Senin, 28 November 2011

SEBUAH SURAU DI UJUNG BUKIT YANG SUNYI

Posted by MOVAZ On 06:43

Bau tanah tercium sehabis turun hujan, ada laron yang terbang berputar (sekali untuk mati) di dimar redup dengan nyala pendar yang tergelantung di rangka tiang. Suatu yang 'kosong', tidak ada apa-apa kecuali kesunyian ini, sesuatu yang datang dan membisik berlahan: ALAM. Pada hembusan angin yang menyeka pelan pipi ku, pada gemericik sungai kecil yang merintih di balik semak-semak, gemerincit bambu yang saling bergesek, pada daun-daun yang bergerinyit. Jangkerik telah mengerik sedari sore, burung hantu mengalunkan elegi, awan semacam hasil kuasan serampangan yang lalu memudar, hingga berlahan bulan sabit nampak dengan tajam dan menyakitkan.

Pikiran ku terbawa oleh sesuatu yang berat: sehingga seolah langit runtuh, dan tanah bergetar, alam melumatku mentah-mentah: dunia lenyap, waktu telah berselingkuh dengan ruang, sehingga robohlah sejarah, musnah segenap yang bertempat, aku hanya seberkas nyawa yang melayang-layang tak tahu rimba dan tak tahu mau ke mana, tidak ada lagi kesedihan, kebahagiaan, kepuasan, kekecewaan, luka, dan penyembuhan, seperti air yang terbuang di gorong-gorong dan tak akan tahu di manakah masa depan. Tidak ada canda di sini, melukai atau dilukai, yang datang atau yang pergi, yang terjerembab atau yang ditarik ke atas, yang di dalam gua, atau yang menghampiri seluruh dunia, yang haus-lapar, atau yang sibuk berdiet dan spa, yang akan mati, atau bayi yang susah payang keluar ke dunia dengan memecah ketuban ibunya, yang menangis atau yang tertawa, tapi tidak ada canda di sini.

Lalu Tuhan tiba-tiba berbahasa Arab, kemudian Ia membisu, dan selebihnya menjadi bahasa-bahasa asing yang tidak aku juga pahami. Ketidak mengertian adalah seperti luka menyayat yang menusuk seluruh badan sampai remuk dan menarik ruh untuk keluar dari tubuhnya yang menjebaknya: selaksa burung-burung yang terjebak dalam kurungan emas, ikan yang masuk dalam aquarium mewah, kucing atau anjing yang dikekang lehernya. Seperti buruh-buruh yang lembur siang malam dengan gaji murah, anak-anak yang ditakdirkan terjebak di jalanan, perempuan yang berhikmat pada keluarga tanpa pernah berani mengajukan pertanyaan, tentang agama yang terjatuh dalam pembenaran, dalam sebuah 'jalan sempit' untuk menuju Tuhan. Tuhan? dimanakah Engkau kala "binatang dan tumbuhan" ini telah dikurung dan didesak: Tuhan menjelma menjadi gedung-gedung megah, pada imajinasi kecantikan dan ketampanan, pada emas, berlian, pada boks anggun yang bernama mobil, yang lalu diteriaki "kemewahan!!!", pada pendidikan yang setinggi semercusuar dan menara gading: untuk kerja untuk karir untuk status!!, ataukah Ia adalah  anak yang tertidur di emperan toko dalam dingin malam ini sehabis hujan, dimanakah Engkau Tuhan?

Kunjungilah gereja, kunjungilah pura, masuklah ke masjid, di sanakah Tuhan? ataukah kebahagiaan ini hanya mampu ku buat dengan menyusun serentetan pertanyaan: ada? atau tidak ada? Pada Veda, Taurat, Injil, al Quran? di situkah Engkau hanya bicara (mengabaikan aqliahun nash)? , ataukah ketika orang-orang sudah tak sanggup lagi menjadi manusia yang pantas, mereka yang tidak sewajarnya lagi untuk menemukan kekasih seperti dalam mimpinya: pelacur, gembel dan gigolo yang kehilangan tempat di sisih-Mu (?), para pecandu minuman, atau pemuda-pemuda yang begadang semalaman dengan ganja dan putau, orang-orang yang berdiri melompong di balai rehabilitasi, orang gila yang telanjang bulat tanpa semalu diriku. Mari dengarkan kidung gerejawi, atau pembacaan syahdu Sloka, atau Qiro' di sudut mihrab, mungkin Tuhan mengeluh karena Ia 'kesepian', tidak ada artinya lagi, dan para pembacanya itu, apakah hanya hidup dalam dunia angan-angannya sendiri??

