Minggu, 24 April 2011

SUATU MALAM DI BAWAH MENDUNG

Posted by MOVAZ On 12:58

Kemarin sebelum purnama sidi kamu katakan bahwa cinta mu sebulat rembulan yang kita intip bersama, kini kamu bilang cinta itu semacam angin yang keluar dari pantat dan menghilang setelah bau yang menyengat, bagi mu cinta "cuma kentut", bodohnya aku masih percaya dengan yang ucapan yang pertama dan mengira ucapan terakhirmu cuma canda. 

Kemarin kamu bilang rindu mu pada ku semerbak bunga setaman, bunga  sesembahan dan bau dupa di makam para pencinta yang bersemayam di dalam undukan, dan doa-doa peziarah, dan mantra-mantra yang mereka ulang-ulang, permohonan ampunan atau permintaan yang mereka panjatkan adalah seperti cara kamu merindukan ku, sekarang kamu bilang rindu itu seperti "igauan tidur, cuma lolongan anjing kala bumi hening", apa arti igauan dan lolongan itu? kamu jawab "sia sia saja".

Mengapa kamu kira aku masih bercanda dengan mu, waktu aku mencium keningmu mesra dan menghangatkan tubuhmu yang rekah itu dari dingin angin malam, kamu kira aku main-main dengan mu, waktu aku membungkus tubuhmu dengan selimut tebal dan membuatkan mu bubur ayam karena kamu terbaring tak berdaya. Kamu kira aku cuma bercanda dengan mu, waktu kamu pergi tanpa pamit lalu aku mencari mu ke mana-mana, menemukanmu di ujung batas kota dengan sendal tidur yang sudah koyak serta piyama yang dekil serta kotor, aku antar kamu pulang, aku bilang, "ku hilang tanpa mu", kamu membisik "kau menemukan ku sekarang, lalu apa?", kamu lemas seperti lelehan lilin yang baru cair dan aku memberimu rasa sehingga tubuhmu pulih cepat seiring waktu. Mengapa bagi mu aku tak lebih badut dari riuh pasar malam keliling di kota-kota sunyi
*
"kita tak pernah berjodoh"

Ucapan mu dari mulut yang tanpa tulang itu,  Oh Tuhan! "Paaahhhh!!", kamu tahu bila laki-laki seperti ku mudah tersentak seperti saat kucing ketahuan nggarong, dada ku serasa dipukul Tyson si leher beton, pada ronde terakhir yang sudah lelah oleh pertengkaran panjang, walau...,  mungkin aku menyadari pada saatnya kamu akan mengatakannya dan walau..., aku tetap tak mau tahu, dan tak ingin mengerti (mungkin itu kebodohanku), karena pelukan kita, ucapan mesra kita, setumpuk kenangan, foto-foto yang di tempel di dinding, selama bertahun-tahun, semuanya lalu kandas begitu saja, semacam diterjang tsunami, atau gempa besar yang menelan kota-kota. Aku hanya berharap yang kamu ucapkan itu hanya bualan dan canda-canda kita seperti sesering kita di taman kota menjelang senja, tapi....

"aku serius, aku sadar dengan yang ku ucapkan"
"mengapa, aku terlalu jelek untuk mu, terlalu miskin kah, terlalu bodoh kah, terlalu kejam kah.."
kamu diam lama, membalikkan muka
"mengapa, apa salah ku?"
"mengapa, apa yang kamu mau dari ku yang tidak ada? apa?"
kamu diam lama, masih membalikkan muka
"empat tahun lima bulan, kita menangis lalu tertawa bersama, sakit lalu sehat bersama, terluka lalu sembuh bersama, jatuh lalu bangun bersama, apa lagi yang kamu cari dari ku dan itu tak ada sampai saat ini...................."
"aku, aku sungguh-sungguh terluka dengan ucapan mu.." kata ku,
dan kamu cuma diam, kamu tak berkata apa-apa, seperti kupu-kupu yang cuma lewat berkelebat di depan muka ku, lalu pergi menghilang entah mau ke mana.

Karena itu aku lari mengejar mu, terhuyung-huyung tak karuan kamu menjauh dari ku seperti anak kecil baru bertemu hantu, untungnya selalu saja kau beruntung memilih jalan, menuruni jalan setapak, dan menjumpai jalan besar, bersatu dalam lalu lalang karnaval rakyat, aku kehilangan mu, kehilangan hati mu dan kehilangan seluruh jiwaku, sementara kembang api menydahi semua pesta, aku hanya mau mati waktu itu, suatu malam di bawah mendung.

