Kemarin Hari Bumi, 22 April 2011. Bumi yang berumur 12 Milyar (secara teoritis), dan bumi yang telah berkali-kali mengalami kepunahan masal mendadak, sekitar enam sampai tujuh kali kepunahan masal. Bumi tempat bipedal mamalia muncul dua juta tahun, dan homosapien yang diyakini muncul 300 ribu tahun yang lalu. Bumi tempat orang-orang afrika pergi mengembara, ke utara, ke timur, menyebar, menciptakan empat ras besar: kaukasian, afrikan, mongolian dan javanian, yang terakhir adalah ras paling unggul diantara semua ras, karena ia tidak pernah menyombongkan diri, dan tidak pernah mau menulis jasa-jasanya bagi kelompok ras yang lain, dan terutama tidak mau dan menolak adanya penjajahan.
Hari bumi yang tidak se-spesial hari lahirnya Jesus, atau perayan kemenangan manusia setelah puasa sebulan, tidak semeriah saat merah putih di kibarkan di mana-mana. Tidak ada baju-baju baru, atau kue-kue lebaran, musik-musik megah dari gereja atau mars yang semangat dari paduan suara anak muda. Hari bumi bukanlah hari suci dimana orang-orang dari pulai dewata melarungkan sesaji, atau mendaraskan mantra, atau berkumpung di banjar. Tapi masing-masing agama sedikit banyak telah merasakan kemesraan dengan bumi sejak agama itu dimunculkan, saya yang muslim tahu pasti bahwa ada sekian banyak larangan akan makan memakan: 1. jangan makan hewan liar, 2. jangan makan yang bertaring, 3. jangan makan yang beraruh panjang, 4. jangan memakan binatang kesayangan (anjing, kucing dll), 5. Jangan memakan hewan amfibi, 6. Jangan memakan yang menjijikkan. Agama islam saya melarang: 1. penguasaan terhadap air, 2. penguasaan terhadap energi (api), 3. penguasaan terhadap hutan (padang rumput kehidupan), Islam melarang saya untuk: membunuh binatang tanpa alasan, menebang pohon tanpa dasar dan membunuh binatang apapun yang tidak mengganggu. Islam juga menekankan pada kontrol energi: jangan makan berlebihan, jangan menggunakan perhiasan berlebihan dan menampakkan berlebihan, berhentilah "makan" sebelum "kenyang. Islam menghargai kepemiikan namun lebih dari segalanya islam menghendaki distribusi yang adil atas segala sumber kehidupan.
Hari bumi ada dalam semua agama, 22 April hanyalah hasil mufakat sejengkal dari panjangnya sejarah relasi manusia dan bumi. Terutama hindu-budha yang memang agama kebumian (ardiah), sangat tergantung dengan bagaimana memaknai hidup dalam keberimbangan, saya tidak cukup paham agama-agama jenis bumi, selain keyakinan akan reinkarnasi dan lebih pada konsep pencarian melalui diri. Sementara Islam dan sejenisnya berkait erat pada perenungan hakikat alam sehingga memunculkan kesimpulan-kesimpulan konsep ilahiah yang sangat menafisis dan imanen, sebenarnya hal semacam itu ada pula dijumpai di hindu, namun di agama samawi, dasar-dasar metafisis seperti Tawhid, Trinitas dan tradisi Yahudi (kabbalah) ditekankan untuk semua pemeluknya.
Islam saya, Tawhid, adalah konsep yang bagi saya pribadi sangat indah: tak ada satupun daun kering yang jatuh yang tidak Ia ketahui dan Ia "tuliskan" 'beribu milyar tahun yang lampau' dalam Luhl Mahfuz, luar biasa! Islam saya mengajarkan bahwa: Tuhan ada lebih dekat dari urat leher mu! Tuhan memenuh segalah hal namun ia teramat dekat untuk ingin kita jangkau, jika kita menginginkannya. Tidak perlu menemukan Ia dalam perjalanan spiritual yang rumit dan melelahkan. Tawhid mengajarkan untuk melepaskan diri dari pandangan-pandangan duniawi yang sempit, kita semua adalah keluarga besar umat manusia, tidak peduli anda Militan, Ekstrimis, Atheis, Religiophobia, Newage, Materialistik, dan sebagaiany, kita semua adalah keluarga. Dan Tuhan ada dalam kehangatan dari keyakinan-keyakinan yang kita jalani.
