(catatan pribadi, tidak untuk mencari pembenaran)
Detik-detik ini saya sedang baca kasusnya jeueng Farah Quinn yang dianggap 'kurang senonoh dengan dada menantangnya' ketika siaran masak memasak (acara favorit saya) oleh KPI sehingga pantas untuk disensor dan tidak mengulanginya kembali. Sensor tubuh mengingatkan saya pada dahulu kala ketika serang putri Indonesa diceramahi oleh mentri peranan wanita waktu itu: Mien Sugandi, karena dianggap "tidak bermoral orang Timur ketika wanita memakai pakaian renang di kontes 'miss-miss-an' " demikian kata beliau. Hal perihal 'tubuh sebagai objek' dengan tidak sengaja mengantarkan saya pada masa-masa kecil, ketika teman dan saudara mengajak saya menontot satu film jauh-jauh dari kampung saya ke kota dengan mengayuh sepeda, judul filmnya si Manis Jembatan Ancol, yang menceritakan seorang hantu wanita cantik dengan baju minim, dengan semua lekukan tubuhnya yang Hots (seingat saya diperankan oleh Devi Permata Sari (?)), berjalan-jalan malam sendirian sambil menunggu godaan dari laki-laki yang nongkrong pinggir jalan, merekalah para pelaku pemerkosaan yang membuatnya mati dan dibuang di jembatan ancol. Di sisi lain hasrat tubuh juga membawa saya untuk menjamah kampanye aktivis feminis dan juga novelis tentang "Tubuh Tanpa Dosa! Otak Loe Yang Ngeres !!", atau pada keberanian Gus Mus, Kyai Salafi Rembang, Jawa Tengah yang melukis di pada kanvas "sosok Inul berjoget disaksikan kyai-kyai", justru ketika MUI dan haji Rhoma Irama sibuk mengganyang gerakan liar goyang pantat seksi Inul di dalam lagunya yang booming (ingat sekali waktu itu, ada pameran tahunan komputer yan saya kunjungi dimana hampir setiap produk monitor memutar jogetnya inul).
Sex dan Tubuh, mengingatkan saya pada celoteh Foucault si botak 'gila', kita memelihara tubuh sebagai ajang yang tidak lepas dari konstruksi, konstruksi adalah sesuatu yang menjadi kesepakatan kita bersama yang bermain-main dalam kebudayaan yang sedang berlangsung. Pahatan-pahatan perempuan dengan payudara ranum masih sangat mudah kita jumpai di patung-patung abad ke-6 seperti borobudur atau Prambanan, dan tegasnya diabadikan di ruang publik berupa tempat ibadah, itu masa lalu kita. Kita juga masih bisa menyaksikan warga Ubud yang bukan hanya lihai melukis pemandangan alam dan pasar tradisional atau pura, namun juga tubuh-tubuh telanjang yang seperti di negeri dongeng: berjalan ke sana-kemari seolah sambil menyanyi dan menari. Ini mengingatkan saya juga pada beberapa bulan yang lampau saat di Bali, teman saya berbisik memanggil saya ke ruang rahasianya di bilik khusus belakang ruang kerjanya, "Movaz, lihat ini, yummmy!!!", ya, saya terkejut karena melihat satu lukisan besar dengan puluhan gaya pose pasangan yang sedang bersenggama. Beberapa saat ia bertanya pada saya, "kamu mungkin tahu agama, apakah itu indah?" (pertanyaan itu sangat cerdas bagi saya yang cuma terbiasa ditanya "apakah itu dosa?"), tentu saja "Yes Mr, Its Amazing!!". Ternyata jawaban itu tepat, karena setelah itu saya dijamu makanan-makanan Bali yang maknyusss.
Lepas dari tubuh telanjang, konstruk adalah perdebatan yang panjang bagi semua orang yang giat berfikir. Foucault berusama melepaskan diri dari Eropa yang kolot untuk menuju Amerika yang HOT, dengan obat dosis tinggi yang membuatnya bebas mempertanyakan batas-batas, beliau merekonstruksi ulang sejarah dan mempertanyakan segala pakem. Konstruksi adalah kejamaan, dan semakin suatu masyarakat menjadi individual, konstruksi akan dibuang. Di ruang lingkup sosial, profesor saya mengenalkan tentang 3 proses konvensional tentang konstruksi: dimulai dari Folkway, yaitu tentang aturan dan kebiasaan namun tidak memilki sanksi apabila dilanggar, Folkway lama-lama menjadi Mores, yaitu aturan yang dikenakan sanksi bagi para pelanggarnya, Mores lambat laun berkembang menjadi Belief kemudian Religion, yaitu seperangkat aturan yang dipercaya menjadi bagian dari kebenaran. Namun demikian, hal ini kenyataannya hanya berlaku di wilayah-wilayah pinggiran kita di pegunungan atau pedalaman. Ketika Kristen (dan kemudian Islam, Hindu Reformis, Budha Reformis, Syikh, Baha'i) menyatakan bahwa kebenaran 'dalam batasan tertentu' adalah untuk semua suku bangsa di dunia, maka setiap bangsa digiring pada perkembangan monolitik atau beradaptasi terhadap monolitik dalam sejarah kebudayaannya, kapal-kapal tidak hanya berdagang namun melibatkan para misionaris dan pendakwah yang bergentayangan.
