Minggu, 21 Agustus 2011

SESUATU YANG DI SEBUT MENCINTAI MU

Posted by MOVAZ On 03:01

Hari-hari ini saya mendapat serangan melankolis dari teman yang membuang segala unek-uneknya ke saya :   teman saya jatuh cinta pada orang yang rumit dan kompleks : orang yang : sudah menikah, punya anak, tidak bekerja dan tidak well educated , TENTU SAJA semula (?) saya bilang padanya : "kamu gila ya (amelioratif -menghaluskan-, daripada mengatakan 'kamu perusak rumah tangga orang'), cintamu tidak ber-visi, segera saja kamu lupakan dia, selesai!". Tapi teman saya bukannya ndengerin sambil tertunduk sedih, eh malah tersenyum, ucapan saya semacam kentut, dan saya yakin dia sudah gila, 'tai kucing rasa keju' baginya, pahhhh. Apa yang harus saya perbuat sebagai teman, membenci cinta itu? iya! : TENTU SAJA, tapi bagaimana menyadarkan orang yang sedang kasmaran tanpa rasionalitas, yang ini saya juga benar-benar dibuat gila.

Hari berikutnya setelah curhatan yang pertama, teman saya datang lagi dengan 'sekarung barang rongsokan' yang siap dibuang di muka saya. Dia ketawa - ketiwi seperti sedang menghirup hasis, bicara sana sini tak karuan dan kemudian mulai ngomong agak serius: membacakan sms dari kekasihnya : "dia minta pulsa", lalu kamu kasih? "tentu, tapi cuma sekali", dan selanjutnya "dia minta bensin, macet di jalan malam-malam", lalu kamu kasih? "tentu saja aku bangun malam-malam menjumpainya sambil membawa dua liter bensin", dan selanjutnya "kita makan bareng, aku yang bayar", dimana? "cuma di burjo", oke lah -matre kelas murahan juga ternyata-, kamu tidak merasa lagi diplorotin? "aku malah senang asal gak yang mahal, cuma itu kok". Saya tidak berani sindir tentang bagaimana istri dan anak pacar teman saya tadi, tapi dia bilang "istrinya gak curiga kok", walaupun pacarnya sering ngelayap malam? keluarga macam apa itu? "gak tau ah, dia bilang baik-baik, ya sudah". Gak merasa berdosa? "dikit, tapi gimana lagi", ya gimana? "gak tau, lets flow aja".

Begitulah ceritanya, hingga hari berikutnya (datang sambil muka agak sewot): "dia tadi memohon untuk mutusin aku, katanya hubungan kita berdosa", -bukannya dari awal itu salah-, lalu kamu? "aku bilang aku masih cinta dia, lagian dari awal harusnya sudah paham kan posisi masing-masing", kemudian gimana? "dia bilang istrinyanya minta cerai gara-gara dia belum dapat kerja, sering ngelayap lagi", loh gimana sih, kemarin katanya istri pacar mu gak masalah -urrgggg-, "lalu aku bilang, ya sudah kita saling dukung untuk lebih baik saja, saling mengingatkan, demi hidup lebih baik", loh, mang hubungan semacam itu bisa saling mendukung untuk hidup lebih baik -cape dech-, "dari pada kami gonta ganti pasangan gitoch..", pf, saya paham banget dan diingatkan kalau teman saya ini suka asal comot orang, tapi mana bisa hidup lebih baik kalau hubungan awalnya saja sudah main comot milik orang, "tapi kami saling mendukung kok, Tuhan juga tahu kondisi kita masing-masing", Tuhan? -sambil lihat langit-langit kamar yang mulai penuh jaring laba-laba-.

