Jumat, 27 November 2009

2012 (best visual effects h-tech & best promotion strategy)

Posted by MOVAZ On 15:16



Film ini -menurut saya- sangat bagus 

strategi promosinya, dan sangat halus visual efeknya.

Para kritikus menyoalkan ceritanya dan muatannya.
Tapi parahnya, mereka  mengkritik lalu membandingkan dengan film yang jelas2 berbeda genre

Kamis, 26 November 2009

Selamat Hari Berkurban (the meaning of sacrifice)

Posted by MOVAZ On 07:12



 ritual (pengorbanan) Aruh, pada masyarakat dayak Meratus, Kalimantan selatan
berupa sesaji khusus dengan mantra khusus.
  • Ada sepasang kekasih yang hampir memasuki senja, tapi keduanya tak pula dikaruniai keturunan, Sara dan Ibrahim, -sepasang kekasih tetap setia, berdua saja hingga menua, bahkan tanpa dikaruniai keturunan, apalagi alasannya kalau bukan karena cinta?-.
  • Tuhan yang sangat baik, meminta Ibrahim kawin lagi dengan 'murid'nya, Siti (Sayidati) Hajar, dan Tuhan Yang Maha Kasih meminta Ibrahim meninggalkan Hajar di tengah gurun yang menyengat saat Hajar sedang bunting demi menjaga perasaan Sara -yang cemburu-.
  • Hajar yang mungkin -marah- lalu berusaha belajar ikhlas, dan akhirnya melahirkan anaknya, Ismael, sendirian di tengah gurun panas dengan perasaan yang sangat haus dan lapar, dan Tuhan menghendakinya.
  • Begitu anaknya lahir, Hajar  sibuk mencari air atau apapun ke mana-mana, untuk anaknya yang baru dilahirkan, tapi di tengah gurun mana ada air!!! Hajar tak menemukan apapun.
  • Karena Tuhan Maha Pengasih, tiba-tiba kaki kaki Ismael kecil yang menendang2 tanah, tiba2 memunculkan sumber air deras, lalu Hajar dan Ismael terselamatkan.
  • Bertahun-tahun kemudian Ibrahim datang, menjumpai Hajar, dan berkasih sayang dengan anaknya yang tumbuh menjadi lelaki yang shalih dan gagah, Ismael.
  • Tak lama, tiba-tiba Tuhan menyuruh Ismael untuk disembelih, -mungkin- untuk menguji cinta Ibrahim pada Tuhannya.
  • Ibramim dan Hajar semula marah dan ingin menolak!!!, namun iman mengalahkan semuanya, Ibrahim menyiapkan pisau tajam dan segera memenuhi perintah-Nya
  • Iblis membisik dalam kalbu Adam: Tuhan apakah yang meminta seorang ayah untuk membunuh anak kandungnya sendiri, tapi Ibrahim membalasnya dengan melempar batu pada Iblis.
  • Ibrahim -mungkin dengan memejamkan mata erat2 sambil menahan tangis- menyembelih anak kandungnya Ismael. Tapi Tuhan yang Maha Pengasih mengganti tubuh Ismael dengan domba, sementara Ismael dipindahkan di tempat lain di dekat Ibrahim, ayahnya.

Selasa, 24 November 2009

Selamat Ulang Tahun (happy birthday 26th for lonely and freedom)

Posted by MOVAZ On 02:39

Saya baru nyadar beberapa waktu lalu, kalo umur saya bertambah -sekaligus berkurang dalam filosofi jawa-, beberapa waktu saya ulang tahun, seperempat abad lebih satu tahun tepatnya, tak ada yang istimewa kecuali ditraktir makan ma saudara ipar tercinta, dan ngajak nraktir beberapa saudara yang lain. Bagaimana rasanyanya umur lebih dari seperempat abad??
Sehari sebelumnya saya memang tak berharap apa-apa, dan memang tak terjadi apapun terutama sms yng masuk -yang sebenarnya saya tunggu, saya sempat mengharap ada kejutan dari siapa 'kek', atau dari  sms kekasih -yang tak dianggap-, eh seperti biasa harus saya yang sms duluan, saya kirim pesan ke dia:
"selamat ulang tahun movaz, moga sukses dunia-akhirat"
lalu kekasih yang tak dianggap menjawab sigap
"hahhaha shuck lonely, selamat ulang tahun movaz, nambah rejeki dan nambah cintanya",

Sabtu, 21 November 2009

IADONNOW #2

Posted by MOVAZ On 06:50



Aku tedampar di katup pengharapan
Kau menelisip dalam kidung sesembahan
Mengingatkan ku pada paduan suara tengah malam gereja tua

Hatiku terguncang bak malam pertama pengantin perjodohan
Dihempaskannya aku dengan membopong beribu fikiran
Sekali lagi engkau menelisip dalam rangkaian doa
Bak jejamur berserakan di lembah kesunyian

Kamis, 19 November 2009

dJakarta 18/11/09 (Mature n Adult)

Posted by MOVAZ On 01:14



jakarta hujan mlulu,  dari pagi ampe pagi lg, saya sempat pinjam motor kemenakan buat lamar kerja di mana-mana, tapi sepulang puter2, kemenakan marah bukan kepalang, motornya kotor, padahal sejam sebelumnya dah saya cuci... eh di jalan ujan lagi, justru lebih deras dari sebelumnya....
Yach, kasian ma kemenakan, anaknya lumayan rajin, ampe sempat-sempatnya gantiin oli motornya sendiri, tapi tak lama baikan lagi, "laa yang nemeni di rumah cm omnya...kasian bener kelg kecil ini", pikir saya, saya  jadi ingin merasakan bagaimana rasanya jd kemenakan, dah SMP, punya kakak dah kul tengah semestr di luar kota, pasti ujung2 gara2 sndri sering main k tetangga, beda dengan saya, anak ke-7 dari delapan saudara, adk saya saja kurang dua tahun lbh muda smentara kakak diatas pas saya, 3 tahunan, jadi saya lebih lengket ma adik, kalo range adik kakak lbh dri 10 th....

