Di dunia
yang ‘
nyaris’
sempurna
Anak gadis
baru bangun dari tepar di
sebuah kamar, kamar yang ia tak
mengerti..
Seorang ibu bersembunyi
ketakutan di balik sofa sebuah ruang, karena melihat
sesosok lelaki.
Dalam ruang yang gelap
dan pengap, orang-orang itu tak henti-henti menggerakkan tangan hampir sepuluh jam.
Lelaki menengok
dari jendela mobilnya melihat sosok dekin sambil
tersipu sinis.
Lelaki sehabis keluar
masjid, marah-marak karena sepasang sepatunya hilang.
Di dunia
yang ‘nyaris’ sempurna
Sosok lelaki
atletis six peak, gagah tinggi, baru keluar
dari gym, menjawab panggilan hpnya, “yayank, belikan adik yang warna pink yach..”
Kutu buku membuang selembar catatannya yang tidak dipakai tapi
tidak di tempat sampah.
Seniman gondrong itu, memaki perempuan itu, dan perempuan
yang juga seniman, memaki-maki balik seniman gondrong itu.
Kampanye seorang politikus
berperut buncit, dihentikan sementara karena hujan, dan
dilanjutkan lagi saat seorang lelaki
kurus telah memayunginya sampai acara selesai, dan hujan belum
selesai.
Para demonstran
mengangkat-angkat baliho tuntutan, setelah itu pulang dengan
sekotak kue, dan motor yang menggelegar dengan asap
menghitam.
Di dunia yang “nyaris’
sempurna.
Sepasang tua gembel tinggal di kotak
kardus selama tiga puluh tahun,
bukan karena suami istri, dan
bukan saudara, dua-duaya menghabiskan satu pak rokok
har ini.
Seseorang berteriak-teriak
tentang koropsi di negara-negara dunia ke-tiga siang
ini, dan malamnya ia
menghabiskan waktu di kelab malam
dan hotel habis lima ribu
dolar, sementara salju turun dan
dia masih kesepian.
Pak haji pulang dari mekah
untuk ke tiga kalinya, dan
memanggil anaknya untuk menagih hutang
tetangga-tetangganya yang menunggak.
Seorang bayi telah lahir dengan sehat
dan ibunya meninggalkannya begitu saja.
Anak-anak bermain ular tangga tapi dadunya
hilang.
Di dunia yang “nyaris
sempurna.
Burung-burung yang dulu bernyanyi di dahan itu
telah hilang atau dikurung oleh
para “pencinta burung”.
Seseorang telah banyak berkorban demi cintanya pada mu,
tapi saying engkau tidak pernah bisa
mencintainya.
Hujan telah turun di musim kemarau
dan kekeringan telah dating di musim hujan.
Di dunia yang “nyaris”
sempurna.
Pada jalan-jalan yang telah
kita lalui.
Pada harapan yang ingin
kita lewati.
Pada semua
yang telah pergi, dan yang sedang menemani dan yang akan dating untuk
kita.
Pada suatu
akhir yang disebut kematian
Pada sekotak abu atau pusara di
guntukan tanah yang masih basah, pada
bunga kambojanya yang berguguran.
Pada yang “nyaris” sempurna
yang lalu berakhir.
Pada kematian
yang tidak akan pernah sempurna.