Hari berikutnya, dia datang lagi, saya mau tutup pintu kamar saya, tapi apalah daya, saya hanya punya sedikit teman, dan mungkin tidak ada teman yang sesempurna yang saya inginkan, mereka juga manusia, sebenarnya teman saya ini sedikit pintar, baik, sholatnya juga lima waktu, pendidikannya baik, dari keluarga baik, tapi saya tidak tahu alasan tepatnya harus bernasib 'rumit' semacam itu, dia mulai bicara: "bantuin bikin CV dong", bukannya kamu juga pernah kerja atau sedang kerja, "ini buat yayank ku itu", itu lagi.... pahhh, ada apalagi dengan dia, "kita kan mau baikan, dari pada dia minta aneh-aneh atau matre atau hidup gak pernah jelas, aku mau bantu dia, bantu dia nyari kerja, aku kan sayank..", busyet dech, kayak gak pernah lihat orang kesulitan di pinggir jalan dan di seantero negeri ini, ngapa juga harus pilih dia sih..."tapi ini cinta", cinta, itu lagi! kalau yang itu saya gak bisa berdebat, percuma 'tai kucing rasa ayam'.

Begitulah, katanya hubungan mereka: "untuk kebaikan" (dari pada ganti ganti pasangan -lagian sudah punya istri buat apa sih ada kebiasaan ganti-ganti, yang satu lagi juga aneh, tau pasangannya dah berkeluarga, eh nekat-), "untuk hidup lebih baik" (katanya sih: saling mendukung dan menasehati gitu lah : tapi tetep ML : pahhhh). Saya tidak berkutik dengan teman saya ini, mau mengatakan ini dosa, ini salah, ini ilegal, cara pandang kami berbeda, dia sudah terlalu tua untuk mendengarkan kuliah subuh atau ceramah jum'ah, toh teman saya itu juga pernah mondok -sejenis pondok ramadhan-, setidaknya tahulah isim, fa'il, maf'ul, atau sedikit nadzom alfiah ibn malik. Tapi mengapa? moral semacam itu tidak membekas kepadanya, saya pernah menanyakan tentang beberapa pilihan 'aneh' dalam keagamaannya, lalu dia bilang "beragama kan harus kritis dan humanis", lalu dengan posisi menjadi orang ke-3 dalam rumah tangga orang?, pasti dia akan jawab 'itu kan lebih baik dari pada....., keluarga kan konstruk sosial yang blablabla, cinta kan substansi yang bla bla bla...'. Ok cukup cukup, Ya sudahlah.

Walaupun saya mungkin tidak pernah akan mendapatkan cinta yang serumit itu, saya tetap berharap: mencintai adalah untuk selamanya: istri, anak, sampai tua, hingga maut memisahkan, dan mati masuk surga. Tapi bagi sebagian orang atau termasuk dia, atau sebagian dari 'jiwa kita yang bersembunyi', kadang menyukai pilihan yang 'agak' berliku, belok sana sini, naik turun, kadang jatuh bangun, terjerembab lalu minta tolong. Dia pernah bilang ke saya "ya itu cinta", "ya itu hidup, tidak flat", baginya hidup bukanlah: kecil bemain, remaja belajar-pacaran, dewasa menikah, bapak-ibu bekerja, tua ikut pengajian, mati masuk surga, baginya itu bukan hidup yang kaya (?), dia bilang : cinta yang BERGOLAK adalah 'kembang setaman' bagi kehidupan: "seperti gelombang bagi para peselancar yang tak habis-habisnya". Sore ini saya sedang mengurai perspektifnya, dan berusaha masuk ke dunia semacam itu, dunia yang tidak memiliki garis tegas antara "Ya" dan "Tidak" selain seonggok "kritik" dan misi tentang "humanisme", humanisme perselingkuhan. Pff


Alloh lindungilah saya.


Rabu, 17 Agustus 2011

MENCARI JODOH! DIJODOHKAN! MENCINTAI!

Posted by MOVAZ On 02:46


Beruntunglah saya karena menjadi laki-laki, karena seandainya orang tua menjodohkan saya tanpa saya sepakati, saya masih berani teriak 'mencak-mencak', lalu mulut komat-kamit, gedor-gedor tembok, kalau perlu sampai roboh,  pergi 'minggat' ke teman-teman dan tidak bakal pulang, ngambek! Bukan sebagai wanita, atau sebagian dari wanita, yang apabila dijodohkan: cuma diam, di kamar, menangis, 'mbrebes', sesungguk-sesungguk, sekali lagi "cuma" di kamar, cukup curhat dengan bantal guling. ALANGKAH BERATNYA JADI WANITA!

