Di Bali, ada apa di sana? pantai yang ramai dengan bule-bule, adat hindu yang masih kuat, orang bali yang berbeda dari orang jawa, karena itu banyak orang menyukainya.
Sanur yang sayu, dengan baling-baling di tepi pantai yang menjerit sendu, mengingatkan pada kanak-kanak kita yang sering kali cengeng, kapal nelayan, olah raga parahlayang, terbit dan senja matahari.
Kuta, pantai putih yang bersih, seruak bule-bule dengan bigini seksi dan speedo, "jangan malu menikmati dunia, kamu pikir Aku pemarah???" begitu Tuhan berteriak, mumpung masih hidup, nikmati apa yang menjadi kesempatanmu.
Pijat telanjang, woww.. sexy (thanks a lot Jime!!), untungnya under control, bau dupa, patung budha (mengapa bule-bule gemar banget dengan pernak-pernik budha??), serta lampu temuram, tidak bikin tidur tapi membincangkan bali dari sudut pandang orang bali, tukang pijet bali yang ramah.
Hotel, atau Koteg, di sebrang tempat pijat ada Hotel atau koteg, mana yang benar?, interior kamarnya sayup, tertutup, padahal saya rindu langit biru...
Vila bebek, milik teman saya, sangat dingin, intuitif, agak mirip villa di puncak, walau kesannya sangat mistis, (thanks very much with a suite room). Menarik, kerinduan gemericik kelokan sungai terobati sudah, akhirnya saya menemukan bintang-bintang malam ini, tapi entah tiba-tiba saya merindukan upacara-upacara mistis bali, tapi tetap saja tak kesampaian.
Gunung Batur, sewa guide Rp 300.000, very expensive, saya kira inilah biaya termahal untuk guide selama saya mendaki gunung, kalau yang mahal-mahal di Bali pasti dijawab "wajar dunksss", its Bali, bukan Jogja, jadi kalau Bali tak mahal namanya bukan Bali, and i m not agree!!! saya kira Lonely Planet yang bekerja bersama Guide Batur akan memberi kesan yang tak terlupakan, ternyata...?? sedikit kecewa juga, ini gunung atau anjungan kapal?, tidak ada tempat dan waktu bagi saya untuk merenung seperti saat-saat saya naik gunung lainnya (naik gunung kalau bukan untuk menghayati untuk apa lagii? cepat-cepatan ke puncak? atau nambah jam terbang? konyol!!), yang ada di Batur lebih banyak panas (mirip gunung Ungaran dan Lawu, GUNDULLL!!!), bukankah 300 ribu cukup untuk membeli sepuluh bibit plus membayar guide.....?,(Khusus masalah Gunung dalam hal tata kelola, bali masih kalah jauuuuhh dengan Jogja), Pertanyaan berikutnya, kalau memang ingin ada Pura di gunung mengapa harus dibangun jalan aspal untuk ke sana, bukankah jalan setapak terkesan lebih alami? (entahlah). Gunung Batur sangat seksi, dari atas terlihat danau, saya lupa namanya, danau dimana Bali truyan meletakkan orang mati di bawah pohon, langit cerah sekali di Batur waktu itu, Guide nya ibu Komang, sangat strong dan ramah, Guide terbaik yang pernah saya jumpai (karena ini the #1 saya naik gunung dengan guide).
Di Ubud ada apa?, lukisan, bule belanja, Bule ngopi, Bule jalan-jalan, Bule naik mobil, (saya ke sini tidak untuk lihat Bule seksi atau gagah), seniman bali yang misterius (ini yang saya cari), vila, vila, dan vila, cafe, cafe dan cafe, untung masih ada Banjar, sehingga seni bali tidak terlalu komersil, i like fine art... Vila bebek yang dingin, interior di luar agak bali (tercium aroma gotik versi bali) dan di dalam terlalu western Anglo oriented, but my friends is smart man, dia bisa memadukan antara idealismenya dan permintaan pasar (pasar Bule tentunya).
Pengalaman istimewa dan sangat mengesankan, dan terimakasih buat teman saya, Michael.... -sayang saya terlahir di dunia lebih lambat dari kamu- be smart!





