Senin, 29 November 2010

21

Posted by MOVAZ On 21:58

abad 21

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa seseorang ilmuwan besar mengatakan bahwa abad ini adalah abad lingkungan hidup, sama seperti yang saya dengar dua tahun lalu bahwa abad 21 adalah abad kembalinya agama-agama, ada yang bilang abad biologi, jauh-jauh hari saya dengar bahwa abad 21 adalah abad biorobot, humanoid, ada juga yang mengatakan abad 21 adalah abad leburnya batas-batas negara menjadi satuan besar yang saling berhubungan dalam kampung dunia. Ilmuan-ilmuan besar abad lampau telah banyak meramalkan, dari yang baik-baik tadi yang saya sebutkan hingga yang 'terburuk' : kepunahan terakhir agama-agama, kepunahan negara-negara, kepunahan tradisionalisme, kepunahan desa-desa, kepunahan hutan dunia, dan kepunahan umat manusia.


Setiap orang bisa meramalkan apapun, selama hari H nya masih jauh, setiap orang bisa membikin film apapun, selama hari H nya masih jauh, tapi hanya sedikit orang yang bisa meramalkan dengan tepat, selebihnya hanya menjadi dongeng dan mitos. Memang kita telah merasakan bagaimana, sesuatu yang duapuluh tahun yang lampau tidak terbayangkan kini hadir dan nampak: 1. Informasi yang tidak lagi memiliki batas, 2. Kendaraan murah, 3. Pasar global, 4. Rusaknya lingkungan hidup (hutan kita, sungai kita, udara kita), 5. (proses ) Demokrasi ! (khususnya di Indonesia).

Kita menjadi saksi sejarah kecendrungan masyarakat yang sepuluh tahun yang lalu jarang memiliki HP, dan sekarang nyaris semua warga memiliki nomer pribadi masing-masing, kita menjadi saksi kendaraan-kendaraan Jepang dan China, serta seabrek alat-alat elektronik mereka yang bersaing dalam pasar domestik kita untuk beradu antara kualitas dan harga, kita telah menjadi saksi bisu hilangnya hutan tropis secara cepat di Kalimantan, dan di halaman kita masing-masing: hilangnya burung-burung tertentu, reptil-reptil tertentu, mamalia liar tertentu, pohon-pohon, tanaman obat, dan tanaman pangan alternatif yang langka dikampung halaman kita, di halaman dan dibelakang rumah kita.

Manusia telah mengambil haknya sebagai makhluk yang berakal, pasar bebas kita telah mengambil peran luas terhadap kompetisi yang tidak dibatasi hierarki, kompetisi tunggal kita telah memusnahkan sebagian handmade dan pengusaha kecil dikampung halaman, walau sedikit dari mereka bisa bertahan di lingkaran global dengan kedewasaan dan strategi yang diajarkan dari pengalaman modern. Tapi kenyataannya walau Kasongan Jogja masih buka dan ramai dengan gerabah-gerabahnya, tapi tidak dengan Jatisari, Blitar yang dulu terkenal pula dengan gerabah dan coeknya, anak-anak perajinnya tersedot di pasar pekerja murahan global, menyebar ke penjuru dunia ke-3 yang sedang getol membangun, sementara Kasongan beruntung berada di lokasi dimana pariwisata global masuk di dalamnya, tapi Jatisari tidak seberuntung itu, berada di pinggir dunia yang merasakan perubahan sebagai suatu kereta patas yang meninggalkannya, lalu berusaha menyusulnya kebirit-birit.

Di kampung halaman saya Blitar, burung bangkai, alap-alap telah yang biasanya menghiasi langit, terkadang satu, dua atau tiga ekor sekarang telah lenyap, burung emprit yang selalu bermigrasi di musim kemarau di atas pucuk-pucuk kelapa di samping rumah saya kini tak terlihat lagi riuh ocehannya, burung gereja diatap rumah kami menghilang entah kemana, duru sering kami jumpai bunglon, dan biawak serta kadang dan tokek, sekarang jarang sekali nampak, ada rombongan burung kontol yang setiap sore melintas di langit-langit rumah untuk pulang ke sarangnya, kini langit itu telah kosong, dahulu banyak anjing dan musang liar, sekarang musnah entah di mana. Kita manusia secara perlahan dan pasti telah memusnahkan itu semua, yang sebenarnya memiliki nilai (valuasi) yang tidak terbayangkan harganya. Berapa harga kicauan burung diatap rumah dan rantind dahan di halaman rumah kita? berapa harga bunglon yang beterbangan diantara dahan-dahan pohon?, berapa harga atraksi udara burung kontol di langit rumah kita setiap sore? Dan seolah-olah kita bisa tetap hidup tanpa itu semua, kita bahkan secara tidak sengaja merasa akan lebih hidup tanpa semua itu di masa kini, alat-alat rumahtangga kita, internet, gitged, mobil, rumah gaya minimalis, gaya hidup dari café ke café, hotel ke hotel, belanja di Carefour, nightclub  dan bla..bla, adalah pencapaian nyaris sempurna bagi manusia jaman ini, rasanya begitulah.