Minggu, 15 November 2009

Tumbal Cinta I

Posted by MOVAZ On 13:15



aku membungkus hatimu dalam koran lusuh sisa bungkus makan
kau ini maling teriak pendeta, maling tetaplah maling
tapi bagaimana bisa dibuktikan
matipun aku tak bakal tahu kamu itu sebenarnya maling
"gw sayang ma loe... sayanxxxxxx ma loe.. wish nice dream beb"
begitu dulu cara kamu mencuri ku

Sabtu, 14 November 2009

Tes Kerja Lagi (Ready to Fight!!!)

Posted by MOVAZ On 08:30



Cari kerjaan ternyata gampang-gampang susah, gampang kalau ada kemauan dan susah berat kalo sedikit sedikit mengeluh dan menyalahkan ini-itu, yang terakhir itu bakal tambah seret nemuin kerja kalau plus takut dan ragu-ragu. Besok seleksi kerja 18.000 orang yang diterima cuma tak lebih 60-70 posisi, busyettt... ini macam seleksi artis sabun colek atau idol2an, ah langsung pusing kalo make teori kemungkinan, ya kalau gak pusing namanya bukan berjuang. Hari ini saya terinspirasi ma temen senior mapala saya, mas Bolot, ke Jakarta, bermodal nekat, turun kota, kembali ke jatinegara, tanpa sanak saudara, liat orang jualan koran,

Jumat, 13 November 2009

Di Jakarta Hujan Lagi, Baru Datang dari Jogja Naik Kereta Api Kelas Ekonomi (the Old)

Posted by MOVAZ On 05:48


Malam kemarin dianter si r.l.v, naik kereta kelas ekonomi, secara memang ekonomis, Jogja Jakarta 26.000 IDR, "ih harganye 'cuma' macam setengah cangkir kopi di starbucks yeee" benar-benar ekonomis, saya kira adalah harganya lebih dari secangkir kopi luwak, ah ternyata murah...

Selasa, 10 November 2009

joggggjhaaaaa!!!!! (meaning of comeback)

Posted by MOVAZ On 19:15


Ke Jogja bentar, menengok kabar handai tolan, berserua dengan panass, menjumpai yang terhimpit2 umur... ada yang kerja tapi pingin keburu nikah, ada yang kuliah cepet bosan ngejomblo, ada yang dah punya anak tapi anaknya sakit, dan seseorang sibuk pontang-panting hanya karena rasa kangen dan legalisir.......

Senin, 09 November 2009

SLEEP ALONE

Posted by MOVAZ On 01:39



tengkuk ku berdiri tak bisa apa-apa
kau tahu sendiri lah
kalau aku sakit bukan kepalang nian
tiap malam meracau tak karuan
kepala pening putar-putar

kau hanya tersipu diam
kata-kata mu tak juga menyejukkan
cuma bilang "hay sayang" apa beratnya..
ah kelakianku digoyahkan oleh rasa durja
kamu tak usah paham lagi

kalau aku bilang cinta maka cinta itu memang ada
sayangnya ia bukan roti di atas meja
bagaimana kita bisa melihat bersama-sama cinta kita
ah payah

lalu kau bilang aku mengada-ada
"aku sakit sayang, tepar di atas dipan, beberapa hari bolos 'kerja'"
kau cuma bilang "huh"
tae ah...

aku tertutup selimut
moga keluar segala keringat
aku tertidur pulas
aku ingin bermimpi
tapi terpejampun kejet-kejet
ag payah...

Minggu, 08 November 2009

Tepar I

Posted by MOVAZ On 00:45


Tepar, sakit tak berdaya, dewa Syiwa mengaduk-aduk kepalaku hingga pusing sepuluh keliling.
Di ranjangku hanya ada luruh lesu merinding bukan kepalang, selimutku ditembus sampai ari.
Ah betapa malangnya nasib lelakiku, saat semua pergi mengangkasa, aku hanya bisa mendongak ke langit.
Terbuai dalam kepeningan, labirin yang mengepak-ngepak, tak berujung aku mencari jalan keluar.

Secangkir teh manis begitu pahit, buburpun hambar, segala obat itu pahit, hidup nelangsa.
Walau lembut bantal-guling laksana batu, kepalaku berat nyaris menyeruduk bumi, mimpi tak bermimpi.
Oh dewa Wisnu di manakah kamu, peliharalah aku agar hilang kesadaranku dan aku bisa tidur nyenyak.
Namun setiap gerak bagai lindu tak henti-henti, di kamarku seperti perang dunia satu dan dua.
Betapa nestapanya pesakitan, aku tergelepar sendiri, di ruangan ini, di manakah kekasih ku.