Laki-laki 'harusnya' wajib mencari jodohnya sendiri (hal yang seharusnya sama pula bagi wanita), menemukan cinta, berjuang untuk itu semua, agar mimpi menjadi kenyataan, sehidup semati bersama hingga maut memisahkannya. Perjuangan yang kadang harus berhadapan dengan orang tua masing-masing, lingkungan keluarga besar masing-masing, masalah adat atau yang agak berat masalah agama, begitulah perjuangan: BUKANKAH CINTA SEBAIKNYA ANUGRAH YANG DIBERIKAN TIDAK SECARA GRATIS!

Tapi tidak semua orang menikah karena cinta, ada yang semula tidak mencintai, atau bahkan membenci pasangannya : kebanyakan karena perjodohan, seperti orang tua kakak ipar saya di malam pertamanya: meludahi pasangannya (suaminya), eh toh nyatanya sekarang punya anak lima, dan mesra, demikian beberapa orang lainnya, termasuk beberapa kakak saya yang justru masa pacarannya setelah mereka menikah. Tidak ada jaminan pula pernikahan yang dimulai dengan pacaran lama lalu tidak bisa bercerai dikemudian hari, satu kakak saya yang lain membuktikannya, sempat saya lihat dia cakar-cakaran di depan kami, terakhir dia cerai, yah begitulah, barangkali bukan jodoh.

JODOH?? apakah jodoh itu?, tentang masalah jodoh: kakak saya yang lain (beruntung saya punya enam kakak) pacaran laamaaaa dengan seseorang, bertahun-tahun, kirim kue, kirim coklat, keluarga kedua belah pihak baik-baik, tapi begitulah akhirnya, tidak sampai menikah, 'ndilalah kersane alah' (kebetulan kehendak Tuhan berkata lain), segera setelah putus, dia dijodohkan dengan wanita, dan hanya dalam 3 bulan langsung menikah, buktinya: selama lima tahun ini  baik-baik saja, bahagia. Temen saya punya kasus yang lain, menikah karena 'kecelakaan' bunting duluan, dengan pacarnya, lalu punya dua anak, tapi berakhir dengan perceraian, lalu apa itu Jodoh, apa berarti yang lama tadi jodoh? apakah Jodoh harus berakhir hingga maut memisahkan?

Tentang lamanya jodoh, kerabat saya ada pula yang bernasib tragis, menikah, mempunyai anak, lalu sukses secara karir dan materi, eh suaminya minta menikah lagi, kerabat saya jatuh sakit, sakit yang tak mudah diobati hingga saat ini. Yang lainnya lagi, masih orang-orang dalam hidup saya, yang menikah, dapat istri cantik, lalu dengan kecerdasannya mendapatkan karir dan materi berlimpah, tapi sepanjang hayat semacam dikontrol oleh gaya hidup istrinya, umurnya tidak lama, innalillahi w.i.i.r. Adapula kerabat saya yang keluarganya harmonis, namun pasangannya mati mendadak, padahal anak-anaknya masih muda, demikian, JODOH BUKANLAH SUATU KEMESRAAN TAK HABIS-HABIS YANG DIUSUNG OLEH SEPASANG MANUSIA DARI SURGA UNTUK DUNIA, KARENA DUNIA TIDAK PERNAH SEMPURNA!

Dijodohkan, pacaran, perjuangan untuk mewujudkan cinta manusia adalah cara manusia untuk melunak dari diri yang 'keras kepala' namun 'rapuh', penyakit yang bahkan tidak pernah terpuaskan oleh surga, seperti kesepian Adam di surga lalu terciptalah Hawa, dan kekerasan kedua pasangan ini atas larangan disurga, dan dengan bandel memakan buah quldi hingga  terciptalah dunia. Memang tidak ada cerita telenoveli atau sinetron yang tidak menangis, tapi sayangnya dalam dunia nyata, tidak semua cerita, seperti yang saya uraikan tentang orang-orang dekat saya berakhir bahagia. Cinta menjamin manusia 'nyaman' untuk beberapa saat, namun tidak ada cinta tetap dan absolut ketika berada pada waktu dan tempat yang selalu berubah-rubah karena hukum dunia. Manusia berusaha untuk mencari cintanya masing-masing, NAMUN NASIB MANUSIA SELALU DIBENTURKAN OLEH PAHIT-PAHIT MANIS SERTA SAKIT-SAKIT ENAK-NYA KEHIDUPAN.

