Senin, 07 November 2011

KESADARAN DIAM DAN CEREWET

Posted by MOVAZ On 03:05 No comments

Galileo mati karena 'kesadaran', demikian Foucault mati karena 'kesadaran': kasus pertama  memahami bahwa bumi ini berputar mengelilingi matahari, lalu Paus (?) memancungnya (hal yang mungkin sama akan dilakukan oleh ulama atau biksu bila kesadaran waktu itu muncul di timur: ini bukan masalah agama, hanya semacam hukum alam: apabila hierarki yang kokoh ditentang, diciptakanlah isu penistaan, para pembangkang adalah syetan yang harus dibakar!), kasus ke-2, Foucault mati karena AIDS, dia menentang stigma: mempertanyakan kembali arti sehat dan gila, arti normal dan tidak normal: pada suatu zaman dimana  yang normal mungkin bisa dianggap gila, dan pada suatu waktu dimana yang gila bisa dibilang normal, demikian pada tempat yang berbeda. Inti dari pencerahan: Humanisme ini (sejauh yang saya pahami): Individu adalah Tuhan bagi semua manusia yang katanya: TERCERAHKAN. Ayolah, buka tutup sampanye nya, putarkan trance keras-keras, dan pakailah celana dalam sexy mu! Tuhan telah mati! Tuhan telah mati demikian epos Zaratustra dibacakan di mimbar-mimbar kudus!

Suatu hari saya datang pada seorang SHADU (pe-ritus petapa tertua di sungai Gangga): apakah penderitaan itu? SHADU hanya terdiam, (ayoolah shadu bicaralah!!!), SHADU hanya diam, mungkin itulah arti penderitaan (barangkali): DIAM. Ayah saya  ketika ia merasa anaknya rubuh (tidak sesuai harapan), mengantarkan saya di malam yang sunyi ke penasehat spiritual keluarga: saya menunggu lama, lama sekali, dan seperti usaha-usaha sebelumnya, saya tidak ditemui, 'antarkan amplop ini pada beliau', demikian setiap kali saya 'sowan', saya merasa dijawab dengan 'pintu yang tertutup' kecuali uang yang terselip dalam amplop, 'kamu kurang sabar' begitu kata ibu. Yups bisa jadi, karena sabar bagi ibu adalah menunggu di depan teras rumah sang guru sufi berhari-hari, dan saya tidak sampai berhari-hari. Begitulah saya menyimpulkan bahwa diam adalah penderitaan.

HIDUP MULIA ATAU MATI TERHORMAT, Muhammad Saw berkata, balaslah tangan dengan tangan, mata dengan mata (membayangkan bahwa nabi dengan jambang terburai, mata melotot dan memancungkan pedang ke muka ku -ngeriiii-),  demikian Galileo, Al Hallaj dipenggal karena dianggap CREWER, pula dengan nasib reformis Martin Luther atau Jenar, yang pengikutnya dibakar di tiang-tiang gantung, sama seperti Jesus yang dalam mazhab Nasara: Mati Tersiksa Di Tiang Salib (Sebagai Penebus Dosa), pembangkangan sipil yang CREWET semacam ini, seperti pula cerita babat Jawa hingga suku Samin adalah cerita perlawanan yang kadang berhasil dan kadang berakhir dengan tragis. Toh dengan Colombus menentang penutupan Mediterania oleh kekhalifahan Arab, lalu nasib menakdirkan ia menjumpai dunia baru, pengikut Martin Luther atau Santo Petrus membangun 'sekoci kecil'nya menjadi kapal  induk bahkan menjadi raja diraja di generasi selanjutnya.