Orang cenderung menghargai yang bisa mereka jangkau dan pikirkan dalam waktu sesaat, kebutuhan yang pendek dan singkat, kerusakan berlahan yang tidak mereka rasakan tidak mengguncang hati mereka, menurunan kualitas dan pendangkalan air tanah, memanasnya suhu bumi, hilangnya kicauan burung berlahan-lahan tidaklah segamang apabila AC di kamar tidur atau kantor mati, air dari kran berhenti, atau jalan raya yang berlubang. Memang sebagian bilang kalau masalah lingkungan sudah ada yang bertanggungjawab, tapi gaya hidup kita, dan cara memandang dunia ini secara salah telah berakibat pada degradesi yang semakin parah.

Kenyataan telah menjadi mitos, dan sekian banyak mitos telah dihidupkan menjadi kenyataan, beraneka gaya hidup lahir tidak hanya dari kompromi dagang kita, tapi membaur dalam nilai-nilai kita, dan kepentingan politik kita, perdagangan serta merta menemukan titik tawar dengan degalanya selama celah kesempatan itu masih ada, mitos tentang kecantikan, mitos tentang kejantanan, mitos tentang keshalihan, mitos tentang kemakmuran, mitos tentang kesehatan, mitos yang mengarahkan mana yang enak dan mana yang selera rendahan, mana yang modern dan mana yang kampungan. Orang-orang yang diciptakan tanpa memiliki alat untuk mengkritik apapun nilai-nilai yang dibentuk oleh media kita dan kekuasaan atau bahkan kompromi dengan pemimpin-pemimpin agama akan berakhir dan tersedot pada pusaran pasar yang riuh.

Kesuksesan akan lebih sempurna bila datang dari kebodohan kita untuktidak bertanya lagi, husss diamlah, tutup telinga kita untuk hal-hal lain selain apa yang sekarang ada di hadapan kita, tidak usah tanya darimana polister dan catton pada ranjang kita, tidak usah tanya harga upah dan usia buruh pada karpet yang menghiasi lantai kita, tidak usah tanya darimana besi molek, baja dan tembaga pada mobil kita, bagaimana bensin dibuat, dan bla bla bla, kita akan kehilangan kegagahan kita bila harus mengurus, siapa yang memetik biji kopi pada secangkir kopi yang sedang kita minum.

Selamat jalan masa lalu, mungkin dunia akan lebih baik bila bencana itu sering datang di waktu dan tempat yang tidak terduga dan tidak tepat. Semoga saja tidak.

Jumat, 26 November 2010

Korea Utara Vs Korea Selatan, Komunis-Konservativ Vs Liberal-Kapitas, dan seonggok DIALOG WARAS

Posted by MOVAZ On 03:07

Korea Utara Vs Korea Selatan, Komunis-Konservativ Vs Liberal-Kapitalis

Hari-hari ini, semenanjung Korea menjadi pemberitaan hangat di media Internasional, Korea Utara telah memukul gong pertunjukan, menabuh genderang perang, dan dunia berharap cemas, akan kondisi paling buruk yang bakal terjadi, nun bila perang itu serius ditanggapi oleh kedua Korea, ini akan menandakan krisis baru di Asia Timur, krisis baru ekonomi Asia, krisis baru Asia Tenggara, krisis baru dunia. Oleh karenanya, Jepang dan China berupaya keras agar kemungkinan terburuk itu tidak pernah terjadi, tapi siapa yang bakal tahu tentang hari esok?


Semua tahu masalah Korea adalah sisa perang dingin yang seharusnya sudah berakhir, tapi kebekuan blok timur dan blok barat, yang menandakan dunia pertama dan kedua pada kenyataannya tak semudah itu hilang disapu sejarah. Patung Lenin memang telah tumbang, dan tembok Berlin telah runtuh, tapi tidak dengan Korea, tidak dengan Kuba, dan secara garis besar Eropa Timur (exs Unisoviet-Ortodok Yunani-Ortodok Russia) dengan Eropa Barat (Katolik Roma-Protestan) memang masih menyisakan  jarak, China (neo-komunis) dengan Jepang (Kapitalis-Liberal) juga merupakan dua pusat Asia Pasifik yang berlomba untuk saling mempengaruhi di kawasan sekitarnya

Jangankan dengan kasus Komunis, Perang Salib yang sudah hampir seribu tahun berlalu saja, masih sangat membekas bagi dunia ini, prasangka tentang dunia Islam dan dunia Barat (Katolik-Protestan) bahkan masih menyusup ke dalam keyakinan masing-masing secara tersembunyi dan tidak disadari, Turki walau nyatanya sudah sangat terbaratkan dengan sekulerisasinya masih ditolak penuh keraguan kala menginginkan masuk dalam Uni Eropa, bahkan agama secara tidak langsung telah memecah Yugoslovakia menjadi negara kecil, Slovenia-Kroasia (Katolik), Serbia (Ortodok), Bosnia-Kosovo-Albania (Muslim), walau hampir seratus tahun Yugoslovakia sangat kiri dan sangat sekuler. Sedikit saja namun mengena pada isu lama ini, maka akan menuai badai besar kelak pada suatu harin (lepas dari maslaha muatan politik di dalamnya).