Romeo dan Juliet mungkin cinta, tapi bisa jadi bukan jodoh, Laila dan Majnun, Sangkuriang, "the Winter Sonata": adalah pasangan-pasangan yang tidak punya daya untuk menikmati cinta dalam waktu yang panjang, mungkin tepatnya 'hanya' cinta dan bukan jodoh. Saya merasa tidak ada korelasi yang bisa men-guaranteed- antara relasi CINTA-JODOH-KEBAHAGIAAN apalagi ditambah dengan AWET MUDA atau SEHAT, sama seperti hubungan antara pemutih dan pelembab wanita dengan kulit yang indah. Semua akhirnya kembali pada apa yang kita pilih dan seberapa berat yang akan kita hadapi di dunia yang nyata ini, tidak ada yang sempurna tepatnya SEMUA CERITA ITU UNIK. Kalau berpasangan berarti mencari cinta,  pun cinta tetaplah sifatnya sangat relativ, mencintai, tapi hanya bertahan beberapa hari bisa (lah) dikatakan cinta, tapi apabila selanjutnya menjadi kebencian seumur hidup, lalu apa arti cinta di hari-hari sebelumnya, MUNGKIN SUSU MURNI HANGAT YANG BERADA DI CANGKIR, HANYA ENAK UNTUK PAGI HARI INI, TAPI TIDAK UNTUK ESOK PAGI, BAHKAN TIDAK PULA ENAK UNTUK NANTI SIANG :).

Cinta yang semacam itu, bagi saya pribadi bukanlah cinta, pacaran yang cuma beberapa musim panen padi juga bukan cinta apalagi jodoh, namun bisa jadi adalah 'cinta dalam bentuk lebih sederhana', atau jodoh dalam bentuk 'sejenak' saja, bukan pula berarti yang lama bisa saya katakan jodoh, bahkan bagi saya, yang hidup berdua dengan beberapa anak hingga tua, lalu maut memisahkan, belum tentu itu jodoh, belum pula dikatakan cinta, apabila ada rahasia, ada kepura-puraan, ada lakon seumur hidup : entah tentang korupsi yang dirahasiakan, entah tentang ide-ide yang ditahan, entah dengan cinta lain yang ditutupi dan dipendam hanya dalam mimpi-mimpi menjelang pagi setelah bersenggama. CINTA DAN JODOH TIDAK BERARTI BERTEMU DAN DISATUKAN DENGAN 'CINTA' LALU HIDUP BERDUA HINGGA MENUA,  SELAMA MASIH ADA CINTA LAIN ATAU HIDUP DALAM LAKON SEPANJANG HAYAT.

Semua kembali pada keyakinan dan pilihan yang kita bawa, dari hati kita yang paling mendasar: maukah kita berbagi dengan jujur dan tulus dengan pasangan kita, menjalani hidup tanpa kepura-puraan, dan memelihara kepercayaan dengan sikap yang dewasa dan matang? CINTA HADIR KARENA TIDAK DIPAKSA, JODOH DITEMUKAN BUKAN SEPERTI MEMANCING IKAN. KARENA NYATANYA TAKDIR DAN HIDUP LEBIH BERKUASA DARI SEGALA MIMPI KITA DI RANJANG DIKALA SENDIRI.


Senin, 08 Agustus 2011

Syi’ir Tanpo Waton UHEBBOCA, GUS DUR !

