Pikiran ku terbawa oleh sesuatu yang berat: sehingga seolah langit runtuh, dan tanah bergetar, alam melumatku mentah-mentah: dunia lenyap, waktu telah berselingkuh dengan ruang, sehingga robohlah sejarah, musnah segenap yang bertempat, aku hanya seberkas nyawa yang melayang-layang tak tahu rimba dan tak tahu mau ke mana, tidak ada lagi kesedihan, kebahagiaan, kepuasan, kekecewaan, luka, dan penyembuhan, seperti air yang terbuang di gorong-gorong dan tak akan tahu di manakah masa depan. Tidak ada canda di sini, melukai atau dilukai, yang datang atau yang pergi, yang terjerembab atau yang ditarik ke atas, yang di dalam gua, atau yang menghampiri seluruh dunia, yang haus-lapar, atau yang sibuk berdiet dan spa, yang akan mati, atau bayi yang susah payang keluar ke dunia dengan memecah ketuban ibunya, yang menangis atau yang tertawa, tapi tidak ada canda di sini.
Lalu Tuhan tiba-tiba berbahasa Arab, kemudian Ia membisu, dan selebihnya menjadi bahasa-bahasa asing yang tidak aku juga pahami. Ketidak mengertian adalah seperti luka menyayat yang menusuk seluruh badan sampai remuk dan menarik ruh untuk keluar dari tubuhnya yang menjebaknya: selaksa burung-burung yang terjebak dalam kurungan emas, ikan yang masuk dalam aquarium mewah, kucing atau anjing yang dikekang lehernya. Seperti buruh-buruh yang lembur siang malam dengan gaji murah, anak-anak yang ditakdirkan terjebak di jalanan, perempuan yang berhikmat pada keluarga tanpa pernah berani mengajukan pertanyaan, tentang agama yang terjatuh dalam pembenaran, dalam sebuah 'jalan sempit' untuk menuju Tuhan. Tuhan? dimanakah Engkau kala "binatang dan tumbuhan" ini telah dikurung dan didesak: Tuhan menjelma menjadi gedung-gedung megah, pada imajinasi kecantikan dan ketampanan, pada emas, berlian, pada boks anggun yang bernama mobil, yang lalu diteriaki "kemewahan!!!", pada pendidikan yang setinggi semercusuar dan menara gading: untuk kerja untuk karir untuk status!!, ataukah Ia adalah anak yang tertidur di emperan toko dalam dingin malam ini sehabis hujan, dimanakah Engkau Tuhan?
Kunjungilah gereja, kunjungilah pura, masuklah ke masjid, di sanakah Tuhan? ataukah kebahagiaan ini hanya mampu ku buat dengan menyusun serentetan pertanyaan: ada? atau tidak ada? Pada Veda, Taurat, Injil, al Quran? di situkah Engkau hanya bicara (mengabaikan aqliahun nash)? , ataukah ketika orang-orang sudah tak sanggup lagi menjadi manusia yang pantas, mereka yang tidak sewajarnya lagi untuk menemukan kekasih seperti dalam mimpinya: pelacur, gembel dan gigolo yang kehilangan tempat di sisih-Mu (?), para pecandu minuman, atau pemuda-pemuda yang begadang semalaman dengan ganja dan putau, orang-orang yang berdiri melompong di balai rehabilitasi, orang gila yang telanjang bulat tanpa semalu diriku. Mari dengarkan kidung gerejawi, atau pembacaan syahdu Sloka, atau Qiro' di sudut mihrab, mungkin Tuhan mengeluh karena Ia 'kesepian', tidak ada artinya lagi, dan para pembacanya itu, apakah hanya hidup dalam dunia angan-angannya sendiri??
