Ngantuk, tapi saya tetap ingin menulis. Merasa sepiiiiiiiiiiii sekali, padahal sahabat saya, Cal, numpang tidur di kamar saya malam ini, sudah ngorok, pulasss sekali, senang saya melihatnya istirahat nyenyak habis kerja keras sepanjang hari “wish nice dream”.
Saya sadar sepi ini tidak ada di tempat lain kecuali ada di dalam “hati”, bukan sepi dalam keadaan nyata, 28 tahun yang hanya digunakan untuk mengejar yang dicintai tapi tak juga memahami. Lalu tiba-tiba saya jenuh dan capek dengan sikap bebas saya selama ini, tapi rasanya saya tak bisa hidup tanpa memeperjuangkannya, dan dengan kebebasan itu saya membiarkan proses kesepian itu terjadi.
Begadang malam, secangkir kopi dan sebatang rokok, setidaknya seminggu satu-dua kali adalah bagian dari pelarian atas tekanan dan kesepian ini. Tapi malam ini saya menikmati pilihan ini, saya berpesta dengan kebebasan dan kesendirian. Dengan mimpi-mimpi merdeka yang ingin saya perjuangkan.
Tentang kemerdekaan, teman Padang saya, Ad, adalah jagonya, hidup sendiri di suatu pinggir kota dengan anjing-anjingnya yang lucu. Saya pernah Tanya padanya, apakah kamu tidak merasa kesepian? Saya ingat sekali dia hanya tesenyum dan berkata, “saya sudah terbiasa, kesendirian adalah teman saya”, lalu saya bertanya “teman?”, dan dia berlalu begitu saja.
Dulu saya sempat befikir, kok bisa di umur yang mau menginjak 40an, dia masih bediri tegadan bersemangat muda, dengan disertai kesendiriannya ? Saya pikir karena dia orang sibuk, maka dia tidak merasa sepi? Saya mencoba melihat semua ini dari kacamata nya….. dan saya mulai paham, ia sudah terbiasa dengan semua kesepian, ini tentang teman yang tidak pernah diundang tapi pada akhirnya benar-benar melebihi sekedar teman, antara seorang manusia dan kesepiannya.
Waktu kecil saya pernah bermimpi, memiliki rumah dengan halaman luas, dan saya di dalamnya menjelma menjadi laki-laki tua brewokan yang sendirian, berdiri di beranda depan tanpa ditemani siapapun kecuali taman yang rindang di depan mata. Waktu itu saya tak habis pikir, masih SD sudah kepikiran sejauh itu, “itu saya”, bagaimana mungkin anak kecil bermimpi menjadi lelaki hampir paruh baya dan brewok? Ketika dewasa, setelah saya baca tentang Psychoanalyst, adalah hal yang sebenarnya biasa terjadi, suatu alam sadar yang kedatangannya dan kepergiannya sering tidak kita ketahui.
Lalu mengapa sekarang saya –sering secara tiba-tiba- takut dengan kesepian saya? Sepertinya teman dan sahabat saya tidaklah sedikit, tapi sering kali di tengah keramaian dengan mereka, yang timbul kemudian justu kesendirian. Lalu sering saya kehilangan visi saya akan masa depan, dan berhenti di cerukan ruang yang sunyi dan pengap. Saya butuh memanja dan dimanja, saya butuh tertawa bersama-sama, menangis besama-sama, saya butuh memperhatikan dan diperhatikan, saya butuh mengorbankan dan dikorbankan……… ya, semua mungkin bisa dilarikan kepada-Nya agar lebih tenang, tapi cinta tentang-Nya hanya mengambil salah satu ruang di hati saya, satu ruang lain terisi oleh sahabat dan keluarga, dan satu ruang lagi tetap kosong, satu ruang kosong yang telah memburamkan ruang lainnya.
Tapi saya tidak terlalu yakin saya punya cinta hari-hari ini, minggu-minggu ini, bulan-bulan ini, tahun-tahun ini atau dalam hidup ini barangkali, tepatnya saya hanya penikmat dari hidup ini, gunung-gunung yang tinggi, lembah-lembah hijau, taman-taman berwarna-warni, ombak yang tenang atau menggelegar, awan mendung atau langit yang biru, kota-kota baru yang asing, bahasa-bahasa baru, agama-agama, perang, penindasan, musibah, kelaparan dan perdamaian, semua tentang hidup. Sebenarnya apapun yang dicari, dunia ini terlalu kecil untuk menuntut kedalaman dan keluasan hati serta cinta yang saya punya.
