I. Preferance
Setelah bertengkar hebat ma R.L.V, yang bikin saya bosan menikmati hidup, bukannya pergi nyari pelarian hiburan, entah mengapa untuk kesempatan yang teramat langka, sore ini saya mencoba menengok berita tv, dalam hitungan sebulan atau dua tiga bulan, baru hari ini saya mencoba menyimak berita, -biasanya saya asyik masyuk dengan tontonan macam movie tv, mtv, national geographic, atau nicolodian, plus satu
chennel favorit dari negeri perancis dan kanada, emm emm (+ mind plz), tapi kali ini channel yang saya pilih Al Jazeera, CNN dan Metrotv,
berturut-turut, ada dua berita yang sama, badai yang telah akan mengguncang Taiwan, dan pendudukan Israel di Masjid al Aqsa, berita beruntun yang buruk yang sangat tidak saya sukai,
- Badai adalah salah satu bencana alam yang dengan tekhnologi masa kini, melalui satelit PJJ, bisa dibaca seberapa kekuatannya, kapan akan datang dan kapan akan pergi, sering kita bisa kita hindari melalui persiapan dini.
- Konflik dan perang adalah salah satu bencana kemanusiaan yang dengan tekhnologi masa kini dan mungkin hingga masa datang, tidak bisa dibaca seberapa kekuatannya serta kapan akan datang dan kapan akan pergi .
Dan kali ini perkenankan saya, seorang yang bodoh ini untuk sedikit berbicara tentang berita tadi, ingin sekali saya
ngobrolin masalah perang, konflik dan penderitaan manusia, pembahasan yang sungguh, dulu-dulu yang tak lampau amat, saya masih berfikir
"maless kaleee ngebahas" hal macam ini,
karena saya nyadar, ini bukan kapasitas saya sebagai kuli angkut untuk memikirkannya, dan situasi itu tak ada yang bakal berubah bila saya memikirkan atau membicarakknya ,
"cume nghabisin waktu aje bree", harusnya serahkan saja sama yang berwenanang sama yang lebih tahu,
kita mah wong cilik "ngikut aje..".
Saya pikir waktu itu... benar juga kata temen-temen hangout saya dulu-dulu,
harusnya saya cuek saja bila ada perang dan kelaparan di sono dan di sana, toh sudah ada UN, sama cueknya bila tetangga saya hari ini belum makan, atau anak-anak muda yang putus sekolah karena tak ada biaya,
bukankah setiap lima tahun kita pemilu, memilih orang-orang yang lebih kompeten untuk mengurus semua masalah ini, hidup kita sudah cukup susah untuk mikirin diri sendiri, habislah sisa waktu sehabis kerja yang sangat berharga itu hanya untuk mikirin dunia yang memang sudah tidak akan sempurna sejak Adam diturunkan di dunia,
apa kite2 dah siap nampangin muka glowmy dan kusut waktu ngeceng di mall, cafee atau dugem gara-gara ngerasain tetangga kita yang kesulitan nyambung hidup sekedar ala kadarnya, atau diam tak berkutik waktu arisan n party karena fikiran kita kesabet ma penderitaan orang-orang yang baru kehilangan keluarganya karena gempa di mana-mana, banjir atau kemalingan..
"sumpeh bree... mikirin yang itu??? ih... neee... rugi banget dongs gw nyaloooon, nge-gym n nyepa.... dah ah, buang jauh-jauh dech... udah ade yang ngurusin too..., kita ikut doain je, simpati je, kali kali setahun sekali kita donasi dikit-dikit, ikut-ikutan acara arisan kite ke panti asuhan atau nanem pohon buat penghijauan, lagian kita kan udah bayar pajak too...plz dech.."