Kembali ke Korea, tidak seperti rezim Uni Soviet yang diruntuhkan oleh Glasnost Perestroika,  yang justru dikumandangkan oleh dedengkot-dedengkotnya, karena mengakui ketertinggalan Uni Soviet dari rivalnya Eropa Barat. Korea Utara tidak memiliki sejarah ‘kegagalan ideologi’, hal sama terjadi pula di China, Vietnam, Laos, Syria, dan Kuba, ditambah lagi ideologi bukanlah suatu system organis dimana kala kepalanya tertembak (di Moscow) maka bagian tubuh yang lain akan roboh,  tapi ia adalah system amoeba yang akan beranak pinak walaupun 99 % dari jumlah keseluruhan telah dimusnahkan, kenyataannya memang tidak ada pusat, dan komunis tidak akan pernah mati, walau ideologynya diberangus, karena ia tidak hanya menyusup di otak waras manusia, ia dan semua ideology lain bahkan mampu menembus hingga dikedalaman hati sanubari pemeluknya.

Jadi tidak ada hubungannya rasionalitas dengan ideology (dalam batasan dan catatan tertentu), bila ideology (tertutup ini) telah melembaga dengan sangat kuat (seperti halnya agama dan keyakinan) maka satu-satunya yang bisa menghancurkannya adalah melanjutkan debat mulut dengan perang besar sesungguhnya, rezim memang bisa digantikan, namun bila ideology berwujud dan bermetamorfosa menjadi keyakinan, maka sulit untuk bisa mengubahnya kecuali dengan mencuci otaknya. Komunis bukan lagi sekedar pemikiran untuk memusnahkan kelas, dan meruntuhkan feodalisme-borjuis seperti kelahirannya di masa Lenin dan Mao, karena sisi praktis ini telah hilang dan berganti dengan sisi emosional, sisi yang sangat privat, ini antara hargadiri dan bagian dari identitas personal, sejajar dengan agama dan keyakinan.

Apakah situasi ini benar-benar telah menjadi gambaran umum antara Komunis Korea Utara dan Kapitalis Korea Selatan ? orang Korea Selatan sebenarnya tidak berideologi karenanya mereka disebut berideologi Liberal, semua yang tidak berideologi dan cair maka bisa dikatan liberal. Dalam agama misalnya, sekaku apapun wujud agama, ia akan menyisakan celah dalam kebekuannya, ia akan menyisakan dialog dan kerjasama yang saling menguntungkan antar perbedaan, munculah Islam Liberal atau Kristen Liberal, Islam Inklusif atau Kristen Inklusif, dalam kasus China juga terjadi, komunis tapi relative liberal dalam beberapa aspek terutama ekonomi, dalam hal ini komunis mampu berdialog dengan situasi ekonomi, hal serupa terjadi di Vietnam.

Bila situasi Korea berlanjut menjadi peperangan, ini akan menambah sejarah panjang perang saudara di Dunia hanya karena Ideology-Keyakinan, Dulu ada perang sipil atau saudara: Amerika Serikat (utara-selatan), Vietnam (utara-selatan), Yaman (timur-barat), Indonesia (komunis dengan nasionalis-islamis), Latin, India (muslim Pakistan-Banlades dengan Hindu India), China-Taiwan (nasionalis-Kominis) dan lain-lain. Perang-perang itu ada yang berakhir dengan perdamaian, ada yang berakhir dengan kemenangan salah satu pihak, ada yang belum berakhir, ada yang menyisakan luka besar. Korea adalah salah satu bagian yang belum berakhir, belum ada yang menjadi pemenang, dan masih pula meninggalkan luka lama. Bila memang dialog itu tidak terjadi, dialog yang tentu saja sangat dipengaruhi pula oleh kepentingan – kepentingan negara lain seperti Jepang, China dan juga dunia, ini akan menjadi uji pembelajaran akan perbedaan ideology yang masih menjadi masalah yang bisa menghancurkan dua saudara yang memiliki tanah yang sama selama  ribuan  tahun yang lalu. Suatu contoh modern dimana persaudaraan darah menjadi tak berarti sama sekali hanya karena perbedaan Ideology dan keyakinan, hal sebenarnya yang masih lumrah terjadi dalam kehidupan  keluarga di Indonesia dan bahkan di dunia semacam Amerika. Dan kembali korban sesungguhnya adalah rakyat,manusia-manusia biasa, anak-anak akan menanggung beban sejarah dan terutama dendam di masa datang. Adalah sebuah ironi tapi inilah kenyataannya di dunia yang untuk berhubungan dimanapun tinggal memencet tombol.

