Minggu, 26 Februari 2012

Pencinta Alam Selamanya, Selamat Ulang Tahun MAPALA ku

Posted by MOVAZ On 11:04 2 comments



Baru saja saya masuk dalam hiruk pikuk pesta ulang tahun Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) kampus saya dulu, tepat 31 tahun sudah. Dengan (hanya) kurang dari 400 anggota penuh sampai saat ini, adalah suatu kehormatan rasanya saya ikut berbagi nasib dengannya.

Malam ini dengan dendang lagi Irama Kopi Dangdut, Lagu Parang Ndog (dengan kutipan menarik: tanpa kamu hidup tetap indah, karena aku tetap aku), Redamption Song Bob Marley (Emancipate Ur Self From Mental Slavery) serta No Women No Cry, menyentuh hati saya untuk mengakui bahwa mapala itu selalu menghanyutkan saya: reggae, dangdut ria,  adalah  seperti alunan hidup yang menyeret saya pada suatu lorong tanpa akhir. Saya seperti kembali di rumah sendiri, ketika 'ibu' membukakan pintu, saya disambut ramah, dipersilahkan duduk, dan segera secangkir teh hangat di sedu. Saya tidak menyesali tentang pilihan saya ini: atau keberanian saya untuk menentang gosip murahan yang membisiki saya diawal ketika saya mau masuk mapala "tuh toilet mapala pernah macet ledengnya gara-gara kesumbat kondom, orangnya bebas kayak binatang", kenyataannya tidak pernah saya jumpai bahwa freeseks adalah bagian dari mapala saya, kecuali memang dari lingkungan di luar semua itu.

Membicarakan Mapala seperti tak ada habis-habisnya: berkunjung di kota-kota asing, dengan kampus-kampus yang baru kita masuki, namun disapa hangat seperti saudara sedarah, padahal baru kenal pada saat itu juga, atau penelusup dalam rimba liar rimbun tanpa bisa melihat langit di Meratus, Kalimantan, mendengarkan desir ombak pantai dan sayup-sayup angin sepi di tebing, terlelah-lelah namun puas ketika sudah sampai di puncak gunung (seonggok negeri yang memang benar-benar di atas awan), mungkin yang paling seru ketika memasukkan tubuh-tubuh mengenaskan dan busuk ke dalam kantung mayat dan membawanya seperti memanggul beras, juga pada suatu malam di Krueng Kala Acheh, memandang purnama diantara dahan dahan pohon kapuk yang ranggas, atau mengeja ribuan bintang setengah sadar di ufuk Teluk Bayam Makasar.

Di Mapala, dan bukan di ekstra kampus: HMI, PMII, KAMMI, IMM, GMNN, KEMPED atau Sejenisnya, saya menemukan 'akar-akar' semua ideologi saling sahut menyahut dalam satu keluarga. Saya menjumpai orang liberal sampai kaum fanatik seperti keluarga yang membangun rumah kecilnya bersama. Saya disuguhi lapen, ciu, AO, Vodka, TM, tapi di sisi lain saya diajarkan bahwa tanggung jawab terbesar adalah kesadaran dan kedewasaan berfikir. Saya belajar untuk menghargai semua pilihan selama pilihan itu pantas bagi siapapun kita yang 'terlanjur' memilihnya. Di Mapala kita menemukan apa yang sepantasnya kita miliki.