Dulu, kalo teman saya ngingetin demikian, terkadang (sangat terkadang karena waktu itu saya memang sangat-sangat jarang mikirin yang sedih-sedih, nambah posing bre....) saya cuma diam saja ah,
"ikutan aje lah, yuukkk boooo" sambil nyeruput mocacino, ngehirup rokok, dan ngemil kentang goreng, setelah itu ya lets flow macam biasa, ngegosipin artis, film-film yang sedang diputer, model parfum, baju, sepatu yang lagi nge-in, ketawa-ketiwi dan bla-bla bla (emm emm yang disebutin akhir-akhir, biasanya saya cuma nelan lidah, dan ikut bilang ya tidak ya tidak, karena memang saya tak paham,
kecuali gosip artis, saya lebih lihai, saya pasti bakal berani mewakili indonesia kalo mau diadakan klompencapir internasional tentang gosip artis, mau hollywood, bollywood, hongkong, atau lokal... yuukk, lagian nonton tipi kan gratis.. emm)
Tapi, waktu itu saya memang kurang awas, dan a
khir-akhir ini muncul kesadaran (barang kali ini pengaruh hormon umur ditambah mendapatkan masalah dan musibah beruntun kemarin-kemarin), saya belajar menjadi diri saya yang sesungguhnya dengan mengetahui posisi keberuntungan saya, membantu memahami diri saya agar jauh lebih banyak bersyukur dengan menengok sudut pandang yang lain, bila hal-hal yang 'ngebosanin' buat dibahas tadi akan sangat ngebantu s membuat saya memiliki kekuatan untuk bertahan jauh lebih baik dari teman-teman saya tadi -saya telah buktikan itu-, teman saya bahkan pernah bilang, saya cukup sabar untuk menerima kenyataan hidup yang memang pada dasarnya macam yin-yang, sakh-dukh, dingin-panas, syukurlah, saya kini memiliki keyakinan, bila h
idup itu pada kenyataannya bisa berlanjut serta lestari bukan karena dominasi suatu persaingan menang-kalah, hidup-mati, namun karena kita membuka hati dan diri kita untuk saling bahu membahu, tolong menolong dan menjadi warga masyarakat yang menghargai ketertiban sosial (teori Darwin tentang kompetisi memang sudah cukup lama dipertanyakan justru oleh neo darwinisme sendiri).
Jadi..
*segera ambil tisu basah di meja rias anda, kali ini saya akan bercerita tentang yang hidup dan lalu mati, yang datang dan lalu pergi, yang pergi dan lalu kembali tanpa kabar lebih dahulu, tentang kebodohan manusia dan kejamnya hidup, saya tidak akan berbicara tentang yang lucu dan ringan dalam kesempatan kali ini.
...eng ing eng... penonton yang terhormat, pinto stodio 1 telah dibuka....."
"seriuzz loe......????"
"Yups... dua riuzzz..."
"...ah tampang loe mah tampang badut, mane bise seriuzz..."
"woii, gini yee, kakek buyut gw pahlawan hebat bre.., belande aje takut ampe buyut gw dibuang2 ke luar pulau... jadi setidaknye setelah dipotong ini itu, gw sabagai cucunya masih adalah darah garangnya dikit-dikit.."
"garang....?? garang ikan asin....??.. hehe.. yayayay.. silahkan cerita, gw ambil selimut dl yeee... :P"
"heh... mang gw mo ngedongeng sebelum tidur... kampret loe...!!!"
diam bentar trus eh.. langsung ngedengkur... asssyuu.......!!
II. Main
a. Bencana
2004, atau tepannya 5 tahun dari sekarang, suatu gempa yang besar meluluhkan Acheh, sekitar 200.000 orang tewas dalam musibah itu, di hari-hari awal tv menayangkan beritanya tak henti-henti, karena saya adalalh lelaki yang sangan perasa -sebenarnya-, setiap berita Acheh diputar, dengan pembuka dan soundtrack yang menyedihkan saya selalu menangis -saya jarang sekali menangis, tapi untuk kali ini saya ingin menangis sekencangnya di kamar saya-, saya tutup pintu dan jendela rapat-rapat, tak ada yang boleh tahu kalo saya 'lemah', dalam tangisan itulah
saya sungguh-sungguh berdo'a untuk bisa berangkat ke sana, setidaknya tenaga saya masih berlebih untuk mereka, lalu...