Di sana: tempat yang jauh itu: para broker mengendalikan 'dunia', berabad-abad diulang-ulang, dari buyut, kakek, bapak, anak, cucu, canggah: memelihara mimpi bahwa dunia ini jauh lebih mulia dari segala yang kita sebut dogma: surga-neraka, BERHENTILAH BERFIKIR SETELAH MATI. Agama hanya untuk orang orang yang 'takut', orang yang 'miskin' dan tidak berbudaya 'maju', demikianlah mitos diciptakan hanya untuk segala hal yang tidak berani untuk ditanyakan: tapi orang-orang itulah pula, yang melempar mimpi-mimpinya yang tak jauh berbeda dengan yang (sebelumnya) mereka benci ke pasar global, ke jiwa-jiwa yang miskin atau yang bodoh, atau di suatu sistem yang sengaja dibiarkan korup, agar dagangan mereka bisa laku,  mimpi mimpi liar itu: komoditas 'mimpi' surgawi, atau ilmu pengetahuan 'surgawi', kebudayaan 'surgawi', tentang kebebasan, tentang "hak asasi manusia", tentang mimpi-mimpi individu, "pulanglah ke rumah karena masjid tidak menciptakan apartemen, mobil, kulkas, ac, bb, tablet, i phone, virtual seks". Kebahagiaan hanya ada kala engkau dipuaskan akan mimpi-mimpi surgawi mu yang berubah menjadi KENYATAAN!!!, bukan di tempat yang jauh disana yang dengan bodoh akan ada setelah kematian!!!". Dan hak asasi manusia adalah (merek dagang) mimpi tentang surga yang mencengkram segala hal dari peradaban sebelumnya (kuno-?-), peradaban yang dirangkai secara bersama generasi ke generasi, sehingga 'yang layak dan manusiawi hanyalah' kala wanita bebas ke mana-mana, laki-laki bebas ke mana mana pula, undanglah pelacur di rumah selama istrimu pergi 'asal tidak ketahuan', mabuklah dan berteriaklah kencang asal tidak mengganggu tetangga, bling!! bling!!, mobil untuk sendiri, apartemen untuk sendiri, teman-teman  yang dibatasi hanya yang karena 'nyambung' saja,  dan semua asal: tidak 'resekin orang lain' dan tidak mengganggu tanggujawab (kerja) kita. Tapi akuilah kawan, bahwa individualisme itu mahal: seperti itulah "Mimpi Amerika (?)", menghabiskan uangnya 40 x lipat dari rata-rata manusia lain di dunia, dan itu didapat dengan segala yang di sebut pasar dunia, (merek) mimpi mimpi dari Taurat dan Injil, dari al Quran dan Veda, dari pemikiran atheis atau humanis yang diciptakan menjadi Nyata (?), seperti agama lama yang berselingkung dengan nafsu lalu seolah segala kebahagiaan (hanya) bisa didapat dari tujuan sejati untuk "bebas terbang tanpa beban".

Di dunia ini hanya ada dua jenis tindakan, jahat dan baik, tapi relativisme telah menggantikannya dengan bermacam pertanyaan "sampah (?)" yang tidak memiliki jawaban kecuali NIHILSME. Aku dan kita, tidak lagi kagum dengan pemimpin agama yang berusaha menahan diri dari dunia ini, adalah para pendeta-pendeta industri film yang akan menggusur lalu membawa kita pada: "kemajuan, pada apa yang disebut pencerahan, auflarung". Dan kenyataannya, dunia tetaplah segala hal yang berhenti pada jalan yang sepi dan kemudian buntu, "kita hanya debu remah yang melayang-layang di alam semesta yang maha luas". Selamat datang di Hollywood, mobil akan segera menjemput, pesta hingga larut pagi, putarlah techno dan trance, gemerincing cheeeeers!!, kampaiii!!, kita telah bekerja seharian dan saatnya memanjakan diri, kita orang modern yang diciptakan untuk menghargai kebebasan dan waktu rehat, pada ranjang-ranjang bacin yang menjadi saksi rayuan-rayuan monyet semalaman, dan kala pagi datang, kita telah melupakan segalanya, hati telah menjadi bebal, kita tidak mudah lagi belajar untuk mencintai dengan 'hidup', atau terhanyut di dalamnya: laki-laki itu buaya dan wanita adalah ular berbisa.

