Selasa, 01 November 2011

CINTA

Posted by MOVAZ On 05:01 1 comment


Sore ini saya mencoba berbicara tentang cinta, yang ada di otak saya, yang mengendap, yang tak terungkap, yang terkunci, yang terbungkam!

Pada suatu saat ketika hati saya pengap, dibekap kerinduan yang membabi buta, menikam hingga ke ulu, meremukkan jiwa, yang memotong segenap nadi arteri, saya benar-benar tak berdaya: seperti dimamah mentah-mentah oleh kesunyian yang pekak.

Di suatu waktu yang lain, saya merasa beringas, mengendap-endap selaksa kucing garong menerkam ikan asin, mencengkram erat, menggigit kencang, merengkuh sampai segala hal rubuh, saya adalah Samson, merasa bahwa dunia ini begitu kecil, hanya ada saya, dan Dalelah, pada suatu waktu.

Di suatu waktu pula: datang untuk pergi, datang untuk pergi, menghantarkan tajen ke sesembah, menumpah serapah ke bumi, lalu meresap, kemudian hanya berbau amis dari sisa pesta, ya pesta yang riuh lalu sesaat layar pertunjukan di gulung, semua kembali menjadi  saya, saya dan saya, dunia mengunyah, menyingkirkan saya di ketepian menjadi lelaki yang kesepian, yang terluka, dan (tentu saja) menikmati luka.

Di suatu waktu di sebuah kejadian lain, saya menangis, hampa dan kosong, tertipu daya dan mengeram seperti singa yang dipanah asmara, terluka dan serasa tak akan bisa bangkit, semua darah menderes keluar, seperti darah muncrat pada kambing kurban, saya menuju kematian, tertipu dan ditipu, oleh sesuatu yang (harusnya) tidak pantas menipu, begitu sakit rasanya, semacam tercekik di dasaran lautan.

Cinta ku pada-Mu seperti air yang meredam api neraka, yang membakar kastil-kastil dan taman-taman surgawi
Rabiah mengajari saya tentang cinta platonis (yang entah berantah), cinta yang membakar saya dan mengikis saya hingga lebur dalam persekutuan illahiyah, cinta yang meremukkan segala sejarah, segala inovasi keduniawian, segala romantisme perhelatan pesta tubuh, cinta yang diperas dengan kencang, untuk mengeluarkan madu yang paling murni, Rabiah membiarkan dirinya terbakar asmara, orang-orang menangis untuknya dan ia tersenyum untuk  segala pengorbanannya

Api asmara semacam cahaya dalam cahaya dalam cahaya dalam cahaya, dan ketika engkau membuka mata tak kan kau temukan lagi dimana timur dimana barat dimana orang-orang baik dimana orang-orang jahat, tidak ada kafir, tidak ada salih, tidak ada cakep tidak ada buruk.

Rumilah yang membiarkan saya terbuai asmara, lekukan-lekukan tubuh, dan senggama senggama liar adalah  engahan Tuhan yang menggelantung dalam atap-atap Arsy yang agung, lenguhan-lenguhan yang mendobrak-dobrak tembok ratapan semacam keabadian yang diciptakan untuk menarik lamunan dalam mabuknya kenyataan, dunia fana adalah wujud Nur Illahiyah yang memantul diantara penderitaan dan suka cita kita, maqom-maqom keharibaan adalah jalan untuk salik yang menjumpai kemurnian: para salik yang nakal di klab malam, di ranjang-ranjang bacin pelacuran, di pinggir rel kereta tengah malam, kaum hiper seks di tayangan film biru, orang-orang gila yang selalu menangis dan tertawa dalam waktu yang sama, pada dimensi dan frekuensi yang tidak bisa direguk oleh keindrawian yang dangkal atau realitas yang hanya paham sebab-akibat. Rumi mendeklarasikan: Tuhan ada tidak hanya dibalik kata-kata kalamul majmu', jauh dari segala hal yang kita tumpahkan, Ia hadir seperti samudra tak bertepi.

Saya Hamba dan bukan Pangeran, saya Pangeran dan bukan Hamba.

Siti Jenar, menganggap dirinya 'Tuhan' atau karena bagi awam: 'Tuhan' adalah esensi yang terhijab dalam diri-Nya, Tuhan bukanlah kata atau sifat, atau apakah Ia, Cinta yang ia bakar dalam firman tidak cukup mengiringi kita dalam laku untuk pelepasan dari Fana menuju Baqa', Siti Jenar menentang segala diraja dan sultan serta wali, Ia ada dalam Syakul Kalam wa Qulb, ia hadir bersemayam dan bersembunyi dalam bayang-banyang Illahiah. Tidak bisa dimengerti dalam cinta FISIK manusia pada TUHAN, yang REMEH, REMAH dan DANGKAL, penuh simbol dan definisi filosofis yang memusingkan: AHAD, HAQ, BAQA, ADL. Siti Jenar telah membangun jembatan bagi orang Jawa untuk menghubungkan apa yang dimimpikan Muhammad dalam perjalanan Ruhul-jism ke Sidra El Muntaha, dengan mistisme-arkeisme-artifisial Jawa, laku suluk Jawa yang memenuhi kebathinanya dengan dialog tentang penemuan laku diri. Cinta yang Jenar hadirkan adalah cinta yang melepaskan martabat kemanusiaan kita, untuk MENYIBAK SEMUA PAKAIAN : LALU BUGIL TELANJANG SEBAGAI HAMBA, pada dasarnya segala jiwa ini adalah KARMA (li ma katsabat wa'alaiha maqtasbt).

Siapa yang membunuh satu jiwa yang tak berdosa seperti membunuh semua jiwa.

Pikiran Muhammad SAW mungkin tak asing, membunuh satu jiwa, seperti membunuh semua jiwa, menganiaya suatu golongan tertentu seperti menganiaya semua peradaban yang kita ciptakan bersama, cinta yang menganiaya pasangannya semacam menganiaya seluruh umat manusia. Apakah laku cinta yang tidak diakui akan berarti teraniaya selamanya? cinta yang mengendap seperti tabir, akan selalu menyala dan membakar, walau bukanlah sinar mentari dipagi hari, toh segala cinta yang 'sah' bukanlah apa-apa dibanding cinta illahiyah yang mencakup segala ufuk. Sungguh tidak terpikirkanlah oleh para klerik, ulama 'benalu' untuk menyingkirkan prasangka yang membuat mereka sakit jiwa bahwa segala hal ini bermula dari kesempitan manusia akan suatu pemahaman yang selalu cuma percaya bahwa cinta adalah teks dan bukan konteks.

MENCINTAI TIDAK SEKEDAR HARUS MEMBERI TAPI APA YANG KITA BERI DAN UNTUK APA?

1 komentar:

"eeeeggghhh" menghela nafas setiap membaca rangkaian kata-kata yg tertulis.