Bumi, lepas dari semua keyakinan kita, sedikit lebih tegas, ia memiliki parameternya sendiri, "daya dukung dan daya tampung". Pemanasan Global bisa jadi antara benar dan salah, namun sejak dimulainya industri, kerakusan kita akan bumi jauh lebih dahsyad dibanding semua makhluk hidup di bumi ini selama 12 milyar tahun di belakang. Jin dan Iblis yang konon pernah menghuni bumi tidaklah serakus manusia industri. Beli, Buang, Beli, Buang. Beli, Buang tak habis habisnya! Lugu, Gaul, Ketinggalan, Lugu, Gaul, Ketinggalan, Lugu, Gaul, Ketinggalan tak habis-habisnya. Saya tidak sedang berdebat dengan kaum materialis, komersialisme, atau konsumerisme, pembicaraan saya adalah pada daya dukung dan batasan-batasan yang pasti: 1. Hutan telah sangat berkurang, 2. Air bersih semakin sulit atau turun kualitasnya, 3. Semakin banyak spesies yang terancam kepunahan, 4. Terus berkurangnya habitat alami, 5. Semakin cepatnya eksploitasi di permukaan dan perut bumi, 6. Penyempitan lahan terbuka hijau, 7. Masalah sampahdan daur ulang yang tidak teratasi.
Ada banyak argumen akan pencapaian kebahagiaan, mulai dari penepian diri di kesunyian, sampai suara trance music dari nightclub di kota-kota, dari pantangan dengan menjalankan puasa 'mutih', sampai kebahagiaan yang dicari dengan memborong barang-barang di mall-mall mercusuar, kebahagiaan bisa di temukan oleh sebagian besar orang melalui ketaatan tulus tanpa bertanya terhadap suatu ajaran, kebahagiaan lain dicapai dengan kritik dan pemberontakan, sebagian bisa bilang relativ atau sebaliknya kebahagiaan adalah absolut. Tapi bagi BUMI ukurannya lebih jelas: Tanah, Air, Udara, Vegetasi, Manusia , (mari kita sementara abaikan nilai-nilai yang sebenarnya sangat terkait juga dengan bumi ini). Dan semua orang dari pandangan hidup apapun sesungguhnya bisa berdebat di medan ini. Masalahnya, bagi sebagian orang, mereka tidak mau tahu, dan mengabaikan kebenaran yang ada di depan mata mereka. Hanya demi mempertahankan kebahagiaan yang bermakna sempit, baik sebagai personal, kota, negara, atau blog-blog politik di dunia ini.
Hari Bumi, di kota Jogja: motor-motor tumpah ruah, dorongan industri tidak hanya menciptakan kemudahan tapi juga sampah (mari kita abaikan pengertian sampah dalam konteks nilai), lahan-lahan pertanian yang tergusur *ya iyaaaalahhhh, mana ada yang mau jadi petani, pekerjaannya keras sementara untungnya sangat tipis, bahkan sering kali rugi*, bagaimana dengan ruang publik, ruang terbuka hijau, kampanye untuk bersepetah atau berjalan kaki, menghemat listrik dan lain-lain. Jogjakarta semoga tidak mengikuti nasib kota-kota lain yang TERBURU MENYIMPULKAN TENTANG UKURAN KEMAJUAN PEMBANGUNAN KOTA.
Saya sebenarnya tertarik dengan argumen bahwa kapitalis (dalam varian konservatif) hanya bisa dilawan dengan kapitalisme itu sendir, dengan varian lain barang kali. Ekonomi lingkungan secara sederhana menyatakan adanya hitung-hitungan tentang: eksternalitas dan valuasi. Karena saya bukan dibidangnya, sejauh yang saya pahami, eksternalitas lebih pada dampak domino dari suatu kebijakan ekonomi, sementara valuasi bertumpu pada penilaian melalui sisi materi dari keberadaan. Sekarang saya mencoba berfikir, berapa harga burung yang tiap hari terbang di atas langit-langit rumah di kampung saya setiap sore yang sekarang sudah tidak ada, saya mencoba berfikir apa dampak terhadap hilangnya burung-burung itu bagi ekologi dan keseluruhan mata rantai kehidupan, kalau ekonomi berbasis lingkungan bisa diterapkan, tentu saja kapitalisme akan kembali berhitung atas kerja yang paling mudah untuk hasil yang banyak. BERAPA HARGA BURUNG YANG TERBANG SETIAP SORE YANG KINI TELAH TIADA? APA AKIBAT DARI HILANGNYA BURUNG-BURUNG ITU, BISAKAH KITA MENGHITUNG NILAI DAMPAK EKOLOGISNYA?
