Selamat datang Ramadan, terimakasih telah memberikan saya kesempatan untuk bersua dengan anda lagi. Ramadan: Waktu saya belajar berpuasa satu bulan penuh, waktu ketika saya belajar sholat ber-banyak rakaat, waktu kala saya berzakat fitrah di hari-hari akhir anda, waktu saat saya 'mengusahakan' tadarus, atau setidaknya: saya ngebuburit (menghabiskan waktu puasa dengan jalan-jalan) hampir tiap sore, mencari masjid-masjid yang menyediakan ta'jilan (makan gratis), waktu paling tepat untuk mudik ke kampung halaman, waktu ketika saya membeli baju baru (satu tahun satu kali), waktu saat saya belajar membuat kue bersama kawan, atau saat dimana makan berlebihan (sering kali seperti itu) setiap berbuka, waktu ketika terdapat malam untuk beri'tikaf lailatul qadar (sepuluh hari terakhir). Ramadhan adalah pesta, PESTA TAHUNAN!.
Nun, Ramadan (seharusnya) menempa saya untuk mengendalikan diri: i'tiba' binnafsi, kendalikan diri untuk menemukan diri "ku" yang sesungguhnya, dengan berlapar dan haus dahaga di siang hari, dengan mencegah (atau mengurang) berfikir negatif dan jorok, atau melakukan perbuatan yang sia-sia, di (konon) bulan istimewa ini penuh berkah: tidur saja ibadah apalagi yang lainnya, jadi seandainya Ramadan dapat saya tuai nilai-nilai keutamaannya, harusnya (tapi tidak harus): tiada muslim yang jadi koruptor, mengedarkan berita kebohongan atau mengadu domba, menjelek-jelekkan, menjadi tirani, sombong atas kebenarannya sendiri, sombong atas kepintarannya atau atas harta dan kekuasaan (HARUSNYA TAPI TIDAK HARUS).
Sering kali yang tersisa hanya: menunda makan-minum, tapi tetap saja ngegosip, 'rasan-rasan' pemerintah, dan melakukan hal-hal tak berguna di siang hari, demikian saya hanya mendapatkan lapar saja barang kali. Tidak ada yang ditempa, melainkan hanya: berbuka berlebih-lebihan, baju-baju baru, atau pada saat usai ramadan: pesta hari raya (buuuanyak makanan, kumpul dengan saudara-saudara (pamer kesuksesan -kalau sukses-), dan gosip ini itu. Bagi saya Ramadan (dan sehabisnya) tak lebih sebuah pesta ritual tahunan yang riuh, menghanyutkan, tapi saat pesta usia, saya hanya akan membawa perut buncit dan kegilaan othopis dan tidak lebih (SEPERTI PULANG SEHABIS LIHAT KARNAVAL).
Lalu apa gunanya ramadan bagi saya (secara pribadi): "saya malu, karena (kelihatannya) temen-temen pada puasa", "saya malu karena (mungkin) teman-teman jadi khusuk dalam menghayati agama saat ramadan tiba, saya malu karena teman-teman (kebanyakan) berbuka dengan menyiapkannya se'seksama' mungkin': buah kurma, kolah buah, nasi, ayam, telur, daging sapi, sate kambing, lalapan, sayur rendang, lodeh ikan, pepes ikan, benar-benar Ramadan yang memabukkan saya. Saya berpuasa karena: orang lain melakukannya, seperti ibu saya melakukannya, seperti semua orang muslim melakukannya, lalu saya menahan lapar tapi saya senang karena saya menunggu sesuatu (setelah) puasa : BEBUKA YANG LENGKAP dan LEBARAN: saat ketika saya menemukan saudara-saudara yang selama ini berserakan dimana-mana, berbagai macam kue loyang diatas meja, dan terutama takbirnya. Puasa dan ramadan hanyalah penantian, RAMADAN HANYA SUATU STASIUN PENANTIAN, BUKAN TUJUAN, DAN TUJUANNYA ADALAH PESTA HARI RAYA!!
Demikian dengan hari ini, malam ini, saya merasa bersyukur: saya makan, lalu saya kenyang, saya membaca al Quran beberapa halaman, lalu saya online, sedikit kerja (bikin poster) dan 'menunggu' hingga malam usai, menghabiskan chat dengan teman entah siapa namanya (namanya juga dunia maya) , hingga benar benar larut, dan saya : belum merasakan apapun kecuali: ini hanya sebuah malam seperti malam-malam tanpa Ramadan: sunyi, sepi, sendiri, kelam tapi 'menyenangkan' dan menghanyutkan.