Betapa beruntungnya mereka yang tidak atau dengan sengaja tidak sebegitu antusiasnya menanyakan tentang hidup, teman saya bekerja, menikah, berkeluarga, lalu mati. Kata mereka, suatu "pertanyaan" seringkali menjadi masalah baru, tapi bukankah jantung pengetahuan dan peradaban ini dipompa oleh kenyataan yang memusingkan hingga lahirlah "pertanyaan"??. Mengapa saya harus mencintai sesuatu?, mengapa saya harus setia pada-Nya, mengapa saya harus mengabdi untuk negara, mengapa saya harus menghomati suatu nilai?? Lalu banyak orang yang hanya memiliki hati dangkal dan sempit menyatakan “Mengapa harus bertanya tentang nilai-nilai yang ada kalau saya sudah cukup sanggup untuk hidup, berepoduksi, dan mati dengan tenang?”
Saya mencoba untuk memahami semua kenyataan ini, pertama, saya menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah "pasar besar", pasar barang, pasar jasa dan pasar nilai. Pasar barang bisa jadi melintasi negara-negara, tapi pada setiap waktu, ia selalu ada yang memiliki, pasar jasa menyediakan banyak hal, tetapi setiap waktu ia hanya mengada bila ada yang ingin memiliki, dan pasar nilai yang saling berebut makna, sering kali ada dalam hidup kita tanpa merasa kita punyai atau kita butuhkan. Nilai hanya ada karena rentetan sejarah tanpa awal dan tanpa akhir, tak ada nilai yang benar-benar murni serta baru, dan suatu nilai akan terus hidup dan menang bila diatur oleh kekuasaan dan atau negara, yang sering kali ingin mendominasi banyak hal dalam hidup ini. Benar dan salah menyusup dalam kepercayaan dan keyakinan, pada ekonomi kita dan kekuasaan kita, pada seni dan kebudayaan kita, pada tradisi. Sayangnya sebagian orang termasuk saya, memiliki jiwa yang tidak kebal ditembus oleh belati nilai (benar-salah) dari luar, sepanjang itu bukan yang saya miliki atau yang ingin saya miliki.
Karena saya tidak seperti kebanyakan orang, maka semua diluar tubuh saya yang terus menua ini, lambat laun telah menjadi sesuatu yang asing bagi saya sendiri. Pekerjaan, pernikahan, keluarga, ceramah masjid, nyanyian, musik, fashion, makanan, hiburan, perempuan, laki-laki, Indonesia, ibu saya, bapak saya, kakak-kakak saya, adik saya, semuanya menarik saya dalam dunia yang kesepian, dunia yang terlihat wajar bagi sebagian besar orang tapi bagi saya terlalu banyak yang harus dipertanyakan. Kota-kota, desa-desa, orang-orang, semua menimbulkan petanyaan, sering kali saya tidak mendapatkan jawaban, tapi sebuah mekanisme "pembiaran" dalam diri saya atas terhempasnya keyakinan dan harapan yang ingin saya lakukan.
Lusa kemarin Cak Nun bilang dalam pengajian yang saya ikuti sebulan sekali, "untuk sekali-kali merayakan kepedihan atas luka yang telah kita sadari dari dunia yang memalukan ini", memang adalah sedih melihat pemimpin-pemimpin kita yang gila tapi tidak memiliki rasa malu, memang sedih melihat nilai-nilai kita didominasi dengan kekerasan dan ketidak pedulian, memang sedih melihat kenyataan tidak sebaik yang sesungguhnya terjadi, sedih melihat kegilaan manusia dan diri saya yang selalu berebut gengsinya sendiri dan mengabaikan kenyataan bahwa jiwa kita jauh lebih sederhana dari yang selama ini kita pikirkan dan kita tuntut. Merayakan kesedihan sebagai sumber kekuatan, untuk menginstropeksi apa yang ada dalam diri ini. Semua perayaan ini hanya bisa dilakukan dalam pesedihan atas hidup yang semakin terasa sempit, pengap, sumpek tapi sunyi, sepi dan sangat hampa.
Nyatanya kita memang tak pantas “hadir” di “dunia ini”, tapi karena kita terlanjut hadir, dan hanya itu yang satu-satu nya kita “ketahui”, mungkin kita harus belajar menerimanya “apa adanya”, dan semoga dari situ berawalah “cinta” yang sesungguhnya.