Menggapai mu seperti menggapai langit, mana aku sanggup, aku sedang sakit sekarat.
Tahukah engkau di mana dongeng masa kecil yang dibisikkan ibu, aku ingin terulang lagi.
Tahukah engkau tempat paling nyenyak sepanjang hidup, tergelepar dipelukan ibu
Ketika ku jatuh, dia merengkuhku sambil menghangatkan tubuhku yang masih lemah.
Oh begitulah, aku tersakit dalam kubangan rindu, kamu smua hanya bintang berserakdi segala penjuru, makin jauh dan jauh.
Ingin ku petik panenan bintang, tapi siapakah lelaki yang malang ini..
Yang tergelepar dan terluka...

Jumat, 06 November 2009

Merindu Sang Kekasih

Posted by MOVAZ On 06:58




Aku terluka karena menunggu mu lama...
Aku ingin makan malam bersama mu seperti biasanya...
"ah mana bisa, look at me...."
"mananya yg gw liat.. ada apa dengn loe..?"
"muka gw serius kan, gw tak ingin loe bercanda lagi..key..",
dan karena itu, sejak itu aku sulit bercanda dengan mu


Mondar-mandir aku dibuatnya
Kamu menghilang di malam-malam saat cumbuan dan pelukan jadi luka menganga
Karena kau tak ada maka hatiku pengap
"alow.. ngapa tadi kagak angkat bre.."
"lagi di jalan"
"lagi dmn? ngapain?"
"kgak adddha.. jaln2 ja.."


Ah cukup begitulah cara ku berbasa-basi
Harusnya ku kidungkan syair saja untuk mu lewat HP ku
tapi kau seperti tentara yang berbaris
antara sebagai pasukan perang dan manusia yang takut mati
"aku kangen ma kamu, doain aku cepet pulang, aku sayang sekali ma kamu.."
lalu kamu cuma jawab
"yups"
itulah diri mu antara bercanda dan pura-pura


Malam ini aku merindukan mu tiba-tiba
Membawakan roti bakar dan mengiriskan untuk ku
Lalu bibir mu yang merah mungil tersenyum
Sementara muka mu yang bulat meranum
Kau seperti kue tar ulang tahun ku,
"bentar lagi aku ulang tahun sayang..."
"asyik ditraktir makaaaan..."
"kadonya dulu dong disiapin.."
"doa-doa aja lah kadonya..",
ach kau kadang pelitnya bukan main..pff


"ganti baju mu donx biar gw cuci.."
"udah ah, barusan dari jemuran.."
Lalu kau memaksa melepas bajuku
Melemparkannya ke mesin cucu
Dan membawa yang baru untuk ku
"pakailah ini, ini cocok untuk mu.."
"tak usah lang yank..."
"pakeeeeeeeeeeeeeee......",
begitulah kamu memaksa dengan memelas manja.


Di suatu yang lalu, aku menunggu mu lama sekali
Saat itu cuma ada hujan di hadapku
Aku termenung karena pulsa pun tak ada
Dan ketika hape berbunyi kau berbisik nyentil dalam deras..
"lagi di mane..?"
"di pinggir jalan.."
"gw datang ye...."
"tak usah lah..."
Tapi kamu datang menjemputku berbasah-basah
Mengenakan di tubuhku jas hujan
kau bilang,
"hati-hati.... jaga kesehatan dong..."


Malam ini aku menunggu mu lamaa
Dua tahun akan berlalu, melintasi beribu kenangan
Aku ingin memanjatkan doa untuk mu semalaman
Seperti sembahyang bersama yang sering kali kita lakukan
Kau mencium tanganku mesra sehabis berdoa
"doakan aku semakin baik ya...." begitulah kata mu.


Tapi aku tahu cuma malam-malam ini kau tak mungkin datang
Ku coba menghubungi mu lewah hape,
"aku lagi di jalan....",
berulang kau jawab gitu.
Kau jauh di sana dan aku ada di sini, seharusnya aku tahu itu
Hanya saja karenanya aku memang mencintai mu...


"cinta itu perbuatan sayang..".
begitulah yang kau lakukan
"cintailah Tuhan lalu semua manusia akan mencintai mu".
katamu mengingatkan
"cinta itu hanya bisa dirasakan, bukan sekedar pajangan"
katamu menyarankan
"cinta itu jalanilah, dan jangan mengeluh.."
katamu meyakinkan


Ah begitulah yang telah kau perbuat untukku
Terimakasih atas segala keluh kesah yang engkau dengar
dan kebersamaan yang telah kita bagikan
Aku merindukan mu
"moga baik-baik di sana..."
"yups"
pffff bisikku

Rabu, 04 November 2009

Apalah Arti Sebuah Nama (Soliter And Chance)

Posted by MOVAZ On 23:36

I. Referance 
Maaf ya blog, kalo saya beberapa hari ini melupakan moe... saya cuma kepingin lebih dekat ma kemenakan kita yang baru lahir, yang matanya sipit itu, yang sampai hari ini belum dikasih nama, kita kasih nama apa enaknya? apa kamu punya usul blog ku???
*ih booo' jadi kepingin banget segera punya baby, tapi pingin baby yang tak perlu jadi gede... sayang.. kok masih 'takut' kawin yach... *



II. Tentang Identitas
Kali tentang NAMA, saya jadi ingat dengan dengan William Shakespeares dalam Romi n Juli, 

 
"hanya nama mu yang menjadi musuhku, tapi engkau adalah dirimu sendiri, bukan Montague (nama klan Juliet). Apakah Montague? Bukan tangan, bukan kaki, lengan, muka, atau bagian apa saja dari tubuh manusia. Jadilah nama yang lain! APAKAH ARTI SEBUAH NAMA?"


lalu ibu saya berkilah, itu karena "sang penulis tidak beragama seperti kita, pula bukan jawa atau indonesia, mungkin bukan pula asia", "tempat di mana SEGALA NAMA jadi PENTING SEKALI, nama itu doa dari orang tua", waktu itu saya turut meng-iya kan orang tua saya, tapi saat itu saya meng-iyakan karena saya tidak punya argumen apapun untuk menyetujui beliau apalagi menolaknya..



