abad 21
Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa seseorang ilmuwan besar mengatakan bahwa abad ini adalah abad lingkungan hidup, sama seperti yang saya dengar dua tahun lalu bahwa abad 21 adalah abad kembalinya agama-agama, ada yang bilang abad biologi, jauh-jauh hari saya dengar bahwa abad 21 adalah abad biorobot, humanoid, ada juga yang mengatakan abad 21 adalah abad leburnya batas-batas negara menjadi satuan besar yang saling berhubungan dalam kampung dunia. Ilmuan-ilmuan besar abad lampau telah banyak meramalkan, dari yang baik-baik tadi yang saya sebutkan hingga yang 'terburuk' : kepunahan terakhir agama-agama, kepunahan negara-negara, kepunahan tradisionalisme, kepunahan desa-desa, kepunahan hutan dunia, dan kepunahan umat manusia.
Setiap orang bisa meramalkan apapun, selama hari H nya masih jauh, setiap orang bisa membikin film apapun, selama hari H nya masih jauh, tapi hanya sedikit orang yang bisa meramalkan dengan tepat, selebihnya hanya menjadi dongeng dan mitos. Memang kita telah merasakan bagaimana, sesuatu yang duapuluh tahun yang lampau tidak terbayangkan kini hadir dan nampak: 1. Informasi yang tidak lagi memiliki batas, 2. Kendaraan murah, 3. Pasar global, 4. Rusaknya lingkungan hidup (hutan kita, sungai kita, udara kita), 5. (proses ) Demokrasi ! (khususnya di Indonesia).
Kita menjadi saksi sejarah kecendrungan masyarakat yang sepuluh tahun yang lalu jarang memiliki HP, dan sekarang nyaris semua warga memiliki nomer pribadi masing-masing, kita menjadi saksi kendaraan-kendaraan Jepang dan China, serta seabrek alat-alat elektronik mereka yang bersaing dalam pasar domestik kita untuk beradu antara kualitas dan harga, kita telah menjadi saksi bisu hilangnya hutan tropis secara cepat di Kalimantan, dan di halaman kita masing-masing: hilangnya burung-burung tertentu, reptil-reptil tertentu, mamalia liar tertentu, pohon-pohon, tanaman obat, dan tanaman pangan alternatif yang langka dikampung halaman kita, di halaman dan dibelakang rumah kita.
Manusia telah mengambil haknya sebagai makhluk yang berakal, pasar bebas kita telah mengambil peran luas terhadap kompetisi yang tidak dibatasi hierarki, kompetisi tunggal kita telah memusnahkan sebagian handmade dan pengusaha kecil dikampung halaman, walau sedikit dari mereka bisa bertahan di lingkaran global dengan kedewasaan dan strategi yang diajarkan dari pengalaman modern. Tapi kenyataannya walau Kasongan Jogja masih buka dan ramai dengan gerabah-gerabahnya, tapi tidak dengan Jatisari, Blitar yang dulu terkenal pula dengan gerabah dan coeknya, anak-anak perajinnya tersedot di pasar pekerja murahan global, menyebar ke penjuru dunia ke-3 yang sedang getol membangun, sementara Kasongan beruntung berada di lokasi dimana pariwisata global masuk di dalamnya, tapi Jatisari tidak seberuntung itu, berada di pinggir dunia yang merasakan perubahan sebagai suatu kereta patas yang meninggalkannya, lalu berusaha menyusulnya kebirit-birit.
Di kampung halaman saya Blitar, burung bangkai, alap-alap telah yang biasanya menghiasi langit, terkadang satu, dua atau tiga ekor sekarang telah lenyap, burung emprit yang selalu bermigrasi di musim kemarau di atas pucuk-pucuk kelapa di samping rumah saya kini tak terlihat lagi riuh ocehannya, burung gereja diatap rumah kami menghilang entah kemana, duru sering kami jumpai bunglon, dan biawak serta kadang dan tokek, sekarang jarang sekali nampak, ada rombongan burung kontol yang setiap sore melintas di langit-langit rumah untuk pulang ke sarangnya, kini langit itu telah kosong, dahulu banyak anjing dan musang liar, sekarang musnah entah di mana. Kita manusia secara perlahan dan pasti telah memusnahkan itu semua, yang sebenarnya memiliki nilai (valuasi) yang tidak terbayangkan harganya. Berapa harga kicauan burung diatap rumah dan rantind dahan di halaman rumah kita? berapa harga bunglon yang beterbangan diantara dahan-dahan pohon?, berapa harga atraksi udara burung kontol di langit rumah kita setiap sore? Dan seolah-olah kita bisa tetap hidup tanpa itu semua, kita bahkan secara tidak sengaja merasa akan lebih hidup tanpa semua itu di masa kini, alat-alat rumahtangga kita, internet, gitged, mobil, rumah gaya minimalis, gaya hidup dari café ke café, hotel ke hotel, belanja di Carefour, nightclub dan bla..bla, adalah pencapaian nyaris sempurna bagi manusia jaman ini, rasanya begitulah.
