
Bagi maut kita cuma jelaga.
Di peti yang telah tertutup rapat dalam paket hari raya.
Usang kita memenuhi kepala masing-masing yang membusuk.
Pada nafas kita yang tak kepalang bernafsu.
Sebagaian berkedok menjadi pemeran panggung.
Yang diguyur tepuk tangan saat cerita usai.
Sebagian melakonkan pertunjukan terakhir.
Sebelum layar dilipat untuk terakhir kali.
Bisakah seseorang menari di gedung agung dengan bangku penonton kosong?
Ada raksasa dalam tubuh kerempeng yang selalu lapar.
Ada mimpi siang bolong yang dianyam untuk membangun jembatan ke surga.
Sebagian tertawa di puncak kasmaran.
Sebagian memilu dalam kabut kesunyian.
Perih yang ditanam dalam pedalaman jiwa telah berbuah duri.
Menjadi Butha yang siap meremuk redam kerumun kosong kota melompong.
Sebagian besar menjadi penonton suatu panggung.
Yang menjenuhkan dan melelahkan.
Bertepuk cebelah tangan.
Tertawa namun pincang
Menangis hanya sekedar melukis dalam sepiring air mata.
Dan lebih banyak membincangkan kepedihan dan luka cerita.
Suatu kisah di tempat lain.
Diingat untuk dilupakan.
Suatu kisah di tempat lain.
Diingat untuk dilupakan.
Dunia tidak akan pernah berubah.
Dan tidak akan mengubah apapun.
Di kedalaman hati juga dipermukaan kulit.




