I. Referance (hal ikhwal tentang 'mie').
Tadi malam, karena sangat-sangat lapar, saya terbangun dini hari, beruntunglah saya karena sekalian makan, saya bisa sembahyang malam, salah satu kaka saya bilang sembahyang malam saya akan membuka sedikit-sedikit pintu rizki saya. Ok, dengan barsemangat saya membuka lemari dapur, kosong...pff, lalu ke lemari pendingin.. kosong, ah sial, nasi telah habis, pikir saya, terpaksalah, saya membuka ruang gudang, di sana, dimana merupakan kebiasaan keluarha saya, menyimpan beberapa kardus mie untuk kebutuhan darurat (saya juga sering menirunya dulu semasa nge-kos, memang strategi jitu saat musim-musim peceklik tanggal tua), kalau teman-teman saya datang mereka bakal minta satu-satu lama-lama habis, dulu si r.l.v sempat tanya kok sebegitunya sampai berkardus-kardus, saya jawab asal ja "diet kalori dek.." hehe.
Mie lagi.. puff..., mie goreng lagi... waduh.. kalo kagak kepepet saya tak bakal mau makan mie, apalagi mie goreng, kayak makanan anak kecil atau orang sakit saja kesannya, saya rindu sekali nasi... walau saya sekarang berusaha menguranginya, karena saya memang sedang diet kalori, ya syukur kalau gitu, jadinya saya mau coba membikin mie goreng menjadi mie godok,
tips step by step mie GORDOK (goreng dijadikan mie godok yang enak - menurut saya):
- Siapkan bumbu, (karena saya suka pedas) cabai 5 potong, bawang putih 3 siung (bawang baik untuk meredakan hypertensi plus pengganti perasa buatan), bawang merah 1 siung, terasi secukupnya, lalu blender, sampai haus.
- Siapkan brokoli secukupnya (sayuran efektif buat diet karena membantu proses pencernakan, karena kaya serat, serta banyak kandungan vitamin), sosis secukupnya dipotong tipis dan telur dua butir (kalau sedang membentuk otot, saya sarankan memakan sebanyak mungkin protein non lemak).
- Masukkan mie goreng ke air (3 gelas) yang sudah mendidih, kecilkan api, masukkan bumbu yang sudah halus, potongan sosis, masukkan semua telor setelah dipecahkan, tak perlu dikocok, aduk sebentar sampai telur matang, masukkan semua bumbu bawaan mie goreng (saos, kecap, minyak, bumbu sedap, bawang, dll) masukkan sayur dan garam di akhir (sayur yang segar lebih bagus, garam diakhir setiap proses membantu mempertahankan iodium), tiriskan...... nyam-nyam
Bicara masalah mie, di negeri kita ada banyak merek mie, dan jauh lebih banyak lagi vareasinya, mie rasa soto saja ada bermacam (madura, jawa, banjar, coto dll), belum koya, gulai, mie pedas, mie ini, mie itu, kalau anda hobi koleksi bungkus mie, pasti bakal banyak yang anda dapat di Indonesia. Mie tadi adalah mie instan yang bermerek pabrik, belum bermacam mie telur, mie beras (somay), mie tepung ketela, mie dengan bahan campur, mie basah, waduh banyak banget. Cara membuatnya juga bermacam-macam, beberapa yang sangat saya sukai selama saya kuliyah,
- Bakmie Jawa : Mie basah (khusus) dengan bumbu (khusus) plus potongan daging ayam jawa (wajib) dan diproses dengan arang (harus!!! karena itu yang bikin aromanya khas), kalau di Jogja saya paling suka warung malam pojok perempatan utara-timur, perempatan Gejayan (sekarang Affandi)-terminal Concat.
- Mie Jakarta: Mie basah (kusus), bumbu (khusus), dan proses (khusus), di Jogja saya paling suka yang dekat Jogja Tronik, tepatnya sebelah utara 100 meteran kiri jalan.
- Mie Magelangan: Mie basah (khusus), yang digoreng bersama nasi gorong, porsi masing2 bisa diatur sesuai permintaan, rasanya mirip nasi goreng, kana lebih enak bila digoreng pakai arang, rasanya macam nasi goreng, hanya saja banyak mienya.
- Mie Dokdok: Mie basah di proses macam Bakmie Jawa hanya saja dalam prosesnya di campurkan nasi yang hampir matang, digodok bareng, porsi masing2 bisa disesuaikan juga, pakai arang, rasanya macam bakmie jawa, hanya saja banyak nasinya. Paling enak ada di daerah jl Imogiri, tapi sesudah di luar Ringroad 3km an, belok kanan, di kampung, agak sulit ngejelasinnya.
Mie, dari yang paling instan hingga yang agak rumit proses bikinnya, dari yang awet lama, hingga yang cuma awet setengah hari, dari yang terigunya 100 % impor, sampai yang dari tepung ketela 100 % lokal, dari yang bikinan pabrik, beratus ribu perharinya, hingga bikinan 'mbok-mbok' yang cuma beberapa kilo perhari, dari rasa global hingga yang dibikin dengan bumbu yang dibikin langsung ditempatnya, dan katagori lain yang sangat varian.