Orang cenderung menghargai yang bisa mereka jangkau dan pikirkan dalam waktu sesaat, kebutuhan yang pendek dan singkat, kerusakan berlahan yang tidak mereka rasakan tidak mengguncang hati mereka, menurunan kualitas dan pendangkalan air tanah, memanasnya suhu bumi, hilangnya kicauan burung berlahan-lahan tidaklah segamang apabila AC di kamar tidur atau kantor mati, air dari kran berhenti, atau jalan raya yang berlubang. Memang sebagian bilang kalau masalah lingkungan sudah ada yang bertanggungjawab, tapi gaya hidup kita, dan cara memandang dunia ini secara salah telah berakibat pada degradesi yang semakin parah.
Kenyataan telah menjadi mitos, dan sekian banyak mitos telah dihidupkan menjadi kenyataan, beraneka gaya hidup lahir tidak hanya dari kompromi dagang kita, tapi membaur dalam nilai-nilai kita, dan kepentingan politik kita, perdagangan serta merta menemukan titik tawar dengan degalanya selama celah kesempatan itu masih ada, mitos tentang kecantikan, mitos tentang kejantanan, mitos tentang keshalihan, mitos tentang kemakmuran, mitos tentang kesehatan, mitos yang mengarahkan mana yang enak dan mana yang selera rendahan, mana yang modern dan mana yang kampungan. Orang-orang yang diciptakan tanpa memiliki alat untuk mengkritik apapun nilai-nilai yang dibentuk oleh media kita dan kekuasaan atau bahkan kompromi dengan pemimpin-pemimpin agama akan berakhir dan tersedot pada pusaran pasar yang riuh.
Kesuksesan akan lebih sempurna bila datang dari kebodohan kita untuktidak bertanya lagi, husss diamlah, tutup telinga kita untuk hal-hal lain selain apa yang sekarang ada di hadapan kita, tidak usah tanya darimana polister dan catton pada ranjang kita, tidak usah tanya harga upah dan usia buruh pada karpet yang menghiasi lantai kita, tidak usah tanya darimana besi molek, baja dan tembaga pada mobil kita, bagaimana bensin dibuat, dan bla bla bla, kita akan kehilangan kegagahan kita bila harus mengurus, siapa yang memetik biji kopi pada secangkir kopi yang sedang kita minum.
Selamat jalan masa lalu, mungkin dunia akan lebih baik bila bencana itu sering datang di waktu dan tempat yang tidak terduga dan tidak tepat. Semoga saja tidak.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa seseorang ilmuwan besar mengatakan bahwa abad ini adalah abad lingkungan hidup, sama seperti yang saya dengar dua tahun lalu bahwa abad 21 adalah abad kembalinya agama-agama, ada yang bilang abad biologi, jauh-jauh hari saya dengar bahwa abad 21 adalah abad biorobot, humanoid, ada juga yang mengatakan abad 21 adalah abad leburnya batas-batas negara menjadi satuan besar yang saling berhubungan dalam kampung dunia. Ilmuan-ilmuan besar abad lampau telah banyak meramalkan, dari yang baik-baik tadi yang saya sebutkan hingga yang 'terburuk' : kepunahan terakhir agama-agama, kepunahan negara-negara, kepunahan tradisionalisme, kepunahan desa-desa, kepunahan hutan dunia, dan kepunahan umat manusia.
Setiap orang bisa meramalkan apapun, selama hari H nya masih jauh, setiap orang bisa membikin film apapun, selama hari H nya masih jauh, tapi hanya sedikit orang yang bisa meramalkan dengan tepat, selebihnya hanya menjadi dongeng dan mitos. Memang kita telah merasakan bagaimana, sesuatu yang duapuluh tahun yang lampau tidak terbayangkan kini hadir dan nampak: 1. Informasi yang tidak lagi memiliki batas, 2. Kendaraan murah, 3. Pasar global, 4. Rusaknya lingkungan hidup (hutan kita, sungai kita, udara kita), 5. (proses ) Demokrasi ! (khususnya di Indonesia).
Kita menjadi saksi sejarah kecendrungan masyarakat yang sepuluh tahun yang lalu jarang memiliki HP, dan sekarang nyaris semua warga memiliki nomer pribadi masing-masing, kita menjadi saksi kendaraan-kendaraan Jepang dan China, serta seabrek alat-alat elektronik mereka yang bersaing dalam pasar domestik kita untuk beradu antara kualitas dan harga, kita telah menjadi saksi bisu hilangnya hutan tropis secara cepat di Kalimantan, dan di halaman kita masing-masing: hilangnya burung-burung tertentu, reptil-reptil tertentu, mamalia liar tertentu, pohon-pohon, tanaman obat, dan tanaman pangan alternatif yang langka dikampung halaman kita, di halaman dan dibelakang rumah kita.
