Rabu, 19 Januari 2011

Merayakan Kesepian

Posted by MOVAZ On 11:30

Pada jam 00.03 20 Januai 2010
Ngantuk, tapi saya tetap ingin menulis. Merasa sepiiiiiiiiiiii sekali, padahal sahabat saya, Cal, numpang tidur di kamar saya malam ini, sudah ngorok, pulasss sekali, senang saya melihatnya istirahat nyenyak habis kerja keras sepanjang hari “wish nice dream”.

Saya sadar sepi ini tidak ada di tempat lain kecuali ada di dalam “hati”, bukan sepi dalam keadaan nyata, 28 tahun yang hanya digunakan untuk mengejar yang dicintai tapi tak juga memahami. Lalu tiba-tiba saya jenuh dan capek dengan sikap bebas saya selama ini, tapi rasanya saya tak bisa hidup tanpa memeperjuangkannya, dan dengan kebebasan itu saya membiarkan proses kesepian itu terjadi.

Begadang malam, secangkir kopi dan sebatang rokok, setidaknya seminggu satu-dua kali adalah bagian dari pelarian atas tekanan dan kesepian ini. Tapi malam ini saya menikmati pilihan ini, saya berpesta dengan kebebasan dan kesendirian. Dengan mimpi-mimpi merdeka yang ingin saya perjuangkan.

Tentang kemerdekaan, teman Padang saya, Ad,  adalah jagonya, hidup sendiri di suatu pinggir kota dengan anjing-anjingnya yang lucu. Saya pernah Tanya padanya, apakah kamu tidak merasa kesepian? Saya ingat sekali dia hanya tesenyum dan berkata, “saya sudah terbiasa, kesendirian adalah teman saya”, lalu saya bertanya “teman?”, dan dia berlalu begitu saja.

Dulu saya sempat befikir, kok bisa di umur yang mau menginjak 40an, dia masih bediri tegadan bersemangat muda, dengan disertai kesendiriannya ? Saya pikir karena dia orang sibuk, maka dia tidak merasa sepi? Saya mencoba melihat semua ini dari kacamata nya….. dan saya mulai paham, ia sudah terbiasa dengan semua kesepian, ini tentang teman yang tidak pernah diundang tapi pada akhirnya benar-benar melebihi sekedar teman, antara seorang manusia dan kesepiannya.

Waktu kecil saya pernah bermimpi, memiliki rumah dengan halaman luas, dan saya di dalamnya menjelma menjadi laki-laki tua brewokan yang sendirian, berdiri di beranda depan tanpa ditemani siapapun kecuali taman yang rindang di depan mata. Waktu itu saya tak habis pikir, masih SD sudah kepikiran sejauh itu, “itu saya”, bagaimana mungkin anak kecil bermimpi menjadi lelaki hampir paruh baya dan brewok? Ketika dewasa, setelah saya baca tentang Psychoanalyst, adalah hal yang sebenarnya biasa terjadi, suatu alam sadar yang kedatangannya dan kepergiannya sering tidak kita ketahui.

Lalu mengapa sekarang saya –sering secara tiba-tiba-  takut dengan kesepian saya? Sepertinya teman dan sahabat saya tidaklah sedikit, tapi sering kali  di tengah keramaian dengan mereka, yang timbul kemudian justu kesendirian. Lalu sering saya kehilangan visi saya akan masa depan, dan berhenti di cerukan ruang yang sunyi dan pengap. Saya butuh memanja dan dimanja, saya butuh tertawa bersama-sama, menangis besama-sama, saya butuh memperhatikan dan diperhatikan, saya butuh mengorbankan dan dikorbankan……… ya, semua mungkin bisa dilarikan kepada-Nya agar lebih tenang, tapi cinta tentang-Nya hanya mengambil salah satu ruang di hati saya, satu ruang lain terisi oleh sahabat dan keluarga, dan satu ruang lagi tetap kosong, satu ruang kosong yang telah memburamkan ruang lainnya.

Tapi saya tidak terlalu yakin saya punya cinta hari-hari ini, minggu-minggu ini, bulan-bulan ini, tahun-tahun ini atau dalam hidup ini barangkali, tepatnya saya hanya penikmat dari hidup ini, gunung-gunung yang tinggi, lembah-lembah hijau, taman-taman berwarna-warni, ombak yang tenang atau menggelegar, awan mendung atau langit yang biru, kota-kota baru yang asing, bahasa-bahasa baru, agama-agama, perang, penindasan, musibah, kelaparan dan perdamaian, semua tentang hidup. Sebenarnya apapun yang dicari, dunia ini terlalu kecil untuk menuntut kedalaman dan keluasan hati serta cinta yang saya punya.