Sayangnya, banyak sekali orang yang mengidentikkan Mie dengan Mie pabrik, makanan (paling) instan, atau menerima begitu saja sifat vareasi monokromnya (godok atau goreng), padahal Mie bikinan pabrik adalah turunan buah karya orang Jepang pada PD II, yang mencoba mencari varean Mie yang bisa awet dijadikan ransum di medan perang. Kalau kita hobi hangout di Burjo (warung bubur kacangijo (cuma julukan saja-malah terkadang bubur kacang ijonya tak ada) khas kuningan) -sejak dekat dengan si r.l.v, saya jadi sering ke burjo, dan jadi jarang nge-cafee gara-gara dia, dasar autis!-, di Burjo kita hanya mendapati dua plus jenis mie, Mie Godok, Mie Goreng, plus dengan telur atau Tante (tanpa telur), saya tahu pertimbangannya, karena warung Burjo memang disiapkan sebagai warung instan sejak awal, di jogja, hampir setiap pojok kampung ada saja Burjo, mungkin kalau di Jakarta sejenis Warkop lah, mungkin dapat dikatakan semboyan Burjo: simple, instan, murah, ramah, dan menjangkau. Tapi ini akan mengkaburkan varean mie yang memang cukup banyak.
II. Instan Vs Vareasi, General Vs Personal, O.N.S Vs Honey-Boney
Instan itu identik dengan kemudahan, condong pada memaksimalkan fungsi, mengabaikan fitur dan pernak-pernik. Kalau saya ketemu orang ( + mind plz) sebenarnya saya juga agak terlalu monokrom macam warung Burjo, hanya ada dua hal yang akan saya pikirkan,
"sergap secepat mungkin lalu lari... kaburrrr booooook", atau
"gw jaim, nge-set gaya mature n polite, lalu p.d.k.t berharap hubungan lebih lama... aduchhh keburu gatel boooo",
yang pertama mungkin dengan pertimbangan connect in physic only, yang kedua connect in physic n mind. Yang pertama bak mie pabrikan, asal makan karena sulit tidur malam trus 'lapar', yang ke-dua bukan sekedar perut saya keroncongan atau sulit tidur, tapi saya sebagai manusia biasa butuh selera, rasa favorit, dan suatu yang lebih intim, personal dan yang akan ingin saya rasakan lebih lama lagi. Yang pertama memang mudah sekali didapatkan, kalo itu barang instan (macan kunci mobil-motor, peralatan mandi, bolpoin, FD, I-pot, mungkin malah agak sulit, kadang saya lupa menaruh atau tersembunyi di mana dan saya tak menemukannya, tapi kalau itu sejenis manusia, terkadang saat saya tak butuh instan, si instan justru teriak-teriak, ngeyel minta ketemuan dan bla-bla-bla,
"lagi dimana? ketemuan yuukkk..."
"gw kesepian nech... mo temenin kagak..."
"gw lg laper...... makan bareng yuukkk.."
"ngepe kagak datang-datang sihh... puffff..argggggg"
dan karena yang instan itu sejenis somebody, ya, karena dapatnya mungkin instan, ilangnya juga instan, saya atau mereka saat respond, interest n respect nya tak ada, tak lebih sehari, bakal dilupakan semuanya, dihapus no kontaknya, "without saying good bye", begitulah saya menyesuaikan diri dengan kebutuhan instan tersebut.
Sementara itu untuk hal-hal yang butuh teste, saya bakal simpen erat-erat contact itu, kalo mereka nganggap saya cuma sepele, saya tetap tak peduli, saya akan hub dia, walau contact saya telah dihapus, biarlah saya dianggap pengemis, toh kalau saya tidak pernah melakukan kesalahan pada beliau-beliau, tentu mereka juga tak akan marah, memang ada yang beberapa marah, karena terlalu buru-buru menilai capable saya, padahal saya mengejar-ngejar mereka karena saya telah mempertimbangkan capable dan kompetensi saya dihadapan beliau-beliau, toh kalau akhirnya mereka benar-benar tak nyaman, ya saya bakal tak hubungi, tapi saya tak hapus sampai beberapa saat, berharap musim buah bakal berubah.
Dalam banyak hal, setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda, tergantung tata nilai yang selama ini mempengaruhi setiap individu, kita tidak bisa menjamin yang terang bakal terang bagi orang lain, dan apakah kita akan memaksa orang untuk mencintai sesuatu yang mereka benci, bahkan kalau kita memiliki negara yang sama atau jauh lebih kecil dari itu semisal saudara, apakah akan sama selera nya? pandangan hidupnya? dan perilaku konsomsinya? mungkin kita bisa sama-sama makan mie instan, tapi itu hanya karena tidak ada alternativ lain atau karena untuk sementara, saya suka sekali bakso, adik saya yang namanya Axxm suka dengan nasi goreng, dan kakak saya Ibrxxxm suka sekali nasi pecel, apakah sama?