Posted by MOVAZ On 23:21



أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا * أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا * وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا

ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * ( يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ




Ngawiti ingsun nglaras syi’iran …. (aku memulai menembangkan syi’ir)
Kelawan muji maring Pengeran …. (dengan memuji kepada Tuhan)

Kang paring rohmat lan kenikmatan …. (yang memberi rohmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan 2X …. (siang dan malamnya tanpa terhitung)

Duh bolo konco priyo wanito …. (wahai para teman pria dan wanita)
Ojo mung ngaji syareat bloko …. (jangan hanya belajar syari’at saja)

Gur pinter ndongeng nulis lan moco … (hanya pandai bicara, menulis dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro 2X …. (esok hari bakal sengsara)

Akeh kang apal Qur’an Haditse …. (banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)
Seneng ngafirke marang liyane …. (senang mengkafirkan kepada orang lain)

Kafire dewe dak digatekke …. (kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale 2X …. (jika masih kotor hati dan akalnya)

Gampang kabujuk nafsu angkoro …. (gampang terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo …. (dalam hiasan gemerlapnya dunia)

Iri lan meri sugihe tonggo … (iri dan dengki kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto 2X … (maka hatinya gelap dan nista)

Ayo sedulur jo nglaleake …. (ayo saudara jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane … (wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)

Nggo ngandelake iman tauhide … (untuk mempertebal iman tauhidnya)
Baguse sangu mulyo matine 2X …. (bagusnya bekal mulia matinya)

Kang aran sholeh bagus atine …. (Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune … (karena mapan lengkap ilmunya)

Laku thoriqot lan ma’rifate …. (menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X … (juga hakikat meresap rasanya)

Al Qur’an qodim wahyu minulyo … (Al Qur’an qodim wahyu mulia)
Tanpo tinulis biso diwoco … (tanpa ditulis bisa dibaca)

Iku wejangan guru waskito … (itulah petuah guru mumpuni)
Den tancepake ing jero dodo 2X … (ditancapkan di dalam dada)

Kumantil ati lan pikiran … (menempel di hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan …. (merasuk dalam badan dan seluruh hati)

Mu’jizat Rosul dadi pedoman …. (mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman 2 X … (sebagai sarana jalan masuknya iman)

Kelawan Alloh Kang Moho Suci … (Kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi ….. (harus mendekatkan diri siang dan malam)

Ditirakati diriyadohi … (diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas)
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X … (dzikir dan suluk jangan sampai lupa)

Uripe ayem rumongso aman … (hidupnya tentram merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman … (mantabnya rasa tandanya beriman)

Sabar narimo najan pas-pasan … (sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X … (semua itu adalah takdir dari Tuhan)

Kelawan konco dulur lan tonggo … (terhadap teman, saudara dan tetangga)
Kang podho rukun ojo dursilo … (yang rukunlah jangan bertengkar)

Iku sunahe Rosul kang mulyo … (itu sunnahnya Rosul yang mulia)
Nabi Muhammad panutan kito 2x …. (Nabi Muhammad tauladan kita)

Ayo nglakoni sakabehane … (ayo jalani semuanya)
Alloh kang bakal ngangkat drajate … (Allah yang akan mengangkat derajatnya)

Senajan asor toto dhohire … (Walaupun rendah tampilan dhohirnya)
Ananging mulyo maqom drajate 2X … (namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)

Lamun palastro ing pungkasane … (ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)
Ora kesasar roh lan sukmane … (tidak tersesat roh dan sukmanya)

Den gadang Alloh swargo manggone … (dirindukan Allah surga tempatnya)
Utuh mayite ugo ulese 2X … (utuh jasadnya juga kain kafannya)





ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ



Senin, 01 Agustus 2011

RAMADAN 2011 (Kesederhanaan Dimulai Dari Sini)

Posted by MOVAZ On 11:25



Selamat datang Ramadan, terimakasih telah memberikan saya kesempatan untuk bersua dengan anda lagi. Ramadan:   Waktu saya belajar berpuasa satu bulan penuh, waktu ketika saya belajar sholat ber-banyak rakaat, waktu kala  saya berzakat fitrah di hari-hari akhir anda, waktu saat saya 'mengusahakan' tadarus, atau setidaknya: saya ngebuburit (menghabiskan waktu puasa dengan jalan-jalan) hampir tiap sore, mencari masjid-masjid yang menyediakan ta'jilan (makan gratis), waktu paling tepat untuk mudik ke kampung halaman, waktu ketika saya membeli baju baru (satu tahun satu kali), waktu saat saya belajar membuat kue bersama kawan, atau saat dimana makan berlebihan (sering kali seperti itu) setiap berbuka,   waktu ketika terdapat malam untuk beri'tikaf lailatul qadar (sepuluh hari terakhir). Ramadhan adalah pesta, PESTA TAHUNAN!.