 
Tentang nama, kakak saya yang lagi 'menyambangi' negeri di luar sana, dekat kutub utara, terheran-heran dan terkejut kala memahami bahwa setiap warga negara di negara sana, memiliki ID khusus yang di dalamnya memiliki keseluruhan informasi dari si pemilik: nilai rapor, jumlah gigi, penyakit turunan, pohon silsilah, riwayat kerja dll, dunia seseorang telah dirangkum dalam satu chip khusus. Sebenarnya kita juga punya KTP, didalamnya berisi pula identitas kita, tapi cuma: nama, alamat, jenis kelamin, agama, status, dan tanda tangan camat setempat, harganya 20 ribuan kalo pesan langsung ke pak RT.


III. Yang Berubah Dan Yang tetap.
Membicarakan NAMA serta identitas ada kalanya seperti membicarakan tentang diri kita yang kadang sering salah menilai, beberapa orang menganggap tingkah laku dan kebiasaan adalah bagian dari identitas absolot, bahkan hal-hal yang bisa dimungkinkan bersifat pilihan dianggap tidak memiliki pilihan, semisal:


  • Agama kita, konversi mengubah agama merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji bagi sebagian besar orang.
  • Kelas seseorang, banyak sekali orang yang memandang kelas sebagai ciri utama pertimbangan dalam pergaulan, masalah utamanya adalah persepsi akan cara hidup dan pandang yang dianggap berbeda.
  • Ideologi tertentu juga menyaratkan batas-batas dalam bekerjasama.
  • Juga masalah suku, ras dan kelompok keluarga dianggap penting dalam segala pertimbangannya bila seseorang ingin mudah bergaul.
lalu:

  • Tentang agama, apakah ketaatan melarang pemeluknya untuk mempelajari agama lain, dan mempertimbangkan sesuatu dengan lebih serius?
  • Tentang kelas, apakah kekayaan suatu kelas akan selalu menentukan masa depan suatu karir seseorang di masa datang? apakah membatasi pergaulan mengurangi perluasan jaringan kekayaan, apakah kelas identik dengan wawasan keilmuan seseorang?
  • Tentang ideologi, apakah tak dimungkinkan akan ada perubahan?, tentang ras dan suku pada keturunan kita kelak?,  bagaimana orang-orang yang terlahir diantara dua suku? bukankah cinta tidak memilih harus dengan siapa kita tertarik pada sesuatu?



 
Mempersempit ruang gerak pada sesuatu yang seharusnya bisa diperluas akan membuat hidup kita kehilangan anugrah kekayaan yang sangat berharga, menghindari perbedaan sama saja menjadikan ruang lingkup kita tersumbat dan dipenjarakan oleh ketakutan nilai-nilai kita sendiri, beberapa dengan alasan ketakutan akan nilai-nilai murni serta suci, sebagian menganggap nilai-nilai yang mereka yakini benar-benar telah menemukan titik paling final. Ambil contoh: Francis Fukuyama mengajarkan tentang nilai-nilai puncak yang tak memiliki cela yaitu Demokrasi Liberal, orang-orang sosialis mengajarkan tentang kesamaan kelas, orang islam  texstualis menganjurkan penerapan syari'ah, sementara di Indonesia kita mengenal satu ideologi jaman orde baru. Keyakinan-keyakinan itu berusaha menciptakan wacana pencitraan yang sempurna, bahwa pada akhirnya sejarah lah yang akan menilainya adalah urusan belakangan.

 *yang belakang-belakang apppaaaan toch...!! -Logat jaja Miharja-*

Menekan perbedaan dalam kehidupan seseorang barangkali 'sedikit' mempermudah seseorang untuk menjalani hidup, 


"dah lah bree tak usah muluk-muluk, lahir, makan, main, tidur, kanak-kanak bermain, remaja pacaran, dewasa nikah, lalu besarin anak, ikut pengajian bapak-bapak, mati, dah gitu ja kan enak toh???",


Dan mungkin ditambah dengan prasarat saling menghormati dalam arti permisif, seseorang dapat mencapai kemudahan dalam menjalani hidupnya, yayayayya.... bagi sebagian orang sangat mungkin berhasil, tapi tidak semua orang puas dengan 'kenyamanannya', bahkan bagi sebagian orang perjalanan hidup tak selamanya selalu menerapkan standar baku yang selama ini kita yakini, karenanya setiap orang selalu dibekali rasa keraguan, ingin tahu, dan tak pernah puas, dan  bagi sebagian kecil orang masalah ini dapat diatasi dengan Iman dalam agama atau setia pada prinsip dalam lapangan pemikiran, tapi akankah hal itu menyelesaikan suatu keraguan dan pertanyaan?

"Janganlah bertanya, belajarlah meyakini sobat..please.."

"jangan bertanya lagi, itu di luar jangkauan kita... key.." 
"jangan berkhianat, pemimpin kita mengajarkan setia pada prinsip, jangan plin-plan pilih satu saja...",

ungkapan-ungkapan itu telah menyempitkan suatu ruang kita yang sebenarnya bisa maha luas ukurannya, Bumi dan kehidupan telah diciptakan Tuhan teramat luas, Pengetahuan tidaklah memiliki agama, demikian pula peradaban, tapi semua perbedaan di dalamnya hakikatnya dikehendaki oleh satu pencipta tunggal, Tuhan Yang Maha Esa. 