Banyak institusi yang sangat struktural, sering kali memaksakan selera orang, mirip macam pabrik, sebagian lagi agak mending membikin peraturan yang monokrom, kalau tidak "Ya" berarti artinya "Tidak", bahkan saya sendiri sering terjebak, kalau kamu suka 'begini' berarti kamu bukan pemeluk 'ini', berarti kamu bukan bangsa 'ini', berarti kamu bukan golongan 'ini', apakah kalau saya menyukai Dangdut dan Bollywood apa berarti saya tidak begitu gaul, apa kalau saya tak suka J-D dan sukanya Lapen atau OT atau AM, atau teh manis berarti, "ah elooo, tak tau selera.... rendah ah loe", pernyataan itu sederhana, jarang saya menjawab dengan emosional, "cuek bebek gw dibilang ape, gw mang sukanya teh manis, wedang jahe, lemper ma ketela rebusso whattt", selera hight class memang penting, bahkan sangat penting menurut saya memiliki rumah mewah, mobil bagus, pendidikan yang baik, nilai-nilai moral yang kaya, kolega serta sahabat yang membangun, hiburan yang berkelas dan mendidik, pekerjaan yang terhormat, keluarga yang kokoh dan terpandang, adalah mimpi sebagian orang, dengan jalan masing-masing kita ingin mencapainya. Tapi dengan demikian kita tidak menganggap mereka yang memiliki pemikiran diluar harapan kita adalah kelompok yang lebih rendah, bagaimana dengan buruh-buruh kita yang telah menjalankan pabrik dan staf perusahaan digarda paling depan yang langsung berhadap dengan konsumen, apakah ambisi mereka sebesar mimpi-mimpi CEO?? saya akan menjawab,
"kenyataan sebenarnya tidak menghalangi setiap harapan tertinggi seseorang, tapi mengajak seseorang untuk bersabar dan berani berhadapan denagn kenyataan".
Beberapa orang akhirnya membatasi pergaulan dengan orang yang secara class, pemikiran, gaya hidup, profesi, agama, kesukuan dll yang agak berdekatan, ini adalah cara instan untuk menikmani 'mie pabrik,' atau cara mudah untuk melakukan ONS (one nite stand), banyak yang berfikir, hidup ini sudah sulit dan melelahkan, kita tak butuh muluk-muluk, kita ikuti saja selera pabrik, kita ikuti saja lembaga yang kompeten, kita ikuti saja dominasi politik negeri ini, apakah dengan itu kita akan memperkaya hidup ini jauh lebih baik,
"kalo ada yang lebih mudah dan nyaman mengapa pilih yang lain....????", itu mengapa banyak orang memilih Mall serta Burjo, memilih ONS daripada relationship, "kita tidak butuh banyak pilihan kok say..... goreng ma rebus saja sudah cukup", dan kenyataannya ada banyak orang yang berfikir semacam itu.
Saya tidak menyalahkan mereka yang suka 'Junk Food' karena memang pelayanan instan, tempatnya nyaman dan juga menunya 'enak', tapi saya atau mungkin sebagian besar orang tentu akan jenuh dengan selera tersebut bila dilakukan tiap hari, bahkan jarang sekali orang yang mau makan mie instan sehari terus menerus. Pada dasarnya, terkhusus bagi saya, 'zona aman' itu sering kali membikin kita bosan: pagi bangun, kerja, selesai, hangout (club, cafee, gym, shoping, dinner atau apalah....) lalu pulang, pelukan lagi ma pasangan, akan mudah bosen, beberapa pingin ke bali karena katanya bagus, hawaii, europ, turkey, japan, dll, kadang sering membuat hidup agak berwarna, tapi semua ini tetap saja menggambarkan selera dalam satu frame sudut pandang, 'pemenuhan hasrat diri', sebagaian orang akan mudah jenuh, dan terutama ada semacam kekosongan jiwa, beberapa berinisiatif melakukan wisata dan tindakan-tindakan religius, dan kemudian bosan lagi, bosan dunia-bosan pula spiritualnya, beberapa orang yang menurut saya agak tinggi kebijakannya akan segera banting setir mencari kebahagiaan diri, mencarinya dengan membahagiakan orang lain, beberapa orang berusaha membangun spirit untuk berbagi dengan mendirikan filantropy, yanglain mendirikan lembaga perdamaian dan yang lainnya kelompok peduli.
Akhirnya suatu selera bukankah suatu yang soliter bagi siapapun manusia, semua berproses sesuai tingkatannya, tidak ada yang rendah atau tidak ada yang tinggi, kebosanan selalu ada di mana-mana dan dengan alasan serta tingkatan yang berbeda-beda. Jadi apa untungnya merendahkan orang lain yang menyukai, dangdut, hollywood, dan ketela rebus, bukankah anda juga seringkali bosan dengan apa yang telah anda nikmati dan anda dapatkan, lalu anda akan melepaskan kebosanan itu dengan selera yang lain, dari sudut pandang yag lain tentunya.