Rabu, 24 November 2010

Gay-us, Kapitalisme dan sebuah loncatan (i)

Posted by MOVAZ On 01:38

Catatan ini saya tulis berawal dari ketertarikan saya dengan sebuah posting teman blog saya tentang kasus Gayus,  yang disuap wajib pajak agar pajak yang dibayarkan si wajib pajak lebih sedikit dari yang seharusnya dibayarkan, di negara yang bernama Indonesia, yang orang-orangnya ketika melihat penyelewengan integritas moral dan hukum seperti kasus korupsi, kolusi dan nepotisme cuma (sering kali atau selalu ) diam seribu bahasa, dan menganggapnya 'selazimnya' dan 'sewajarnya'. Orang Indonesia yang tipikalnya selalu bermain di permukaan dan kulitnya saja dalam menegakkan profesionalitas,seperti mengtahui ada gulma yang mengganggunya, mereka mencaci maki keberadaannya, tapi memetik buah gulma namun tidak mencabut dari akarnya, penegakan integritas hanya seperti membentuk bonsai dari semak gulma yang mewabah, menyingkirkan yang kroco-kroco, yang macamGay(us)-Gay(us).

Kebejatan yang diceritakan di media hanya semacam puncak gunung es, dan sebuah kapal luar biasa besar yang bernama Indonesia, dengan para nahkoda dan kelasi kelasinya merasa gunung es itu masih kecil, "dan perahu kita bisa menerjangnya!!", dan "sekarang kita telah menerjangnya!!", lalu nyatanya berlahan kita memang akan tenggelam, atau memang dari dulu, dari Indonesia merdeka, kita telah menerjang puncak gunung es itu, ‘nyantol’ kapal besar kita tapi tidak menenggelamkannya, lalu orang bodoh dan lemah masih tetep dikapal, dan yang merasa ‘pintar’ dan memang punya kemampuan financial, mencari bala penyelamatan, sekoci-sekoci kecil, yang akan membawa mereka pergi ke kapal lain, yang menghargai keberadaan mereka dan potensi mereka, yang membuat mereka jauh lebih hidup dari sekedar hidup di kapal besar yang ‘kecantol’.

Memang analogi sederhana saya teramat menyesatkat, Indonesia bukanlah kapal, Indonesia dibentuk oleh sejarahnya uniknya yang panjang, bagi sebagian orang, ini bukan sekedar alat atau sarana untuk mengantarkan kita dari satu keadaan lama ke dunia baru yang lebih menjanjikan, atau tujuan serta cita-cita baru yang lebih sejahtera dan kaya, masih ada yang berfikir ini adalah rumah, bukan sekedar ‘house’ tetapi ‘home’, bukan sekedar ‘griya’ tapi ‘pesanggrahan’, bukan sekedar ‘tanah air’ tapi "tumpah darah" orang-orang semacam itu ada, tapi mungkin jumlahnya hanya sekian persen hitungan jari dari setiap kelompok populasi.

Karena (Indonesia)  ini bukan sekedar kapal yang terombang-ambing di lautan, tapi sebuah rumah, kediaman, entitas yang ada sejak jaman lampau, maka ia penuh dengan kenangan, sejarah, tradisi, nilai-nilai, dan tentunya harapan. Entitas wilayah yang hanya berkembang di rumah yang sangat besar ini, multi etnis tapi tidak terpecah belah seperti Yugoslovakia atau Uni Soviet atau dipaksakan seperti China, multi bahasa tapi tidak menjadi hambatan tajam yang sensitif seperti di India atau Belgia, karena bahasa Melayu dagang kita telah dikukuhkan sebagai bahasa bangsa ini, multi agama tapi tidak terkelompokkan seperti Libanon, pecahan Serbia atau Irlandia, multi kelas, bahwa karena distribusi modal dan kesempatan pendidikan belum merata (sama sekali) maka kesenjangan kelas menjadi unik bagi Indonesia, sangat indah rasanya meihat dari griya tawang (puncak menara), gedung-gedung menjulang dihiasi oleh slum dog yang mengitarinya, orang-orang skandinavia pasti sangat suka dengan wisata kemiskinan, mereka akan bilang “oooo ternyata ada ya…. baru sekarang saya percaya”, Indonesia kaya akan keragaman biodeversiti, dari tingkatan gen, spesies, komunitas, habitat hingga ekosistem, walau kita hanya akan menunggu waktu akhir bagi musnahnya semua keragaman ini.