Salahnya sendiri aku terlalu menaruh hati pada mu, salahnya sendiri ku kira cinta itu terlalu mudah diterima seperti seonggok medali yang tak kan terkikis waktu, salahku menganggap mu setengah dari jiwa ku atau keseluruhan dari diriku, kini aku sulit memahami apa artinya satu jiwa dalam dua raga, atau apa artinya satu jiwa dalam banyak wujud, aku tak memahami semua kata-kata dari tv, novel-novel dan cerita puisi, atau buku-buku tentang kehidupan, apa artinya satu orang mewakili banyak orang, atau satu pemimpin mewakili satu keluarga, satu masyarakat, satu agama, satu kota, satu negara? bukankah dua jiwa saja yang ingin berpadu sesulit menemukan perjumpaan langit dan bumi bahkan tidak akan pernah berjumpa walau melarung ke ujung cakrawala, hanya sebatas tampak dimana. Bagaimana satu jiwa bisa berarti semua jiwa? apa yang telah dikatakan para nabi yang datang silih berganti, aku tak mengerti,  bagiku pengertian semacam itu ikut pergi bersama kekasihku. Waktu tidak bisa kembali, demikian juga iman yang aku hempaskan!

Cinta itu aneh, aku tahu ia selalu menyapaku, lalu aku menangkapnya, membungkusnya dan membuangnya jauh-jauh, cinta itu aneh, ia menuntutku untuk setia, sementara aku tak punya apa-apa untuk membuatnya tetap bersamaku, cinta itu aneh, aku tahu aku tak kan kehilangan banyak hal setelahnya, namun pada waktunya aku membutuhkannya melebihi langit dan bumi. Tapi apalah yang bisa dilakukan laki-laki selain mencari, lalu antara diterima dan ditolak mentah, lalu antara menuntut pemahaman dan kelelahan untuk dimengerti. Cinta ibu dan ayah mungkin tidak lagi bisa turun begitu saja dalam sanubariku yang gelisah, aku anggap saja kedua orang tuaku hanya bayang-bayang dari kehidupan yang penuh pertentangan lalu satu diantara keduanya memilih untuk mengalah, membuang perbedaan itu jauh-jauh, atau menyimpannya dalam guci tua yang tak tersentuh entah di mana.

Mungkin pikiranku terlalu sempit tentang itu, tapi aku telah mencoba memahami maknanya, bagaimana bisa, satu jiwa dalam dua tubuh, bagaimana anak-anak bisa besar dari dua orang tua yang saling memendam perbedaan, apa artinya pengertian bagi ku, sementara dulu, kekasih ku pergi tanpa memberi alasan atas apa yang ia pilihkan dan tinjukan pada piluku. Lalu untuk apa aku mencintai? untuk mencari ketidak tahuanku?

Aku harap waktu mampu menyembuhkan luka, sayangnya luka sekuat permata, pedih itu tak kan pergi ke manapun.
*
"kamu mengada-ada, kamu membesar-besarkan"
"tidak"
"cinta bisa datang dan pergi, menghilang dan kembali"
"tidak"
"cinta dibura, dicari, ditangkap, dinikmati, dibuang dan dicari lagi"
"tidak"
"cinta bisa dibeli"
"tidak"
"cinta bisa dibagi"
"tidak"
"cinta itu kesetiaan"
"tidak juga"
"aku tidak menemukan makna cinta dari mu wahai anak muda"
"karena aku memang tidak tahu"
"oh anak muda, bukan berarti kamu harus bersedih dan dendam penuh bara kalau kamu tak tahu apa itu cinta"
"apa aku pendendam" kata ku
"cinta bukan dendam"
"lalu apa aku terlihat bersedih"
"cinta bukan tentang kesedihan"
aku berfikir sejenak, apa yang dikatakan orang tua renta ini. Lalu aku pergi darinya, aku tidak tahu maksudnya.
*
Ketika angin mendesir, aku tahu Engkau telah berbisik berlahan padaku, petir-petir itu seperti tangisan pilu dari 'wajah'-Mu yang lain, daun daun yang beterbangan disapu angin adalah cara Mu menyapa dunia ku yang sempit ini, dan aku menyadari lukaku seperti tubuh yang terjatuh dari pelana kuda seusai perang besar yang tak tahu menang dan kalah, aku menyimpan dendam seperti api abadi yang tidak pernah padam, aku memang tak paham cara-Mu muncul dalam banyak jiwa berbeda, atau mengendap dalam bermacam rasa serta warna, hingga ku sadari yang muncul dalam kebencian dan luka ku ini, adalah cinta yang terhalang oleh memori masa laluku yang tidak segera ku buang. Pada dasarnya aku tak sanggup membuang cinta-Mu itu seperti pengertian yang aku yakini selama ini. Aku memang rapuh.