Betapa beruntungnya mereka yang tidak atau dengan sengaja tidak sebegitu antusiasnya menanyakan tentang hidup, teman saya bekerja, menikah, berkeluarga, lalu mati. Kata mereka, suatu "pertanyaan" seringkali menjadi masalah baru, tapi bukankah jantung pengetahuan dan peradaban ini dipompa oleh kenyataan yang memusingkan hingga lahirlah "pertanyaan"??. Mengapa saya harus mencintai sesuatu?, mengapa saya harus setia pada-Nya, mengapa saya harus mengabdi untuk negara, mengapa saya harus menghomati suatu nilai?? Lalu banyak orang yang hanya memiliki hati dangkal dan sempit menyatakan “Mengapa harus bertanya tentang nilai-nilai yang ada kalau saya sudah cukup sanggup untuk hidup, berepoduksi, dan mati dengan tenang?”

Saya mencoba untuk memahami semua kenyataan ini, pertama, saya menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah "pasar besar", pasar barang, pasar jasa dan pasar nilai. Pasar barang bisa jadi melintasi negara-negara, tapi pada setiap waktu, ia selalu ada yang memiliki, pasar jasa menyediakan banyak hal, tetapi setiap waktu ia hanya mengada bila ada yang ingin memiliki, dan pasar nilai yang saling berebut makna, sering kali ada dalam hidup kita tanpa merasa kita punyai atau kita butuhkan. Nilai hanya ada karena rentetan sejarah tanpa awal dan tanpa akhir, tak ada nilai yang benar-benar murni serta baru, dan suatu nilai akan terus hidup dan menang bila diatur oleh kekuasaan dan atau negara, yang sering kali ingin mendominasi banyak hal dalam hidup ini. Benar dan salah menyusup dalam kepercayaan dan keyakinan, pada ekonomi kita dan kekuasaan kita, pada seni dan kebudayaan kita, pada tradisi.  Sayangnya sebagian orang termasuk saya, memiliki jiwa yang tidak kebal ditembus oleh belati nilai (benar-salah) dari luar, sepanjang itu bukan yang saya miliki atau yang ingin saya miliki.

Karena saya tidak seperti kebanyakan orang, maka semua diluar tubuh saya yang terus menua ini, lambat laun telah menjadi sesuatu yang asing bagi saya sendiri. Pekerjaan, pernikahan, keluarga, ceramah masjid, nyanyian, musik, fashion, makanan, hiburan, perempuan, laki-laki, Indonesia, ibu saya, bapak saya, kakak-kakak saya, adik saya, semuanya menarik saya dalam dunia yang kesepian, dunia yang terlihat wajar bagi sebagian besar orang tapi bagi saya terlalu banyak yang harus dipertanyakan. Kota-kota, desa-desa, orang-orang, semua menimbulkan petanyaan, sering kali saya tidak mendapatkan jawaban, tapi sebuah mekanisme "pembiaran" dalam diri  saya atas terhempasnya keyakinan dan harapan yang ingin saya lakukan.

Lusa kemarin Cak Nun bilang dalam pengajian yang saya ikuti sebulan sekali, "untuk sekali-kali merayakan kepedihan atas luka yang telah kita sadari dari dunia yang memalukan ini", memang adalah sedih melihat pemimpin-pemimpin kita yang gila tapi tidak memiliki rasa malu, memang sedih melihat nilai-nilai kita didominasi dengan kekerasan dan ketidak pedulian, memang sedih melihat kenyataan tidak sebaik yang sesungguhnya terjadi, sedih melihat kegilaan manusia dan diri saya yang selalu berebut gengsinya sendiri dan mengabaikan kenyataan bahwa jiwa kita jauh lebih sederhana dari yang selama ini kita pikirkan dan kita tuntut. Merayakan kesedihan sebagai sumber kekuatan, untuk menginstropeksi apa yang ada dalam diri ini. Semua perayaan ini hanya bisa dilakukan dalam pesedihan atas hidup yang semakin terasa sempit, pengap, sumpek tapi sunyi, sepi dan sangat hampa.

Nyatanya kita memang tak pantas “hadir” di “dunia ini”, tapi karena kita terlanjut hadir, dan hanya itu yang satu-satu nya kita “ketahui”, mungkin kita harus belajar menerimanya “apa adanya”, dan semoga dari situ berawalah “cinta” yang sesungguhnya.

