Selasa, 26 Juli 2011

Refleksi sebelum Ramadhan

Posted by MOVAZ On 08:42

Dunia manusia, telah dilahirkan dengan daging 'karma' akal budhinya.  Sehingga bagi manusia: cara ia menjalani hidupnya dalam beberapa hal terkadang jauh lebih buruk dibanding binatang, dan dalam banyak hal, kesempatan yang terbaik justru membuat ia (kita manusia) lebih rakus, alih-alih lebih matang secara spiritual, Kerakusan akan nilai telah melahirkan 'sombong' serta ketamakan akan harta telah menciptakan kegilaan akan 'kesempurnaan' ragawi dan eksploitasi materi.

{Misalnya}: sejak zaman yang sangat lampau, manusia tergila-gila terhadap emas (tanpa perlu mempertanyakan : mengapa!), seperti juga terhadap permata, lalu mengupayakan segala daya untuk mendapatkannya, menggerogoti berton-ton bumi hanya untuk menemukan beberapa butir emas, beberapa kejadian lalu melahirkan pertempuran dan kesalahpahaman selain tentunya 'keindahan' dan 'kemegahan', suatu makna ke-'indahan emas' yang aneh, yang membuat manusia harusnya bisa dikatakan 'gila' karena tidak butuh bertanya lagi. Lalu dari budaya "Emas" inilah manusia memimpikan sesuatu yang ia katakan: 'kesempurnaan', kemakmuran yang diukur melalui nominal dan angka, selanjutnya menumbuhkan nilai-nalai 'pencerahan' yang tak pernah kenyang: kebebasan dan 'jati diri' yang terus dicari-cari tak lelah-lelah. Tentu cara 'individualis' ini tidak semuanya buruk, namun arah tujuannya kebanyakan sama saja, eksploitasi tanpa mempertimbangkan batas optimal.

Masalah 'kesempurnaan', kita wajib curiga terhadap apa yang dikatakan 'skema dunia baru -kemakmuran global-', curiga karena sebagian bangsa-bangsa 'terdepan' juga membiarkan kita untuk menanam 'curiga' terhadap mereka. Perlakuan yang 'kurang' demokratis di lembaga-lembaga dunia: UN, IMF, WB dalam menyeleksi pemimpin managerialnya dan Dewan Tetapnya, adalah rahasia umum yang secara total membuat kita 'waspada' dengan tata dunia -cetak biru- ini. Sementara kelompok ekonomi 'maju' mengkampanyekan demokratis, tetap saja tatanan dunia tak berubah secara mengejutkan sejak jaman perang dunia pertama.

Di sisi yang lain konsumsi negara maju atas sumberdaya alam berkali kali lipat dibanding bangsa-bangsa dunia berkembang. "sebuah spesies khusus" yang tak lebih dari 10 % telah menguasai 90 % konsumsi dunia. Bisakah tatanan dunia baru mengakomodir pemerataan kesempatan dalam berekonomi. Sementara ketimpangan distribusi semacam ini dianggap LEGAL.

"o tidak! pemimpin kalian lah yang korup!"

Ya, sebagian besar pemimpin kami korop, tapi dengan situasi global yang tidak adil, maka regulasi untuk menemukan pemimpin yang lebih "demokratis" menjadi lebih sulit. Bangsa-bangsa barat dalam beberapa tahun yang lampau memuja Huzni Mubarak, demikian juga Pahlevi dan hingga sekarang juga masih memuja pemimpin Arab yang sangat manorkis dan membuai serta membodohi rakyat dengan subsidi, bangsa barat tetap 'mengabaikan' pelanggaran HAM di China daratan, serta terus bekerjasama dengan Komunis China, bangsa barat tetap memilih berdasarkan kampanye pemilu yang memiliki kesepakatan korparasi di belakang layar jauh-jauh hari sebeumnya, bangsa barat tetap tidak adil dan tidak melulu sempurna dalam memuja "demokrasi". Selama kepentingan masih menguasai kebijakan secara internal atau eksternal. Kita tetap layak curiga.