Walau mungkin aku dianggap lemah dan berlebihan sebagai laki-laki yang mengaku tangguh. Cinta telah menjelma dalam suatu malam di bawah mendung.






Jumat, 22 April 2011

SELAMAT HARI BUMI : DEWI SRI LAGI BERCANDA

Posted by MOVAZ On 20:45

Kemarin Hari Bumi, 22 April 2011. Bumi yang berumur 12 Milyar (secara teoritis), dan bumi yang telah berkali-kali mengalami kepunahan masal mendadak, sekitar enam sampai tujuh kali kepunahan masal. Bumi tempat bipedal mamalia muncul dua juta tahun, dan homosapien yang diyakini muncul 300 ribu tahun yang lalu. Bumi tempat orang-orang afrika pergi mengembara, ke utara, ke timur, menyebar, menciptakan empat ras besar: kaukasian, afrikan, mongolian dan javanian, yang terakhir adalah ras paling unggul diantara semua ras, karena ia tidak pernah menyombongkan diri, dan tidak pernah mau menulis jasa-jasanya bagi kelompok ras yang lain, dan terutama tidak mau dan menolak adanya penjajahan.

Hari bumi yang tidak se-spesial hari lahirnya Jesus, atau perayan kemenangan manusia setelah puasa sebulan, tidak semeriah saat merah putih di kibarkan di mana-mana. Tidak ada baju-baju baru, atau kue-kue lebaran, musik-musik megah dari gereja atau mars yang semangat dari paduan suara anak muda. Hari bumi bukanlah hari suci dimana orang-orang dari pulai dewata melarungkan sesaji, atau mendaraskan mantra, atau berkumpung di banjar. Tapi masing-masing agama sedikit banyak telah merasakan kemesraan dengan bumi sejak agama itu dimunculkan, saya yang muslim tahu pasti bahwa ada sekian banyak larangan akan makan memakan: 1. jangan makan hewan liar, 2. jangan makan yang bertaring, 3. jangan makan yang beraruh panjang, 4. jangan memakan binatang kesayangan (anjing, kucing dll), 5. Jangan memakan hewan amfibi, 6. Jangan memakan yang menjijikkan.  Agama islam saya melarang: 1. penguasaan terhadap air, 2. penguasaan terhadap energi (api), 3. penguasaan terhadap hutan (padang rumput kehidupan), Islam melarang saya untuk: membunuh binatang tanpa alasan, menebang pohon tanpa dasar dan membunuh binatang apapun yang tidak mengganggu. Islam juga menekankan pada kontrol energi: jangan makan berlebihan, jangan menggunakan perhiasan berlebihan dan menampakkan berlebihan, berhentilah "makan" sebelum "kenyang. Islam menghargai kepemiikan namun lebih dari segalanya islam menghendaki distribusi yang adil atas segala sumber kehidupan.

Hari bumi ada dalam semua agama, 22 April hanyalah hasil mufakat sejengkal dari panjangnya sejarah relasi manusia dan bumi. Terutama hindu-budha yang memang agama kebumian (ardiah), sangat tergantung dengan bagaimana memaknai hidup dalam keberimbangan, saya tidak cukup paham agama-agama jenis bumi, selain keyakinan akan reinkarnasi dan lebih pada konsep pencarian melalui diri. Sementara Islam dan sejenisnya berkait erat pada perenungan hakikat alam sehingga memunculkan kesimpulan-kesimpulan konsep ilahiah yang sangat menafisis dan imanen, sebenarnya hal semacam itu ada pula dijumpai di hindu, namun di agama samawi, dasar-dasar metafisis seperti Tawhid, Trinitas dan tradisi Yahudi (kabbalah) ditekankan untuk semua pemeluknya.

Islam saya, Tawhid, adalah konsep yang bagi saya pribadi sangat indah: tak ada satupun daun kering yang jatuh yang tidak Ia ketahui dan Ia "tuliskan" 'beribu milyar tahun yang lampau' dalam Luhl Mahfuz, luar biasa! Islam saya mengajarkan bahwa: Tuhan ada lebih dekat dari urat leher mu! Tuhan memenuh segalah hal namun ia teramat dekat untuk ingin kita jangkau, jika kita menginginkannya. Tidak perlu menemukan Ia dalam perjalanan spiritual yang rumit dan melelahkan. Tawhid mengajarkan untuk melepaskan diri dari pandangan-pandangan duniawi yang sempit, kita semua adalah keluarga besar umat manusia, tidak peduli anda Militan, Ekstrimis, Atheis, Religiophobia, Newage, Materialistik, dan sebagaiany, kita semua adalah keluarga. Dan Tuhan ada dalam kehangatan dari keyakinan-keyakinan yang kita jalani.