Tuhan pun mengabulkan!!
Tepatnya minggu ke-3 saya baru bisa berangkat, waktu itu karena pesawat public ke Acheh selalu penuh, kelompok kami (mapala kampus saya) memutuskan untuk take-off dengan bantuan Hercules Australia,
(untungnya temen-temen saya cakap bahasa inggris, dan cakap-cakap juga tentara australia.. wow), setelah saya sampai, untuk sementara saya 'ngecamp' di LSM Koalisi NGO Acheh jl Ketapang, kami langsung mendapatkan pekerjaan pagi harinya berikutnya, "memburu mayat" -hehhhhh whats!!!-, dan saya paham posisi sebagai relawan, volunteer, bukan siapa-siapa, saya harus menyukai tugas saya secara suka rela-, jadi pagi-pagi setelah upacara pemberangkatan -karena kamu nebeng truck militer, jadi kami kali ini harus ngikut upacara dulu-. Mulai menelusuri kota Acheh, melihat begitu banyak daging yang membusuk, asin, agak kebakar karena air garam dan terik matahari, saya hampir mual, saya berusaha tabah,
dan akhirnya saya menemukan mayat pertama saya, terjepit di bawah beton bertingkat sebuah ruko, saya trenyuh, saya ingin menangis, tapi untuk apa?, namun saya tetap saya menangis, biarlah saya dikata bukan laki-laki, tapi saya tetap manusia, saya tarik mayat itu -seorang wanita, seorang ibu, beretnis china-, terik kencang-kencang, "tarikkkkk....." tak juga berhasil, saya minta bantuan orang-orang yang sudah terlebih dulu terlatih,
"tarik bersama-sama, tarikkkk...!!", mayat yang tidak beruntung, kamu membiarkannya, -barang kali
perlu berminggu agar mayat tadi lebih rapuh, sehingga tubuhnya bisa ditekuk, dan kalau terpaksa 'dipotong', menunggu buldoser adalah hal yang mustahil, ada 200.000 an mayat di Acheh, dan jutaan bangunan yang hancur.
Kelompok
kami beranggotakan 20 orang, terdiri dari tiga atau empat regu, setiap hari kami rata-rata mendapatkan 300 mayat, setelah itu mayat akan dikuburkan di pekuburan massal, tak jauh dari kota, bila ada satu kepala terpotong dari badannya, dan kamu tak tahu sambungan masing-masing, kami akan menghitungnya mayat itu 2 orang, demikianlah s
aya jadi terlatih mencari mayat melalui bau dan insting saya, mengangkat mayat secara nekat, dan membungkusnya ke kantung mayat secekatnya, mengoper mayat ke 'truck', me 'lempar' mayat ke pekuburan. Pekerjaan yang akhirnya menjadi kebiasaan sehari-hari,
sampai satu kelompok khusus harus dikirim ke suatu daerah, Desa (kampoeng) Bangmae, kecamatan Lhoong, Kabupaten Acheh Besar, dan saya ikut dalam kelompok itu, laporan terakhir mengatakan hanya ada 200-300 orang yang selamat diantara1000-2000 orang penduduk kampung itu, hari pertama kami mendirikan tenda di desa Lhoong, ibu kota kecamatan, 3 km dari Blangmae, segera dihari ke dua kamu menyusuri Blangmae, semua telah rata dengan tanah, menjadi blang (lapangan), kecuali masjid, dan satu pohon besar di samping masjid, tempat yang justru relativ dekat dengan bibir pantai, namun terselamatkan. A
walnya, di hari-hari pertama kami dapati rata-rata 30 mayat, tapi di hari-hari berikutnya, mayat yang kami temukan sangat sedikit, 10 -15 mayat, dengan sembilan orang yang anggota, kami benar-benar kesulitan mengangkat mayat yang tertindih bermacam bangunan, pohon dan tiang listrik.