Lalu karena tekanan keluarga, masyarakat, golongan, nilai-nilai lama, kita kehilangan hidup kita untuk memilih sendiri apa yang kita yakini dan sukai, karena bagi sebagian orang, 

"aku adalah seperti apa yang mereka pikirkan, kerjakan, dan yakini serta mereka  kenali saja... selain itu, bukanlah aku", 
"book gw cari selamat ajeh yee... gw kagak mau terlalu dalam hidup di tikungan jalan..."


Sikap semacam itu membuat seseorang apatis terhadap dunia yang luas  ini dan sering berfikir kelak dunia akan selalu bermula, berjalan dan berakhir seperti yang nenek moyang, orang tua atau kebanyakan orang yakini, mereka takut keraguan dan pencarian akan menghancurkan 'identitas' yang telah mereka dapatkan dan perjuangkan selama ini, bahkan banyak orang yang berjuang hanya untuk identitas, itu  dan kehilangan hubungan intim dengan kedirian dan kesukaannya, kehilangan kehidupan yang maha kaya.

Anda mungkin akan bertanya, 


"apakah tidak meyakini secara mutlak dan selalu bertanya itu artinya lebih baik?"
"apakah anda lalu akan memaksa saya untuk melakukan hal itu?"
"apakah saya akan lebih bahagia bila saya selalu bertanya dan mencintai atau menyukai apa yang selama ini sebenarnya ingin saya  tanyakan, cintai  dan sukai tapi kerana banyak pertimbangan saya lupakan dan kubur pertanyaan, cinta dan kesukaan  itu dalam-dalam?"

III. Pilihan Dan Batas-Batas.
Beberapa orang (orang yang dari ekstrim lain) menjawab, ya, ya, ya dengan MANTAPNYA!! demikianlah, lalu karena keyakinan itu mereka berani mati demi apa yang mereka sukai dan mereka ingin temukan jawabannya sendiri tak peduli dunia,

"hidup cuma sekali men... ngapa sih harus jadi orang lain...'
"ah eloe udah gede masih takut.... kalo butuh didobrak... dobraklah.."
"Takut ma Tuhan, Tuhan jg diam saat kita protess... jadi... ngapa kita tak diam aje ma Tuhan.."
"Dah ah, nikmati ja iduppp ini... persetan ah, yang penting kita tak ganggu dan mereka tak ganggu",


ungkapan diatas hanyalah anugrah bagi mereka yang benar2 siap menerima perubahan menggebu-gebu yang ada di dunia ini,  dan menerima masalalu hanya sebagai masa lalu, tanpa dasar yang baku, mereka yang sebenarnya 'tak siap' atau belum lihai 'belajar' tentang makna perbedaan, malah bukan hanya kehilangan dirinya, bahkan dikuasai oleh dunia ini, bukannya kita mendapatkan kemerdekaan, tapi kehilangan segala yang telah kita miliki...



Yang paling berharga yang kita miliki: Keluarga, Cinta, Pekerjaan yang terhormat, Kehidupan semesta yang indah dan Kedekatan pada-Nya
Orang yang sering atau selalu bertanya memang tak selamanya menjamin akan menemukan kebahagiaan, toh bagi sebagian kalangan kebahagiaan itu adalah tolak ukur yang sangat retativ, bertanya tanpa siap menerima jawaban yang cuma kosong alias tak ada jawabannya, adalah cara bertanya yang bodoh, dan saya yakin demikian juga sebagian besar orang, meyakini: 


"Bree... tidak semua yang ada dalam hidup kita mengharuskan untuk mendapatkan jawaban.."

Tapi prinsip ini tidak berarti kita harus menjadi sesuatu yang tidak membutuhkan banyak pertanyaan, tanpa jawaban bukan berarti tidak boleh bertanya, namun harusnya siap menyerahkan pada apa yang kita imani (sesuatu yang telah kita dapat sebelumnya), harus ada pegangan. Toh kemerdekaan dan kebebasan sejati di dunia ini tak pernah akan ada..  jd...

apa yang absolot dan tidak.....? kalo yang tidak itu di dalamnya termasuk ideologi kita, prinsip-prinsip, keyakinan, kelas, apakah itu artinya kita masih meyakini hal tersebut menjadi bagian dari identitas kita???
Bila selama anda membaca tulisan saya dari awal lalu  anda tetap menjawab 'Ya",  ini artinya kita telah benar-benar membatasi diri kita dengan identitas maya yang pada dasarnya terus berkembang sepanjang perjalanan hidup kita...


IV. Conclution
Lalu karena banyak pertanyaan pula, sebagian bahkan mempertanyakan, apakah dia laki, wanita, atau diantara keduanya, lalu sebagian bilang, 


"boook, jaman gini gitoch... cinta yang pertama kalee, kelamin mah no 2"

"gw mah hidup tanpa agama n negara bozz, persetan poli-tikuss.." 



sebagian lagi, hidup dengan menolak kemapanan secara mutlak,  sehingga mungkin itulah lah dunia demokrasi dan kemerdekaan kita yang sesungguhnya, saya tidak setuju pada sebagian pilihan mereka, tapi saya harus menghormati keyakinan mereka, tanpa membiarkan begitu saja, tanggung jawab sosial saya adalah menegakkan integritas dan tertib masyarakat, terutama pada pribadi saya sendiri. Harus belajar bahwa: kita selalu dituntut memahami perbedaan untuk mencari kekayaan perbedaan itu sendiri.