Bumi, lepas dari semua keyakinan kita, sedikit lebih tegas, ia memiliki parameternya sendiri, "daya dukung dan daya tampung". Pemanasan Global bisa jadi antara benar dan salah, namun sejak dimulainya industri, kerakusan kita akan bumi jauh lebih dahsyad dibanding semua makhluk hidup di bumi ini selama 12 milyar tahun di belakang. Jin dan Iblis yang konon pernah menghuni bumi tidaklah serakus manusia industri. Beli, Buang, Beli, Buang. Beli, Buang tak habis habisnya! Lugu, Gaul, Ketinggalan, Lugu, Gaul, Ketinggalan, Lugu, Gaul, Ketinggalan tak habis-habisnya. Saya tidak sedang berdebat dengan kaum materialis, komersialisme, atau konsumerisme, pembicaraan saya adalah pada daya dukung dan batasan-batasan yang pasti: 1. Hutan telah sangat berkurang, 2. Air bersih semakin sulit atau turun kualitasnya, 3. Semakin banyak spesies yang terancam kepunahan, 4. Terus berkurangnya habitat alami, 5. Semakin cepatnya eksploitasi di permukaan dan perut bumi, 6. Penyempitan lahan terbuka hijau, 7. Masalah sampahdan daur ulang yang tidak teratasi.

Ada banyak argumen akan pencapaian kebahagiaan, mulai dari penepian diri di kesunyian, sampai suara trance music dari nightclub di kota-kota, dari pantangan dengan menjalankan puasa 'mutih', sampai kebahagiaan yang dicari dengan memborong barang-barang di mall-mall mercusuar, kebahagiaan bisa di temukan oleh sebagian besar orang melalui ketaatan tulus tanpa bertanya terhadap suatu ajaran, kebahagiaan lain dicapai dengan kritik dan pemberontakan, sebagian bisa bilang relativ atau sebaliknya kebahagiaan adalah absolut. Tapi bagi BUMI ukurannya lebih jelas: Tanah, Air, Udara, Vegetasi, Manusia , (mari kita sementara abaikan nilai-nilai yang sebenarnya sangat terkait juga dengan bumi ini). Dan semua orang dari pandangan hidup apapun sesungguhnya bisa berdebat di medan ini. Masalahnya, bagi sebagian orang, mereka tidak mau tahu, dan mengabaikan kebenaran yang ada di depan mata mereka. Hanya demi mempertahankan kebahagiaan yang bermakna sempit, baik sebagai personal, kota, negara, atau blog-blog politik di dunia ini.

Hari Bumi, di kota Jogja: motor-motor tumpah ruah, dorongan industri tidak hanya menciptakan kemudahan tapi juga sampah (mari kita abaikan pengertian sampah dalam konteks nilai), lahan-lahan pertanian yang tergusur *ya iyaaaalahhhh, mana ada yang mau jadi petani, pekerjaannya keras sementara untungnya sangat tipis, bahkan sering kali rugi*, bagaimana dengan ruang publik, ruang terbuka hijau, kampanye untuk bersepetah atau berjalan kaki, menghemat listrik dan lain-lain. Jogjakarta semoga tidak mengikuti nasib kota-kota lain yang TERBURU MENYIMPULKAN TENTANG UKURAN KEMAJUAN PEMBANGUNAN KOTA.

Saya sebenarnya tertarik dengan argumen bahwa kapitalis (dalam varian konservatif) hanya bisa dilawan dengan kapitalisme itu sendir, dengan varian lain barang kali. Ekonomi lingkungan secara sederhana menyatakan adanya hitung-hitungan tentang: eksternalitas dan valuasi. Karena saya bukan dibidangnya, sejauh yang saya pahami, eksternalitas lebih pada dampak domino dari suatu kebijakan ekonomi, sementara valuasi bertumpu pada penilaian melalui sisi materi dari keberadaan. Sekarang saya mencoba berfikir, berapa harga burung yang tiap hari terbang di atas langit-langit rumah di kampung saya setiap sore yang sekarang sudah tidak ada, saya mencoba berfikir apa dampak terhadap hilangnya burung-burung itu bagi ekologi dan keseluruhan mata rantai kehidupan, kalau ekonomi berbasis lingkungan bisa diterapkan, tentu saja kapitalisme akan kembali berhitung atas  kerja yang paling mudah untuk hasil yang banyak. BERAPA HARGA BURUNG YANG TERBANG SETIAP SORE YANG KINI TELAH TIADA? APA AKIBAT DARI HILANGNYA BURUNG-BURUNG ITU, BISAKAH KITA MENGHITUNG NILAI DAMPAK EKOLOGISNYA?