Rata-rata mayat tersapu hingga sekilo dari bibir pantai, tersumbat oleh bukit terdekat, menumpuk bersama runtuhan bangunan yang juga ikut tersapu, garis pantai juga bertambah masuk ke darat, 30-50 meter dari posisi semula, lebih kurang sepuluh hari saya memburu mayat, dan beberapa hari saya '
dipinjam' untuk berburu mayat di kampung sekitarnya, Crueng Kala, Cot Joempa, dan selebihnya kami mulai menangani pengungsi, terutama anak-anak, bermain, bernyanyi, belajar membaca, kami ajak mereka ngaji pula dan belajar berdoa, saya berharap mereka berbahagia, walau sebenarnya mungkin mereka hanya melakonkan sandiwara kepada orang-orang asing seperti kami.
Kami belajar peka terhadap rasa duka mereka, sudah sebulan lebih mereka tindur di tenda, tenda yang sempit dan panas bantuan dari pemerintah dan beberapa negara asing, sebulan lebih mereka tidak bekerja, betapa monotonnya, sebulan lebih mereka mengandalkan bantuan untuk makan, bantuan dari seantero negeri dan berbagai negara di dunia, betapa ada perasaan harga diri yang tercabik yang harus mereka rasakan, dan terutama sudah beberapa bulan, orang-orang yang mereka cintai pergi dan menghilang, atau mungkin mati. Kami memberi mereka bantuan, dan mereka mengolah sebagian untuk kami makan bersama mereka, kami benar-benar malu merepotkan mereka, -sayuran mereka memang uueeenakkk sekali, gulai pelepah batang muda pisang, nyam.. nyam-, tak lama kami harus pulang, anak-anak dan i
bu-ibu ingin menangisi kami, tak usahlah, kami tak tega menambah sedih mereka.
Kembali ke Banda Acheh, kembali memburu mayat, terbiasa dengan kesedihan membuat kami kebal terhadap kerasnya hidup ini, kebal terhadap segala kegusaran yang keras,
kami terbiasa untuk terlebih dulu bertindak, dan jangan cuma bicara, sampai sekarang saya merindukan Blang Mae, kampung yang mungkin sebelum gempa sangat kosmopolitan, dengan kedai kopi Acheh berjejer di pinggir pantai, pantai yang putih dan langit yang biru, pada sungai Lhoong yang bening, gemerciknya yang tenang, dimana berhari-hari kami mendirikan camp di sana, pada orang-orang yang telah kami akrapi, yang menyembunyikan kesedihannya dalam-dalam, bersandiwara dengan lakon 'im fine' di hadapan kami, pada perempuan-perempuan yang mendaraskan kitab suci sore hari dibekas reruntuhan rumahnya, mendoakan orang-orang yang mereka cintai, pada anak-anak yang berusaha menutup kesedihan di dalam hatinya, .entah kapan lagi saya bisa berkunjung di sana.
Sebenarnya penanganan bencana bisa lebik efektif bila kita sadar akan bencana, sejak awal Indonesia memang negeri rawan bencana, jadi mengapa tidak sejak dahulu kala kita membangun rumah, pemukiman dan segala hal dengan sadar bencana, bagaimana pula kita bisa memperkecil korban bila kita tidak dididik untuk merespon bencana secara cepat dan benar, s
ekali lagi bencana bisa diminimalisar kalo kita sadar, siap, dan waspada.