"apa yang saya pikirkan seperti apa yang saya niatkan, apa yang saya ucapkan seperti apa yang saya pikirkan, apa yang saya kerjakan seperti apa yang saya ucapkan, apa yang saya kerjakan baik untuk diri saya, keluarga masyarakat , negara dan Tuhan Yang Maha esa.

Perbedaan dan Persamaan... keduanya akan selalu kita miliki, dihadapan dunia ini, jd janganlah terlalu mutlak menjadi manusia -dalam menentukan pilihan identitas yang barangkali sebenarnya memiliki banyak pilihan dan alternativ-, kita memiliki nama lain selain nama yang selama ini kita kenal: penulis, muslim, orang kampoeng, pembunuh, politikus, mungkin nama itu yang selama ini kita sembunyikan: pendaki, facebooker, tukang pelet, metrosexsual atau.. banci.. mungkin saja.




Selasa, 03 November 2009

LAGU-LAGU GILA

Posted by MOVAZ On 01:12




Siapapun kamu..
Bagaimana pun..
Ujung-ujungnya minta kelamin..

Mencari orang, yang terbaik..

Cantik tanpa kelamin percuma..

Mengaku punya, cinta murni..
Ujung-ujungnya minta kelamin..



Minggu, 01 November 2009

Ada bakmie jawa bang...?? (differently and unity)

Posted by MOVAZ On 05:32




I. Referance (hal ikhwal tentang 'mie').

Tadi malam, karena sangat-sangat lapar, saya terbangun dini hari, beruntunglah saya karena sekalian makan, saya bisa sembahyang malam, salah satu kaka saya bilang sembahyang malam saya akan membuka sedikit-sedikit pintu rizki saya. Ok, dengan barsemangat saya membuka lemari dapur, kosong...pff, lalu ke lemari pendingin.. kosong, ah sial, nasi telah habis, pikir saya, terpaksalah, saya membuka ruang gudang, di sana, dimana merupakan kebiasaan keluarha saya, menyimpan beberapa kardus mie untuk kebutuhan darurat (saya juga sering menirunya dulu semasa nge-kos, memang strategi jitu saat musim-musim peceklik tanggal tua), kalau teman-teman saya datang mereka bakal minta satu-satu lama-lama habis, dulu si r.l.v sempat tanya kok sebegitunya sampai berkardus-kardus, saya jawab asal ja "diet kalori dek.." hehe.
Mie lagi.. puff..., mie goreng lagi... waduh.. kalo kagak kepepet saya tak bakal mau makan mie, apalagi mie goreng, kayak makanan anak kecil atau orang sakit saja kesannya, saya rindu sekali nasi... walau saya sekarang berusaha menguranginya, karena saya memang sedang diet kalori, ya syukur kalau gitu, jadinya saya mau coba membikin mie goreng menjadi mie godok,

tips step by step mie GORDOK (goreng dijadikan mie godok yang enak - menurut saya):

  • Siapkan bumbu, (karena saya suka pedas) cabai 5 potong, bawang putih 3 siung (bawang baik untuk meredakan hypertensi plus pengganti perasa buatan), bawang merah 1 siung, terasi secukupnya, lalu blender, sampai haus.
  • Siapkan brokoli secukupnya (sayuran efektif buat diet karena membantu proses pencernakan, karena kaya serat, serta banyak kandungan vitamin), sosis secukupnya dipotong tipis dan  telur dua butir (kalau sedang membentuk otot, saya sarankan memakan sebanyak mungkin protein non lemak).
  • Masukkan mie goreng ke air (3 gelas) yang sudah mendidih, kecilkan api, masukkan bumbu yang sudah halus, potongan sosis, masukkan semua telor setelah dipecahkan, tak perlu dikocok, aduk sebentar sampai telur matang, masukkan semua bumbu bawaan mie goreng (saos, kecap, minyak, bumbu sedap, bawang, dll) masukkan sayur dan garam di akhir (sayur yang segar lebih bagus, garam diakhir setiap proses membantu mempertahankan iodium), tiriskan...... nyam-nyam

Bicara masalah mie, di negeri kita ada banyak merek mie, dan jauh lebih banyak lagi vareasinya, mie rasa soto saja ada bermacam (madura, jawa, banjar, coto dll), belum koya, gulai, mie pedas, mie ini, mie itu, kalau anda hobi koleksi bungkus mie, pasti bakal banyak yang anda dapat di Indonesia. Mie tadi adalah mie instan yang bermerek pabrik, belum bermacam mie telur, mie beras (somay), mie tepung ketela, mie dengan bahan campur, mie basah, waduh banyak banget. Cara membuatnya juga bermacam-macam, beberapa yang sangat saya sukai selama saya kuliyah,

  • Bakmie Jawa : Mie basah (khusus) dengan bumbu (khusus) plus potongan daging ayam jawa (wajib) dan diproses dengan arang (harus!!! karena itu yang bikin aromanya khas), kalau di Jogja saya paling suka warung malam pojok perempatan utara-timur, perempatan Gejayan (sekarang Affandi)-terminal Concat.
  • Mie Jakarta: Mie basah (kusus), bumbu (khusus), dan proses (khusus), di Jogja saya paling suka yang dekat Jogja Tronik, tepatnya sebelah utara 100 meteran kiri jalan.
  • Mie Magelangan: Mie basah (khusus), yang digoreng bersama nasi gorong, porsi masing2 bisa diatur sesuai permintaan, rasanya mirip nasi goreng, kana lebih enak bila digoreng pakai arang, rasanya macam nasi goreng, hanya saja banyak mienya.
  • Mie Dokdok: Mie basah di proses macam Bakmie Jawa hanya saja dalam prosesnya di campurkan nasi yang hampir matang, digodok bareng, porsi masing2 bisa disesuaikan juga, pakai arang, rasanya macam bakmie jawa, hanya saja banyak nasinya. Paling enak ada di daerah jl Imogiri,  tapi sesudah di luar Ringroad 3km an, belok kanan, di kampung, agak sulit ngejelasinnya.