Aku telah membaca al Qur'an lembar demi lembar, pada hatiku yang membatu, karena ada seonggok pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh Tuhan, mungkin sebagian orang juga tidak menemukan jawabannya dalam Injil, Taurat atau Veda dan sejenisnya. Statistik dan survey telah menggangguku, apakah agama diperlukan sementara yang katanya beragama jatuh dalam peradaban yang korup, sementara bangsa atheis jauh tidak korup, Oh Tuhan ampunilah kami yang tidak tahu bagaimana cara menghargai firman mu, tidak berarti umat beragama patas di salahkan: pada mereka yang tulus untuk mencintai-Mu dalam Suka dan Duka (sakh dan dugh), untuk menolah segala kezaliman yang mengatasnamakan agama-agama untuk menindas yang lemah, juga dengan mengatasnamakan sistem duniawi yang telah diselingkuhi. Mereka yang menistakan manusia hingga terluka tapi manusia tersebut tetap tabah, aku mendoakan dan memberi hormat yang agung pada mu, orang-orang 'itu' yang jauh masih lebih banyak dari sekedar es kotor yang nampak di permukaan. Mereka yang dengan tulus menepi dari pergumalan yang tidak selesai-selesai: berdebat tentang etika, tawar-menawar dagang, perdebatan kepentingan mengatasnamakan hak-hak manusia, pada hati yang panas, dendam atau yang curiga, dari kalangan yang 'beragama', 'humanis' dan yang tidak tahu agama. Terpujilah Bagi Mereka Yang Mencari Tuhan Tanpa Harus Memberi Syarat Untuk "Mencari Bahagia (*)" (*= dalam 3 definisi yang sederhana: dengan angka - kata - indrawi ). Pada kidung yang dinyayikan wanita rapuh di gereja-gerja tua yang ditinggal pemeluknya, pada ratapan rabi-rabi Yahudi yang mendokaan untuk kedamaian semua umat manusia, pada petapa Shadu yang tenggelam selamanya dalam misteri sungai gangga, pada Syaih yang menepi tanpa perlu takut kehilangan pengikutnya, pada orang-orang lapar yang sabar bekerja di pabrik walau mendapatkan gaji yang tak pernah cukup untuk keluarganya, pada petani yang tetap tersenyum dan terus bertani walau gagal panen dan paceklik, pada penjaga mall yang tidak perlu menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu, memberikan sepenuhnya pada orang tuanya, pada sopir bis-truk yang lama meninggalkan keluarganya lalu menahan diri untuk 'jajan', pada intelektual yang masih memiliki idealisme walau semakin disingkirkan oleh kekuasaan yang tamak dan rakus: YANG BELAJAR UNTUK KEMUDIAN KEMBALI KE MASYARAKAT, para pelacur yang sabar walau tak tahu harus kemana lagi? para waria yang tabah walau tak tahu untuk apa diciptakan esok hari? para gigolo yang jatuh bangun untuk mencegah kecanduan: seksnya, rayuan materi dan rasa kesepian, orang orang yang tulus memberi sedekah pada fakir miskin dengan hasil jerih payang yang halal dan tayib (jalan yang baik), ibu-ibu (dan Ayah) yang menunggu dengan kasih sayang disamping anak-anaknya yang sedang belajar dimalam hari walau telah dilelahkan sepanjang hari dengan tugas keluarga dan kerja, guru-guru yang sabar mengajari muridnya walau bagaimanapun juga dari latar belakang yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Jatuhkan Diri Kita Pada Cinta Yang Tulus, Karena Cinta (yang sakit atau yang berbunga-bunga) Akan Mengantarkan Kita Pada Tuhan Yang Maha Pengasih. TERLALU BANYAK CONTOH (SIKAP) ORANG BAIK DI DUNIA INI, DI SEKITAR KITA (Walau tentunya tidak ada yang sempurna) YANG MUNGKIN TERLEWATKAN OLEH TELEVISI, FB, TWEET KITA YANG LEBIH PERSONAL DAN INDIVIDUALIS (?) (Kecuali TVRI).