Bidang saya adalah agama terutama islam dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup, saya tahu bahwa agama walaupun masih dianggap penting, namun dalam kehidupan keseharian lebih bersifat identitas semata yang tidak bisa diupayakan secara praktis dalam kehidupan sekoler (sehari-hari) manusia. Adalah sah bila agama dianggap demikian, bagi mereka yang berfikir rasional tentulah lebih baik memikirkan hal yang pasti-pasti saja daripada menghitung sesuatu yang "supra". Lahir, Main, Belajar, Pacaran, Kerja, Nikah, Berkeluarga, Membesarkan Anak-Anak, lalu ikut pengajian bapak-bapak, dan mati masuk surga. Its OK!, orang-orang berfikir sederhana memang indah, tapi tidak semua orang mau. Oleh karenanya bagi yang berfikir instan agama hanya dihayati sebagai makanan siap saji yang tinggal dimakan lalu kenyang dan pulang. Agama dipahami sebagai ritus: sholat, puasa, haji. zakat, dan moral yang datar: jangan ganggu orang lain. Its OK!, sementara memang masih banyak yang mengatakan bahwa terlalu ikut tercampurnya agama dalam kehidupan sekuler, sehari-hari akan berdampak pada keruwetan hidup ini. Buat apa menegaskan bahwa islam melarang membunuh hewan langka kalau undang-undang memang telah melarangnya, buat apa islam mengajarkan penghematan konsumsi bila ekonomi finansial kita juga telah melakukannya. Islam buat apasih??? paling cuma buat hati kita tenang dan damai! Its Ok!

Bahkan sebagian menganggap agama yang terlalu ekstrim tidaklah baik, "teroris boooo' atuttttt", its Ok, gambaran agama diantara dua sayap, diabaikan dan bisa dianggap ancaman dari kemajuan. Moral adalah urusan pribadi, kita diajarkan TOLERANSI dan kita terus belajar tentang itu, kita juga belajar untuk membedakan antara PERMISIF dan EDUKATIF, mabuk boleh sekencang-kencangnya sampai jackpot "itu urusan loe", tapi apakah itu toleransi bila akibatnya adalah kecanduan, ginjal dan rumah sakit, kamu diam, kamu melarang, atau kamu memberi masukan. Inilah posisi yang harus dipilih agama, merusak toko penjual miras, atau menyarankan agar miras dijual di tempat yang tersembunyi dari jangkauan anak SMA? atau bagaimana? atau memberi pendampingan khusus bagi yang kecanduan, kalau begini bagaimana posisi agama? apa perlu agama mengkontrol hal-hal 'sepele' semacam ini, sementara agama sesungguhnya adalah spiritualitas yang maha agung.

Agama dan Bumi, Musa menemukan Tuhan di Bukit Tursina, Muhammad menemukan Wahyu di gua Hira', Gangga adalah sungai agung yang sucu dan penuh berkah. Apabila bumi ini telah hancur sejak lama, mungkin isi-isi dari kitab suci akan berubah, dan andai nabi-nabi dan awetara lahir saat ini, mungkin akan berhamburan kalimat-kalimat kapitalis, konsumerisme dan hegemoni dibanding tentang sabar, cinta dan kasih sayang. Apakah Islam perlu mengeluarkan fatwa untuk hukuman rajam atau cambuk bagi penembak orangutan? atau hukuman cambuk bagi pembuang sampah sembarangan? saya hanya berfikir dan menyimpulkan secara sederhana: mereka yang membuang sampah adalah mereka yang tidak menghargai bumi, dan iman mereka belum sempurna. Sama saja dengan aparat yang membiarkan orang-orang semacam itu, yang merusak lingkungan, iman mereka belum juga sempurna, pertanyaan itu saya kembalikan pada saya: apakah saya masih demikian. Saya perlu membuktikan pikiran-pikiran saya, tidak hanya kata-kata.

Saya mencintai bumi ini, semoga saya mau berbagi pengertian dengannya.




Kamis, 21 April 2011

APA YANG PALING MENDASAR DARI NEGARA UNTUK RAKYATNYA?