Perang di Afganistan, perang di Iraq, perang di Palestina, sebagian gejolak di Afrika dan di Eropa Timur adalah kejadian yang tidak melulu mampu bisa dipersalahkan dengan menunjuk di wajah pemimpin-pemimpin negeri itu, tidak semudah itu, jauh dari itu semua tetaplah terselip kecurigaan atas 'barat' dengan kepentingan-kepentingan ekonomi serta militernya. Semua orang sadar di posisi ini, tidak ada yang ragu: (misal) kasus Somalia, Sudan Ethopia dan lain-lain, selalu berhubungan dengan 'pengabaian' atas penderitaan bangsa lain oleh bangsa-bangsa yang 'maju' tersebut, lagi-lagi beberapa diintervensi karenai nilai penting, lalu selebihnya diabaikan karena tidak memiliki nilai 'berarti'.

Bagi Indonesia: masalah demokrasi menjadi carut marut yang lebih ruet lagi, fragmentasi, kelas, kepentingan, kuasa makna, sepertinya hanya bisa diselesaikan dengan orgasme di ranjang bacin dengan pelacur murahan, astagfirullah, atau menenggak ciu untuk melupakan semua tekanan sambil memutar musik Reggae kencang. Terlalu banyak yang kecewa terhadap pemimpin-pemimpin kita, figur-figur suci memang telah musnah seiring dengan usangnya segala mitos tentang sang penyelamat. Kita tidak lagi memiliki IMAM {pemimpin} sehingga kita tidak pernah lagi matang memegang IMAN.

"Tapi setidaknya saya masih punya cinta"

Bunga flamboyan yang bersemi, atau puncak gunung-gunung berapi kita yang agung, kelamnya kabut pagi yang tersapu hangatnya mentari, burung-burung yang bebas terbang dan berkicau dan kepuasan jiwa kita dengan memberi sesuatu (yang berarti) pada mereka yang sebenarnya berhak. Cinta itu masih ada dan masih dirawat rapi, walau kita sendiri tidak terlalu sempurna dalam memahami cinta sendiri. Ketulusan yang masih tersisa inilah yang memberikan kekuatan bagi individu, keluarga dan masyarakat untuk merawat optimisme. Walau selayaknya sebagai manusia modern kita juga terbiasa untuk tetap curiga (verifikatif dan skeptis), dan selalu  menyisakan pertanyaan dari mana ukuran seseorang disebut tulus?

Tapi kawan, kita tidak sedang berjalan sendiri, bagi mereka yang masih menyadari tentang 'iman', dunia ini hanya suatu kitab bacaan yang selalu membuat kita matang secara spiritual untuk terus belajar dari kesalahan, dan kebenaran, kegagalan dan kebersihan. Begitulah mengapa dunia pada dasarnya menjadi lebih baik bagi sebagian orang yang tetap optimis dengan masa depan dunia.

Nabi-nabi dan Awetara kita telah mengajarkan melalui cerita yang mereka tuturkan akan kekuatan manusia yang tetap melimpah selama mereka bisa menjaga: dari sisi Hukum: setiap manusia sama di sisih-Nya, setiap manusia bebas berfikir dan berbicara serta menentukan keputusannya sendiri, setiap manusia hanya berhak dan bertanggungjawab atas tindakannya sendiri,  dan dari sisi Moral: adalah moralitas yang mendorong kita untuk meringankan kesulitan orang lain, untuk mengingatkan orang lain atau untuk saling menjaga dialog demi tumbuhnya kepercayaan, melegakan mereka yang sedang terpuruk dan mereka yang terluka atau terabaikan oleh dunia ini. Demikian seluruh nabi membimbing kita.

"Saya optimis, masa depan kita akan menjadi lebih baik! kita masih punya Iman yang sedalam samudra, dan Cinta yang seluas langit"

-wa anta khairul waritsin-