Bagai sebagian umat, Seolah Tuhan hanya bercerita pada beberapa orang penting saja di dunia ini, Tapi Tentu Tidak, semua doa manusia Ia kabulkan dengan segala bentuk hikmah-Nya, Tuhan selalu mengingatkan bahwa "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", sekali lagi aku mengulangi: "Kebahagiaan Sejati Tidak Pernah Dicapai Dengan Indra-Akal", kita telah mengenal dua cabang filsafat dominan: Materialis dan Idealis: Materi, dan Idea: Practicing dan Conception, tapi harta, gairah fisik, kekuasaan, kemenangan duniawi, bukanlah Tujuan dari Pribadi Sejati, hanyalah dengan: kasih sayang, jiwa yang haus akan hikmah serta pendirian yang mampu terbuka terhadap kenyataan Illahiyah: yang jauh dari gambaran Materialisme Dialektika Historis ataukah Manifestasi Liberalis Eksistesialisme Relativ Skeptis-Empiris, yang akan 'lebih cepat' (?) 'mencapai' lautan luas kasih sayang-Nya,

Sampai kapanpun manusia akan selalu didorong untuk mencari diri sejatinya (pelan tapi pasti), dan yang sejati hanyalah TUHAN (dalam pengertian yang paling sederhana atau yang kompleks) dan bukan materi ini, (1) aku yang sejati adalah RUH dan bukan jasad yang 'menghewan' ini, (2) Kebenaran yang sejati bukan dari indrawi-akal yang terus curiga ini tapi dari HATI, dan (3) tujuan sesungguhnya manusia adalah SETELAH KEHIDUPAN INI dan bukan dunia fana ini. Biarlah dunia (fana) ini menjulukiku konservativ, tapi seorang muslim (atau orang-orang damai), melalui pesan segala nabi dan utusan-Nya selalu yakin bahwa MATERI TIDAK PERNAH MEMBUAT MANUSIA BAHAGIA, hanya SAYANG dan CINTA (Rakhman-Rakhim) yang mengantarkan kita pada KENYATAAN AKAN KEBAHAGIAAN YANG TERSINGKAP, lepas dari segala pandangan subjektif kita melalui keterbatasan Indrawi. ALLOHUL AHAD!!!, TUHAN MAHA "SATU" !!



Senin, 07 November 2011

KESADARAN DIAM DAN CEREWET

Posted by MOVAZ On 03:05

Galileo mati karena 'kesadaran', demikian Foucault mati karena 'kesadaran': kasus pertama  memahami bahwa bumi ini berputar mengelilingi matahari, lalu Paus (?) memancungnya (hal yang mungkin sama akan dilakukan oleh ulama atau biksu bila kesadaran waktu itu muncul di timur: ini bukan masalah agama, hanya semacam hukum alam: apabila hierarki yang kokoh ditentang, diciptakanlah isu penistaan, para pembangkang adalah syetan yang harus dibakar!), kasus ke-2, Foucault mati karena AIDS, dia menentang stigma: mempertanyakan kembali arti sehat dan gila, arti normal dan tidak normal: pada suatu zaman dimana  yang normal mungkin bisa dianggap gila, dan pada suatu waktu dimana yang gila bisa dibilang normal, demikian pada tempat yang berbeda. Inti dari pencerahan: Humanisme ini (sejauh yang saya pahami): Individu adalah Tuhan bagi semua manusia yang katanya: TERCERAHKAN. Ayolah, buka tutup sampanye nya, putarkan trance keras-keras, dan pakailah celana dalam sexy mu! Tuhan telah mati! Tuhan telah mati demikian epos Zaratustra dibacakan di mimbar-mimbar kudus!