Nun, Ramadan (seharusnya) menempa saya untuk mengendalikan diri: i'tiba' binnafsi, kendalikan diri untuk menemukan diri "ku" yang sesungguhnya, dengan berlapar dan haus dahaga di siang hari, dengan mencegah (atau mengurang) berfikir negatif dan jorok, atau melakukan perbuatan yang sia-sia, di (konon) bulan istimewa ini penuh berkah: tidur saja ibadah apalagi yang lainnya, jadi seandainya Ramadan dapat saya tuai nilai-nilai keutamaannya, harusnya (tapi tidak harus): tiada muslim yang jadi koruptor, mengedarkan berita kebohongan atau mengadu domba, menjelek-jelekkan, menjadi tirani, sombong atas kebenarannya sendiri, sombong atas kepintarannya atau atas harta dan kekuasaan (HARUSNYA TAPI TIDAK HARUS).

Sering kali yang tersisa hanya: menunda makan-minum, tapi tetap saja ngegosip, 'rasan-rasan' pemerintah, dan melakukan hal-hal tak berguna di siang hari, demikian saya hanya mendapatkan lapar saja barang kali. Tidak ada yang ditempa, melainkan hanya: berbuka berlebih-lebihan, baju-baju baru, atau pada saat usai ramadan: pesta hari raya (buuuanyak makanan, kumpul dengan saudara-saudara (pamer kesuksesan -kalau sukses-), dan gosip ini itu. Bagi saya Ramadan (dan sehabisnya) tak lebih sebuah pesta ritual tahunan yang riuh, menghanyutkan, tapi saat pesta usia, saya hanya akan membawa perut buncit dan kegilaan othopis dan tidak lebih (SEPERTI PULANG SEHABIS LIHAT KARNAVAL).

Lalu apa gunanya ramadan bagi saya (secara pribadi): "saya malu, karena (kelihatannya)  temen-temen pada puasa", "saya malu karena (mungkin) teman-teman jadi khusuk dalam menghayati agama saat ramadan tiba, saya malu karena teman-teman (kebanyakan) berbuka dengan menyiapkannya se'seksama' mungkin': buah kurma, kolah buah, nasi, ayam, telur, daging sapi, sate kambing, lalapan, sayur rendang, lodeh ikan, pepes ikan, benar-benar Ramadan yang memabukkan saya. Saya berpuasa karena: orang lain melakukannya, seperti ibu saya melakukannya, seperti semua orang muslim melakukannya, lalu saya menahan lapar tapi saya senang karena saya menunggu sesuatu (setelah) puasa : BEBUKA YANG LENGKAP dan LEBARAN: saat ketika saya menemukan saudara-saudara yang selama ini berserakan dimana-mana, berbagai macam kue loyang diatas meja, dan terutama takbirnya. Puasa dan ramadan hanyalah penantian, RAMADAN HANYA SUATU STASIUN PENANTIAN, BUKAN TUJUAN, DAN TUJUANNYA ADALAH PESTA HARI RAYA!!

Demikian dengan hari ini, malam ini, saya merasa bersyukur: saya makan, lalu saya kenyang, saya membaca al Quran beberapa halaman, lalu saya online, sedikit kerja (bikin poster) dan 'menunggu' hingga malam usai, menghabiskan chat dengan teman entah siapa namanya (namanya juga dunia maya) , hingga benar benar larut, dan saya : belum merasakan apapun kecuali: ini hanya sebuah malam seperti malam-malam tanpa Ramadan: sunyi, sepi, sendiri, kelam tapi 'menyenangkan' dan menghanyutkan.