Manusia telah mengambil haknya sebagai makhluk yang berakal, pasar bebas kita telah mengambil peran luas terhadap kompetisi yang tidak dibatasi hierarki, kompetisi tunggal kita telah memusnahkan sebagian handmade dan pengusaha kecil dikampung halaman, walau sedikit dari mereka bisa bertahan di lingkaran global dengan kedewasaan dan strategi yang diajarkan dari pengalaman modern. Tapi kenyataannya walau Kasongan Jogja masih buka dan ramai dengan gerabah-gerabahnya, tapi tidak dengan Jatisari, Blitar yang dulu terkenal pula dengan gerabah dan coeknya, anak-anak perajinnya tersedot di pasar pekerja murahan global, menyebar ke penjuru dunia ke-3 yang sedang getol membangun, sementara Kasongan beruntung berada di lokasi dimana pariwisata global masuk di dalamnya, tapi Jatisari tidak seberuntung itu, berada di pinggir dunia yang merasakan perubahan sebagai suatu kereta patas yang meninggalkannya, lalu berusaha menyusulnya kebirit-birit.
Di kampung halaman saya Blitar, burung bangkai, alap-alap telah yang biasanya menghiasi langit, terkadang satu, dua atau tiga ekor sekarang telah lenyap, burung emprit yang selalu bermigrasi di musim kemarau di atas pucuk-pucuk kelapa di samping rumah saya kini tak terlihat lagi riuh ocehannya, burung gereja diatap rumah kami menghilang entah kemana, duru sering kami jumpai bunglon, dan biawak serta kadang dan tokek, sekarang jarang sekali nampak, ada rombongan burung kontol yang setiap sore melintas di langit-langit rumah untuk pulang ke sarangnya, kini langit itu telah kosong, dahulu banyak anjing dan musang liar, sekarang musnah entah di mana. Kita manusia secara perlahan dan pasti telah memusnahkan itu semua, yang sebenarnya memiliki nilai (valuasi) yang tidak terbayangkan harganya. Berapa harga kicauan burung diatap rumah dan rantind dahan di halaman rumah kita? berapa harga bunglon yang beterbangan diantara dahan-dahan pohon?, berapa harga atraksi udara burung kontol di langit rumah kita setiap sore? Dan seolah-olah kita bisa tetap hidup tanpa itu semua, kita bahkan secara tidak sengaja merasa akan lebih hidup tanpa semua itu di masa kini, alat-alat rumahtangga kita, internet, gitged, mobil, rumah gaya minimalis, gaya hidup dari café ke café, hotel ke hotel, belanja di Carefour, nightclub dan bla..bla, adalah pencapaian nyaris sempurna bagi manusia jaman ini, rasanya begitulah.
Orang cenderung menghargai yang bisa mereka jangkau dan pikirkan dalam waktu sesaat, kebutuhan yang pendek dan singkat, kerusakan berlahan yang tidak mereka rasakan tidak mengguncang hati mereka, menurunan kualitas dan pendangkalan air tanah, memanasnya suhu bumi, hilangnya kicauan burung berlahan-lahan tidaklah segamang apabila AC di kamar tidur atau kantor mati, air dari kran berhenti, atau jalan raya yang berlubang. Memang sebagian bilang kalau masalah lingkungan sudah ada yang bertanggungjawab, tapi gaya hidup kita, dan cara memandang dunia ini secara salah telah berakibat pada degradesi yang semakin parah.
Kenyataan telah menjadi mitos, dan sekian banyak mitos telah dihidupkan menjadi kenyataan, beraneka gaya hidup lahir tidak hanya dari kompromi dagang kita, tapi membaur dalam nilai-nilai kita, dan kepentingan politik kita, perdagangan serta merta menemukan titik tawar dengan degalanya selama celah kesempatan itu masih ada, mitos tentang kecantikan, mitos tentang kejantanan, mitos tentang keshalihan, mitos tentang kemakmuran, mitos tentang kesehatan, mitos yang mengarahkan mana yang enak dan mana yang selera rendahan, mana yang modern dan mana yang kampungan. Orang-orang yang diciptakan tanpa memiliki alat untuk mengkritik apapun nilai-nilai yang dibentuk oleh media kita dan kekuasaan atau bahkan kompromi dengan pemimpin-pemimpin agama akan berakhir dan tersedot pada pusaran pasar yang riuh.
Kesuksesan akan lebih sempurna bila datang dari kebodohan kita untuktidak bertanya lagi, husss diamlah, tutup telinga kita untuk hal-hal lain selain apa yang sekarang ada di hadapan kita, tidak usah tanya darimana polister dan catton pada ranjang kita, tidak usah tanya harga upah dan usia buruh pada karpet yang menghiasi lantai kita, tidak usah tanya darimana besi molek, baja dan tembaga pada mobil kita, bagaimana bensin dibuat, dan bla bla bla, kita akan kehilangan kegagahan kita bila harus mengurus, siapa yang memetik biji kopi pada secangkir kopi yang sedang kita minum.
Selamat jalan masa lalu, mungkin dunia akan lebih baik bila bencana itu sering datang di waktu dan tempat yang tidak terduga dan tidak tepat. Semoga saja tidak.