Suatu hari saya datang pada seorang SHADU (pe-ritus petapa tertua di sungai Gangga): apakah penderitaan itu? SHADU hanya terdiam, (ayoolah shadu bicaralah!!!), SHADU hanya diam, mungkin itulah arti penderitaan (barangkali): DIAM. Ayah saya  ketika ia merasa anaknya rubuh (tidak sesuai harapan), mengantarkan saya di malam yang sunyi ke penasehat spiritual keluarga: saya menunggu lama, lama sekali, dan seperti usaha-usaha sebelumnya, saya tidak ditemui, 'antarkan amplop ini pada beliau', demikian setiap kali saya 'sowan', saya merasa dijawab dengan 'pintu yang tertutup' kecuali uang yang terselip dalam amplop, 'kamu kurang sabar' begitu kata ibu. Yups bisa jadi, karena sabar bagi ibu adalah menunggu di depan teras rumah sang guru sufi berhari-hari, dan saya tidak sampai berhari-hari. Begitulah saya menyimpulkan bahwa diam adalah penderitaan.

HIDUP MULIA ATAU MATI TERHORMAT, Muhammad Saw berkata, balaslah tangan dengan tangan, mata dengan mata (membayangkan bahwa nabi dengan jambang terburai, mata melotot dan memancungkan pedang ke muka ku -ngeriiii-),  demikian Galileo, Al Hallaj dipenggal karena dianggap CREWER, pula dengan nasib reformis Martin Luther atau Jenar, yang pengikutnya dibakar di tiang-tiang gantung, sama seperti Jesus yang dalam mazhab Nasara: Mati Tersiksa Di Tiang Salib (Sebagai Penebus Dosa), pembangkangan sipil yang CREWET semacam ini, seperti pula cerita babat Jawa hingga suku Samin adalah cerita perlawanan yang kadang berhasil dan kadang berakhir dengan tragis. Toh dengan Colombus menentang penutupan Mediterania oleh kekhalifahan Arab, lalu nasib menakdirkan ia menjumpai dunia baru, pengikut Martin Luther atau Santo Petrus membangun 'sekoci kecil'nya menjadi kapal  induk bahkan menjadi raja diraja di generasi selanjutnya.

KEWAJIBANMU HANYA MENGINGATKAN, DAN APABILA TIDAK DIDENGARKAN, MAKA DIAMLAH, demikian ucapan TUHAN yang diulang-ulang dalam kisah-kisah Taurat, Talmut, Injil dan Qur'an, seperti kalimat tambahan dari kitab Hamurabi yang disatir Muhammad Saw dialenia sebelumnya: bahwa MEMAAFKAN ITU LEBIH MULIA (terbayang sesosok yang lembut dan santun dari Muhammad Saw), tugas ke rashulan adalah 'saling mengingatkan', atau diam saja alih-alih konfrontasi, toh kebenaran hanyalah masalah waktu, tidak ada yang bisa membendung kebenaran, dimanapun orang atau kelompok terkuat sekalipun menutupinya dengan pintu gerbang yang rapat erat. The Name Of  The Rose, atau Ihyaul 'Ulumuddin: keduanya mengisahkan pada zaman gelap yang dialami oleh dua peradaban Islam dan Kristen, ataukah Kota Terlarang yang akhirnya roboh oleh Mao, sekuat apapun seorang kaisar/Raja/Sultan/Adidaya, toh pada suatu zaman akan menjadi usang (seperti penanda runtuhnya Amerika, atau talangan Eropa atas Yunani). Para rahib yang mengacung-acungkan darah inquisitas akan digantikan oleh dokter dan intelektual, Ulama akan digantikan oleh institusi negara: lalu cerita akan berubah yang kultural melawan struktural, agama melembaga, dan agama yang membudaya, pendidikan yang melembaga (yang mahal dan wahh!!) dengan pendidikan di munasah-munasah, madrasah-madrasah, padepokan-padepokan, pesantren-pesantren, seminari-seminari yang relatif masih terjangkau. Hingga tangan besar mendobrak keras, mengguncang meja judi, kartu-kartu terlempar 'amburadul' dan permainanpun  bubar! (toh pastilah permainan bakal dilanjutkan di belakang rumah masing-masing : itulah analogi tentang perlawanan diam-kultural).