Apa artinya Puasa dalam konteks di atas: kita hanya melalui suatu 'tradisi' tanpa kewajiban untuk meneguk maknanya, atau apakah orang semacam saya terlalu kenyang terhadap makna, dengan meminjam perkataan A.Y, teman chat saya malam ini: (merasa) terlalu dalam menghayati hidup sehingga untuk memahami makna terdalam dari suatu ibadah puasa, adalah tidak akan bisa masuk ke dalam hati lagi karena hati (sok) merasa sudah terlampau penuh. Atau sebaliknya: hidup ini harusnya 'yang ringan-ringan saja, yang instan seperti mie. Dan bisa jadi karena saya tidak pernah belajar memaknai apakah lapar yang sesungguhnya, selama ini segalanya (alhamdulillah) seperti selalu ada apabila saya membutuhkan  (walau terkadang sering dengan rengekan dahulu dan hutang) ,  sehingga saya tidak sempat berfikir: bagaimana menahan keinginan, bagaimana menahan hasrat dan bagaimana menahan harapan. Dalam konteks semacam ini puasa semacam  gema sesaat yang kemudian bergaung di tengah padang gurun luas,kita tidak mampu menangkap isi dari gema, apalagi gaung. Jadi puasa hanyalah 'melestarikan' tradisi : ibu, bapak, saudara, teman-teman dan masyarakat muslim pada umumnya. Sehingga hidup "ringan" dan "dangkal" ini, sebagai suatu pilihan adalah jauh lebih menarik. "janganlah dibikin berat kalau yang instan saja tidak menghalangi kita untuk menjalani nasib sebagai manusia:. (DEMIKIAN KAH?)

Malam ini saya jatuh cinta, cinta pada RAMADAN yang ingin saya tuai 'isinya': agar saya tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan tidak suka pamer, agar saya bisa berbagi, hemat, rendah hati, sederhana, demikian  seharusnya maksud dari menemukan DIRIKU yang yang sederhana, makna sesungguhnya dari yang dimaksud instan itu, dan artinya "kalau hanya lapar saja", kita menampik nikmat kesederhanaan, sehingga hidup setelah atau justru pada saat Ramadan tetaplah yang itu itu saja: WAH & MEWAH alias MULUK-MULUK: hidangan yang wah, baju baru yang wah, mudik yang wah. Memang puasa butuh belajar, memetik hikmah bukanlah tanpa berlatih dari kejatuhan dan kesalahan, tapi dengan melewati Ramadan berkali-kali rasanya "aneh" bila saya (merasa dan memang nyatanya) hanya terkesan menghormati suatu tradisi turun temurun: sedikit dibumbui ketakutan akan siksa neraka atau pahala dari ramadhan tadi (tidur saja ibadah penuh berkah apalagi...). PUASA SAYA MEMANG PUASA ANAK KECIL.

Saya berharap setidaknya ada hikmah dari Ramadan ini bagi saya: saya tidak lagi berfikir bahwa hidup itu rumit, bahwa cinta itu muluk-muluk, bahwa persahabatan itu merepotkan, bahwa iman itu berat dan 'dalam'. Saya ingin memetik manfaat dari kesadaran bahwa segala hal ini sungguh-sungguh sederhana:  rizki, pasangan hidup, status, dan kekuasan, bagi pemilik Ramadan adalah kehangatan dari hubungan yang sederhana: berbagi secangkir teh, bergembira dengan berbagi cerita (yang menambah kekayaan hidup) dan berbagi makanan. Sehingga saya mampu melangkah lebih ringan (dan memang seharusnya semacam itu). "jangan ngoyo", yang penting lakukan segala hal dengan ikhlas dan setulus hati.

Jadi: apakah Ramadan akan mengubah hidup saya? setelah ini, "Ramadan adalah setiap hari dan Hari Raya kita adalah surga". Demikian nasihat sufi yang perlu saya fikirkan, tentunya fikiran yang tidak terlalu dalam atau juga terlalu dangkal: tapi bersahaja. semoga,  SELAMAT RAMADAN.