Posted by MOVAZ On 19:58

Indeks keberhasilan pembangunan? Saya menanyakan pada orang-orang apa parameter dari kemajuan sebuah negara? Dimulaui dari Kedai Kopi Mato, melanjutkan pembicaraan sebelumnya, bahwa kisah-kisah nabi kitab-kitab Abrahimic dan epos Mahabaratha-nya kitab Vedantic, hanyalah mitos belaka, mitos yang tidak memerlukan pembenaran bahwa Laut Merah pernah dibelah oleh Musa, atau perang Bratayuda, dimana dan kapan tepatnya? Kami sepakat berkesimpulan, 


Sementara itu tadi malam, saya bercerita tentang mitos tentang keluarga besar saya, tentang macan mbah Bukhori, tentang riwayat keturunan gila, tentang jin-jin yang dipindahkan mbah Bukhori (resettlement) karena tempat mereka akan dibangun rumah untuk simbah, tentang bersin mbah Bakri yang membuat mbah Bukhori terkejut dan spontan meloncat hingga menyebrangi sungai yang lebarnya seratus meter, atau tentang gendruwo yang sering kali nampak di pondoknya simbah dahulu kala, bukankah itu mitos? saya percaya atau tak percaya itu urusan pribadi saya.


Saya bicara tentang simbah buyut saya yang anak-anaknya (kakek-nenek) sangat profan, serta ungkapan ibu saya yang mengatakan 'moralitas' masa lalu Indonesia itu lebih profan, bude-bude yang sekarang sudah sepuh malah suka merokok, genit dan juga heboh terutama saat ngerumpi mbah-mbah kakung yang dulu ganteng-ganteng, dibanding saat ini, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit sesat, sedikit-sedikit makar. Belanda menguasai Indonesia 3,5 abad, dan sepertinya tidak meninggalkan apa-apa selain militan dan radikalisme, sementara di Belanda, same mariage, pedofilia, marijuana dilegalkan dengan catatan tertentu, di Indonesia hukum tidak pernah berkembang selain memusiumkan KUHP Belanda begitu saja.


Pembicaraan meloncat apakah pihak Belanda meninggalkan sesuatu untuk Indonesia? saya katakan tidak! seperti biasa, kelompok oposisi (Dipta dan Ngurah) bilang saya Asbun (asal bunyi), Belanda meninggalkan Kebun Raya, meninggalkan Anyer Panarukan, meninggalkan Administrasi (dan walaupun korup), tapi itu sama sekali tak ada artinya bagi saya, Thailand negaranya tidak pernah dijajah oleh siapapun, tapi ia bisa melakukan semuanya seperti Indonesia bahkan lebih, tanpa harus dijajah. Sementara Belanda, sebagai pusan Mahkamah Internasional, dan terkenal dengan Hak Asasi Manusianya, sama sekali tidak meninggalakan apa-apa secara softculture di Indonesia. Apa dan Mengapa Coba?


Dipta membantah semua argumen saya!, why! aturannya kemajuan negara adalah dari "tidak adanya kelaparan dan pengangguran", saya tungkas "tidak!", yang utama adalah hak asasi warganya, bukan kisaran GDB dan Pendapatan perkapita, saya bilang orang Arab kaya-kaya, tapi hak-hak wanita sama sekali diabaikan, its better than? Bagi saya Hak Asasi adalah kunci negara itu maju atau tidak! Prof Suratman Dekan Geo UGM boleh mengatakan key of Develupment adalah Lingkungan, Dipta boleh bilang "kalau gak ada orang miskin dan pengangguran!", pahhhh, saya tetap katakan "HAK ASASI MANUSIA".


Lagi-lagi Dipta ma Ngurah menyanggah (sementara Pepen sudah 'tewas, dan Herlan pasti lagi mikirin 'aphaa gtoch'), ukuran kemajuan hak asasi manusia itu apa, apa dengan nikah sejenis, legalitas marijuana dan sahnya pedofilia, its Crazy!, saya ketawa melihat bantahan mereka! mereka masih setia pada frame yang lagi-lagi mengarah pada dikotomis antara Timur dan Barat, dan menyalahkan saya yang secara tidak konsisten "menelan ludah sendiri", Dipta bilang "aku selalu amati ucapan mu, kemarin katanya gak suka prof-prof terlalu mengagumi barat, tapi sekarang menganggap barat lebih maju, apalagi dalam HAM yang nyatanya tidak memiliki parameter", saya ketawa saja, bukannya saya mati untuk menjawab, tapi lagi-lagi oposan-oposan saya cuma tahu dan menyederhanakan masalah dan mencampur adukkan, antara mengkritik "pemujaan barat" dan "belajar dari barat". Adalah salah bila profesor menghina-hina Indonesia dengan sebuatan budaya jam karet atau budaya korupsi karena itu bukan budaya, tapi perilaku penyimpangan sosial, jelaskan bedanya!, adalah salah mengatakan bahwa indonesia sulit berubah untuk "mencapai seperti barat", pernyataan itu sangat debetable dan tidak layak keluar dari mulut seorang profesor atau doktor.