Apa artinya Puasa dalam konteks di atas: kita hanya melalui suatu 'tradisi' tanpa kewajiban untuk meneguk maknanya, atau apakah orang semacam saya terlalu kenyang terhadap makna, dengan meminjam perkataan A.Y, teman chat saya malam ini: (merasa) terlalu dalam menghayati hidup sehingga untuk memahami makna terdalam dari suatu ibadah puasa, adalah tidak akan bisa masuk ke dalam hati lagi karena hati (sok) merasa sudah terlampau penuh. Atau sebaliknya: hidup ini harusnya 'yang ringan-ringan saja, yang instan seperti mie. Dan bisa jadi karena saya tidak pernah belajar memaknai apakah lapar yang sesungguhnya, selama ini segalanya (alhamdulillah) seperti selalu ada apabila saya membutuhkan (walau terkadang sering dengan rengekan dahulu dan hutang) , sehingga saya tidak sempat berfikir: bagaimana menahan keinginan, bagaimana menahan hasrat dan bagaimana menahan harapan. Dalam konteks semacam ini puasa semacam gema sesaat yang kemudian bergaung di tengah padang gurun luas,kita tidak mampu menangkap isi dari gema, apalagi gaung. Jadi puasa hanyalah 'melestarikan' tradisi : ibu, bapak, saudara, teman-teman dan masyarakat muslim pada umumnya. Sehingga hidup "ringan" dan "dangkal" ini, sebagai suatu pilihan adalah jauh lebih menarik. "janganlah dibikin berat kalau yang instan saja tidak menghalangi kita untuk menjalani nasib sebagai manusia:. (DEMIKIAN KAH?)
Malam ini saya jatuh cinta, cinta pada RAMADAN yang ingin saya tuai 'isinya': agar saya tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan tidak suka pamer, agar saya bisa berbagi, hemat, rendah hati, sederhana, demikian seharusnya maksud dari menemukan DIRIKU yang yang sederhana, makna sesungguhnya dari yang dimaksud instan itu, dan artinya "kalau hanya lapar saja", kita menampik nikmat kesederhanaan, sehingga hidup setelah atau justru pada saat Ramadan tetaplah yang itu itu saja: WAH & MEWAH alias MULUK-MULUK: hidangan yang wah, baju baru yang wah, mudik yang wah. Memang puasa butuh belajar, memetik hikmah bukanlah tanpa berlatih dari kejatuhan dan kesalahan, tapi dengan melewati Ramadan berkali-kali rasanya "aneh" bila saya (merasa dan memang nyatanya) hanya terkesan menghormati suatu tradisi turun temurun: sedikit dibumbui ketakutan akan siksa neraka atau pahala dari ramadhan tadi (tidur saja ibadah penuh berkah apalagi...). PUASA SAYA MEMANG PUASA ANAK KECIL.
Saya berharap setidaknya ada hikmah dari Ramadan ini bagi saya: saya tidak lagi berfikir bahwa hidup itu rumit, bahwa cinta itu muluk-muluk, bahwa persahabatan itu merepotkan, bahwa iman itu berat dan 'dalam'. Saya ingin memetik manfaat dari kesadaran bahwa segala hal ini sungguh-sungguh sederhana: rizki, pasangan hidup, status, dan kekuasan, bagi pemilik Ramadan adalah kehangatan dari hubungan yang sederhana: berbagi secangkir teh, bergembira dengan berbagi cerita (yang menambah kekayaan hidup) dan berbagi makanan. Sehingga saya mampu melangkah lebih ringan (dan memang seharusnya semacam itu). "jangan ngoyo", yang penting lakukan segala hal dengan ikhlas dan setulus hati.
Jadi: apakah Ramadan akan mengubah hidup saya? setelah ini, "Ramadan adalah setiap hari dan Hari Raya kita adalah surga". Demikian nasihat sufi yang perlu saya fikirkan, tentunya fikiran yang tidak terlalu dalam atau juga terlalu dangkal: tapi bersahaja. semoga, SELAMAT RAMADAN.






1 komentar:
inti puasa itu mencapai takwa...
Poskan Komentar