Di sana: tempat yang jauh itu: para broker mengendalikan 'dunia', berabad-abad diulang-ulang, dari buyut, kakek, bapak, anak, cucu, canggah: memelihara mimpi bahwa dunia ini jauh lebih mulia dari segala yang kita sebut dogma: surga-neraka, BERHENTILAH BERFIKIR SETELAH MATI. Agama hanya untuk orang orang yang 'takut', orang yang 'miskin' dan tidak berbudaya 'maju', demikianlah mitos diciptakan hanya untuk segala hal yang tidak berani untuk ditanyakan: tapi orang-orang itulah pula, yang melempar mimpi-mimpinya yang tak jauh berbeda dengan yang (sebelumnya) mereka benci ke pasar global, ke jiwa-jiwa yang miskin atau yang bodoh, atau di suatu sistem yang sengaja dibiarkan korup, agar dagangan mereka bisa laku, mimpi mimpi liar itu: komoditas 'mimpi' surgawi, atau ilmu pengetahuan 'surgawi', kebudayaan 'surgawi', tentang kebebasan, tentang "hak asasi manusia", tentang mimpi-mimpi individu, "pulanglah ke rumah karena masjid tidak menciptakan apartemen, mobil, kulkas, ac, bb, tablet, i phone, virtual seks". Kebahagiaan hanya ada kala engkau dipuaskan akan mimpi-mimpi surgawi mu yang berubah menjadi KENYATAAN!!!, bukan di tempat yang jauh disana yang dengan bodoh akan ada setelah kematian!!!". Dan hak asasi manusia adalah (merek dagang) mimpi tentang surga yang mencengkram segala hal dari peradaban sebelumnya (kuno-?-), peradaban yang dirangkai secara bersama generasi ke generasi, sehingga 'yang layak dan manusiawi hanyalah' kala wanita bebas ke mana-mana, laki-laki bebas ke mana mana pula, undanglah pelacur di rumah selama istrimu pergi 'asal tidak ketahuan', mabuklah dan berteriaklah kencang asal tidak mengganggu tetangga, bling!! bling!!, mobil untuk sendiri, apartemen untuk sendiri, teman-teman yang dibatasi hanya yang karena 'nyambung' saja, dan semua asal: tidak 'resekin orang lain' dan tidak mengganggu tanggujawab (kerja) kita. Tapi akuilah kawan, bahwa individualisme itu mahal: seperti itulah "Mimpi Amerika (?)", menghabiskan uangnya 40 x lipat dari rata-rata manusia lain di dunia, dan itu didapat dengan segala yang di sebut pasar dunia, (merek) mimpi mimpi dari Taurat dan Injil, dari al Quran dan Veda, dari pemikiran atheis atau humanis yang diciptakan menjadi Nyata (?), seperti agama lama yang berselingkung dengan nafsu lalu seolah segala kebahagiaan (hanya) bisa didapat dari tujuan sejati untuk "bebas terbang tanpa beban".
Di dunia ini hanya ada dua jenis tindakan, jahat dan baik, tapi relativisme telah menggantikannya dengan bermacam pertanyaan "sampah (?)" yang tidak memiliki jawaban kecuali NIHILSME. Aku dan kita, tidak lagi kagum dengan pemimpin agama yang berusaha menahan diri dari dunia ini, adalah para pendeta-pendeta industri film yang akan menggusur lalu membawa kita pada: "kemajuan, pada apa yang disebut pencerahan, auflarung". Dan kenyataannya, dunia tetaplah segala hal yang berhenti pada jalan yang sepi dan kemudian buntu, "kita hanya debu remah yang melayang-layang di alam semesta yang maha luas". Selamat datang di Hollywood, mobil akan segera menjemput, pesta hingga larut pagi, putarlah techno dan trance, gemerincing cheeeeers!!, kampaiii!!, kita telah bekerja seharian dan saatnya memanjakan diri, kita orang modern yang diciptakan untuk menghargai kebebasan dan waktu rehat, pada ranjang-ranjang bacin yang menjadi saksi rayuan-rayuan monyet semalaman, dan kala pagi datang, kita telah melupakan segalanya, hati telah menjadi bebal, kita tidak mudah lagi belajar untuk mencintai dengan 'hidup', atau terhanyut di dalamnya: laki-laki itu buaya dan wanita adalah ular berbisa.
Aku telah membaca al Qur'an lembar demi lembar, pada hatiku yang membatu, karena ada seonggok pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh Tuhan, mungkin sebagian orang juga tidak menemukan jawabannya dalam Injil, Taurat atau Veda dan sejenisnya. Statistik dan survey telah menggangguku, apakah agama diperlukan sementara yang katanya beragama jatuh dalam peradaban yang korup, sementara bangsa atheis jauh tidak korup, Oh Tuhan ampunilah kami yang tidak tahu bagaimana cara menghargai firman mu, tidak berarti umat beragama patas di salahkan: pada mereka yang tulus untuk mencintai-Mu dalam Suka dan Duka (sakh dan dugh), untuk menolah segala kezaliman yang mengatasnamakan agama-agama untuk menindas yang lemah, juga dengan mengatasnamakan sistem duniawi yang telah diselingkuhi. Mereka yang menistakan