Senin, 24 Oktober 2011

LOVE IS FREEDOM

Posted by MOVAZ On 12:35 6 comments


Orang bilang mencintai itu indah.....mm........ YA! tapi hanya pada suatu sisi: ketika sepi ada yang menemani, ketika lapar ada yang membuatkan atau setidaknya menemani makan, ketika sedih ada yang mau menjadi 'tembok ratapan', ada yang bersedia menjadi 'tempat sampah': huh hah huh hah. Di sisi yang lain, sebagai laki-laki, aku harus menemani nya ketika ia sendiri, bersedih, atau sekedar teman makan, "lakukan pada pasangan mu seperti yang kamu inginkan dari pasangan mu", apa bila tidak: "kamu egois! dan kamu jahat!"

Beberapa tahun yang lalu, seseorang jauh-jauh datang tengah malam padaku hanya untuk mengatakan "kamu jahat!!", "ya, aku memang jahat, salahnya kamu mencintaiku!". Jawaban itu jelas salah, semua orang dengan mudah pasti mengatakan aku memang jahat, dan ketika aku bilang "terserah aku, apa urusan mu", pasti banyak orang bilang "kamu egois!". Sebenarnya seseorang   meminta orang lain sempurna, "lakukan seperti yang dilakukan orang lain pada mu", lalu masalahnya saat orang lain terlalu baik, apakah aku harus berlaku "terlalu", dalam arti kata, apakah aku harus menjadi "terlalu", itu semacam menjadi orang lain pula.


Kenyataan bahwa aku tidak menuntut orang yang aku cintai datang menemaniku ketika aku bersedih, atau menemani aku makan, atau  menyediakan diri untuk menjadi "tembok ratapan", karena nyatanya kalau ia tidak mau, ya sudah masak dipaksa, toh cinta tidak identik harus seiya sekata (lalu apakah dengan itu seseorang boleh aku paksa untuk harus berlaku sama seperti caraku?) . Aku memang terbiasa untuk mengakhiri segala masalah dengan mengendapkan dulu agak lama, atau tepatnya menumpukkannya, mengomplekkannya, lalu menantikan suatu momen agar timbul reaksi tiba-tiba, menunggu tekanan menunggu genting, begitulah cara ku bekerja (dengan tidak membagi masalah atau menceritakannya), bukan dengan menyelesaikan 'segera', karena bagi ku 'segera' tidak bakal membuatku mengeluarkan 'segala kemampuanku'. Demikian bagi orang lain mungkin aku dianggap menyulitkan diri, tapi 27 tahun aku mengulang-ulang hal serupa, aku tidak bisa menyicil sedikit demi sedikit. Kebiasaan ini (aku pikir) bisa diurutkan: karena keluarga ku yang 'agak' keras bagiku, membuatku sering bungkam, lalu menunggu pada saatnya ketika aku akan keluar dengan kemarahanku, demikian aku menunggu bahwa pada waktunya semua yang menumpuk akan aku buang, dan Tuhan memberikan kecepatan pada ku untuk bergerak dalam kerja keras yang singkat 'borongan harian'.

Dosen ku bilang, "kamu tidak punya manajemen waktu yang baik dengan cara itu", dia bilang "orang-orang maju terbiasa berfikir kerja untuk hari ini, tidak mengandalkan esok, dan bagaimana kalau esok ternyata tak ada lagi bagi mu". Aku dengan enteng bilang bahwa aku bukan orang maju, dan aku mengakui itu, tapi aku bukan orang mundur, karena aku tidak melupakan semua beban yang menumpuk, ini karena kebiasaan, bahwa aku akan bekerja ketika benar-benar sudak krisis, dan kalau aku dibilang itu bukan hal baik "ya aku memang tidak baik". Orang bilang aku tidak tegas, "kurangi cengengesan" demikian kata kakak ku. Bagaimana cara mengurangi cengengesanku, dunia ini terlalu 'pahit' bagi ku, sehingga aku menyukai musik-musik kesedihan (sambil telanjang bulat dikamar dan mematikan lampu), lalu bagaimana aku harus serius, kesedihan di hatiku sudah terlalu dalam sehingga aku membutuhkan pelarian pada 'lapis bawang terluar', aku tertawa untuk meredam luka. Mudah bagiku melupakan persahabatan sekali lagi mudah melupakan persahabatan, tapi tidaklah mudah mengabaikan yang lapar, yang tinggal di gubuk reot, yang kesepian, yang diabaikan, karena aku bisa merasakannya, atau bahkan sering kali merasakannya, itu mengapa aku tak bisa serius, aku butuh tertawa. Sehingga aku dianggap tidak tegas, orang lalu bilang aku mengabaikan orang lain, kekasih, ketika seharusnya membutuhkan seseorang yang mampu mengurangi luka, karena masih juga aku tak mengerti bahwa kesedihan akan berkurang kala teman datang, karena teman pasti tidak akan memahami 'kesedihan yang kumaksud' PASTI!