Ukuran hak asasi manusia bagi saya adalah hak untuk hidup layak jasmani rokhani, dan itu wajib dipenuhi oleh negara, negara-negara jajahan Belanda harusnya paham kalau hak asasi itu mutlak, tapi tidak seperti bekas induk semangnya, Indonesia tetaplah pemuja simbol dan mengabaikan esensi. Kalau negara belum bisa memenuhi kebutuhan materi secara layak, harusnya setidaknya menyediakan kebutuhan imaterial seperti pendidikan dan kesamaan kukum (baik sebagai mayoritas atau minoritas) bagi semua rakyatnya. Nyatanya langkah yang paling 'murah' itu tidak terlaksana dengan baik. Selalu ada udang dibalik batu dari setiap bantuan "gratis" untuk rakyat, sama saja dengan selalu ada maksud-maksud tertentu dari bantuan lunak Amerika terhadap dunia berkembang, kebanyakan melulu pada popularitas dan pendekatan politik. Pemerintah Indonesia tidak ada bedanya dengan Amerika.


Kacamata saya tidak ingin seperti kaca matanya kuda, orang makan dan bertempat tinggal yang layak serta memiliki pekerjaan yang menopang keluarga adalah hak setiap warga, namun bila proses ini membutuhkan waktu panjang, setidaknya secara softculture : pendidikan yang setidaknya murah dan kampanye toleransi di sebarkan seperti iklan-iklan partai waktu musim kampanye, nyatanya tidak! orang lebih mudah berprasangka pada hal yang asing dari pada rasa penasaran untuk belajar menyapa dan mengenali. Dalam pendekatan yang saya usahakan, dasar dari konsep ilmu saya adalah kesamaan hak asasi, serendah-rendahnya adalah pendidikan dan kesadaran menghormati orang lain, dan setinggi-tingginya adalah kesempatan ekonomi, politik dan terutama hak yang sama terhadap lingkungan hidup. Nyatanya saya tidak menemukan kenyataan yang membanggakan, yang nampak hanya subsidi BBM untuksemua orang, serta BLT yang sangat politis semacam pahlawan yang dielu-elukan menjelang pemilihan umum. Rakyat selalu dikorbankan! *ngelus-ngelus dhodo*.


Saya kecewa bahwa biaya yang relativ murah untuk kesadaran toleransi dan pendidikan murah itu telah dilupakan, apa artinya kampanye keberhasilan program pemerintah sementara ini hanya polesan media, demokrasi kita memang diakui paling terbaik dari semua negara mayoritas Islam, tapi pada tataran tingkatan daerah, kesempatan politik adalah wilayah yang sangat langka dan "mimpi yang sangat mahal", yang muncul adalah "zamindar (tuan tanah) baru" yang dulu pernah dilucuti kekuasaanya oleh penemuan industri. Saya kecewa pada harga manusia (buruh) yang masih sangat rendah hanya demi alasan investasi yang kompetitif dengan China atau Vietnam, kasian mereka, pasti akan tambah menderita bila anak-anak mereka pada putus sekolah, karena walau SPP gratis, biaya lain-lain dari tingkat SD apalagi sampai kuliah sangat tidak proporsional dibanding pendapatan sebagai buruh. *perkenankan saya ngelus-ngelus dhodo lagi*.


Apa yang ditinggalkan Belanda, kita tidak memiliki hubungan istimewa dengan belanda seperti bekas jajahan Inggris yang punya persemakmuran, saya memakluminya karena belanda adalah negara kecil yang tidak se'imperium' Britania Raya. Namun setidaknya orang-orang yang dijajah mampu menemukan sendiri konsep-konsep kebijakan pemerintahannya melalui "Jalan Penderitaan Rakyatnya". Merasakan penderitaan rakyat, bukan dengan buru-buru mau "membangun jembatan trans Sumatra-Jawa" atau "Gedung De.Pe.Er berletter U terbalik", katanya ini akan menjadi "Simbol Baru" dan hasil karya original orang Indonesia. *Hallooowwwww!* Apa mereka pikir turis datang di Indonesia untuk melihat gedung DPR dan Jembatan! demikian mereka berfikir seperti kunjungan mereka ke Menara Petronas dan Teater Sing'pore Esplanade dan Merlion. Saya tegaskan SIMBOL DARI NEGARA DAN CITA-CITA ANAK BANGSA ADALAH KUALITAS PENDIDIKAN DAN PENGHORMATAN ATAS KESAMAAN HAK SEMUA WARGANYA!!!, hak yang sama dalam pendidikan, berkebudayaan, toleransi, berpolitik da berlogika, bersuara, atas cinta dan keyakinan, atas pekerjaan yang layak, atas kesehatan. Bukan membangun Menara Gading, yang sulit dipahami (apakah jembatan yang akan dibangun benar-benar alternativ terakhir? siapa yang menjamin itu sebagai suatu alternativ terakhir? media hanya membohongi kami! kebanyakan orang!).