Mie,  dari yang paling instan hingga yang agak rumit proses bikinnya, dari yang awet lama, hingga yang cuma awet setengah hari, dari yang terigunya 100 % impor, sampai yang dari tepung ketela 100 % lokal, dari yang bikinan pabrik, beratus ribu perharinya, hingga bikinan 'mbok-mbok' yang cuma beberapa kilo perhari, dari  rasa global hingga yang dibikin dengan bumbu yang dibikin langsung ditempatnya, dan katagori lain yang sangat varian.

Sayangnya, banyak sekali orang yang mengidentikkan Mie dengan Mie pabrik, makanan (paling) instan, atau menerima begitu saja sifat vareasi monokromnya (godok atau goreng), padahal Mie bikinan pabrik adalah turunan buah karya orang Jepang pada PD II, yang mencoba mencari varean Mie yang bisa awet dijadikan ransum di medan perang. Kalau kita hobi hangout di Burjo (warung bubur kacangijo (cuma julukan saja-malah terkadang bubur kacang ijonya tak ada) khas kuningan) -sejak dekat dengan si r.l.v, saya jadi sering ke burjo, dan jadi jarang nge-cafee gara-gara dia, dasar autis!-, di Burjo kita hanya mendapati dua plus jenis mie, Mie Godok, Mie Goreng, plus dengan telur atau Tante (tanpa telur), saya tahu pertimbangannya, karena warung Burjo memang disiapkan sebagai warung instan sejak awal, di jogja, hampir setiap pojok kampung ada saja Burjo, mungkin kalau di Jakarta sejenis Warkop lah, mungkin dapat dikatakan semboyan Burjo: simple, instan, murah, ramah, dan menjangkau. Tapi ini akan mengkaburkan varean mie yang memang cukup banyak.

II. Instan Vs Vareasi, General Vs Personal, O.N.S Vs Honey-Boney

Instan itu identik dengan kemudahan, condong pada memaksimalkan fungsi, mengabaikan fitur dan pernak-pernik. Kalau saya ketemu orang ( + mind plz) sebenarnya saya juga agak terlalu monokrom macam warung Burjo, hanya ada dua hal yang akan saya pikirkan,

"sergap secepat mungkin lalu lari... kaburrrr booooook", atau
"gw jaim, nge-set gaya mature n polite, lalu p.d.k.t berharap hubungan lebih lama... aduchhh keburu gatel boooo",


yang pertama mungkin dengan pertimbangan connect in physic only, yang kedua connect in physic n mind. Yang pertama bak mie pabrikan, asal makan karena sulit tidur malam trus 'lapar', yang ke-dua bukan sekedar perut saya keroncongan atau sulit tidur, tapi saya sebagai manusia biasa butuh selera, rasa favorit, dan suatu yang lebih intim, personal dan yang akan ingin saya rasakan lebih lama lagi. Yang pertama memang mudah sekali didapatkan, kalo itu barang instan (macan kunci mobil-motor, peralatan mandi, bolpoin, FD, I-pot, mungkin malah agak sulit, kadang saya lupa menaruh atau tersembunyi di mana dan saya tak menemukannya, tapi kalau itu sejenis manusia, terkadang saat saya tak butuh instan, si instan justru teriak-teriak, ngeyel minta ketemuan dan bla-bla-bla,

"lagi dimana? ketemuan yuukkk..."
"gw kesepian nech... mo temenin kagak..."
"gw lg laper...... makan bareng yuukkk.."
"ngepe kagak datang-datang sihh... puffff..argggggg"


dan karena yang instan itu sejenis somebody, ya, karena dapatnya mungkin instan, ilangnya juga instan, saya atau mereka saat respond, interest n respect nya tak ada, tak lebih sehari, bakal dilupakan semuanya, dihapus no kontaknya, "without saying good bye", begitulah saya menyesuaikan diri dengan kebutuhan instan tersebut.

Sementara itu untuk hal-hal yang butuh teste, saya bakal simpen erat-erat contact itu, kalo mereka nganggap saya cuma sepele, saya tetap tak peduli, saya akan hub dia, walau contact saya telah dihapus, biarlah saya dianggap pengemis, toh kalau saya tidak pernah melakukan kesalahan pada beliau-beliau, tentu mereka juga tak akan marah, memang ada yang beberapa marah, karena terlalu buru-buru menilai capable saya, padahal saya mengejar-ngejar mereka karena saya telah mempertimbangkan capable dan kompetensi saya dihadapan beliau-beliau, toh kalau akhirnya mereka benar-benar tak nyaman, ya saya bakal tak hubungi, tapi saya tak hapus sampai beberapa saat, berharap musim buah bakal berubah.