Suatu saat teman-teman menertawakan saya saat profesor saya bertanya, "S1 mu dulu apa ?" saya tentu jawab dengan bangga "Madzhab dan Hukum Konsentrasi Islam dan Adat", "Kok sekarang masuk ilmu ingkungan?" kata profesor, saya pasti jawab dengan lantang "Ya... karena saya Mapala prof". Tentu semua candaan itu bermula karena saya sejak awal tidak mau memiih organisasi-organisasi ekstra kampus, bagi saya pikiran-pikiran untuk berjuang (sampai mati) pada satu ideologi dan satu keyakinan adalah hal yang secara pribadi adalah aneh dan rumit, segala hal memang berbeda sejak awal, perbedaan itu semacam beratus-ratus bagian pesawat terbang yang terangkai dengan cara unik untuk dapat menerbangkan pesawat itu dan para penumpangnya. Saya tidak akan mau menjadi pengagum libera selamanya, atau sebaliknya saya bukanlah fanatik untuk bersuka ria dalam konservatif,NU atau Muhammadiyah atau agnostik, bahkan saya bukan hijau dalam pengertian gerakan pro-lingkungan anti pasar, saya juga bukan dari ideologi kiri-buruh, saya bukan anarkis (anti negara), saya pencinta alam, dan saya cuma paham bahwa bumi dan seisinya (yang beragam itu) adalah ciptaan Tuhan, karenanya kita memiliki keBUTUHan untuk menjaganya, dan semua manusia yang berfikiran semacam itu adalah saudara saya tidak pedui dari mana dan untuk apa (demikian makna yang saya pahami dari deklarasi Pencinta Alam se Indonesia).

Saya tentu sadar sejak awal, mapala bukan organisasi seperti beberapa organisasi ekstra yang memiliki jaringan alumni-alumni yang settle di pemerintahan (semacam Anas (HMI), Muhaimin (PMII), dan sebagainya), tidak ada unsur komando terpusat di Mapala, bukan seperti Pramuka, PMI atau Menwa yang mungkin pembinanya adalah menteri atau bahkan presiden. Setiap Pencinta Alam  hanya punya pemerintahan kecil masing-masing yang berdiri sendiri, bahkan memiliki 'agama'nya masing-masing, dan (masih) tidak mungkin disatukan dalam satu komando vertikal (saya memahaminya ketika mengikuti beberapa TWKM -Pertemuan Periodik Terbesar MAPALA se Indonesia-: kita membiarkan keunikan organisasi kita masing-masing untuk mandiri dan berfikir sendiri, tanpa butuh previlis birokrasi dan politik pemerintah), walaupun demikian kita sesama mapala bersaudara. (Ini mengingatkan saya pada agama-agama lokal di Dayak Meratus yang telah berumur jauh lebih tua dari agama Islam bahkan Yahudi, bahwa setiap desa memiliki agamanya masing-masing).

Sekali lagi suatu kehormatan bila saya menjadi bagian dari sekitar 400 orang yang sambung menyambung selama 31 tahun. Karena Mapala pulalah saya memahami pintu-pintu selanjutnya: human ecology, cultural ecology, Agama Bahari, Ladang Berpindah, Sustainable, dan Call Paper serta Research. Setiap yang kita pilih memang seharusnya bisa kita jadikan perantara untuk membuka pintu pintu selanjutnya (karena segala hal termasuk perjumpaan tentulah adalah hikmah). Teman saya bilang hidup adalah kumpulan capter-capter, saya lebih menyukai skuel per skuel, walau setiap bab itu saling sambung menyambung, tapi bagi saya kehidupan seperti sebuah suting film dimana setiap detik detik sangat menentukan detik selanjutnya.(Saya bangga pernah menggabungkan diri dalam sejarah Mapala saya: jadi divisi Pers 04, Sekretaris 05, Panitia TWKM div pembantu umum dan lain sebagainya).

