Saya sedih saat dunia ini diburamkan oleh prasangka dan justru percaya diri yang berlebihan, satu pihak percaya telah menemukan nasib seluruh dunia demikian juga pihak lain. Satu golongan menindas golongan lain atas nama kebebasan, atau atas nama kebenaran. Dunia yang memang telah ditakdirkan untuk berseteru karena tuntutan dari akal yang terus mencari tujuan akan makna yang harusnya tak pernah menuntut untuk selesai. Osama Ladin karomallahu wajhu telah wafat sebagai martir 'keyakinannya'. Dan Amerika merasa telah menang karena itu, sekaligus merasa 'benar tanpa rasa bersalah atas itu, merasa didukung sepenuhnya oleh logika dan kemanusiaan. Dahulu Siti Jenar mengalami nasib serupa, dahulu Rakuti-Rasemi dan Lembu Sora telah mengalami hal serupa, demikian ujaran dari kitab Suthasoma, dan pada dasarnya Adampun diciptakan untuk membangakng dari Tuhannya demikian juga Hawa. Lalu apa lagi, MANUSIA ADALAH MAKHLUK PEMBANGKANG?
Amerika telah lupa, sejarah merekan didirikan dari pembangkangan Tea Party Boston dan Perang Saudara, demikian juga seluruh dunia baru adalah wujud pembangkangan rakyat atas raja-raja. Sejarah juga paham bahwa Osama adalah teman Amerika ketika Unisoviet menginvasi Afganistan, Demikian pula Sadam pada perang melawan Iran, lalu keduanya membangkang dan media yang 'tuli dan buta' telah melupakan kisah 'romantis' ini.
Sesungguhnya, semua orang waras tahu, Obama hanya mematikan simbolnya saja, tapi tidak akan pernah meredam pembangkangan, satu kelompok pembangkang baru tercipta karena semua ketidak puasan dan keacuhan penguasa, di kampung, di kota-kota, di ibu kota negara, di titik-titik dunia. Karena tidak semua jiwa puas dengan kepemimpinan penguasa dan situasi dunia, selama itu pula pembangkang dilahirkan dan tumbuh. MANUSIA ADALAH MAKHLUK PEMBANGKANG.
Cara-cara Osama dengan simbol "Islam" nya menarik banyak anak muda termasuk saya untuk tidak menerima mentah-mentah apa yang didengungkan Amerika dalam versi "Demokrasi Liberal" nya, saya mencari gaya hidup 'alternatif' karena saya memang tidak cocok dengan gaya 'tutur' Amerika memandang kehidupan. Tragisnya, penulis Fukoyama mengagungkan "berakhirnya sejarah" meng-hilir dalam demokrasi liberal, "LOGIKA TELAH MENJADI MITOS, SEPERTI SINETRON KACANGAN DAN IKLAN-IKALAN TV", lalu percayakah anak muda seperti saya yang menyaksikan sendiri proses demokrasi Indonesia selama satu dekade ini tidak selalu lebih baik dari zaman pak Harto?
Terperangkap dalam kata "Iya" terhadap demokrasi liberal 'rasionalis' sama saja dengan "Iya" terhadap teks keagamaan, bagi saya, itu sama-sama "dibutakan" ('kafaro' dalam bahasa Arab = bila jadi subjek berubah menjadi kata 'kafir'), dan orang Indonesia bagaimanapun terbiasa untuk tidak mudah percaya pada Ideologi macam apapun untuk di imani hingga mati, kita "Indonesia' tidak percaya sepenuhnya terhadap ideologi "Hindu" dan "Budha", tidak percaya sepenuhnya terhadap "Islam", dan tidak percaya sepenuhnya terhadap "Kristen", atau juga "Atheis dan Humanis". Demikian kita tidak pernah terlalu percaya pada Komunis, Liberal, Nasionalis, atau bahkan Pancasila. Itulah yang perlu dicatat.
Tidak punya idielogi adalah prinsip hidup Indonesia, semua Ideologi bahkan "Ideologi Tanpa Ideologi" pun harus dikritik, ORANG INDONESIA TIDAK MEMBUTUHKAN IDEOLOGI DAN JANGAN MENCOBA UNTUK MEMBUAT ATAU MENGIMPOR IDEOLOGI UNTUK KAMI! KAMI TIDAK MAU MATI HANYA DEMI IDEOLOGI!, karena ideologi hanya akan menciptakan pembangkang, dan pembangkang menciptakan kekerasan, kekerasan menuntun pembenaran dan pembenaran membutakan mata hati! Percayalah !