Dalam banyak hal, setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda, tergantung tata nilai yang selama ini mempengaruhi setiap individu, kita tidak bisa menjamin yang terang bakal terang bagi orang lain, dan apakah kita akan memaksa orang untuk mencintai sesuatu yang mereka benci, bahkan kalau kita memiliki negara yang sama atau jauh lebih kecil dari itu semisal saudara, apakah akan sama selera nya? pandangan hidupnya? dan perilaku konsomsinya? mungkin kita bisa sama-sama makan mie instan, tapi itu hanya karena tidak ada alternativ lain atau karena untuk sementara, saya suka sekali bakso, adik saya yang namanya Axxm suka dengan nasi goreng, dan kakak saya Ibrxxxm suka sekali nasi pecel, apakah sama?

Banyak institusi yang sangat struktural, sering kali memaksakan selera orang, mirip macam pabrik, sebagian lagi agak mending membikin peraturan yang monokrom, kalau tidak "Ya" berarti artinya "Tidak", bahkan saya sendiri sering terjebak, kalau kamu suka 'begini' berarti kamu bukan pemeluk 'ini', berarti kamu bukan bangsa 'ini', berarti kamu bukan golongan 'ini',  apakah kalau saya menyukai Dangdut dan Bollywood apa berarti saya tidak begitu gaul, apa kalau saya tak suka J-D dan sukanya Lapen atau OT atau AM, atau teh manis berarti, "ah elooo, tak tau selera.... rendah ah loe", pernyataan itu sederhana, jarang saya menjawab dengan emosional, "cuek bebek gw dibilang ape, gw mang sukanya teh manis, wedang jahe, lemper ma ketela rebusso whattt", selera hight class memang penting, bahkan sangat penting menurut saya memiliki rumah mewah, mobil bagus, pendidikan yang baik, nilai-nilai moral yang kaya, kolega serta sahabat yang membangun, hiburan yang berkelas dan mendidik, pekerjaan yang terhormat, keluarga yang kokoh dan terpandang, adalah mimpi sebagian orang, dengan jalan masing-masing kita ingin mencapainya. Tapi dengan demikian kita tidak menganggap mereka yang memiliki pemikiran diluar harapan kita adalah kelompok yang lebih rendah, bagaimana dengan buruh-buruh kita yang telah menjalankan pabrik dan staf perusahaan digarda paling depan yang langsung berhadap dengan konsumen, apakah ambisi mereka sebesar mimpi-mimpi CEO?? saya akan menjawab,
 
"kenyataan sebenarnya tidak menghalangi setiap harapan tertinggi seseorang, tapi mengajak seseorang untuk bersabar dan berani berhadapan denagn kenyataan".



Beberapa orang akhirnya membatasi pergaulan dengan orang yang secara class, pemikiran, gaya hidup, profesi, agama, kesukuan dll yang agak berdekatan, ini adalah cara instan untuk menikmani 'mie pabrik,' atau cara mudah untuk melakukan ONS (one nite stand), banyak yang berfikir, hidup ini sudah sulit dan melelahkan, kita tak butuh muluk-muluk, kita ikuti saja selera pabrik, kita ikuti saja lembaga yang kompeten, kita ikuti saja dominasi politik negeri ini, apakah dengan itu kita akan memperkaya hidup ini jauh lebih baik,
 
"kalo ada yang lebih mudah dan nyaman mengapa pilih yang lain....????", itu mengapa banyak orang memilih Mall serta Burjo, memilih ONS daripada relationship, "kita tidak butuh banyak pilihan kok say..... goreng ma rebus saja sudah cukup", dan kenyataannya ada banyak orang yang berfikir semacam itu.

Saya tidak menyalahkan mereka yang suka 'Junk Food' karena memang pelayanan instan, tempatnya nyaman dan juga menunya 'enak', tapi saya atau mungkin sebagian besar orang tentu akan jenuh dengan selera tersebut bila dilakukan tiap hari, bahkan jarang sekali orang yang mau makan mie instan sehari terus menerus. Pada dasarnya, terkhusus bagi saya, 'zona aman' itu sering kali membikin kita bosan: pagi bangun, kerja, selesai, hangout (club, cafee, gym, shoping, dinner atau apalah....) lalu pulang, pelukan lagi ma pasangan, akan mudah bosen, beberapa pingin ke bali karena katanya bagus, hawaii, europ, turkey, japan, dll, kadang sering membuat hidup agak berwarna, tapi semua ini tetap saja menggambarkan selera dalam satu frame sudut pandang, 'pemenuhan hasrat diri', sebagaian orang akan mudah jenuh, dan terutama ada semacam kekosongan jiwa, beberapa berinisiatif melakukan wisata dan tindakan-tindakan religius, dan kemudian bosan lagi, bosan dunia-bosan pula spiritualnya, beberapa orang yang menurut saya agak tinggi kebijakannya akan segera banting setir mencari kebahagiaan diri, mencarinya dengan membahagiakan orang lain, beberapa orang berusaha membangun spirit untuk berbagi dengan mendirikan filantropy, yanglain mendirikan lembaga perdamaian dan yang lainnya kelompok peduli.




Akhirnya suatu selera bukankah suatu yang soliter bagi siapapun manusia, semua berproses sesuai tingkatannya, tidak ada yang rendah atau tidak ada yang tinggi, kebosanan selalu ada di mana-mana dan dengan alasan serta tingkatan yang berbeda-beda. Jadi apa untungnya merendahkan orang lain yang menyukai, dangdut, hollywood, dan ketela rebus, bukankah anda juga seringkali bosan dengan apa yang telah anda nikmati dan anda dapatkan, lalu anda akan melepaskan kebosanan itu dengan selera yang lain, dari sudut pandang yag lain tentunya.