidak menyenangi,  ini berbeda dengan kaum militer, yang selalu senang terhadap kesekarangan, militer menghendaki kenyamanan, suatu stabilitas dan progres ke depan, kaum pekerja dan kelompok mapan menginginkan demikian, semua yang mapan itu baik bagi mereka yang sudah mapan, dan hampir dipastikan, semua tentang yang mapan adalah kabar buruk bagi mereka yang oleh keadaan dan situasi kurang beruntung menjadikan mereka kurang mapan danakhirnya menyesuaikan diri dengan ketidak mapanan, ketidak mapanan tidak hanya sebatas ekonomi dan kerja, lebih dari itu, pemikiran, keyakinan, cinta dan tingkah laku yang tidak mapan akan sedikit banyak tidak menyukai ide-ide tindakan kemapanan. Kenyataannya nilai-nilai ketidak mapanan bagaimanapun penting untuk mengoreksi apa yang telah sedang dan akan terjadi di negeri dan dunia ini, kalau kelas ketidak mapaan terutama secara ekonomi dan politik mendominasi, seperti tahun 1945, 1965, 1998 di Indonesia, maka kekuatan macam apapun termasuk penguasa dan militer tidak akan pernah bertahan, kelas ketidak mapanan akan tergambar tidak simpatik bila berada di wilayah minor, dalam informasi yang sangat terbuka namun pergerakan pemikiran dibatasi oleh keyakinan yang berakar kuat -seperti di Indonesia-, minoritas dalam perilaku dan nilai serta pemikiran akan sering dianggap sebagai ancaman stabilitas, beberapa minor akan salah jalan menjadi pembuat onar -terorisme-, selebihnya akan berjalan dalam kegelapan yang bagaimanapun akan menjadi sisi tabu dan 'gelap' negeri ini -terutama di wilayah perkotaan-.



Pernikahan yang bahagia, pekerjaan yang layak -dengan gaji yang 'layak'-, status sosial yang 'terhormat', nilai-nilai yang 'suci' dan 'sakral', gaya hidup 'mapan', dan nilai sosial yang 'terhormat' adalah suatu kekayaan yang nyaris tanpa cela, tapi nyaris itu berarti tidak mutlak, dan ketidak mutlakan itu lahir dari pandangan mereka yang memiliki sudut pandang lain terhadap kesempurnaan, yang awas kerena perjalanan hidupnya memiliki pandangan yang lain dari yang lain, orang semacam itu akan selalu ada, dan akan tumbuh subur ketika suatu kenyamanan melahirkan pertanyaan kembali tentang epistimologis, seperti pernyataan akan kebahagiaan, cinta dan perasaan nyaman sama sekali bukanlah sesuatu yang absolut serta sangat relativ, ada yang mengabdi mati-matian pada ideologi dan pemikiran yang dipandangnya benar, pada pekerjaan dan status yang dipandangnya menguntungkan, pada para nabi dan ajarannya yang dipandangnya suci, pada tubuh dan keluarga yang dipandangnya indah, pada kekayaan dan kejayaan yang dipandangnya memuaskan, pada kekuatan -militer- dan kekuasaan yang bisa dipandangnya menciptakan keamanan, dan lain-lain, tapi pandangan semua itu adalah relativ, tidak ada di dunia ini dua orang saja yang mampu menggambarkan dengan persis tentang perasaan bahagia, bahkan setiap pandangan yang tadi telah disebutkan bisa jadi menciptakan kontradiksi, perbedaan itulah yang harusnya menciptakan dialog tak henti, seperti pesan yang disampaikan para nabi dan orang suci.



Tapi sarana dialog biasanya merupakan pengejawantahan dari kekuasaan dan kemapanan, penguasa yang pintar tapi 'bodoh' akan membendung dan meminimalisir dialog untuk kelompok-kelompok kecil serta cenderung pada suara-suara mayoritas, itu mengapa di negara di mana penguasanya sangat mempertimbangkan konstituen, serta image khalayak, pembelaan atas 'kebenaran' minor adalah sesuatu yang memalukan dan tabu, ketidak berdayaan itu bukan hanya berasal dari sang penguasa, tapi karena mayoritas yang juga menghendaki demikian, hal ini memaksa minoritas seolah menghilang -tepatnya diam-, karena alasan  terancam, takut dan mendapatkan tekanan serta menjadi Kelompok Rahasia. Kelompok Rahasia ini akan dibangkitkan oleh mayoritas yang suatu saat karena meragukan kebenaran yang selama ini mereka yakini, entah karena situasi kritis atau pendewasaan melalui pendidikan, menempatkan sebagian kecil atau besar pemikirin yang dijalankan secara rahasia oleh kaum minoritas, atau karena kekecewaan dan harapan yang yang kosong akhirnya membuka dialog dan partisipasi bersama dengan kelompok pemikir minor.