Ya, semenjak  krisis 98, reformasi dianggap bak ‘kotak pandora’ yang bisa mengabulkan semua permintaan dan harapan yang terbaik bagi kita, dan kenyataanya, betul kata bung R(h)oma Irama, cuma euforia (euphoria), sampai saat ini kita warga masyarakat biasa ini sudah terbiasa dengan permainan euphoria, ‘seolah-olah’ saja  harapan dan unek-unek kita telah menjadi nyata, bebas dari KKN, punya integritas dan profesionalisme, demokrasi yang egaliter dan jauh dari kroni, dan oligarki, apalagi anarki, tapi nyatanya….. Huffffffffffffff….. (nafas puuuanjuuuuanggg) ini benar-benar panggung sandiwara murahan, seperti (maaf) sinetron-sinetron kita, kita haus seperti penduduk kota eufaria, kita menjumpai sesuatu yang diduga air segar, lalu kita tertawa kegirangan luar biasa, tapi kita tidak mendapatkan ‘air’nya karena nyatanya hanya ‘fatamurgana’, sepertinya kita cuma senang sesaat di gedung panggung pertunjukan, Gong dipukul, Bonang ditabuh, seruling ditiup, lalu muncul bermacam-macam lakon, runtuhnya ‘Soeharto’, ‘Demokrasi’ Indonesia, ‘rakyat sipil’  menjadi pemimpin, ‘ulama’ menjadi pemimpin, runtuhnya ‘diktator’ ditangan ‘dewan yang terhormat’, pemimpin dari ‘nasionalis’, reformasi kepolisian, pencabutan dwi fungsi TNI, reformasi birokrasi, 'tranparansi' anggaran dan proyek-proyek, MK, raskin (?), reformasi birokrasi, subsidi pendidikan, transparansi pegawai negri, media 'bebas', reformasi agrarian, perlindungan buruh, pembangunan "berkelanjutan", ‘jaminan kebhenikaan dan persaman warga negara’ dan lain-lain. Pertunjukan itu tidak usai-uasai karena-nya kita keluar dari gedung megah itu, dan begitu keluar kita kembali ke dalam kenyataan yang bercampur aduk antara kebosanan, kelucuan, kengerian, dan keragu-raguan serta ketakutan,  akhirnya kotak Pandora itu hanya menyediakan itu semua, walau kita berusaha mengocoknya sampai seharian. Jadi siapa yang disalahkan? dan apa perlu mencari kesalahan ?

Waktu saya mahasiswa baru, senior saya dengan bersemangat mengumpat-umpat musuh dari negara ini, dia menyebutnya seonggok ‘pemikiran kapitalisme’,  dia melihat sejarah manusia salah menentukan pilihannya, maka yang muncul adalah kroni minoritas yang berpusat di barat, yang membiarkan dunia ke tiga dijajah dan dieksploitasi besar-besaran demi kedamaian dan stabilitas sosial ekonomi negeri-negeri maju jauh di sana, narasi semacam itu sangat menjiwai dan mendidihkan jiwa muda saya, ditambah kenyataan bahwa saya adalah rakyat kebanyakan yang merindukan sesosok kultus yang berani mendobrak ketololan pemimpin bangsanya. Lama-lama saya sadari, tidak semua yang dibicarakannya dan ide-ide yang dilahirkannya dijalankan dalam kehidupan sehari-hari nya (senior saya tadi), misal: yang lain berjalan  dan pengguna angkutan dia pakai motor, yang lain jomblo dia gonta ganti pasangan, yang lain makan diangkringan dia sering di warung padang, yang lain berbicara dengan teman-temannya, dia bicara dengan petinggi-petingginya, yang lain ingin membuka dialog dengan ide-ide sebrang, dia malah membangun tembok pembatas, agar idenya tetap lestari, tidak ada dialog, ide adalah  monolog panggung, titik!!.

Maka saya menyebrang, karena saya tahu mereka itu, dan mereka tidak akan memenuhi apa yang mereka bicarakan, kelak mereka akan menjadi pemimpin, dan mereka hanya akan memenuhi panggung dengan lakon lama yang tidak pernah usia. Karenanya saya  tergugah mempelajari kapitalisme, dari sudut pandang kapitalis, dari cara Adam Smith dan Keynes memulainya dengan ilmu kartesius, dan kapitalis adalah jawaban mentah dari apa yang telah ditemukan James Watt, mesin uap. Mesin uap yang membuat produksi lebih cepat, mesin uap yang meringkas   jumlah tenaga kerja, mesin uap yang menciptakan jumlah hasil yang lebih banyak dan 'sempurna', mesin uap yang membawa hasil produksi ke pasar yang lebih luas, mesin uap yang mempengaruhi dinamika dan ritme kerja melalui telegram dan kereta api, mesin uap yang mengembangkan tekhnologi lain sehingga manusia dimudahkan karenanya melalui mesin cetak buku, alkitab dan komposisi musik. Bagi saya yang berfikiran positif, mesin ini diciptakan untuk lebih memudahkan dan membantu penciptanya, dan bukan malah sebagai bentuk kecemasan akan kehilangan pekerjaan, kehilangan pasar, kehilangan kreatifitas, kehilangan identitas dan lain-lain.