b. Konflik
Bencana di Acheh juga memberi kesempatan saya untuk memahami situasi konflik di sana (hal yang sudah berlalu, saya tidak bermaksud membuka luka lama, saya cuma ingin menggambarkan contoh suatu konflik yang telah berakhir dengan perdamaian yang manis), Tentang Acheh, tentang kerajaan Acheh yang mandiri nan besar yang memiliki sejarah besar pula, sebuah negeri yang menyumbangkan pesawat untuk kali pertama bagi kemerdekaan Indonesia, tentang orang-orang yang kehilangan otorotas nya sebagai pemimpin dan penjaga tradisi di negerinya sendiri, tentang ketidak adilan penguasa pusat atas sebagian besar wilayah negeri ini
(80%harta negeri ini ada di Jakarta, dan selebihnya direbutkan oleh daerah), tentang mimpi kemerdekaan untuk membebaskan ketidak adilan itu, tentang daerah operasi militer (DOM), tentang usaha manusia mempertahankan keutuhan dan persatuan bangsanya, tentang fihak asing yang datang pergi membantu atau juga yang memperkeruh suasana, semua ini tentang penderitaan sebagian rakyat Acheh, suatu tidur panjang yang tidak pernah tenang, suatu konflik dan dendam yang diujarkan terus-menerus menjadi dongeng sebelum tidur semenjak perang sabil yang haru biru.
Karena itulah, beberapa pembawaan orang Acheh asli sejauh yang saya tahu agak kaku, terkadang saat saya di sana, kecurigaan di awal perjumpaan adalah hal biasa, kami berusaha tidak menaruh curiga, kami ingin menolong kesulitan mereka karena suatu musibah, bukan untuk membahas merdeka atau tidak merdeka, dan tak lama mereka memahami maksud kamu, bahkan sangat ramah, pernah seorang komandan tentara sampai heran,
"kok kalian sembrono tanpa pengawalan",
teman saya asal celoteh "wong kami niatnya cuma bantu, cuma nolong, jadi yang lindungi kami Tuhan",
tentara iti diam, mungkin pikirnya
"ya udahlah, terserah kamu...",
tapi justru ketika kami m
embawa pengawalan tentara, akan sulit menemukan suasana cair, sebagian orang Acheh mungkin beranggapan bila tentara adalah salah satu sumber masalah waktu itu, jadi kami jalan begitu saja tanpa tentara. Dan orang Acheh juga tahu, kami juga manusia selayak mereka, kami belajar memahami, dalam
situasi bencana alam yang genting, manusia akan tersadar antara seseorang sebagai MANUSIA yang merupakan pemberiah Tuhan paling murni dan mendasar, dan seseorang sebagai suatu identitas dan entitas tertentu (agama, suku, ras, ideologi, kelas, kepentingan, jenis kelamin, dll) yang justru sering kali membatasi ke-MANUSIAAN-nya karena beberapa kesalahan dalam menyikapi perbedaan yang sejatinya merupakan sumber kekayaan kehidupan di muka bumi.
Konflik di Acheh sungguh menyita banyak perhatian di negeri Indonesia, demikian pula Papua dan Maluku, pada masa krisis dulu 1998, kita telah melepaskan negeri cantik Timor Leste untuk menentukan nasibnya sendiri, saya jadi teringat pada tetangga saya yang wafat sebagai pahlawan seroja, tapi, ya sudahlah, referendum Timor adalah kekalahan diplomasi seorang pemimpin yang manusiawi di tengah tuntutan dari berbagai penjuru paska reformasi politik 98', dan
belum tentu ada negara yang sanggup bertahan hingga saat inidengan komdisi 'serumit' (lebih tepatnya sekaya) Indonesia, ada seribu lebih bahasa, ribuan suku bangsa, enam agama besar dan ribuan kepercayaan, sepuluh ribu lebih pulau yang dihubungkan oleh lautan yang biru, yang panjangnya bisa disamakan antara Tehran Iran hingga ke London Inggris, penduduknya nomer empat terbesar di dunia, dan sejak 1998, Tuhan dan rakyat menghadiahkan demokrasi untuk melanjutakan sejarah negeri ini di masa-masa mendatang, God Blass our Indonesia!!!!