manusia hingga terluka tapi manusia tersebut tetap tabah, aku mendoakan dan memberi hormat yang agung pada mu, orang-orang 'itu' yang jauh masih lebih banyak dari sekedar es kotor yang nampak di permukaan. Mereka yang dengan tulus menepi dari pergumalan yang tidak selesai-selesai: berdebat tentang etika, tawar-menawar dagang, perdebatan kepentingan mengatasnamakan hak-hak manusia, pada hati yang panas, dendam atau yang curiga, dari kalangan yang 'beragama', 'humanis' dan yang tidak tahu agama. Terpujilah Bagi Mereka Yang Mencari Tuhan Tanpa Harus Memberi Syarat Untuk "Mencari Bahagia (*)" (*= dalam 3 definisi yang sederhana: dengan angka - kata - indrawi ). Pada kidung yang dinyayikan wanita rapuh di gereja-gerja tua yang ditinggal pemeluknya, pada ratapan rabi-rabi Yahudi yang mendokaan untuk kedamaian semua umat manusia, pada petapa Shadu yang tenggelam selamanya dalam misteri sungai gangga, pada Syaih yang menepi tanpa perlu takut kehilangan pengikutnya, pada orang-orang lapar yang sabar bekerja di pabrik walau mendapatkan gaji yang tak pernah cukup untuk keluarganya, pada petani yang tetap tersenyum dan terus bertani walau gagal panen dan paceklik, pada penjaga mall yang tidak perlu menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu, memberikan sepenuhnya pada orang tuanya, pada sopir bis-truk yang lama meninggalkan keluarganya lalu menahan diri untuk 'jajan', pada intelektual yang masih memiliki idealisme walau semakin disingkirkan oleh kekuasaan yang tamak dan rakus: YANG BELAJAR UNTUK KEMUDIAN KEMBALI KE MASYARAKAT, para pelacur yang sabar walau tak tahu harus kemana lagi? para waria yang tabah walau tak tahu untuk apa diciptakan esok hari? para gigolo yang jatuh bangun untuk mencegah kecanduan: seksnya, rayuan materi dan rasa kesepian, orang orang yang tulus memberi sedekah pada fakir miskin dengan hasil jerih payang yang halal dan tayib (jalan yang baik), ibu-ibu (dan Ayah) yang menunggu dengan kasih sayang disamping anak-anaknya yang sedang belajar dimalam hari walau telah dilelahkan sepanjang hari dengan tugas keluarga dan kerja, guru-guru yang sabar mengajari muridnya walau bagaimanapun juga dari latar belakang yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Jatuhkan Diri Kita Pada Cinta Yang Tulus, Karena Cinta (yang sakit atau yang berbunga-bunga) Akan Mengantarkan Kita Pada Tuhan Yang Maha Pengasih. TERLALU BANYAK CONTOH (SIKAP) ORANG BAIK DI DUNIA INI, DI SEKITAR KITA (Walau tentunya tidak ada yang sempurna) YANG MUNGKIN TERLEWATKAN OLEH TELEVISI, FB, TWEET KITA YANG LEBIH PERSONAL DAN INDIVIDUALIS (?) (Kecuali TVRI).
Bagai sebagian umat, Seolah Tuhan hanya bercerita pada beberapa orang penting saja di dunia ini, Tapi Tentu Tidak, semua doa manusia Ia kabulkan dengan segala bentuk hikmah-Nya, Tuhan selalu mengingatkan bahwa "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", sekali lagi aku mengulangi: "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", kita telah mengenal dua cabang filsafat dominan: Materialis dan Idealis: Materi, dan Idea: Practicing dan Conception, tapi harta, gairah fisik, kekuasaan, kemenangan duniawi, bukanlah Tujuan dari Pribadi Sejati, hanyalah dengan: kasih sayang, jiwa yang haus akan hikmah serta pendirian yang mampu terbuka terhadap kenyataan Illahiyah: yang jauh dari gambaran Materialisme Dialektika Historis ataukah Manifestasi Liberalis Eksistesialisme Relativ Skeptis-Empiris, yang akan 'lebih cepat' (?) 'mencapai' lautan luas kasih sayang-Nya,
Sampai kapanpun manusia akan selalu didorong untuk mencari diri sejatinya (pelan tapi pasti), dan yang sejati hanyalah TUHAN (dalam pengertian yang paling sederhana atau yang kompleks) dan bukan materi ini, (1) aku yang sejati adalah RUH dan bukan jasad yang 'menghewan' ini, (2) Kebenaran yang sejati bukan dari indrawi-akal yang terus curiga ini tapi dari HATI, dan (3) tujuan sesungguhnya manusia adalah SETELAH KEHIDUPAN INI dan bukan dunia fana ini. Biarlah dunia (fana) ini menjulukiku konservativ, tapi seorang muslim (atau orang-orang damai), melalui pesan segala nabi dan utusan-Nya selalu yakin bahwa MATERI TIDAK PERNAH MEMBUAT MANUSIA BAHAGIA, hanya SAYANG dan CINTA (Rakhman-Rakhim) yang mengantarkan kita pada KENYATAAN AKAN KEBAHAGIAAN YANG TERSINGKAP, lepas dari segala pandangan subjektif kita melalui keterbatasan Indrawi. ALLOHUL AHAD!!!, TUHAN MAHA "SATU" !!