Bidang saya adalah agama terutama islam dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup, saya tahu bahwa agama walaupun masih dianggap penting, namun dalam kehidupan keseharian lebih bersifat identitas semata yang tidak bisa diupayakan secara praktis dalam kehidupan sekoler (sehari-hari) manusia. Adalah sah bila agama dianggap demikian, bagi mereka yang berfikir rasional tentulah lebih baik memikirkan hal yang pasti-pasti saja daripada menghitung sesuatu yang "supra". Lahir, Main, Belajar, Pacaran, Kerja, Nikah, Berkeluarga, Membesarkan Anak-Anak, lalu ikut pengajian bapak-bapak, dan mati masuk surga. Its OK!, orang-orang berfikir sederhana memang indah, tapi tidak semua orang mau. Oleh karenanya bagi yang berfikir instan agama hanya dihayati sebagai makanan siap saji yang tinggal dimakan lalu kenyang dan pulang. Agama dipahami sebagai ritus: sholat, puasa, haji. zakat, dan moral yang datar: jangan ganggu orang lain. Its OK!, sementara memang masih banyak yang mengatakan bahwa terlalu ikut tercampurnya agama dalam kehidupan sekuler, sehari-hari akan berdampak pada keruwetan hidup ini. Buat apa menegaskan bahwa islam melarang membunuh hewan langka kalau undang-undang memang telah melarangnya, buat apa islam mengajarkan penghematan konsumsi bila ekonomi finansial kita juga telah melakukannya. Islam buat apasih??? paling cuma buat hati kita tenang dan damai! Its Ok!
Bahkan sebagian menganggap agama yang terlalu ekstrim tidaklah baik, "teroris boooo' atuttttt", its Ok, gambaran agama diantara dua sayap, diabaikan dan bisa dianggap ancaman dari kemajuan. Moral adalah urusan pribadi, kita diajarkan TOLERANSI dan kita terus belajar tentang itu, kita juga belajar untuk membedakan antara PERMISIF dan EDUKATIF, mabuk boleh sekencang-kencangnya sampai jackpot "itu urusan loe", tapi apakah itu toleransi bila akibatnya adalah kecanduan, ginjal dan rumah sakit, kamu diam, kamu melarang, atau kamu memberi masukan. Inilah posisi yang harus dipilih agama, merusak toko penjual miras, atau menyarankan agar miras dijual di tempat yang tersembunyi dari jangkauan anak SMA? atau bagaimana? atau memberi pendampingan khusus bagi yang kecanduan, kalau begini bagaimana posisi agama? apa perlu agama mengkontrol hal-hal 'sepele' semacam ini, sementara agama sesungguhnya adalah spiritualitas yang maha agung.
Agama dan Bumi, Musa menemukan Tuhan di Bukit Tursina, Muhammad menemukan Wahyu di gua Hira', Gangga adalah sungai agung yang sucu dan penuh berkah. Apabila bumi ini telah hancur sejak lama, mungkin isi-isi dari kitab suci akan berubah, dan andai nabi-nabi dan awetara lahir saat ini, mungkin akan berhamburan kalimat-kalimat kapitalis, konsumerisme dan hegemoni dibanding tentang sabar, cinta dan kasih sayang. Apakah Islam perlu mengeluarkan fatwa untuk hukuman rajam atau cambuk bagi penembak orangutan? atau hukuman cambuk bagi pembuang sampah sembarangan? saya hanya berfikir dan menyimpulkan secara sederhana: mereka yang membuang sampah adalah mereka yang tidak menghargai bumi, dan iman mereka belum sempurna. Sama saja dengan aparat yang membiarkan orang-orang semacam itu, yang merusak lingkungan, iman mereka belum juga sempurna, pertanyaan itu saya kembalikan pada saya: apakah saya masih demikian. Saya perlu membuktikan pikiran-pikiran saya, tidak hanya kata-kata.
Saya mencintai bumi ini, semoga saya mau berbagi pengertian dengannya.





1 komentar:
Hallo.... udah lama ga mampir sini.... blognya makin cantik aja nih tampilannya. Apa kabar? Dimana skrg?
Poskan Komentar