Jumat, 07 Januari 2011

Pemuda Canggung 28: (2011)

Posted by MOVAZ On 03:04

 Hff....... hidup semakin lama semakin berat, bosan, dan menekan... 2011 dan 28 tahun, jomblo, sendirian, gelombang besar perkawinan teman-teman dekat, bak menyapu bagai tsunami, tak tanggung-tanggung menyapu saya bahkan sesaat setelah terbangun dari tidur.

Hari senin, 11 Januari,  ujian semester pasca sarjana, gerbong yang besar dan nyaris jadi gudang itu harus terpaksa dibongkar dan dirapikan kembali, telah belajar, 23 tahun lamanya setelah te-ka, diotak saya menganga lubang, antara berfikir ideal dan kekalutan akan kenyataan, sahabat-sahabat yang kawin duluan, yang telah membeli mobil dan rumah, menjadi pegawai negeri, atau yang punya bahkan tiga putra-putri yang lucu-lucu. "ini pertandingan seperti kelinci melawan kura-kura, dan saya terpayah-payah di belakang", dibelakang sini, segalanya bisa menjadi ancaman, jalan yang sedikit saja berliku-liku bisa membuat saya bisa terbalik, dan setelah itu tentu tak semudah yang lainnya saat cangkang dibelakang saya membalik, kura-kura selalu kesulitan hanya untuk sekedar tengkurap, mirip juga dengan kecoak di dapur rumah.

Orang mencintai, lalu tidak mencintai, itu artinya bukan jodoh, mengapa harus kawin dengan orang yang tidak bisa menjaga cinta selamanya, "masih melangit yang kau pikir kawan...", ah yang ia ucapkan (mungkin) benar, tapi saya masih selalu berharap sebagai the beast yang akhirnya mendapatkan beauty di akhir cerita, saya berkhayal, lalu saya telah menyaksikan kenyataan pahit, dan itu tidak membuat saya kapok.

Betapa bodohnya menjadi saksi hidup dunia saya yang mudah dibodohi, "hanya saya tidak bisa makan hari ini, lalu saya harus menjadi apapun untuk mendapatan sepiring nasi", apa bedanya saya dengan pengemis diperempatan, mereka menjual kemelasan, nasib sementara saya menjual keringat, harga diri saya serasa jatuh, "luruh seperti sekuntum bunga". Saya dulu berusaha meredam kebejatan ini lalu membangun kebanggaan akan diri, keluar dari satu pekerjaan dan keperjaan lain, hingga akhirnya terdiam sendiri, saya telah kehabisan tenaga untuk melakukan apa yang bisa membuat saya tidak tersungkur lagi, "mental block" telah menjadi 'imam' saya, dan saya tidak juga bisa melepaskannya bahkan sampai detik ujung umur 27, kemarin lusa jauh.
Mencoba bermimpi ada seseorang yang benar-benar mencintai betapa selalu sedihnya, lalu tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan mencintai saya, "ah masak, kamu telah salah mengatakannya pada Jalang Yang Terbuang", kalau memang bukan karena umurnya, pasti dia tidak akan bilang seperti itu, apakah dia cuma tahu tentang gua dan hanya hilir mudik di dalamnya sampai tak paham jalang selalu dipilih setelah yang sekian, karena di luar sana, ada bermilyar-milyar dan milyar laki laki yang jauh jauh jauh lebih baik. Jalang hanya organisme minor, hidup di oligo-haline, siap dikalahkan oleh sedikit saja gerakan evolusi, persaingan ketat di dunia ini akan mengakhiri semua, dan segalanya tentang saya, "andai kata tidak ada Tuhan".