Manusia tidak membutuhkan perdamaian (secara mutlak), kemanusiaan dan peradaban hanya membutuhkan DINAMIKA, tidaklah seasyik yang dikira apabila kita tinggal di Buthan dimana tukar menukar dengan mata uang baru populer di akhir dekade 90-an, tidak pula tenang hidup dengan negara sebagai penjamin dari kehidupan: tidak perlu ke gereja toh sampai tua kita ditalangi negara (lih. Skandinavia). Orang bijak membutuhkan dinamika: KETIDAK PASTIAN, asuransi adalah bisnis terkemuka dalam menjual ketidak pastian, demikian juga menyusul pengacara, tentara, politikus, dokter, pedagang dan mungkin semua pekerjaan, semua ada karena kita masih memelihara ketidak pastian akan hari esok. Apa yang dikatakan Ibrahim benar: Tuhan ditemukan dalam ketidak pastian setelah mengejar bintang, bulan dan matahari, demikian semangat Muhammad saat Hijrah ke Madinah, penuh ketidak pastian (tanpa perbekalan apapun), Tentu pula Tuhan menciptakan manusia karena Ia tidak menyukai kepastian pada diri-Nya, demikian Tritura: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), Siwa (penghancur) menjadi dogma bagi agama zaman awal manusia. Pantaslah Foucault menanyakan kegilaan dengan ketidak pastian: dimana pada zaman dulu perbudakan dan penjajahan dianggap wajar, dan dimasa kini dianggap kekejaman dan kebodohan moral, dan Derrida mendekonstruksi makna: pastikan artinya sesuai pengalaman indra masing-masing (phenomenology), Camus menciptakan kosakata 'pemberontak', Gramsci memunculkan Intelektual Organik yang melawan kaum hegemonik, semua dibayangi oleh individu dan egonya masing-masing, dan itu tidak selalu salah, untuk melawan dengan DIAM atau CEREWET pada hegemoni, lembaga, atau tuan-tuan yang lapar akan dominasi kebenaran. Maka Sah Bila Tuhan Hadir dalam Kemiskinan, orang-orang yang hanya mendapatkan remah-remah dari PERTIKAIAN BESAR'.





Selasa, 01 November 2011

CINTA

Posted by MOVAZ On 05:01


Sore ini saya mencoba berbicara tentang cinta, yang ada di otak saya, yang mengendap, yang tak terungkap, yang terkunci, yang terbungkam!

Pada suatu saat ketika hati saya pengap, dibekap kerinduan yang membabi buta, menikam hingga ke ulu, meremukkan jiwa, yang memotong segenap nadi arteri, saya benar-benar tak berdaya: seperti dimamah mentah-mentah oleh kesunyian yang pekak.

Di suatu waktu yang lain, saya merasa beringas, mengendap-endap selaksa kucing garong menerkam ikan asin, mencengkram erat, menggigit kencang, merengkuh sampai segala hal rubuh, saya adalah Samson, merasa bahwa dunia ini begitu kecil, hanya ada saya, dan Dalelah, pada suatu waktu.

Di suatu waktu pula: datang untuk pergi, datang untuk pergi, menghantarkan tajen ke sesembah, menumpah serapah ke bumi, lalu meresap, kemudian hanya berbau amis dari sisa pesta, ya pesta yang riuh lalu sesaat layar pertunjukan di gulung, semua kembali menjadi  saya, saya dan saya, dunia mengunyah, menyingkirkan saya di ketepian menjadi lelaki yang kesepian, yang terluka, dan (tentu saja) menikmati luka.

Di suatu waktu di sebuah kejadian lain, saya menangis, hampa dan kosong, tertipu daya dan mengeram seperti singa yang dipanah asmara, terluka dan serasa tak akan bisa bangkit, semua darah menderes keluar, seperti darah muncrat pada kambing kurban, saya menuju kematian, tertipu dan ditipu, oleh sesuatu yang (harusnya) tidak pantas menipu, begitu sakit rasanya, semacam tercekik di dasaran lautan.

Cinta ku pada-Mu seperti air yang meredam api neraka, yang membakar kastil-kastil dan taman-taman surgawi
Rabiah mengajari saya tentang cinta platonis (yang entah berantah), cinta yang membakar saya dan mengikis saya hingga lebur dalam persekutuan illahiyah, cinta yang meremukkan segala sejarah, segala inovasi keduniawian, segala romantisme perhelatan pesta tubuh, cinta yang diperas dengan kencang, untuk mengeluarkan madu yang paling murni, Rabiah membiarkan dirinya terbakar asmara, orang-orang menangis untuknya dan ia tersenyum untuk  segala pengorbanannya

Api asmara semacam cahaya dalam cahaya dalam cahaya dalam cahaya, dan ketika engkau membuka mata tak kan kau temukan lagi dimana timur dimana barat dimana orang-orang baik dimana orang-orang jahat, tidak ada kafir, tidak ada salih, tidak ada cakep tidak ada buruk.