Memang melihat kapitalis seperti dari yang saya tulis sangat lah 'condong', kapitalisme sendiri juga merupakan sesuatu yang sebenarnya tidaklah mutlak bisa dikenakan seperti jenis kelamin (yang ini saja pun juga masih saja diprotes), China menganggap dirinya komunis, namun pada perkembangannya (ekonominya) sangat kapitalis, Kuba menyebut dirinya komunis tapi kenyataannya dia sangat manorkis, Perancis dan Inggris malah kini condong ke kiri, mengikuti Amerika latin, Skandinavia tidak menyebutkan dirinya sosialis, tapi dalam hal pajak tinggi sebagaimana perancis, ia malah sangat sosialis. Arab Saudi menyebut dirinya Islam, tidak sosialis seperti Suriah atau liberal seperti Israel, tapi dia secara ekonomi terkapitaliskan. Bahkan bisa jadi sosialis di suatu negara bisa dianggap sangat liberal di negara lain. Dari sini kita sangat paham, ideology bersifat sangat-sangat cair. Kapitalisme (sering dipersalahkan) dipandang sebagai musuh, tapi seperti dua sisi mata uang, bila dampak negative kapitalisme itu disepakati, “biasanya" kapitalisme tetap membawa ekornya, ekor yang mengubah keadaan masa lampau seperti memiliki jarak panjang dengan masa kini dan masa datang. Jadi parameter apa yang digunakan untuk menilai suatu bangsa kapitalis atau sosialis dan lainnya.
  1. Kapitalisme yang “baik” mementingkan profesionalitas kerja dan bukan melalui system perkoncoan atau relasi atas dasar suku, ras, agama dan lain-lain. Kompetisi kapitalis mementingkan keahlian dan bukan lamanya kita bekerja, Silicon Valleys membawa kita pada dunia dimana ide, kepintaran dan keahlian lebih dihargai daripada kesetiaan dan pengabdian, hal ini jauh lebih baik dari sekedar “karena kamu lebih tua di sini maka kamu yang lebih dihormati”, mitos perkoncoan atau nepotisme akan hancur dalam kapitalisme yang sehat.
  2. Kapitalisme yang “baik” mengutamakan transparansi, atas arus modal dan audit keuangan, dalam kapitalisme tidak ada atau minim label “rahasia negara” seperti dokumen proyek-proyek dan anggaran belanja negara kita di masa lalu, transparansi mengajak masyarakat untuk terlibat erat.
  3. Kapitalisme yang “baik” melihat pasar sebagai tantangan diversitas, toh produk McD di Indonesia tidaklah sama dengan di India yang cenderung vegan atau di Arab yang cenderung daging domba, kapitalisme memang membawa nilai “coca cola” tapi dia telah menciptakan sprit dan fanta (toh McD dan coca cola hanya menguasai sedikit pasar dari semua minuman dan rumah makan di Indonesia.
  4. Kapitalisme merasionalisasikan tenaga kerja, itulah pekerjaan yang terbaik yang bisa dilakukan manusia daripada bekerja memakan gaji buta dengan menggelembungkan jumlah tenaga yang berarti melecehkan sebagian tenaga manusia. Di system kapitalis tidak ada kejadian ngobrol lama di kantin atau di lobi, tidak ada pembengkaan pegawai yang dipaksakan seperti di lembaga pemerindahan yang sering membikin badan-badan atau lembaga tapi hasilnya nol. Kapitalisme juga menyediakan serikat bekerja bahkan memberikan kesempatan memiliki saham perusahaan seperti di negara skandinavia.
  5. Kapitalis membawa kepentingan individu (khusus), dan kebutuhan-kebutuhan (khusus) nya, walau sedikit kurang mempengaruhi komunitas, namun kebutuhan personal adalah bagian dari pencapaian ditahap sosial, ini mengapa deversitas sangat ditekankan, kita bisa memilih banyak merek celana dalam di masa sekarang bandingkan dengan jumlah merek dagang di masa lalu, juga makan direstoran negara manapun bila mengunjungi Kemang, tapi ini tidak berarti makanan Gudeg dan Jengkol Betawi tidak bisa dibawa di restoran, kapitalisme sesungguhnya ingin sekali berkompetisi secara sehat.
  6. Dll

Memang orang cenderung takut bila suatu BUMN di privatisasi, tapi badan milik pemerintahpun belum tentu menjamin kesejahteraan masyarakat bila tidak dilatih berkompetisi dalam dunia yang menghendaki kebebasan kompetisi dan bukan proteksi, lihatlah Pertamina, Jawatan kereta api, atau PLN, yang sampai saat ini sangat jarang inovasi. Dahulu kala  ada TVRI yang seolah akan selalu jaya, kini kita disuguhkan banyak pilihan program, dari yang serius semacam Metro Tv atau Tv One sampai yang “gak  jelas” seperti TPI (MNC TV) atau Indosiar, inilah hasil nyata kapitalisme, tidak terhitung pula tv kabel yang memuat aktivitas komunitas, Tv Gereja, Tv Islam, Tv Bali, Tv Dayak, Tv Bahasa Jawatimuran (J-Tv), yang akhirnya menguatkan identitas nasional itu sendiri. Inilah  yang disebut budaya korparasi sejati, dimana pabrik mengikuti selera konsumen tanpa diatur oleh mitos ketakutan melalui Proteksi-Regulasi.