Seperti kapal-kapal yang sekilas memiliki tujuan yang sangat kontradiktif, ketika zaman kapal-kapal dunia makin deras datang, aras mekanik menggantikan segala hal yang berbau komunal seperti dalam sebagian besar agama, kebudayaan agraris dan apalagi masyarakat penyembah makhluk-makhluk suci, benda benda jimat dan ruh nenek moyang. Kebenaran Lama seolah diremukkan oleh industri yang mulai berkembang, memaksakan (mulanya) fragmen-fragmen atau kelompok-kelompok sosial yang terdeferiansi untuk berintegrasi kembali melalui apa yang Francois Bacon teriakkan sebagai "RASIONALITAS", setidaknya ini mengantarkan kita untuk mempercayai kebenaran dengan berpacu pada aspek yang disebut pengetahuan empiris. Maka dewa-dewa orang pinggiran makin terbuang saja (kecuali hanya tontonan turis-turis asing yang terheran-heran "di jaman gini kok masih percaya hantu sih cuinn"), atau kehilangan fungsi kecuali sekedar simbol, mitos mitos agama dibuang ke kantong sampah sejarah, dan kita terlahir kembai menjadi MANUSIA RASIONAL YANG TELANJANG (dan SEKSI tentunya!).
Ketika agama hilang dari peredaran, dan beberapa orang percaya hanya ada sejarah linier dalam dunia manusia yang luas dengan beribu suku bangsa, berpuluh ribu bahasa, beribu pula agama dan kepercayaan, maka satu-satunya yang kita percaya adalah: apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa yang kita cicipi, apa yang kita sentuh, dan apa yang cinta kita rasakan, dan kita sebagai manusia tidak memiliki yang lain selain itu, titik. Orang di luar sana menyebutnya proyek rasional yang belum usai, orang-orang lama tentu harus di tarik dari doktrin-doktrin kerak dunia lama untuk ditarik dalam program baru 'umat manusia' yang seolah baru mereka temukan yaitu "Satu Rasionalitas Satu Kebenaran". Ini artinya: Telanjang dan Seksi itu Its Ok! its ur personal right!, tapi kalau masuk kantor pakailah dasi, atau pakailah baju 'resmi', itu wajib, uniform its better, Key! (What!!), ini artinya kamu bebas memakai apa saja ketika sedang show di panggung, tapi jangan di kantor waktu bekerja, dan pada kenyataannya panggung hiburan disiarkan bukan hanya di kamar tidur tapi juga di pos satpam, dan tentu saja di ruang keluarga atau di perpustakaan. Its Ok, kata teman saya, Yang Salah Bukan Tubuhnya Tapi Otak Penontonnya, Tinggal Ganti Channel Cuinn. Jadi telanjang itu sah-sah saja, its OK!
Al Gazali, Imam Besar Islam dari seribu tahun lampau mengkodifikasi kebenaran dalam beberapa tingkatan: Bayani, Burhani, Irfani, aliran mainstream islam yang kini di kenal sebagai Madzhab Sunni menyebutkannya sebagai tingkatan pencapaian pencerahan yang dihormati sebagai proses (dan tidak semua manusia akan mencapai atau wajib melalui semua proses ini). Bayani adalah melihat kebenaran melalui teks dan tafsiran atas teks yang melibatkan konteks masyarakat, kebenaran ini bersifat dasar dan harus dijalani dalam sedikit perdebatan akan tafsir dan konteks, (contohnya sholat). Burhani adalah kebenaran yang wajib di jalani setelah kewajiban pada kebenaran Bayani dipenuhi (contohnya hujah seorang ulama yang tidak memperbolehkan meng-Qodlo sholat, misal antara Jakarta - Pangkal Pinang apabila naik pesawat karena walau memenuhi jarah batas boleh meng-Qodlo tapi pada kenyataanya hanya ditempuh dalam beberapa menit saja), dan Irfani adalah kebenaran yang dibukakan oleh kehendak Tuhan karena kedisiplinan dalam menjalankan kedua kebenaran sebelumnya. Sekali lagi model pencarian kebenaran ini akan ditolak mentah-mentah (sholat tidak perlu, karena kenyataannya orang bisa menjadi manusia bijak tanpa sholat) 'kecuali sebagian kecil' dalam konteks rasionalitas. Kutipan wahyu hanya ada ditempat sampah, dan orang-orang suci (irfani) yang (hanya) digambarkan menyembuhkan orang sakit telah digantikan oleh dokter, atau yang digambarkan berjalan di permukaan air telah digantikan dengan kapal pesiar.