Rumilah yang membiarkan saya terbuai asmara, lekukan-lekukan tubuh, dan senggama senggama liar adalah  engahan Tuhan yang menggelantung dalam atap-atap Arsy yang agung, lenguhan-lenguhan yang mendobrak-dobrak tembok ratapan semacam keabadian yang diciptakan untuk menarik lamunan dalam mabuknya kenyataan, dunia fana adalah wujud Nur Illahiyah yang memantul diantara penderitaan dan suka cita kita, maqom-maqom keharibaan adalah jalan untuk salik yang menjumpai kemurnian: para salik yang nakal di klab malam, di ranjang-ranjang bacin pelacuran, di pinggir rel kereta tengah malam, kaum hiper seks di tayangan film biru, orang-orang gila yang selalu menangis dan tertawa dalam waktu yang sama, pada dimensi dan frekuensi yang tidak bisa direguk oleh keindrawian yang dangkal atau realitas yang hanya paham sebab-akibat. Rumi mendeklarasikan: Tuhan ada tidak hanya dibalik kata-kata kalamul majmu', jauh dari segala hal yang kita tumpahkan, Ia hadir seperti samudra tak bertepi.

Saya Hamba dan bukan Pangeran, saya Pangeran dan bukan Hamba.

Siti Jenar, menganggap dirinya 'Tuhan' atau karena bagi awam: 'Tuhan' adalah esensi yang terhijab dalam diri-Nya, Tuhan bukanlah kata atau sifat, atau apakah Ia, Cinta yang ia bakar dalam firman tidak cukup mengiringi kita dalam laku untuk pelepasan dari Fana menuju Baqa', Siti Jenar menentang segala diraja dan sultan serta wali, Ia ada dalam Syakul Kalam wa Qulb, ia hadir bersemayam dan bersembunyi dalam bayang-banyang Illahiah. Tidak bisa dimengerti dalam cinta FISIK manusia pada TUHAN, yang REMEH, REMAH dan DANGKAL, penuh simbol dan definisi filosofis yang memusingkan: AHAD, HAQ, BAQA, ADL. Siti Jenar telah membangun jembatan bagi orang Jawa untuk menghubungkan apa yang dimimpikan Muhammad dalam perjalanan Ruhul-jism ke Sidra El Muntaha, dengan mistisme-arkeisme-artifisial Jawa, laku suluk Jawa yang memenuhi kebathinanya dengan dialog tentang penemuan laku diri. Cinta yang Jenar hadirkan adalah cinta yang melepaskan martabat kemanusiaan kita, untuk MENYIBAK SEMUA PAKAIAN : LALU BUGIL TELANJANG SEBAGAI HAMBA, pada dasarnya segala jiwa ini adalah KARMA (li ma katsabat wa'alaiha maqtasbt).

Siapa yang membunuh satu jiwa yang tak berdosa seperti membunuh semua jiwa.

Pikiran Muhammad SAW mungkin tak asing, membunuh satu jiwa, seperti membunuh semua jiwa, menganiaya suatu golongan tertentu seperti menganiaya semua peradaban yang kita ciptakan bersama, cinta yang menganiaya pasangannya semacam menganiaya seluruh umat manusia. Apakah laku cinta yang tidak diakui akan berarti teraniaya selamanya? cinta yang mengendap seperti tabir, akan selalu menyala dan membakar, walau bukanlah sinar mentari dipagi hari, toh segala cinta yang 'sah' bukanlah apa-apa dibanding cinta illahiyah yang mencakup segala ufuk. Sungguh tidak terpikirkanlah oleh para klerik, ulama 'benalu' untuk menyingkirkan prasangka yang membuat mereka sakit jiwa bahwa segala hal ini bermula dari kesempitan manusia akan suatu pemahaman yang selalu cuma percaya bahwa cinta adalah teks dan bukan konteks.

MENCINTAI TIDAK SEKEDAR HARUS MEMBERI TAPI APA YANG KITA BERI DAN UNTUK APA?