Jadi saya merasa condong pada kapitalisme “sehat”, kapitalisme yang tidak setengah-setengah, dimana tidak sekedar berlomba-lomba mengundang  investasi asing yang lebih longgar, tapi tidak diikuti nilai-nilai kompetisi yang lebih transparan dan membuka peluang bagi siapa saja. Intinya kapitalisme masihlah yang terbaik dari system yang semuanya buruk, memang tidak ada yang membahagiakan semuanya, tapi lebih banyak orang yang bahagia  dalam kapitalisme yang sehat.

Kuncinya adalah, transparansi dan kompetisi semua bidang yang yang melibatkan lebih banyak orang, mengurangi dan meniadakan jaringan perkoncoan, dan mengundang setiap orang untuk berkompetisi secara wajar sebagai hak mutlak.

Jadi fenomena mbak Gay-us, adalah : hasil karya “Kapitalisme Semu” yang bigbos-bigbosnya cuma menerima datangnya investasi hasil kongkalikong pengusaha dan pemerintahan bobrok, yang tidak transparat, tidak auditable dan menghalalkan ketidak adilan pasar. Kita tahu sendiri usaha-usaha kelas merah yang jaringannya hingga mampu masuk menjadi bagian dari lambang nasionalisme bangsa ini, dari pemerintah hingga kepengadilan, perwakilan rakya, kepolisian dan lain-lain. Tapi dibalik kelamnya mendung pasti masih ada celah bagi mentari pagi.... semoga




Minggu, 21 November 2010

22 11

Posted by MOVAZ On 21:27

angka yang sering saya ingat, twin, simple, renyah. akhirnya saya memasuki masa yang seharusnya sangat matang, seharusnya siap secara finansial, moral dan bathin memasuki jenjang pernikahan, suatu masa dimana yang diperjuangkan tidak sekedar aku, tetapi kita dan juga kami. kenyataannya itu memang cuma seharusnya, dan seharusnya pada kenyataanya tidak seperti itu.

beberapa orang memang telah menikah jauh sebelum umur ini tiba, beberapa kawan sudah memiliki 2 atau bahkan 2 lebih setengah buah hati, selebihnya kenalan atau kawan saya yang lain bahkan belum juga menikah di umur mendekati tiga puluh, tigapuluh lima, atau mendekati empat puluh, tapi memang 'umumnya' umur saya hari ini adalah sering kali menjadi masa-masa awal rumah tangga.

saya memang tertinggal oleh 'gerbong pada umumnya', dalam banyak hal bahkan mendekati memalukan, saya sangat menyadari itu, terutama dalam finansial, saya seperti bangunan yang terlihat reot dan hampir runtuh. dan karena telah menjadi kebiasaan, maka saya tidak merasakan bangunan yang saya bangun itu 'nyaris' runtuh, dan mungkin akan menimpa saya suatu hari nanti. dalam hal kesiapan bathin, yang ini masalah yang lain juga, bukannya saya memfokuskan pada kehidupan yang langgeng dan berwawasan ke depan, tapi saya justru merputar pada masalah-masalah nilai, dan terlalu mengawang-awang, saya terikat erat pada perdebatan, yang ujung-ujungnya memang tidak berujung dan bermuara. dan hari ini, hal-hal itu 'seharus'nya sudah selesai, tapi 'seharusnya' seperti tadi saya bilang, menjadi tidak harus dalam kenyataanya.

ketika saya berkunjung di teman perempuan terdekat saya, ada seorang suami dan bayinya yang mungil, saya sempat berbisik padanya," kok mungkin?", perempuan yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri itu menjawab, "ya.. semua kalau mau belajar, ya mungkin". jawabannya memang sederhana, tapi entah itu solusi atau mungkin awan yang melintas lalu lalang saja, saya bingung harus saya 'iya' kan atau 'tidak'kan, saya cuma tersenyum waktu itu.

temen dekat perempuan saya itu sebelum dia memutuskan menikah, saya tahu betul kalibernya, tidak secara privasi, tapi secara tingkah laku dan pikiran liarnya, hobi manjat, gak canggung sama cowok manapun, dan lain-lain yang biasa dilakukan cowok tapi tak biasa dijalani betina, tapi toh diumurnya waktu itu yang sepantaran saya sekarang ini, akhirnya membuat ia menyerah, lari ke institusi negara dan mengajukan kawin, dan kemarin bayinya lucu sekali, saya terharu, hampir menangis, sempat saya berfikir, punya bayi tapi tidak ribet-ribet harus menikah, ah tapi saya tidak seberani itu, saya tahu diri lah.