Saya berusaha untuk menilai pilihan konstruk dua model kebenaran di atas sebagai hak setiap orang, ini seperti memilih channel yang tepat bagi anak-anak ketika menonton televisi "anak pasti paham setelah diajarkan di sekolah, mereka tidak mungkin memilih egolan Inul dan lebih memilih Doraemon", sayangnya pendapat itu menyangkut konteks lainnya, bahwa kita ada di dunia ke-3 dimana sebagian orang merasakan sendiri bahwa makan setiap hari begitu sulit, atau anak-anak yang terpaksa terjebak di dunia kerja sedari dini, atau bapak-ibu yang sibuk bekerja sampai malam, ini dunia ke-3, dunia dengan konsep akademik yang membutuhkan kajian menyeluruh tentang konteks kecerdasan policy dan adaptasi.
Bukan saja sekedar pilihan bagi konteks tertentu, bimbingan orang tua, bimbingan lingkungan sosial, adalah sesuatu yang juga sangat mahal di dunia ke tiga. Negara sebagaimana peran konservatifnya tidak bisa berhenti dan menutup mata dimana rakyatnya harus belajar sendiri tentang kedewasaan, sementara pasar bebas mendongengkan apa saja, memilih-milih bajunya sendiri di pasar global: mendengarkan iklan-iklan murahan tentang imajinasi kecintikan atau kejantanan: kulit putih, perut ramping atau sikpeack, mata lebar, bibir merah, mancung, atau AC, kulkas, rokok yang jantan, mobil sport yang elegan, motor Laki-laki yang tangguh. Ya, Negara pada akhirnya harus melepas pelan-pelan kebijakan yang membatasi pilihan individu, namun harus ngemong sampai seluruh warganya bisa memilih apa yang memang dibutuhkan untuk mereka. Semua orang sosial paham, kebenaran yang kita semua harapkan sebagai bangsa memang tidak harus seperti di Barat, karena tujuan kita sebagai bangsa yang coba kita tiru dari Barat (dimana Barat tidak menemukannya begitu saja, namun juga hasil dari dialog lamanya dengan Timur di masa lalu) mungkin sekedar agar kita bebas korupsi, kolusi dan nopotisme, menegakkan keadilan yang sama bagi semua warganya di depan hukum, keadilan atas hak dasar hidup (sandang, pangan, papan), keadilan atas kesempatan yang sama bagi pendidikan, berkeyakinan, bersuara, dan menjalani nasib setiap warganya sesuai dengan kehendak dan cita-cita sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa sesuai kandungan sila pertama Pancasila.
Kembali ke kasus Farah Quinn dan KPI, ini bukan sekedar "otak loe yang salah, otak loe yang ngeres", atau "ayolah kawan, ini dunia modern kawan", "ya ampyun crewet banget sih cuin, tinggal ganti channel ngape!", "Ich, ndeso ah, ngurusi moral orang lain, urus moral loe sendiri!!". Ini adalah bagian dari kewajiban negara yang tidak hanya memberi keamanan dan kenyamanan pada pabrik yang anda punya, tapi ia juga memberikan pendidikan bagi karyawan rendahan dan buruh-buruh di perusahaan anda atau orang tidak beruntung di luar lingkungan sosial anda yang membutuhkan 'bimbingan' selama pendidikan mereka tidak bisa ditempuh sebaik anda, atau ceramah-ceramah agama tidak sempat mereka hadiri karena kelelahan tubuh mereka. Semua berpulang pada siapa kita membicarakannya. Yummmmiiiii.






1 komentar:
Tulisan yang menarik, saya senang membacanya Mas Brooo.... terkait monolitik dan agama, memang ada persoalan di dalam pelaksanaanya, namun harus tetap kita sadari bahwa khusus dalam agama Islam, --Laa Ikroha Fiddin--, tapi kita harus ingat, jika sudah masuk secara sadar dalam suatu agama, maka sudah menjadi kewajiban mutlak untuk kita memahami sekaligus mematuhi aturan-aturan agama yang kita anut...
Poskan Komentar