Mereka yang lahir sebagai kelompok yang lain, ide-ede (ologi) yang lain, keyakinan akan kebenaran yang lain, gaya hidup yang lain, cita-cita lain, perasaan yang lain, cinta yang lain, adalah suatu garisan nasib dan takdir yang tidak terelakkan, suatu persimpangan horison, dari horison besar, yang besar karena ada yang kecil. Dunia ini bukanlah produk mecin cetak, bukan robot agunglah yang telah menciptakan kehadiran kita di dunia, tapi Tuhan, kebenaran bisa jadi ada di manapun, kebenaran akan tetap menjadi kebenaran walaupun keluar dari gonggongan anjing, beberapa atau banyak orang 'disesatkan' oleh satu kotak pandora (kotak ajaib) yang sangat besar, di mana meyakini bahwa semua kebenaran hanya berada di kotak itu, pun bila nyatanya Tuhan telah menciptakan kotak lain tapi lebih kecil, orang-orang itu 'disesatkan' oleh pemikirannya yang  buta, sehingga semua isi dari kotak kecil itu adalah kebohongan dan kesalahan, walaupun mereka tidak pernah mencoba merabanya isinya sekalipun.




Itu mengapa kesesatan dan cinta laksana dua bagian yang seolah dipisahkan oleh garis setipis rambut kepala, bila cinta adalah dorongan yang luhur pada 'sesuatu' yang membuat manusia menjadi 'melihat' sehingga bergairah dan hidup menyambut dunia ini - dunia yang sudah pasti saling berhubung serta melengkapi-, kesesatan merupakan dorongan yang luhur pada 'sesuatu' yang membuat manusia menjadi 'buta' sehingga kehilangan gairah dan daya hidup untuk menyambut dunia ini, bagi mereka segala selain 'sesuatu' adalah yang 'lain yang tidak pernah berguna, sesuatu yang harus dibenci'. Para nabi mengajarkan cintailah dunia sebagaimana mencintai akhirat, berdoa yang terbaik adalah bahagia dunia dan akhirat, perbuatan yang terbaik adalah berbuat untuk menciptakan perdamaian, perdamaian itu dimulai dari berdamai dengan diri, keluarga, masyarakat, negara lalu dunia. Bila orang rang suci mengatakan "kebencian adalah cinta yang terpantulkan", maka semua hakikat kehidupan adalah cinta dan persaudaraan. Mencintai kebenaran dan keyakinan merupakan jalan untuk menemukan cinta.

Saya tidak ingin menyamakan dan membenarkan semua agama, karena kenyataannya semua agama memiliki nilai-nilai yang berbeda bahkan kontradiktif, saya juga tidak akan mengiyakan atheisme dan agnostik (bertuhan tanpa beragama), tapi semua agama dan keyakinan dibangun oleh para nabi dan orang-orang suci untuk menggerakkan cinta sejati yang kita miliki dengan jalannya masing-masing, bagi saya agama yang paling benar tetaplah yang selama ini saya yakini, tapi dengn mengatakan 'yang paling benar'  tidak berarti saya akan mengabaikan kebenaran yang sudah pasti selalu ada dalam agama atau keyakinan yang lain, agama yang kita cintai mendidik kita untuk saling mengenalkan, menghormati dan berlaku bijaksana terhadap yang lain. lalu beberapa orang bertanya? bagaimana perang yang dulu pernah timbul dan dilakukan oleh nabi-nabi dan orang suci kita, serta azab pedih dari Tuhan yang dinistakan pada pendahulu-pendahulu kita? Dimanakah cinta dan perdamaian itu bersemayam pada Tuhan dan para nabi serta orang-orang suci? perkenankan saya menjawab, Tuhan bisa membuat segalanya berlangsung aman, damai dan lestari karena Dia Maha Kuasa, tapi dunia memiliki nilai-nilai sendiri yang akan selalu berubah, entah itu perubahan yang terulang atau perubahan yang benar-benar baru dan ini yang telah dikehendakinya, itu mengapa Tuhan dan ajaran para Nabi bukanlah sebuah mesin industri, yang akan mencetak hal yang sama dari pesan yang mereka turunkan, kebenaran memiliki tempatnya sendiri-sendiri sesuai dengan waktu dan kondisi, Tuhan sengaja tidak menciptakan kotak pandora di mana semuanya ada dalam satu kotak dan waktu, tapi dasar-dasarnya tetaplah sama, tidak ada agama apapun yang mengajarkan pembunuhan tanpa alasan, tidak ada agama yang mengajarkan kebencian tanpa pengampunan, dan tidak ada agama yang menyatakan untuk membenci dan memusihi keyakinan yang lain, semua ajaran agama ingin setiap manusia saling mengenal dan bekerjasama, walau kenyataan terjadi peperangan kebanyakan bukan atas dasar agama, lebih sering merupakan kekuasaan dan perebutan nilai-nilai, itulah ketidak sempurnaan, dunia dan manusia memang sejak awalnya tidak diciptakan untuk kesempurnaan, adam di turunkan ke dunia untuk suatu ketidak sempurnaan, dan untuk cinta nya pada hawa yang tidak pula sempurnah, evolusi biologi mengajarkan perubahan menuju sempurna, tapi fisika mengajarkan perubahan termodinamika demana kesempurnaan akan lenyam suatu saat nanti.

Intinya adalah (pengendailan diri...hahah kebawa seriuzz teruss dari tadi?? pasti lagi dapet yaa mazz), cobalah pahami sudut pandang orang lain walaupun itu terkadang bertentangan dengan nilai dan keyakinan kita, itu bagian dari mengenal, suatu kata yang diajarkan para Nabi untuk memulai sesuatu kata yang indah yang sering kali kita sebutkan dalam doa-doa kita, kata dan rasa itu adalah "CINTA".