Dari dulu penguasa-penguasa Nusantara memaksakan Ideologi: Raja-raja hindu-budha memaksakan kehinduan dan kebudhaan, islam dan belanda demikian juga, orde baru dan soeharto serta reformasi juga menuntut hal serupa, kita dipaksa menjunjung demokrasi yang cita-citanya teramat Otofia bagi rakyat, kita tidak butuh petunjuk "Nabi", yang menuntun kita ke jalan yang Ia ridlai, yang hanya kita butuhkan adalah isi sesungguhnya dibalik semua simbol, kata dan ideologi. Karena banyak dari pemimpin kita adalah pembual maka kita terlatih membedakan mana itu kulit dan mana kacangnya. Rakyat indonesia selalu terlatih untuk itu, rakyat indonesia sangat pintar dalam hal ini.
Oleh karenanya saya dan sekian banyak bangsa Indonesia tidak lagi memahami apa itu ideologi terutama yang disampaikan elit yang makan 'roti', walaupun penguasa dan orang-orang asing mengimpor banyak hal tentang rongsokan 'ideologi', tapi bagi kami ideologi tak lebih kulit teramat luarnya saja. Sehingga peristiwa kematian pembangkang dan 'kemenangan' pihak penguasa tak lebih perang kurusetra, intinya tetaplah melawan hawa nafsu yang bisa berwujud macam-macam di dunia ini termasuk ideologi, bahwa muara dari perilaku adalah bathin dari kedalaman jiwa kita.
Osama telah pergi selamanya, tapi tentu itu cuma menebar biji di tanah yang siap untuk menuai benih baru, Amerika tidak pernah nyaman dengan rumah tinggalnya, pagar-pagar rumah mereka yang tinggi kelak tetaplah akan dipanjat, dan 'pencuri' baru akan menerobos ke kamar sang putri dan merayunya untuk meninggalkan rumahnya. Selama masih percaya pada Ideologi, "Agama" dan "Politisi" serta "Nabi-Nabi", manusia hanyalah ibarat memakan kulit kacang dan justru membuang kacangnya sendiri.
Saya tidak percaya pada "negara" ini, ia tidak pernah memberikan apa-apa pada saya kecuali pajak telp, pajak bensin dan pajak pertambahan nilai. Saya tidak dididik oleh "negara" ini, sama sekali tidak, saya dididik oleh rakyat indonesia dan segala sejarahnya, tidak oleh "pemerintah"nya. Saya sungguh menyadari bahwa "negara" ini hanyalah kepanjangan tangan dari industri bangsa asing yang (sok) berkuasa itu, menjual warisan leluhur dengan harga murah, dan hanya sedikit yang dikembalikan pada rakyat dengan iming-iming "lips politic " dan popularitas, saya benci gaya para pemimpin kita!
Lebih dari semua skeptis, saya hanya percaya pada keluarga saya, mereka yang telah mengantarkan pribadi saya untuk terus belajar dari kejadian-kejadian memuakkan di dunia ini. Bom... Bom... Bom.. dan Bom..!! entah dari "Poros Malaikat" atau "Poros Setan" entah dari lurah, camat, bupati, gubernur, presiden atau para pembangkang di semua level, perang itu menjijikkan bagi saya, sementara dunia ini sangat miskin bagi sebagian besar rakyatnya.
OSAMA dan yang baru-baru ini 'NII', sama saja dengan AMERIKA dan NKRI, hanya yang satu pinggiran dan yang lainnya pusat, OSAMA diciptakan Amerika, dan saya berani menjamin "NII" diciptakan oleh NKRI sendiri, walaupun kelak sang penguasa akan menjadi pemenang cerita (karena ia yang membuat ceritu itu sendiri), sama saja cerita ini tetap tak ada artinya bagi kebanyakan rakyat yang menderita: buruh-buruh pabrik, petani-petani kecil dan buruh tani serta pengangguran, tak ada artinya bagi kelompok minoritas: agama minoritas, aliran kepercayaan, suku-suku terisolir, buruh migran, homoseks dan waria serta pemukim wilayah kumuh, pecandu narkoba, pecandu minuman keras, pecandu seks yang kehilangan kontrol atas tubuh sehinggu rindu teman, atau orang sakit jiwa-raga, kelompok gelandangan, pelacur dan gigolo dan banyak lagi, mereka harus susah payah selamanya menemukan solusi atas nasib mereka masing-masing.
Walau secara pribadi saya sungguh mencintai Indonesia sebagai sebuah bangsa, sebagai negara yang merdeka dengan tumpah darah rakyatnya, saya sungguh-sungguh pula mencintai ilmu pengetahuan dan kebebasan berfikir kita yang terus dipelajari, ditempuh dan diajarkan dari pemikir-pemikir baik di barat atau di timur, walau sungguh saya menyukai pemerintahan saya sendiri sekarang ini yang dipilih jauh lebih demokratis, namun catatan-catatan di atas adalah cerminan bagi semua ideologi yang tidak pernah sempurna, dan cita-cita (idea) yang bisa terjebak dalam otofia bagi kebanyakan rakyat yang meminta ketulusan serta kejujuran.
Semoga Tuhan Bersama "Osama" dan "Obama"!