Apakah orang lain akan membuatku lebih ringan, dan beban akan hilang, orang lain bagiku seperti lapen, ketika aku tenggak, akan ringan sesaat, namun ketika bangun pagi, semua beban itu mengetuk pintuku pagi pagi, dan pada saat itu aku perlu lapen lagi, oh tidak! aku tidak ingin menjadi pecandu persahabatan, aku menyukai hubungan dengan kekasih atau sahabat, tapi pasti pada waktunya segala hal yang mungkin kita percayai atau kita kasihi akan membuat jarak disaat segalanya tidak lagi yang diharapkan, itu semacam hukum alam 'buatlah orang lain sulit memahamimu ketika kamu sulit memahami orang lain'. Demikianlah maka persahabatan bagiku hanya momen dimana pasti akan berakhir, demikian juga cinta -selama tidak ada ikatan pernikahan-, ini hanya kebutuhan ketika kita haus, aku tidak berani mengatakan bahwa mencintai dan persahabtan seseorang tidak penting, tapi toh kesepian tidaklah sikap yang tidak sempurna, dan kerinduan untuk selamanya 'bagi ku pribadi' masihlah pengertian yang sulit aku mengerti.

Setiap jiwa adalah unik, kita tidak bisa menuntut bahwa sesuatu harus hidup dengan cara UMUM DAN WAJAR, kalau sedih itu berarti harus memanggil kekasih, kalau kesepian harus memanggil kekasih, kalau makan harus ditemani kekasih, kemarin-kemarin saya sudah berusaha menjadi yang umum, tapi yang umum tidak mau menjadi saya, asal orang lain tidak memberatkan saya, tentu saya tidak boleh memberatkan orang lain. Bukankah ni juga hukum alam?


Malam ini aku mencintai mu, dan menjadi pencinta, tapi seperti kisah-kisah sebelumnya, adalah cara mencintai yang masuk dalam "KETIDAK UMUMAN" bisa dimasukkan sebagai "KRIMINAL", 'kamu jahat!!!', semua yang mengatakan bahwa 'egois' adalah tidak umum maka akan menyalahkanku dalam hal ini. Dan seperti biasa aku akan bilang "terserah aku", lalu mereka tidak cukup bilang JAHAT tapi juga KEJAM pada ku.

Ketahuilah bahwa cinta tidak sekedar perbuatan, tapi cinta adalah ruang yang diciptakan agar engkau dan aku bebas bergerak, dan seperti burung terbang ke mana-mana, ia pasti akan kembali pada saatnya, di saat senja, pada sarang, pada rumahnya, pada anak-anak kita, kamu dan aku. LOVE IS FREEDOM


6 komentar:

Relationship itu menjalani kehidupan berdua. Kalo pikiranmu seperti itu, mending kamu tidak usah menikah saja atau menikahlah dengan bayanganmu sendiri,,, :)

Eh mov, kamu ngetweet ngga?

you have a freedom to choose your actions, but you dont have the freedom to choose the consequences of your action as well as you dont have a freedom to determine how people treat you..its their freedom to choose... sekarang smsku HunTak

mungkin, kamu hanya belum pernah 'benar-benar jatuh cinta'..

itu saja..:)

aku jatuh cinta dengan laki-laki ini. tapi mungkin aku adalah wanita kesekian yang harus mengerti bahwa dia mempunyai "dunia pikir"nya sendiri. sedang aku terus menunggu diberi waktu, diberi ruang, untuk berbagi tanpa harus berfikir "over rasional".

----cinta itu ya begitu. berada pada pada dua posisi.kadang kau jadi bayangan, kadang kau si pembuat bayangan----

aku mencintaimu. aku paham jika kau ingin begini. aku tidak akan menjudge kau jahat!!! atau kejam!!
tapi kau itu "melelahkan"!!!

why?
karena kau selalu melumat perasaan sayangku padamu dengan pikiranmu yang "mengerikan" itu. Persis seperti yang kau tulis.

yang ku tahu, jika kau berfikir seperti ini. semesta tidak akan pernah mengizinkan aku untuk bertahan mencintaimu.

aku masih berusaha untuk terus mencintaimu. satu detik yang lalu.

ya.. jika kau tidak ingin berbalik.. pakailah kata-katamu itu "terserah aku"

--YNS--

aku jatuh cinta dengan laki-laki ini. tapi mungkin aku adalah wanita kesekian yang harus mengerti bahwa dia mempunyai "dunia pikir"nya sendiri. sedang aku terus menunggu diberi waktu, diberi ruang, untuk berbagi tanpa harus berfikir "over rasional".

----cinta itu ya begitu. berada pada pada dua posisi.kadang kau jadi bayangan, kadang kau si pembuat bayangan----

aku mencintaimu. aku paham jika kau ingin begini. aku tidak akan menjudge kau jahat!!! atau kejam!!
tapi kau itu "melelahkan"!!!

why?
karena kau selalu melumat perasaan sayangku padamu dengan pikiranmu yang "mengerikan" itu. Persis seperti yang kau tulis.

yang ku tahu, jika kau berfikir seperti ini. semesta tidak akan pernah mengizinkan aku untuk bertahan mencintaimu.

aku masih berusaha untuk terus mencintaimu. satu detik yang lalu.

ya.. jika kau tidak ingin berbalik.. pakailah kata-katamu itu "terserah aku".