Saya tidak ingin membayangkan nasib Timor Leste seperti Bosnia di Yugoslovakia, Mindanao, Pattani, Tamilelan, Punjab, Kurdi, Palestina, Darfur, Aigur, Pejuang Indian latin, Checnya, Nagaron-Karabach, Irlandia Utara masa lalu, Armenia-Turki, saya membenci sesuatu yang memang selayaknya masih bisa menemukan jalan yang damai, dan
faktor separatisme sesungguhnya berawal dari ketidak adilan memperlakukan segolongan manusia, para separatis bukanlah penyembah tanah wilayahnya, kemerdekaan yang mereka yakini lebih merupakan suatu ungkapan kemerdekaan sebagai manusia dengan segala sejarahnya, terlepas sedikit banyak didukung permainan simbol dan makna di dalamnya, namun keadilan untuk dihormati kehidupannya jiwa-raga, keyakinannya, fikirannya, privasinya, dan hartanya (dalam agama saya mengajarkan lima hak mendasar manusia khoms hafidz yang harus dijunjung tinggi) adalah a
kar masalah utama mengapa sekelompok manusia berjuang mengorbankan habis-habisan jiwa-raga, harta benda serta keluarga, masa depannya, serta berlangsung bahkan hingga berabat-abad lamanya.
Konflik hanya akan membuat peradaban mundur jauh ke belakang, mungkin nenek moyang kita akan jauh lebih baik jika kerajaan-kerajaan masa lalu kita tidak terlalu mudah konflik, entah itu intern suksesi atau perang antar kerajaan, tapi kita tidake memiliki satu kerajaanpun yang mendominasi di negeri ini, M
ajapahit hanya kerajaan yang mengakspansi perdagangan tapi sama sekali tidak memiliki fungsi yang kuat untuk mengontrol kerajaan-kerajaan pesisir yang tersebar diseluruh nusantara, dilain pihak konflik intern, telah menghancurkan Majapahit sehingga peradabannya jauh mundur ke belakang, sementara Demak dan Mataram baru adalah kerajaan yang sangat lokalis, dan perjalanan sejarahnya yang teramat singkat tidak sampai mencapai sekosmopolitan Majapahit,
konflikpun dan perpecahan sering terjadi walau nyatanya sudah menganut agama baru, jadi wajar, penjajah mudah datang, mereka datang bukan karena mereka lebih kuat, tapi karena kita sungguh dalam kondisi belum siap bersaing, kita dilemahkan oleh sejarah konflik kita yang terlewat dalam dan parah hingga dari satu trah ke trah yang lain, agama manapun tidak mengajarkannya, dan bagi saya dendam turunan tidaklah pernah ada, setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya sendiri.
III. Conclution
Untungnya, orang Acheh memiliki kecakapan dan ketabahan luar biasa, musibah dan bencana adalah ujian yang harus dilewati dengan tabah dan hikmat,
karena hidup siapapun bagaimanapun harus tetap berlanjut.
Perang hanya akan membuatkan kita jalan ke belakang, keadilan dan kemerdekaan adalah nilai tertinggi yang memang telah dianugrahkan Tuhan secara gratis kepada setiap jiwa-raga manusia, tatkala
seseorang atau golongan mencari jalan damai entah itu untuk dirinya sendiri atau antar dirinya dengan orang-golongan-kelompok-negara- atau sesuatu yang lain, maka Tuhan telah menambahkan pahala dan kemudahan di dunia akhirat padanya, dan barang siapa menabur dendam, konflik dan intrik, untuk dirinya sendiri atau antar dirinya dengan orang-golongan-kelompok-negara- atau sesuatu yang lain, maka Tuhan telah mendekatkannya ke pintu kesulitan di dunia dan neraka, demikian pesan para nabi dan orang suci.
Hormatilah keyakinan-kepercayaan orang lain(hifz dien), jiwa-kehidupan-kelestarian orang lain (hifz nafz), personal-individual-privasi-cinta orang lain (hifz usl), harta-pekerjaan orang lain (hifz aml), akal-ilmu-rasionalitas orang lain (hifz aql), itu semua berlaku pula antara diri dan pribadinya sendiri, begitulah sekali lagi pesan para nabi dan orang suci.
*tuh kan gw bisa seriuz... jadi apa gw harus minta maap ma si r.l.v ?*