Akhirnya Mapala bagaimanapun hanyaah Mapala, bukan lembaga super power seperti KPK atau MK,  tidak ada yang sempurna di dunia ini, sebagian dari kita hanyalah para pecandu kegembiraan dan kedamaian, dan sebagian anggota lainnya lebih pada pencarian bentuk kepribadian dan kesadaran diri, inilah fakta dikotomi kita. Walaupun merupakan pilihan terbaik dari semua yang buruk, Kita, pencinta alam, tidak akan membunuh satu  bagian untuk membangun dan memenangkan  yang lain, karena satu dan yang lain saling membutuhkan (semacam pesawat yang sebelumnya saya jelaskan). Kita membiarkan kahidupan MAPALA seperti rimba tropis, semuanya bisa hidup dan bernaung, toh mati-hidup, menyala-redup, terpenuhi atau diasingkan, adalah untuk mencari makna equilibrium, keseimbangan alami, selalu ada batas maksimal dari setiap pertumbuhan (kebijakan), dalam bahasa ecology ada batasan dalam keberadaan (distribusi) dan kemelimpahan (frekuensi) nilai (moral) atau spesies (kelompok/individu). Dan walau kita tidak mengatur untuk memilih satu ideologi yang mantap (dengan menyisihkan pikiran-pikiran yang lain). Unsur-unsur alami yang membatasi akan mengontrol gerakan-gerakan yang berlebihan. Saya belajar hidup dengan alam, dan saya menikmati kemerdekaan model ini (yang tentu saja pada akhirnya toh akan menjumpai keterbatasan dengan sendirinya).

Ok, pentas musik yang baru saja saya ikuti: dengan aroma khas 'keringat dan bau mulut' para pelantun dan hadirin yang datang. Saya seperti masuk kembali di hutan belantara. Dimana tanpa aturan yang rinci dan hukum-hukum baku, setiap kebebasan kita nikmati, kita reguk namun mekanismenya selalu tetap: kebebasan kita menentukan batasan kita, dan alamlah yang akan mengaturnya pada saatnya. Kita tidak akan menjidi gila atau kehilangan kontrol diri apabila keterbatasan itu kita lepaskan dengan segenap jiwa pada alam tempat kita berbagi.

Aturan semacam ini, mengingatkan saya pada agama-agama Nabi-Nabi sebelum Ibrahim atau Musa yang tidak pernah menuliskan wahyu-wahyu, (demikian juga dikala kodifikasi al-Quran  masih dilarang, juga ketika pembukuan hadits belum ada dan baru muncu di abad ke-3 seteah wafatnya nabi: madzhab-madzhab islam masih bebas meloncat dari satu pandangan ke pandangan lainnya: keyakinan yang bagi saya sangat menggairahkan). Agama yang ada 3000 atau 4000 sebelum masehi ke belakang, memiliki peraturan dan moral yang tidak membutuhkan batasan, kecuali bertaruh pada batasan-batasan yang diciptakan dunia alami (biotik-fisik-kultur). Inilah yang dalam keyakinan muslim disebut dalil-dalil aqliyah-qouniyah, atau dalam tingkatan tariqoh disebutkan Irfani-Ma'rifat atau Iluminasi, alamlah yang pada awalnya menjadi perantara untuk mengatur leluhur-leluhur kita dahulu  (bukan melulu oleh kitab suci), pada waktu itu, walaupun tidak ada kitab suci apapun, orang akan berfikir berkali kali untuk: pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kebohongan, pengkhianatan, (apalagi korupsi dan manipuasi). Ini karena alamlah yang mengajarkan dan menjadi perantara Illahiyah. Tuhan pernah bersabda bahwa segala penjuru alam dan seisinya selalu memuja Tuhan-nya. Dan dengan itu petunjuk dan penandanya menjadikan manusia lebih kuat untuk menemukan kesadarannya. Suatu zaman sebelum manusia terjebak tulisan yang menciptakan batasan melalui simbol dengan interpretasi yang sering kali didangkalkan oleh pemeluknya.

Mengingat kembali keagungan motto Mapala saya: Pada Puncak-Mu Ku Cari  Jatidiri, Pada Hijau-MU Ku Temukan Damai Abadi, Tak Kan Menyerah Dalam Cita, Tak Kan Surut Sebelum Bersujud: Alam adalah  rumah kita yang selalu merindukan kepulangan kita: manusia yang hanya berasal dari tanah liat.

Selamat Ulang Tahun ke 31 MAPALASKA, bangga menjadi bagian dari perjalananmu.

2 komentar:

bisa dijempol ngga sih tulisan ini..?:)


suka..:)


salam

kunjungan gan.,.
bagi" motivasi.,.
apapun yang bisa kita lakukan lakukanlah sekarang .,.
jangan buang waktu kamu sia2.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,