Pilihlah seperti Gayus, karena sejauh yang saya ketahui, se-sial sialnya orang seperti dia, pastilah masih sempat pelesir ke Bali dan Makau, lelaki yang telah berubah menjadi emas akan terus dicari dimanapun ia berada, bahkan saat tersumbat di got sekalipun. Tapi saya masih tidak ingin menjadi Gayus, karena seberuntungnya Gayus iya hanyalah korban dari serentetan kejanggalan yang memang telah disengaja terus dihidupkan di negeri ini,  karena masih banyak orang yang berfikir bahwa mereka masih bisa menjual negeri ini selama tawar-menawar berjalan secara "adil", orang pusat dapat, orang daerah dapat, perusahaan dapat paling banyak, biarlah rakyat jelata semacam saya dipikir kemudian. Ini adalah cerita klasik yang membosankan, tak ada pahlawan, lalu saya sedari kecil telah dibohongi kartun macam G-force, Satria Bajahitam, dan Unyil.... ternyata kenyataan tentang saya sendiri jauh lebih menarik, berkelok kelok serta penuh kejutan sana sini. Benar-benar tak ada Gayus di dunia kartun, tidak pernah ada kelicikan yang menang di akhir cerita, tapi di alam nyata, semua itu mungkin terjadi, dan sayangnya semua cerita tentang Gayus akan digiring seperti cerita kartun, dimana Gayus adalah satu-satunya yang harus dimusnahkan oleh Sang Pahlawan, saya harap kita semua jeli membaca lakon-lakon semacam ini, yang typical khas Indonesia.
2011, saya masih berharap kembali lagi ke suku Balian di tengah rimbah pegunungan Meratus Kalimantan, saya telah mendapat pengalaman mistik di sana, saya juga ingin sekali mendapatkan kesempatan berkunjung ke Bawaekaraeng di Sulawesi serta di Lhoong Su Jin di Acheh, saya merindukan alamnya dan juga orang-orangnya yang memandang hidup jauh lebih sederhana. Karena ada banyak hal yang telah kita pikirkan dalam-dalam, berulang-ulang dan penuh debat usir, nyatanya cuma hitam diatas putih, lagu Slank Lembah Baliem seolah adalah Credo bangunan filsafat postmodern kita yang selalu penuh pertanyaan dan pernyataan gombal. Merindukan berbincang dan makan gorengan dengan mbak Pu'ah di lereng gunung Ungaran, menjumpai pesta babi masyarakat Wamena, ahh saya kelak juga ingin bersapa dengan kota Kandahar, Bhutan, Addis Ababa, saya ingin menjadi tetangga orang-orang yang kalah, dengan catatan saya bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Karena dunia ini tidak pernah, dan tidak akan pernah berjalan di satu arah, selama itu pula saya yakin, mereka yang terpinggirkan selalu mendapatkan tempat dihatinya masing-masing, sesuatu yang kuat tertanan.

2011, kemarin Mbah Marijan telah pergi, saya merindukan senyumnya, masjid yang ia bangun juga telah musnah, sama seperti pohon palem yang telah ia tebang, mungkin saya satu-satunya orang di Kinahrejo waktu itu yang mengatakan bahwa lebih baik membiarkan pohon palem itu tetap berdiri dari pada mengorbankannya untuk perluasan masjid, seingat saya ia bilang, "wit e ngganggu mesjide, arep diambakne, mengko yo diganti", pada akhirnya apa yang dilakukan mbah Marijan sia sia, dan apa yang saya sarankan juga sia-sia, kini masjid, pohon dan mbak Marijan sendiri telah kembali dihadapan-Nya. Semua yang kita fikir benar barangkali tidak selalu benar atau selamanya bisa dibenarkan, kalau yang menyalahkan manusia sih saya bisa melawan, tapi kalau Dia telah menjawabnya dengan kehancuran pada diri saya atau pada negara saya, siapa yang bisa melawan kehendaknya. Pahlawan-pahlawan yang kita puja hanyalah manusia manusia biasa, para nabi, rashul, orang-orang suci itu lalu mati, dan sekali-kali selalu tertinggal perdebadan di sana-sini, manusia (angkuh) selalu memaksakan keinginannya bukan hanya pada dirinya tapi juga pada orang lain. Itulah bencana kemanusiaan.

2011, saya pikir saya akan lebih dewasa setidaknya 'sedikit', kenyataannya saya masih suka Spongebob, Patric, Squidward dan tuan Crabs, mereka menjadi pelampiasan atas pahitnya-manisnya dunia. Teman-teman telah menjadi orang lain setelah mereka berkeluarga, saya tidak bisa lagi tertawa lepas dengan siapapun jua. Semakin sepi dunia ini. Saya tidak berharap dengan 2011, tapi saya jalani saja semua ini seperti biasa, saya pikir lebih baik mengalir seperti air, toh selambat-lambatnya saya pasti sampai juga ke hilir. Pendidikan menjadi prioritas, masalah pernikahan saya masih berfikir berkali-kali untuk semua itu. Saya tidak terlalu berharap ada pahlawan yang datang tanpa diundang, saya membuka diri untuk segala cinta, tapi begitulah kebiasaan saya dari kecil, saya masih tidak tahu apa-apa tentangnya.

Shohibu baiti… Ya shohibu baiti…
Tuan rumahku… Wahai tuan rumah(ku)
Imamu hayatii… Ya Imamu hayati…
Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku
Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy…
Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku
Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini…
Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku
Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy…
Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku
Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati…
Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku

Semoga saya semakin sehat lahir dan bathin. Berilah hamba-Mu ini dan semua saja yang telah lama berdiri dalam cobaan dan penderitaan anugerah rizki dan ilmu yang berkah di dunia ini. Amean.