Hari-hari ini saya mendapat serangan melankolis dari teman yang membuang segala unek-uneknya ke saya : teman saya jatuh cinta pada orang yang rumit dan kompleks : orang yang : sudah menikah, punya anak, tidak bekerja dan tidak well educated , TENTU SAJA semula (?) saya bilang padanya : "kamu gila ya (amelioratif -menghaluskan-, daripada mengatakan 'kamu perusak rumah tangga orang'), cintamu tidak ber-visi, segera saja kamu lupakan dia, selesai!". Tapi teman saya bukannya ndengerin sambil tertunduk sedih, eh malah tersenyum, ucapan saya semacam kentut, dan saya yakin dia sudah gila, 'tai kucing rasa keju' baginya, pahhhh. Apa yang harus saya perbuat sebagai teman, membenci cinta itu? iya! : TENTU SAJA, tapi bagaimana menyadarkan orang yang sedang kasmaran tanpa rasionalitas, yang ini saya juga benar-benar dibuat gila.
Hari berikutnya setelah curhatan yang pertama, teman saya datang lagi dengan 'sekarung barang rongsokan' yang siap dibuang di muka saya. Dia ketawa - ketiwi seperti sedang menghirup hasis, bicara sana sini tak karuan dan kemudian mulai ngomong agak serius: membacakan sms dari kekasihnya : "dia minta pulsa", lalu kamu kasih? "tentu, tapi cuma sekali", dan selanjutnya "dia minta bensin, macet di jalan malam-malam", lalu kamu kasih? "tentu saja aku bangun malam-malam menjumpainya sambil membawa dua liter bensin", dan selanjutnya "kita makan bareng, aku yang bayar", dimana? "cuma di burjo", oke lah -matre kelas murahan juga ternyata-, kamu tidak merasa lagi diplorotin? "aku malah senang asal gak yang mahal, cuma itu kok". Saya tidak berani sindir tentang bagaimana istri dan anak pacar teman saya tadi, tapi dia bilang "istrinya gak curiga kok", walaupun pacarnya sering ngelayap malam? keluarga macam apa itu? "gak tau ah, dia bilang baik-baik, ya sudah". Gak merasa berdosa? "dikit, tapi gimana lagi", ya gimana? "gak tau, lets flow aja".
Begitulah ceritanya, hingga hari berikutnya (datang sambil muka agak sewot): "dia tadi memohon untuk mutusin aku, katanya hubungan kita berdosa", -bukannya dari awal itu salah-, lalu kamu? "aku bilang aku masih cinta dia, lagian dari awal harusnya sudah paham kan posisi masing-masing", kemudian gimana? "dia bilang istrinyanya minta cerai gara-gara dia belum dapat kerja, sering ngelayap lagi", loh gimana sih, kemarin katanya istri pacar mu gak masalah -urrgggg-, "lalu aku bilang, ya sudah kita saling dukung untuk lebih baik saja, saling mengingatkan, demi hidup lebih baik", loh, mang hubungan semacam itu bisa saling mendukung untuk hidup lebih baik -cape dech-, "dari pada kami gonta ganti pasangan gitoch..", pf, saya paham banget dan diingatkan kalau teman saya ini suka asal comot orang, tapi mana bisa hidup lebih baik kalau hubungan awalnya saja sudah main comot milik orang, "tapi kami saling mendukung kok, Tuhan juga tahu kondisi kita masing-masing", Tuhan? -sambil lihat langit-langit kamar yang mulai penuh jaring laba-laba-.
Hari berikutnya, dia datang lagi, saya mau tutup pintu kamar saya, tapi apalah daya, saya hanya punya sedikit teman, dan mungkin tidak ada teman yang sesempurna yang saya inginkan, mereka juga manusia, sebenarnya teman saya ini sedikit pintar, baik, sholatnya juga lima waktu, pendidikannya baik, dari keluarga baik, tapi saya tidak tahu alasan tepatnya harus bernasib 'rumit' semacam itu, dia mulai bicara: "bantuin bikin CV dong", bukannya kamu juga pernah kerja atau sedang kerja, "ini buat yayank ku itu", itu lagi.... pahhh, ada apalagi dengan dia, "kita kan mau baikan, dari pada dia minta aneh-aneh atau matre atau hidup gak pernah jelas, aku mau bantu dia, bantu dia nyari kerja, aku kan sayank..", busyet dech, kayak gak pernah lihat orang kesulitan di pinggir jalan dan di seantero negeri ini, ngapa juga harus pilih dia sih..."tapi ini cinta", cinta, itu lagi! kalau yang itu saya gak bisa berdebat, percuma 'tai kucing rasa ayam'.
Begitulah, katanya hubungan mereka: "untuk kebaikan" (dari pada ganti ganti pasangan -lagian sudah punya istri buat apa sih ada kebiasaan ganti-ganti, yang satu lagi juga aneh, tau pasangannya dah berkeluarga, eh nekat-), "untuk hidup lebih baik" (katanya sih: saling mendukung dan menasehati gitu lah : tapi tetep ML : pahhhh). Saya tidak berkutik dengan teman saya ini, mau mengatakan ini dosa, ini salah, ini ilegal, cara pandang kami berbeda, dia sudah terlalu tua untuk mendengarkan kuliah subuh atau ceramah jum'ah, toh teman saya itu juga pernah mondok -sejenis pondok ramadhan-, setidaknya tahulah isim, fa'il, maf'ul, atau sedikit nadzom alfiah ibn malik. Tapi mengapa? moral semacam itu tidak membekas kepadanya, saya pernah menanyakan tentang beberapa pilihan 'aneh' dalam keagamaannya, lalu dia bilang "beragama kan harus kritis dan humanis", lalu dengan posisi menjadi orang ke-3 dalam rumah tangga orang?, pasti dia akan jawab 'itu kan lebih baik dari pada....., keluarga kan konstruk sosial yang blablabla, cinta kan substansi yang bla bla bla...'. Ok cukup cukup, Ya sudahlah.
Walaupun saya mungkin tidak pernah akan mendapatkan cinta yang serumit itu, saya tetap berharap: mencintai adalah untuk selamanya: istri, anak, sampai tua, hingga maut memisahkan, dan mati masuk surga. Tapi bagi sebagian orang atau termasuk dia, atau sebagian dari 'jiwa kita yang bersembunyi', kadang menyukai pilihan yang 'agak' berliku, belok sana sini, naik turun, kadang jatuh bangun, terjerembab lalu minta tolong. Dia pernah bilang ke saya "ya itu cinta", "ya itu hidup, tidak flat", baginya hidup bukanlah: kecil bemain, remaja belajar-pacaran, dewasa menikah, bapak-ibu bekerja, tua ikut pengajian, mati masuk surga, baginya itu bukan hidup yang kaya (?), dia bilang : cinta yang BERGOLAK adalah 'kembang setaman' bagi kehidupan: "seperti gelombang bagi para peselancar yang tak habis-habisnya". Sore ini saya sedang mengurai perspektifnya, dan berusaha masuk ke dunia semacam itu, dunia yang tidak memiliki garis tegas antara "Ya" dan "Tidak" selain seonggok "kritik" dan misi tentang "humanisme", humanisme perselingkuhan. Pff
Alloh lindungilah saya.
Alloh lindungilah saya.






3 komentar:
Hai, apakabar sahabat.... :)
Datang untuk mengucapkan,
Selamat hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.
-Ninneta-
sama sama maaf lahir bathin.....
somehow, itu semua bukan tentang perspektif cara pandang,mungkin hanya keadaan yang tidak mampu dikalahkan...
tapi saya suka tulisan ini..suka..:)
Poskan Komentar