lalu, apa memang dalam waktu 'dekat' saya harus menikah ?, tidak ada  keharusan, tapi kondisi sosial semakin menekan, teman-teman esde, es em pe, es em a, temen kuliah, nyaris mengirimi undangan pernikahan setiap bulan, memang saya dalam hati kecil tidak terlalu tertekan, sama sekali, yang menekan saya justru omongan orang, saudara dekat saya juga sering mempertanyakan, "lalu mana perempuan mu?" dan saya biasanya cuma tersenyum, pada saat seperti itu, anehnya saya seperti ingin ditelan mentah-mentah bumi.

rashul bilang, pernikahan itu adalah mengikuti sunnahnya, tapi tidak selalu wajib bagi setiap orang, tergantung pribadi masing-masing, wajib bila memang sudah siap dan tak bisa menahan, sunnah bila memang dah siap, boleh bila ketentuan syarat rukunnya sudah terpenuhi, bahkan makruh bila belum siap secara lahir-bathin, atau haram bila memang dengan pernikahan itu malah menimbulkan kerusakan. jadi apakah hukumnya bagi saya menikah.
lain halnya dengan satu temen lainnya (karenanya beruntung, saya memiliki banyak pembanding), dia berumur 35 tahun, seorang dokter yang sedang meneruskan s2 nya satu kampus dengan saya, tapi anehnya dia masih suka pacaran, seperti anak-anak es em a juga, yang masih jatuh cinta dengan tangis menangis (hufff). satu lagi, satu temen saya lagi yang lain bahkan merasa tidak akan menikah, dan mending hidup sendiri dengan anjing-anjingnya, padahal dia lebih muda dari saya. masa depan yang aneh.

ya begitulah, saya sebenarnya tidak sedang mencari teman yang sama-sama menunggu datangnya kereta api berikutnya, memang rasanya saya masih bisa mengambil sikap tenang, tapi entah mengapa walaupun punya kesadaran jender dan kehidupan semi urban yang setengah bebas, hati saya tetap merasa tinggal di pedalaman kampung halaman, tempat padi yang kemuning menunggu panenan, atau sungai meliak-liuk yang jernih, dengan tetangga yang saling berbagi kiriman makan, dan terutama beradu gosip yang sederhana tapi tidak sebahaya di kota-kota.

22 11

jadi apakah sekedar pernikahan yang menjejal di otak saya ?? saya benar-benar mengalami keluguan, bila yang saya pikirkan hanya itu, seperti gadis-gadis dari kampung udik, bahwa seolah pernikahan berarti menempati rumah baru dan bebas atau setidaknya terlepas dari pengawasan orang tua. saya kira, saya telah dengan sengaja membiarkan racun yang saya produksi sendiri dalam tubuh saya membunuh saya sendiri berlahan tapi pasti, seolah dunia saya hanya dibatasi oleh empang batas kampung, padahal saya sudah melewati dan jauh lagi melewatinya.

banyak yang bisa kita perbuat sementara menunggu 'kereta berikutnya', Tuhan telah membiarkan saya untuk (sedang) mencicipi pendidikan jenjang s2, Tuhan juga mengeluarkan saya dari penjara doktrim dan paradigma kaku untuk lepas bebas di dunia makna dengan kehidupan yang lebih luas, Tuhan meminta saya berbuat sesuatu sejauh tangan saya bisa menjangkau, akal saya bisa memikirkan dan kata-kata saya bisa didengarkan, jadi pernikahan adalah satu cabang kecil saja dari arus utama yang sedang saya jalani, hidup ini hari ini.

saya memang semakin banyak kehilangan kesempatan dan momentum, dan semakin saya besar, semakin menyadarinya, saya sangat ingin semua itu tidak terjadi lagi atau tidak terlewat banyak, lalu dengan kesempatan-kesempatan itu, betapa senangnya menjalani menjadi 'kami' atau 'kita' dengan cara lain, ketika cara yang 'umumnya' atau 'seharusnya' itu memang belum berkenan untuk saya.

pada banyak teman yang memiliki banyak masalah dan membutuhkan setidaknya kehadiran saya, pada pemikiran-pemikiran yang membutuhkan pengertian yang lebih membumi, pada kasih sayang antar keluarga dan teman, pada harapan yang kami, dan kita bangun bersama akan Indonesia, Islam, dan Bumi, adalah tak adil bila semuanya hanya ditutupi dan dipotong oleh apa yang orang-orang sebut sebagai 'umumnya'.

22 11 adalah angka yang terbaik bagi saya, pada waktunya, semua yang terlihat tidak bermakna ini akan menjadi sesuatu yang paling berharga. antara suatu keyakinan dan harapan saya berdoa, semoga kebimbangan dan kegalauan ini segera berlalu di tahun kedepan, saya memang sedikit lelah dengan paradikma dan (re) konstruksi, dan saya kini sedikit haus dengan (re) konsiliasi, tapi saya selalu hadir untuk semua itu, untuk semua yang membutuhkannya, terutama membangun jembatan atara fikiran angan-angan saya dan kenyataan dalam diri saya yang terbatas ini, dan pada semua yang mengajak saya untuk terus berfikir, dan menjadi semakin matang.

vini vidi vici