Amanah semua nabi dan awetara (yang mereka sampaikan melalui cerita mitos mereka) : bantulah fakir miskin agar mereka sejahtera dan layak sebagai manusia secara lahiriah dan bathiniah. Dan kebanyakan dari kita telah melupakannya pesan itu dan justru disibukkan untuk membuat nyata kisah-kisah mitos tersebut dengan membuat mitos baru yang menyatakan bahwa (hanya) satu agama (saja) yang lebih tinggi dan paling benar dari agama yang lain. Sungguh Tuhan ada di Timur dan di Barat.

Senin, 11 April 2011

Fihi Ma Fihi

Posted by MOVAZ On 04:53

in your life (abangdetak.wordpress.com)
Bagaimana cinta ini dimulai?
Bagaimana cinta ini dijalani?
Bagaimana cinta ini diakhiri?


Antara kita tidak seperti Bulan dan Matahari.
Berdua yang selalu hadir di cakrawala luas itu.
Dan tidak seperti langit dan bumi.
Yang mampu menghadirkan beraneka rupa.


Antara kita tidak seperti tamu dan tuan rumah.
Lalu mempersilahkan sang tamu masuk.
Lalu tuan rumah menyedukan teh.
Lalu saling bercerita di sofa yang empuk.


Ataukah bagai penguasa dan rakyat.
Sang penguasa lihai merangkai kata dan janji.
Dan rakyat bagai gadis udik yang mudah jatuh hati.
Lalu seperti biasa, penguasa membohongi rakyatnya.
Memang tidak semua...


Mungkin seperti menggurui dan digurui.
Salah satu sok tahu dan yang satunya sok bodoh.
Lalu menciptakan kelas-kelas yang sia belaka.
Untuk apa diajarkan sesuatu yang kita sudah tahu?


Salahku mengharapkan engkau memahami yang aku pahami.
Bukankah sudah dari sananya kita berbeda.
Dan cinta kita tidaklah sama.
Mengapa aku harus memaksakan sesuatu yang serupa.


Seperti musafir yang memasuki taman asing warna-warni .
Tak ada artinya burung-burung bersiul dan bunga bermekaran
Sang musafir hanya untuk lewat, sekedar melintas.
Lalu pergi tanpa meninggalkan kesan apalagi pesan.
Cinta kita bersua karena rasa sepi..
Lalu berpisah tanpa rasa gelisah kehilangan (itu kamu).


Salah ku yang tidak tahu apa-apa...


Di bawah pohon kamboja, dan bunga-bunganya yang luruh.
Di bawah guyuran hujan lebat yang membuatku basah kuyup.
Bersimpuh diundukan liat pekat yang masih baru.
Tidak mudah melihatmu hilang dimamah tanah.


Tapi lebih tidak mudah lagi karena kita berdua masih menjelata di sini.
Tapi tidak pernah ingin saling berjumpa.


Salah hatiku merindukan mu.
Salah hatiku mengangeni mu.
Salahku memelihara semua ini.


Cinta menjelma penderitaan syahdu yang selalu ku kidungkan.
(Bodohnya aku!)


Angin-angin musim telah silih berganti mengirim hujan dari dunia lain.
Tanah-tanah bergantian menumbuhkan dan mengeringkan rerumput berkali-kali.
Aku seperti kedai tuak, dan  orang-orang stress datang lalu pergi menjadi gila.
Sementara aku terus memikirkan mu.


Aku memang telah gila, tapi ini tentang cinta (gombal!).
Ia tersumbat di got lalu melimpah di jalan-jalan.


Seperti lelakikah?
Yang harus bertanding tinju hingga remuk semua karena rindu.
Yang harus memberondong peluru pada musuh yang tidak tampak di balik semak.
Yang harus berkelahi sampai gelepar berpeluh darah, demi kekalahan yang jantan.


Pergi ke puncak-puncak gunung, lalu menepi, seperti saniasin, pezuhud, atau pertapa asketis.


Seandainya cinta menjelma menjadi rintihan lapar orang-orang miskin.
Seandainya cinta menjelma menjadi kerinduan kekasih sejati wanita pelacur.
Dan aku bisa menjadi teman mereka, suka dan duka.


Sekali lagi, aku terlalu bodoh untuk memahami cinta ini.

Semoga Tuhan mengampuniku !