KEWAJIBANMU HANYA MENGINGATKAN, DAN APABILA TIDAK DIDENGARKAN, MAKA DIAMLAH, demikian ucapan TUHAN yang diulang-ulang dalam kisah-kisah Taurat, Talmut, Injil dan Qur'an, seperti kalimat tambahan dari kitab Hamurabi yang disatir Muhammad Saw dialenia sebelumnya: bahwa MEMAAFKAN ITU LEBIH MULIA (terbayang sesosok yang lembut dan santun dari Muhammad Saw), tugas ke rashulan adalah 'saling mengingatkan', atau diam saja alih-alih konfrontasi, toh kebenaran hanyalah masalah waktu, tidak ada yang bisa membendung kebenaran, dimanapun orang atau kelompok terkuat sekalipun menutupinya dengan pintu gerbang yang rapat erat. The Name Of  The Rose, atau Ihyaul 'Ulumuddin: keduanya mengisahkan pada zaman gelap yang dialami oleh dua peradaban Islam dan Kristen, ataukah Kota Terlarang yang akhirnya roboh oleh Mao, sekuat apapun seorang kaisar/Raja/Sultan/Adidaya, toh pada suatu zaman akan menjadi usang (seperti penanda runtuhnya Amerika, atau talangan Eropa atas Yunani). Para rahib yang mengacung-acungkan darah inquisitas akan digantikan oleh dokter dan intelektual, Ulama akan digantikan oleh institusi negara: lalu cerita akan berubah yang kultural melawan struktural, agama melembaga, dan agama yang membudaya, pendidikan yang melembaga (yang mahal dan wahh!!) dengan pendidikan di munasah-munasah, madrasah-madrasah, padepokan-padepokan, pesantren-pesantren, seminari-seminari yang relatif masih terjangkau. Hingga tangan besar mendobrak keras, mengguncang meja judi, kartu-kartu terlempar 'amburadul' dan permainanpun  bubar! (toh pastilah permainan bakal dilanjutkan di belakang rumah masing-masing : itulah analogi tentang perlawanan diam-kultural).

Manusia tidak membutuhkan perdamaian (secara mutlak), kemanusiaan dan peradaban hanya membutuhkan DINAMIKA, tidaklah seasyik yang dikira apabila kita tinggal di Buthan dimana tukar menukar dengan mata uang baru populer di akhir dekade 90-an, tidak pula tenang hidup dengan negara sebagai penjamin dari kehidupan: tidak perlu ke gereja toh sampai tua kita ditalangi negara (lih. Skandinavia). Orang bijak membutuhkan dinamika: KETIDAK PASTIAN, asuransi adalah bisnis terkemuka dalam menjual ketidak pastian, demikian juga menyusul pengacara, tentara, politikus, dokter, pedagang dan mungkin semua pekerjaan, semua ada karena kita masih memelihara ketidak pastian akan hari esok. Apa yang dikatakan Ibrahim benar: Tuhan ditemukan dalam ketidak pastian setelah mengejar bintang, bulan dan matahari, demikian semangat Muhammad saat Hijrah ke Madinah, penuh ketidak pastian (tanpa perbekalan apapun), Tentu pula Tuhan menciptakan manusia karena Ia tidak menyukai kepastian pada diri-Nya, demikian Tritura: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), Siwa (penghancur) menjadi dogma bagi agama zaman awal manusia. Pantaslah Foucault menanyakan kegilaan dengan ketidak pastian: dimana pada zaman dulu perbudakan dan penjajahan dianggap wajar, dan dimasa kini dianggap kekejaman dan kebodohan moral, dan Derrida mendekonstruksi makna: pastikan artinya sesuai pengalaman indra masing-masing (phenomenology), Camus menciptakan kosakata 'pemberontak', Gramsci memunculkan Intelektual Organik yang melawan kaum hegemonik, semua dibayangi oleh individu dan egonya masing-masing, dan itu tidak selalu salah, untuk melawan dengan DIAM atau CEREWET pada hegemoni, lembaga, atau tuan-tuan yang lapar akan dominasi kebenaran. Maka Sah Bila Tuhan Hadir dalam Kemiskinan, orang-orang yang hanya mendapatkan remah-remah dari PERTIKAIAN BESAR'.





0 komentar: